Balada Cinta Anak Manusia

Balada Cinta Anak Manusia
Minta bantuan Bimo meluluhkan andrea


__ADS_3

Ting.. tong...


Ting.. tong...


Suara bel di rumah bergaya Eropa dan bertempat di perumahan mewah itu berbunyi. Seorang lelaki berbadan atletis dan memakai kacamata itu berjalan membuka pintu rumahnya.


"Assalamualaikum" sapa suara merdu pemilik wajah ayu yang memiliki senyum teduh.


"Waalaikum salam, eh sayang darimana? " tanya lelaki itu sambil menerima kecupan di pipi nya.


"Lho Mas lupa ya,tadi kan aku udah pamit mau ke rumah Bunda mengambil titipan dari Bunda. Nih bumbu rempah segala macam masakan udah di siapin Bunda"


Adinda memperlihatkan satu goody bag besar barang bawaannya ke atas. Bimo tersenyum dan mengambil barang bawaan istrinya itu dan membawa nya masuk ke meja makan.


"Mas kok sudah pulang? katanya ada meeting dengan Pak Direktur? " Dinda menutup pintu ruang tamu lalu mengekori tubuh suami nya ke dalam ruang makan.


"Udah meeting sebentar aja, ohya Mami Nginepnya besok karena hari ini masih menghabiskan jatah voucher hotelnya"jawab Bimo


"ehmmm....gitu ya, untung aku udah belanja keperluan dapur tadi sekalian. Jadi besok gak terburu-buru memasak buat Mami"


Adinda mengeluarkan satu kotak makanan yang masih hangat. Se ekor Ikan bakar plus lalapan dan sambal nya. Bimo mengambil piring saji dan menyerahkan pada istrinya.


"Mas besok Mami mau di masakin apa? aku jadi bingung mau menjamu Mami karena belum tahu kesukaan beliau" tanya Dinda ragu-ragu dia tak enak hati menanyakan hal itu pada suaminya.


"Coba aku telpon Mami saja,karena aku juga lupa makanan favorit Mami, tapi setahu ku Rendang daging dan oseng paru kering. "


Adinda mengangguk dan mulai menyiapkan piring dan beberapa peralatan makan untuk makan malam.


Bimo membantu menyiapkan hidangan makan malam karena waktu telah menunjukkan pukul 16.30 wib setelah melaksanakan sholat magrib biasanya mereka akan menyantap makan malam berdua.


Ponsel Bimo berbunyi dia segera mengambil benda pipih berukuran 7,5 cm itu dari atas meja makan. Ternyata adik laki-laki nya yang menelpon.


"Mas tolong bantu aku! "tiba-tiba Aryo menodong nya lewat telpon.


"Hah?? bantu gimana maksud kamu? "tanya Bimo heran.

__ADS_1


"Mas tolong bantu aku menjelaskan pada Andrea kalau aku tak ada hubungan apapun dengan Dona! "jawabnya lirih.


"Ya elah masalah itu doang Kirain ada masalah serius. Kan sebelumnya dia udah tahu kalau Dona hanya sepupu kita" jawab Bimo. Daripada berdebat dengan Abangnya akhirnya Aryo menceritakan kejadian yang di alaminya.


Dinda ikut mendengarkan keluh kesah adik iparnya. Untung saja Bimo tak di paksa menikahi sepupunya kalau tidak dia akan mengalami hal yang sama seperti Andrea.


"Owh jadi sekrang Andrea ngambek ceritanya?" ujar Bimo sambil tersenyum jahil.


"Iya Mas dan gak mau aku telpon. Ya memang aku salah sih kemarin aku udah janji mau jalan ke Mall sama dia tapi aku batalin karena Mami memaksa aku "


Bimo terkekeh mendengar keluh kesah adiknya dia memang tahu jika Aryo bakalan luluh pada Ibunya namun jika harus mengorbankan perasaan dan masa depan hubungan percintaan mereka lebih baik Aryo berterus terang saja daripada dia terkesan tidak punya pendirian.


Akhirnya dia menasehati Aryo harus berbicara berterus terang pada sang Mami tentang hubungannya dengan Andrea yang sudah taraf bertunangan agar Mami tak mengganggunya lagi.


Karena dia paham dengan perasaan wanita yang di abaikan dan tak dianggap itu menyakitkan. Dia tahu pasti Andrea merasa tak dianggap oleh Mami karena sejak awal memang Mami sudah tidak menghendaki hubungan Aryo dan Andrea.


"Mami besok ke rumah Mas kan? tolong lah kasih pengertian Mami. Bantu Aku Mas!"Rengeknya lagi.


Adinda mengulurkan selembar tissu pada suaminya karena melihat keringat yang menggumpal di dahinya. Bimo meraih tissue itu dan menyapu wajahnya.


"Oke oke... kalau bisa malam ini bawa Andrea ke rumah Mas Bimo, kita makan malam disini. Nanti Mas akan kasih pengertian calon istri kamu biar gak ngambek lagi. Yank nanti kita makan bareng dengan Aryo dan andrea ya? "kata Bimo pada Istrinya.


"Ya Mas, aku tambahin lagi masakan nya" jawab Dinda sambil berlalu ke dapur.


"Tapi Mas Andrea gak mau menerima telpon aku! WA pun cuma di baca doang. kesel kan? "Rengeknya persis anak kecil pada kakaknya.


"Nanti kak Dinda yang akan telpon Andrea! "tegas Bimo melibatkan istrinya agar istrinya merasa di hargai.


"Eh.. ada Kak Dinda disitu? parah nih Mas kan jadi Malu?! "sumurnya kesal.


Adinda tersenyum mendengar iparnya itu malu namun di adalah wanita dewasa yang matang jadi dia bisa menyikapi permasalahan iparnya itu dengan kepala dingin.


Setelah selesai berbicara dengan adiknya, Bimo menyuruh Adinda menghubungi Andrea melalui ponselnya.


 

__ADS_1


Sore itu Andrea uring-uringan karena rasa cemburu nya pada Dona yang terlihat mempunyai tempat istimewa di hati ibunda kekasihnya. Dan jengkelnya itu kenapa Aryo tak bisa terus terang berbicara pada Ibunya tentang status mereka yang telah bertunangan ataupun menolak secara halus.


Tring... tringgg...


suara ponselnya berbunyi. Dengan malas dia mengambil gawainya yang berada di atas nakas dengan tangan kiri.


Kak Dinda call


Dengan cepat dia menggeser aplikasi berwarna hijau itu dan Adinda mengundang untuk makan malam bersama hari ini jam 18.30 Wib dan nanti akan di jemput Aryo.


Mau menolak tak enak, mau menginformasikan iya kan dia sedang mode in ngambek sama Aryo. Jadi serba salah akhirnya dia terpaksa menerima undangan itu.


Masih ada 2 jam persiapan makan malam dengan calon kakak iparnya dan dengan agak malas dia mulai masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri serta mempersiapkan dandanan terbaiknya malam ini.


 


Mobil sedan warna silver metalik sudah berhenti di depan pagar rumah keluarga Andrea. Tampak seorang pemuda berambut cepak keluar membawa satu buah buket coklat kesukaan Andrea.


Dengan dada berdebar dia mulai memencet bel di atas pagar. Tak lama kemudian seorang lelaki bertubuh atletis dan berambut mowhack keluar membuka pagar.


Axell Kebetulan mau mengeluarkan motor sport nya juga lalu mempersilahkan Aryo masuk. Dia tersenyum menyelidik melihat calon kakak iparnya itu membawa buket coklat.


"Kayaknya ada yang ngambek nih... sampai bawa sogokan coklat.. hahahaha" ledek Axell karena dia selalu ingat jika Andrea mogok bicara dan ngambek dengan Aryo ujung-ujungnya sebagai penawar nya adalah buket coklat kesukaannya.


"Sotoy! Hahaha.. "sahut Aryo setengah malu dan melempar satu buah coklat ke arah calon dokter itu.


"alhamdulillah.. kebagian juga nih.. semoga ngambeknya agak lama ya Mas.. kalau lama ntar beda lagi sogokannya... hahaha"


Akhirnya Aryo sudah masuk ke ruang tamu namun belum sempat duduk Andrea sudah keluar dari ruang kamarnya.


"Yuk berangkat! "ajaknya cepat.


"Lah Om dan Tante Mana,aku mau pamitan dulu! "tolak nya.


Andrea masuk ke ruang keluarga yang berada di dekat kamar orang tuanya. Dia mengetuk pintu kamar itu kemudian Mama nya keluar. Dia berpamitan pada Mamanya untuk dinner bersama kakak kandung Aryo

__ADS_1


__ADS_2