
Upacara pelepasan relawan mahasiswa berjalan hikmat dan lancar, ada rasa haru dan kuatir di hati para Mahasiswa dan mahasiswi yang memiliki kekasih di Mapala. Namun mereka juga tersenyum bangga karena para relawan tersebut adalah pahlawan kebanggaan kampus ini.
Air mata kesedihan membasahi pipi cubby Ratna karena melepas Satria. Ingin rasanya menghambur di pelukan lelaki itu namun dia cukup bisa menahan diri agar tidak melakukan hal yang belum waktunya berpelukan dengan lelaki yang belum menjadi mahram nya itu.
Andrea menggenggam erat tangan sahabat nya itu dengan air mata yang meleleh di pipinya. Dia teringat Aryo, pasti lelaki nya itu sekarang bersiap berangkat ke Merapi juga.
Dadanya sesak, andaikata dia bisa ikut pasti pikirannya akan tenang namun dia kembali teringat nasihat Papa nya yang menyuruh nya bersabar dan berdoa menyerahkan semua urusan keselamatan Aryo pada sang pencipta karena hanya pada Allah SWT lah tempat nya bergantung sekarang.
Satu persatu Mahasiswa dan Mahasiswi anggota Mapala naik ke dalam bus milik BASARNAS itu, sebelum naik ke dalam bus Satrio dan Zul berjalan mendekati Ratna dan Andrea, dia menggenggam kedua tangan kekasihnya itu sambil tersenyum.
"Doakan kami semua baik-baik disana ya Sayang. " Satria juga ingin memeluk kekasih nya namun dia juga sangat menghormati Ratna yang memang menjunjung prinsip tidak mau berpelukan ataupun berciuman sebelum mereka resmi menikah.
Satria mengambil sapu tangan yang ada di saku celana nya lalu menghapus air mata di pipi gadis itu. Hanya sebatas itu yang dia lakukan dan Ratna pun makin tergugu.
"Satrrrriaaa !!! Zull !! Yukss cepat naik!!" seru Andy koordinator lapangan dari dalam bus dan kebetulan dia duduk di samping jendela.
Lelaki itu mengusap pucuk kepala Ratna dan tersenyum pada Andrea.
"Kalian berdua baik-baik juga disini. Kami pasti akan pulang dengan selamat okay. Jangan nangis lagi jelek!" canda Satria kemudian menjabat tangan Ratna dan Andrea. Zul tak berkata sepatah kata pun pada Andrea hanya sorot mata yang sedih terpancar dari mata elang nya. Dia juga menyalami kedua gadis cantik itu.
Setelah itu Satria dan Zul membalikkan badan dan berjalan menuju bus tanpa menoleh lagi.Rasanya berat juga berpisah dengan gadis nya. Dulu saat dia berpacaran dengan Nindy teman seangkatan nya juga dia tak pernah merasa berat hati jika akan pergi naik gunung.
__ADS_1
Nindy yang tomboy dan cuek tak pernah sedikit pun memperlihatkan rasa kuatir nya pada Satria. Itu lah yang membuat langkah Satria selalu ringan jika pergi naik gunung dengan team nya.
Bus telah berjalan melewati gerbang dan mulai meninggalkan kampus berwarna biru itu. Ratna melambaikan tangan hingga bus tak terlihat lagi. Ratna menangis sesenggukan di dalam pelukan Andrea dan mereka berdua pun saling bertangisan seperti film bolywood.
Kedua gadis itu berjalan meninggalkan tempat upacara dan menuju tempat parkir karena mereka juga akan segera pulang ke rumah. Andrea terdiam di boncengan Ratna sepanjabg perjalanan pulang mereka berdua terdiam bermain dengan pikiran nya sendiri. Saat ini Andrea memikirkan Aryo.
20 menit kemudian motor matic warna merah itu sudah berhenti di depan gerbang rumah sahabat karib nya itu.
"Masuk dulu Rat, kita nge teh dulu di dalam. Mama tadi bikin lumpia kayaknya" kata Andrea.
Ratna mengangguk daripada dia di rumah bengong sendiri memikirkan Satria lebih baik dia nongkrong di rumah Andrea dulu agar kesedihan nya bisa terbagi dengan sahabat nya itu.
🍍🍍🍍🍍
Bukan masalah sweeter nya namun dia melihat dari perhatian Andrea padanya yang membuatnya senang. Dia tahu Abdrea memberinya sweeter karena merasa bersalah saja namun itu tak menjadi masalah bagi nya yang penting perhatian Andrea itu sudah cukup.
Satria pun menerima sweeter dari Andrea namun berwarna lain. Andrea sengaja membelikan barang yang sama pada kedua lelaki itu agar tidak ada perasaan gede kepala pada Zul.
"Zul, gue dapat ini dari Andrea" kata Satria sambil menunjukkan sweeter pemberian Andrea.
Zul yang duduk nya di depan Satria menoleh kebelakang. Matanya terbelalak juga melihat sweeter yang di pegang temannya itu. Tiba-tiba wajahnya mendung terlihat sorot matanya penuh kekecewaan.
__ADS_1
Hmmm....jadi bukan aku saja yang di kasih sweeter itu. Ternyata aku tak berarti apapun di hatinya..Desahnya dalam hati.
Bibirnya melengkung ke atas dengan terpaksa lalu dia juga memperlihatkan sweeter pemberian Andrea pada Satria. Lelaki itu mendelik terkejut juga ternyata mereka di belikan sweeter kembar cuma beda motif oleh Andrea.
Satria tertawa geli melihat ekspresi Zul pasti sahabatnya itu mengira dirinya spesial di hati Andrea. Kasihan sekali kau bray..ledeknya dengan lidah di julurkan ke depan.
Perjalanan Jakarta ke daerah Boyolali memakan waktu 9 jam. Mereka berangkat menggunakan 1 bus pariwisata, di dalam bus terisi para Mahasiswa dan anggota Basarnas berjumlah 10 orang.
Selama perjalanan mereka saling bertukar pengalaman dengan para petugas dari Basarnas. Memang dari beliau sudah sering melakukan kegiatan penyelamatan korbam bencana Gunung Merapi yang berkali-kali mengamuk memporak poranda kan beberapa desa disana.
Satria dan Mahasiswa yang bertugas sebagai team penyelamatan mendengarkan dengan seksama petunjuk dan arahan dari para bapak-bapak senior itu. Mereka juga membagi anggota menjadi 4 regu, 1 regu berisi 4 orang dan akan di dampingi 2 orang anggota Basarnas. Sisa nya akan bertugas di dapur umum untuk menyediakan makanan bagi para warga terdampak.
Setelah perjalanan yang melelahkan itu akhirnya rombongan universitas Merah Putih itu memasuki desa yang menjadi tempat tinggal sementara pengungsian.
Keaadan para warga pengungsi sangat memprihatinkan. Mereka tinggal di tenda seada nya. Pemerintah sudah menyalurkan bantuan namun karena banyak nya pengungsi membuat fasilitas dari pemerintah itu terpakai semua bahkan kurang.
Bantuan dari warga dari donatur lain kota pun berbondong-bondong mengalir dan sudah di gunakan juga untuk kepentingan bersama.
Rombongan Satria dan Zul di sambut pemerintah setempat dengan ramah dan tangan terbuka. Mereka mengapresiasi niat tulus para mahasiswa itu untuk membantu pekerjaan Team Basarnas untuk mengevakuasi korban yang masih tertinggal di desa terdampak.
Hari itu mereka datang sudah sore dan tidak mungkin mereka lanhsung ke lokasi terdampak untuk melakukan evakuasi warga. Sehingga waktu sore hingga malam itu mereka isi dengan membantu para sukarelawan yang sedang merawat lansia dan anak-anak yang sakit di posko. Untuk Mahasiswi putri membantu di dapur Umum untuk memasak makan malam.
__ADS_1
Tepat pukul 18.30 wib, 2 buah mobil bus milik rombongan TNI berhenti tepat di pendopo kelurahan tempat di sebelah posko darurat pengungsian. Setelah melapor pada petugas jaga, seorang anggota Taruna masuk kembali ke dalam bus untuk menginstruksikan pada semua taruna untuk segera bersiap untuk turun ke pendopo.