Balada Cinta Anak Manusia

Balada Cinta Anak Manusia
Aryo pusing


__ADS_3

Aryo dan Myrna sudah tiba di rumahnya. Dengan wajah sumringah Aryo bersiul-siul riang, Myrna mencebikkan mulutnya di hadapan Aryo. Dia sebal dengan tingkah Kakaknya yang kasmaran dan seperti puber lagi. Dasar Kakak gak peka, dia kan juga pengen ketemu dengan kekasihnya tadi, tapi Aryo meminta menemani nya ke rumah Andrea. Alhasil Tito membatalkan kedatangannya ke rumah


Tito adalah kakak tingkat di kampusnya sepantaran dengan Andrea. Myrna mengambil jurusan psikologi dan Tito mengambil jurusan architecture. Sebenarnya dulu Myrna sempat mengagumi sosok Axell namun dia tak berani menampakkan perasaan nya dan dia juga memikirkan hubungan Andrea dan Aryo. kok sepertinya kurang orang saja sampai mencintai adik Andrea. Akhirnya rasa kagum nya pada Axell di buang jauh perlahan-lahan. Jika Aryo kelak menikahi Andrea merek akan jadi saudara ipar.


Axell yang cuek dan sangat dingin terhadap perempuan. Memang Axell selama ini tak pernah menampakkan kekasihnya pada teman-teman nya, karena dia hanya menjalin hubungan dengan Aruna saja dan itu pun kandas di tengah jalan. Sejak itu Axell memilih fokus kuliah dulu sampai gelar dokter nya tercapai baru dia akan memikirkan pasangan. Toh dia masih berharap pada Aruna jika gadis itu belum memiliki kekasih maka dia akan memberanikan diri untuk meminta nya lagi menjadi kekasih nya.


"Hmmmm...gembira banget mas bro, gak tahu ya adik nya merana" sungutnya sengit.


Aryo mengacak rambut adik bungsunya yang sekarang sudah menjadi gadis yang cantik dan banyak yang berebut mendekatinya juga. Kecantikan Bunda menurun pada Myrna, dan sikap manja nya itu masih saja melekat walaupun dia sudah menjadi mahasiswi.


Kadang di Mess nya Aryo merindukan manja dan centilnya Myrna begitupun dengan Bimo walaupun dia sudah memiliki istri dia juga masih memanjakan adik bungsunya itu. Kalau sudah berkumpul bersama kedua kakaknya dia pasti akan di jadikan bullying mereka.


"Oh ya Pasti happy dong say...Besok deh Mas temani ketemu Tito biar bisa happy juga." jawab Aryo asal tapi masih dengan mode senyum khasnya.


"Ehhh. gak..gakk..gak usah di temani lah,emangnya anak SD mau main ke rumah temannya. Bisa berabe dong kalau pacaran di kintilin Abang nya..." sungut nya lagi.


Aryo ngakak dan mencubit pipi adiknya dengan gemas.Dia sadar adiknya itu tak akan mau lagi di temenin. Mobil sudah berhenti di dalam garasi.Mas Boni si security keluarga mereka sudah sigap membuka gerbang pagar .


" Selamat malam Mas Aryo, Mbak Myrna." sapa Mas Boni.


" Malam Mas Boni, ohya ini ada martabak buat Mas Boni sama Mas Tono. Sekalian kopi nya ini" Aryo memberikan makanan dan kopi untuk security nya.

__ADS_1


"Wah Alhamdulillah rejeki nomplok. Makasih Mas dan Mbak...semoga banyak rejekinya... sering-sering aja ya Mas..hehehe" Boni girang sekali menerima martabak dari Aryo. Lalu dia kembali lagi ke pos jaga nya untuk menikmati kudapan tadi bersama rekan kerja nya.


Kedua kakak beradik itu masuk ke dalam rumah dan masing-masing memasuki kamarnya sendiri-sendiri.


Aryo merebahkan tubuhnya di atas ranjang empuknya. Pikirannya melayang membayangkan beberapa bulan lagi dia akan menikahi kekasihnya. Dia akan bersanding dengan gadis pujaannya itu.Lalu tiba-tiba dia teringat lagi dengan Mami nya.


Urusan dengan Mami belum selesai dia pusing memikirkan cara untuk lepas dari tekanan Mami yang terlalu ikut campur urusan masa depan nya. Dia tahu setiap orang tua menginginkan kehidupan anaknya lebih baik dari hidup mereka, tapi mereka juga tak mengerti jika kebahagian yang mereka ingin kan tidak sama dengan yang di inginkan anaknya. Uang dan kekayaan adalah patokan Mami untuk masa depan Anak-anak nya.


Urusan cinta bisa belakangan seiring berjalan nya waktu dan kebersamaan pasti cinta itu datang begitu pendapatnya. Dia pernah merasakan hidup kekurangan karena terjebak dengan cinta di masa muda. Mimpinya hancur karena kehidupan pernikahannya dengan Bagus tak seindah masa pacaran. Karena itu dia ingin menyetir anak-anak nya agar mengikuti semua aturan yang di buatnya. Untuk Aryo dan si kembar. Kalau untuk Bimo dia sudah tak berani mengatur karena sejak dulu dia tak pernah dekat dengan Bimo.


Aryo mengeluarkan ponselnya dan mencari nama Bimo. Sejak Bimo pindah rumah memang komunikasi mereka sebatas telepon dan WhatsApp saja. Pertemuan intens mereka tak bisa lama karena keterbatasan waktu dan kesibukan mereka berdua.


Saat ini dia sangat butuh pendapat Bimo sebagai orang yang paling mengerti dirinya dan Mami. Bimo bisa jadi penengah jika dia beradu argumen dengan Mami. Dan Bimo juga bisa menaklukkan Mami jika Mami marah.


"Assalamualaikum Mas" kata Aryo saat teleponnya di terima oleh Bimo


"Waalaikum salam, lho Yo' kamu kok bisa telepon Mas. kamu di rumah?" tanya Bimo heran karena adiknya bisa menghubungi nya.


" Iya mas lagi pesiar. Kebetulan Minggu depan mau ke Jogjakarta ada kegiatan kedinasan. Jadi kami di berikan cuti selama 3 hari."


Bimo manggut-manggut saja lewat video call. Dia melihat wajah Aryo tampak mendung seperti memikirkan masalah dan bisa jadi dia sedang mengalami masalah, kalau tidak ada masalah pasti Aryo sekarang tak akan menelpon nya.

__ADS_1


" Ada apa? " tembaknya langsung to the poin.


Wajah Aryo mendung seperti tak semangat.


"Mami mau ke Jakarta Mas dengan Dona dan Tante Wina."


"Apa? ada acara apa mereka kesini?" Tanya Bimo heran.


"Menagih janji ku untuk menjajagi jalan dengan Dona. Mas ingat kan saat kita ke Bandung beberapa bulan lalu. Dan saat menikah kemarin Mami juga ada dan mengingatkan aku lagi "


Bimo menghentikan kegiatan nya menulis sesuatu di kertas resep.


"Maksud kamu Mami meminta kamu berpacaran dengan Dona?"


"Iya Mas. Aku bingung harus mengatakan apa pada Mami kalau aku sudah bertunangan dengan Andrea "


"Kamu harus terus terang sama Mami, biar bagaimanapun kamu harus tegas untuk masa depan mu sendiri. Kebahagiaan mu di tangan mu sendiri" Bimo menasehati adiknya yang sampai detik ini ternyata belum berterus terang ada Ibu mereka.


Aryo takut jika Mami mengalami serangan jantung lagi jika mendengar penolakannya pada Dona dan dia sekarang telah bertunangan dengan gadis yang jadi pilihannya sejak Sekolah dulu.


Bimo menggeleng kan kepala mendengar keresahan adik nya. Aryo memang anak baik dan tak pernah bisa menolak keinginan orang tua nya. Tapi Bimo juga tak mau adiknya itu korban perasaan juga dengan rencana perjodohan Konyol orang tua perempuan nya itu.

__ADS_1


__ADS_2