Balada Cinta Anak Manusia

Balada Cinta Anak Manusia
Malika


__ADS_3

Malika tersenyum melihat wajah Axell yang memandangnya tanpa berkedip.


"Kenapa kamu melihat ku seperti itu Cep?"


Axell tertawa kecil karena malu ketahuan memandang Malika dengan kagum. Dia mengambil minumannya dan mulai menyeruput es capucino karte miliknya.


"Aku terkejut dan bangga melihatmu sudah sukses menggapai cita-cita mu dulu.Sangat bangga Run, gak sia-sia kamu mengorbankan cinta kita dulu"


"Uhuk..uhuk.. Uhuk.. " Rasanya lehernya tercekik mendengar pujian yang mengandung sindiran dari laki-laki itu.


"Hmmmm... kamu masih marah Cep? Aku minta maaf lagi ya?! seribu kali maaf deh buat keputusan ku dulu. Jangan salah ya, karena kamu juga aku bisa jadi seperti ini" Katanya dengan lirih. Dia sekarang telah menjadi wanita yang matang.


Dulu sikap Malika sangat meledak ledak, jika dia menginginkan sesuatu itu harus di dapatkan nya, bahkan dia rela mengorban kan perasaan dan kisah cinta nya untuk menggapai cita-cita nya. Menurutnya kala itu, jika mereka berjodoh maka Tuhan akan pertemukan lagi di lain kesempatan, namun kesempatan untuk menjadi seorang prajurit penerbang seperti sekarang ini hanya satu kali saja hadir dan itu di masa mudanya. Dia tak mau membiarkan kesempatan emas itu lewat begitu saja.


Dia teringat dengan Ibunya yang telah berpulang saat dia akan di lantik menjadi prajurit terbaik dan penerbang wanita pertama di angkatan nya. Ibu yang melecut semangat nya saat dia hampir menyerah. Dan Ibu yang banyak menanggung derita karena perpisahannya dengan Ayah sejak dia masih kecil.


Ibu bekerja siang malam membanting tulang agar bisa menafkahi dirinya dan Kartika adiknya yang sejak kecil tak pernah melihat wajah ayahnya. Bahkan saat sakit pun Ibu masih saja bekerja sebagai tukang masak di sebuah restoran jepang yang sangat disiplin.


Gaji ibu yang pas-pasan membuat nya harus benar-benar berusaha keras agar menjadi anak yang pandai dan mendapatkan beasiswa di sekolah agar tidak membebani ibunya.


"Ohya Cep, gimana kabar kakak kamu? " Malika mencoba mengalihkan pembicaraan yang membuatnya merasa bersalah pada Axell.


" Alhamdulillah sudah lebih baik daripada saat masuk kemarin, namun tetap harus bed rest juga di Rumah Sakit beberapa hari sampai benar-benar pulih. "


Malika tersenyum gigi gingsulnya menyembul keluar. "Syukurlah kalau sudah membaik"


"Lalu keadaan Papa kamu bagaimana? ohya kamu sekarang tinggal dimana Run?" Axelle mencomot sebuah kentang goreng dan mencocolnya dengan saus.


"Papa harus pasang ring, dan sekarang aku penempatan di Jakarta. Udah tiga bulan aku disini. "

__ADS_1


Axell manggut-manggut perasaannya senang karena bisa dekat dengan gadis itu lagi. Dia dan Malika memang terpaut selisih usia 2 tahun lebih tua Malika. Karena itu Axell merasa sangat nyaman berada di dekat Malika karena sifat Malika yang tegas dan ngemong.


Walaupun terpaut usia jauh lebih tua dari Axell namun wajah Malika sangat Baby face, bibirnya yang mungil dengan tubuh ramping serta mata Besoknya malah membuat dia seakan lebih muda dari Axell.


"ohya kamu kuliah jurusan kedokteran kan Cep? berarti kamu tahu dong masalah medis. Bisa dong aku konsultasi masalah kesehatan Papa"


Axell mengangguk kemudian mereka saling berdiskusi masalah kesehatan Ayah Malika. Lalu Axell menanyakan keberadaan Ibu Mantan pacarnya karena dia dulu pernah bertemu beberapa kali saat masih menjadi kekasih gadis itu.


" Jadi Mama kamu sudah tiada, Run? Aku turut berduka cita ya, Tante Yasmin sangat baik, Kalau boleh tahu Tante Yasmin sakit apa? " tanya Axell prihatin.


"Mama kena liver dan sudah menjurus ke sepsis kata dokter, Mama gak pernah mengeluh, tapi saat Mama mulai mengeluh semuanya terlambat. Liver Mama sudah rusak dan harus menjalani transplantasi hati Itu pun hasilnya fifty-fifty kata profesor yang menangani nya. Dan Tuhan memang lebih sayang sama Mama. Beliau diambil saat hendak menunaikan sholat tahajud di rumah" Tak terasa air mata Malika berjatuhan. Di hadapan lelaki itu dia tak malu mengeluarkan rasa sedihnya.


Axell menyodorkan selembar tissue pada gadis itu, jika saja saat ini mereka masih sepasang kekasih maka Axell tak akan segan-segan memeluknya, namun sekarang hanya tindakan seperti itu saja yang bisa di lakukannya.


Dan hampir satu jam mereka menikmati kebersamaan yang telah lama taka mereka lakukan. Ponsel Malika berbunyi, dia segera mengambil dalam tas tangannya, ternyata Kartika yang menelpon nya.


Kartika mengabari jika Ayah mereka di perbolehkan pulang besok pagi oleh dokter. Sebersit senyum mengembang di sudut bibirnya. Pikirannya yang tadi masih berat kini terasa ringan karena satu masalah telah teratasi.


Ternyata Papa nya selama ini bukan pergi meninggalkan mereka dan menelantarkan mereka, namun Kedua orang tua Papa nya yang memisahkan mereka karena tak merestui hubungan Papa dan Mama nya yang anak Yatim piatu. Papa nya di asingkan ke luar negeri dan diberitahukan kalau anak dan istrinya sudah meninggal dunia karena kecelakaan.


Sungguh dusta yang teramat kejam, Malika dan Kartika baru bertemu ayahnya ketika sang ibu memberikan alamat rumah keluarga besar ayahnya di Jakarta. Saat Malika sudah menyelesaikan pendidikannya saat cuti dia mengajak Kartika ke Jakarta untuk mencari jejak ayahnya. Setelah bertanya kesana kemari akhirnya Malika bertemu dengan Ayahnya saat lelaki tua itu sedang duduk melamun di depan rumah besar yang sudah tak terawat.


Malika menghela nafas berat dia tak mau menceritakan kisah keluarganya yang menyedihkan pada Axell. Biarlah waktu yang akan menjawab semua tanya Axell. Setelah bertukar alamat mereka berdua berpisah untuk sementara dan saling berjanji akan bertemu kembali secepatnya karena mereka sudah berada satu kota sehingga memudahkan mereka bertemu.


 


Andrea tertidur karena pengaruh obat yang tadi di minumnya. Mama menunggu kedatangan Axell yang tadi pamitnya hanya sebentar tapi hampir satu jam dia belum kembali dari kantin.


Papa mengirim pesan pada Mama kalau nanti teman-teman Papa akan datang menjenguk Andrea karena mereka tahu kalau putri kesayangan rekan kerja nya itu sedang sakit.

__ADS_1


Pintu kamar di ketuk dari luar, Mama berjalan membuka kan pintunya. Nampak anak bujang nya itu datang sambil senyum senyum.


"Axell kantin nya pindah ke Jerman ya? "canda Mama nya dengan suara berbisik takut membangunkan Andrea.


"Hehe.. Maaf lama ya Ma,tapi Axell janjian bertemu dengan Malika. "


Alis Mama mengkerut. Beliau heran mendengar perkataan anak bujang nya itu.


''Malika mantan pacar kamu waktu sekolah dulu? kok bisa bertemu disini? bukan lah rumahnya di Surabaya dek? "


Axelle duduk di depan Mama nya menggengam tangan ibunya dengan wajah cerah dan mata yang berbinar-binar


"Hehhe... Mama masih ingat aja mantan pacar Axell. Untung cuma satu coba kalau ada sepuluh apa mama masih ingat juga? hahahaha" jawab Axell bercanda.


Mama mencubit pelan pipi anak bungsunya.Beliau memang dekat dengan kedua anaknya sehingga anak-anak nya selalu terbuka pada dirinya saat berpacaran dengan siapa saja. Pun saat putus pun Mama jadi orang pertama yang menangisi perpisahan mereka.


"Malika sekarang tinggal di Jakarta Mah, dan ayah nya sekarang di rawat juga disini karena sakit jantung"


"Kasihan ya nak Ayah Malika. "Axell mengangguk lalu dia mengeluarkan sekotak nasi padang untuk makan siang Mama nya.


"Mama makan siang dulu, Axell sudah makan tadi dengan Malika" Ibunya tersenyum menerima nasi pemberian anaknya. Andrea terbangun karena mengendur bau makanan dari kotak yang di bawa adiknya.


"Cell tolong ambilkan minum Kakak"perintah nya dan adiknya itu mengambilkan gelas berisi air minum kakaknya.


"Kak dapat salam dari Malika. Tadi Axell bertemu dengan nya. "Andrea mengangguk dan membalas salam Malika.


"Cell, bisa gak sih kalau kakaka di rawat jalan saja di rumah? kakak ndak kerasan disini" kata Kakaknya.


Axelle tertawa terkekeh melihat kakak nya yang merengek ingin pulang. Dia menjelaskan kalau Kondisi fisiknya sudah benar-benar sehat mungkun bisa jadi 2 hari lagi akan di perbolehkan pulang.

__ADS_1


Andrea memberengut kesal.


__ADS_2