Balada Cinta Anak Manusia

Balada Cinta Anak Manusia
Aku pergi untuk kembali 2


__ADS_3

Saat sarapan tiba, Bimo dan Adinda muncul di hadapan mereka semua, perut buncit Dinda sudah membulat besar,memang tinggal hitungan hari saja dia akan menjalani persalinan putra pertamanya. Bunda menuntun Dinda dan mengajak duduk menantunya itu di bangku sebelahnya. Dia mengelus perut menantunya dengan perasaan sayang dan takjub. Sebagai seorang ibu dan bidan dia tahu menantunya itu sudah terlihat kelelahan jika berjalan jauh dengan perut sebesar itu.


" Dinda nanti mau mengantarkan atau di rumah saja? Bunda kasian melihat kamu sudah lelah begini " Bunda masih mengelus perut menantunya dan tersenyum senang ketika calon cucu nya itu bergerak menendang tangannya.


" Insya allah Dinda kuat Bun, pengen ikut ke pelabuhan gapapa kan Mas ?'' tanya nya pada Bimo. Sebagai dokter yang tahu kesehatan istrinya sebenarnya Bimo keberatan mengabulkan permintaan istrinya takut tiba-tiba istrinya kontraksi namun sejak semalam istrinya sudah merengek memelas ingin mengantarkan adik iparnya bertugas. Akhirnya dengan berat hati dia mengabulkan permintaan istrinya itu dan meminta ijin cuti sehari ada managemen rumah sakit.


Satu Mobil keluarga Pak Bagus yang mampu menampung 4 orang penumpang membelah jalanan ibukota pagi itu, jam masih menunjukkan pukul 06.30 mereka sudah beranjak meninggalkan rumah mewah itu. Satu persatu keluarga para tentara yang akan pergi ke Papua itu sudah datang. Myrna celingukan mencari Tofan diantara puluhan pria berseragam itu. Dia tadi mendapat pesan dari Tofan untuk menemui nya dengan orang tua nya di depan tiang bendera. Sambil menahan sesak dihatinya gadis itu mencoba menelpon kekasihnya dan segera tersambung. Benar Tofan sudah menunggunya di dedepan tiang bendera bersama Ibu dan Ayah serta kakaknya.


Setelah menyalami kedua calon mertua dan calon iparnya, Myrna segera memeluk Tofan dengan erat, tak memperdulikan lagi kehadiran kedua orang tua Tofan dan mereka seolah memaklumi keadaan anaknya yang akan meninggalkan tambatan hatinya sekian lama. Beberapa saat kemudian Aryo juga mencari keberadaan adiknya dan mencoba menelpon Tofan mereka akhirnya sepakat mempertemukan kedua keluarga itu sebelum upacara keberangkatan dilaksanakan.


Suasana haru dan penuh tangis tergambar di pelabuhan, banyak orangtua, istri dan anak para adi negara itu berat  melepaskan anggota keluarga nya ke medan juang,ingin rasanya Andrea dan Myrna menghentikan waktu agar kekasih nya tak jadi pergi namun tiada satupun manuasia yang dapat menentang kehendak alam,detik waktupun terus bergulir meninggalkan masa lalu dan menyongsong masa depan dengan cepat.


Bunda memeluk erat tubuh Aryo dan mencium kedua pipi anak sambungnya itu dengan sedih, giliran Papi juga merasakan hal itu, Bimo dan Dinda lalu Myrna dan terakhir setelah itu Myrna , setelah itu gadis itu berpindah tempat mendekati keluarga Tofan. Lalu tiba giliran Andrea yang maju memeluk kekasihnya, mencium punggung tangan kanan Aryo dengan lama bahkan rasanya berat untuk melepaskan lalu bergantian  Aryo membalas pelukan kekasihnya dan mencium kening gadis itu dengan mata berkaca " aku pergi untuk kembali.  Bersabar lah sayang tunggu aku pulang. Dan kita akan menikah setelah itu "

__ADS_1


Tak jauh dari mereka ternyata si bungsu juga sedang bertangis tangisan dengan tunangan nya. Sebagai orang tua yang telah makan asam garam kehidupan, Pak Bagus dan istrinya memaklumi saja perasaan anak-anak nya saat iu. Yang satu meninggal kan tunangan nya dan yang satunya lagi di tinggalkan. Biarlah hari ini mereka saling menguatkan agar selama bertugas mereka bisa konsentrasi dan tabah.


Suara sirene yang berbunyi nyaring menandakan bahwa para tentara yang di juluki "pasukan siluman" itu harus bersiap untuk melaksanakan upacara pelepasan prajurit putra terbaik bangsa itu di pimpin langsung oleh Pangdam dan inspektur kolinlamil


Ratusan 'pasukan siluman'' tersebut dikirimkan ke wilayah Papua dengan KRI. Kapal perang jenis Landing Platform Docking (LPD) tersebut yang dikomandani Letkol Laut (P) Abdulrahman tersebut akan menurunkan pasukan yang bertugas dalam pengamanan daerah-daerah rawan di Papua di Dermaga Merauke.


Aryo dan Tofan segera bergegas meninggalkan keluarga nya tanpa menoleh lagi, pantang bagi mereka pergi berjuang dengan rasa berat karena mereka selalu menekan kan dalam pikiran bahwa tujuan nya bertugas adalah jihad. Dan jika Tuhan menakdirkan meraka gugur membela negara mereka akan syahid karena nya.


Setelah upacara pelepasan anggota berjalan selama 30 menit, para tentara segera naik ke kapal perang milik TNI AL yang terlihat gagah bersandar di dermaga Kolinlamil jakarta. Lambaian tangan dari para keluarga mengiringi tubuh mereka memasuki tubuh kapal hingga tak terlihat lagi. Dan jangkar sudah di tarik dari sauh nya. Perlahan kapal yang membawa 400 orang personil pilihan itu berjalan menjauhi dermaga Kolinlamil di Jakarta.


Di dalam kendaraan, Pak Bagus dan Bunda berusaha menenangkan dia gadis yang sedang bersedih itu dengan nasehat bijak. Dia menghibut keduanya agar tetap tegar dan selalu mendoakan calon suami mereka itu untuk pulang dengan selamat tak kurang suatu apa pun. Disaat Pak Bagus sedang serius memberi nasehat, ponsel Bimo berbunyi nyaring.


Ternyata dari tadi ibu kandung nya itu mengirimkan pesan tapi belum di balas oleh nya karena sejak tadi dia belum membuka hape nya. Bimo segera menerima panggilan itu.

__ADS_1


" Bimo... kenapa dari tadi pesan Mami tidak kamu balas? " cerca Ibunya ketus.


"Assalamu'alaikum Mi, maaf Bimi baru pegang hape. Iya ini Bimo baca dulu ya"


Bu Hana mendengus kesal, dia sering kali melupakan salam pembuka ketika berbicara dengan siapapun lawan bicaranya.


" Ya.. waalaikum salam telat! gak usah di balas! Aryo jam berapa berangkat? " ketus selali nada bicara nya.


" Ya 30 menit yang lalu Mi. ini Kami sudah keluar dari pelabuhan mau menuju ke arah rumah"


Bu Hana makin ke kesal saja karena tak di pamiti oleh anak bungsu nya. Padahal dia lupa beberapa hari yang lalu Aryo sudah mengirim pesan pada nya untuk berpamitan dan minta doa restu pada ibunya. Dan tadi pagi dia juga berusaha menelpon tapi hape ibunya sedang tidak aktif.


" Memang nya Aryo tidak berpamitan sama Mami? Bimo dengar dia udah kirim pesan beberapa hari yang lalu" dokter tampan calon bapak itu teringat perkataan adiknya jika dia telah kirim pesan pada si Mami namun di balasnya dengan menyuruh Aryo datang kesana. Sedangkan tugas anak lelaki nya itu sangat padat dan tidak bisa seenaknya pergi ke kota sebelah tanpa ijin dari atasannya.

__ADS_1


Bu Hana terdiam, sebenarnya Aryo sudah pamit dengan nya namun dia masih kesal dengan anaknya itu karena tidak menyempatkan diri datang ke Bandung secara langsung. Dia merasa diabaikan oleh Aryo. Namun sekarang dia menyesal karena tak sempat berbicara dengan putranya sebelum dia pergi, mungkin anaknya itu tak kan mau menghubungi nya dulu.


__ADS_2