Balada Cinta Anak Manusia

Balada Cinta Anak Manusia
cemburu


__ADS_3

Aryo menitik kan air mata ketika mendengar ucapan selamat dari Ayahnya lalu Pak Bagus melambaikan tangan pada istrinya untuk mendekat. Bunda segera mendekati kedua lelaki yang ada di depannya itu.


Pak Bagus memeluk Bunda bertiga mereka menangis haru. Karena Bunda juga lah Aryo bisa kuat seperti ini. Kasih sayang tulus Bunda membuat nya tak kekurangan kasih sayang serta figur seorang ibu dan bisa tegar menghadapi semua masalah saat sekolah dan masa puber nya berkat pendampingan Bunda.


"Selamat ya Sayang, Bunda Bangga pada mu. Tetap membumi ya nak walaupun nanti nya sudah melangit. Tetap istiqomah taat dalam ibadah nya dan sukses dimanapun nanti berasa. " kata Bunda sambil menyeka air mata haru yang menitik di pipinya yang sudah mulai ada garis halusnya.


"Terimakasih untuk semua nya Bunda, Aryo bisa seperti ini berkat doa Papi, Bunda dan semuanya. Bunda adalah malaikat tak bersayap Aryo. " jawab pemuda berkulit kuning itu pelan menahan haru.


Makin tumpah ruah lah air mata Bunda mendengar perkataan anak sambungnya yang telah di asuhnya sejak masih berusia 5 tahun itu dengan perasaan iba dan sayang tulus.


Setelah saling melepaskan pelukan, kedua orang tua itu memberi kesempatan pada anak-anak nya untuk mengucapkan selamat pada Aryo. Dan terakhir adalah Andrea yang berjalan perlahan dengan dada berdegup kencang karena bahagia dan haru menjadi satu.


Andrea menyerahkan buket bunga mawar merah putih untuk Aryo, lalu tangan nya terulur memberi ucapan selamat. Seandainya tak ada orang tua nya mungkin saat ini Aryo akan berlari memeluk kekasihnya namun dia masih sungkan dan Andrea pun tahu jika waktunya tak tepat untuk bermesraan dengan Aryo.


Dia mencium tangan Aryo keduanya saling memandang penuh kerinduan, suara deheman Myrna membuyarkan pandangan mereka berdua. Aryo hanya nyengir kuda ketahuan adiknya memandang Andrea penuh rasa kangen.

__ADS_1


" Ingett belum halal Mas! hihi" canda Myrna usil. Kedua orang berlainan jenis itu tersipu malu lalu Andrea menarik tangan nya darin genggaman Aryo. Di luar gerbang tampak dua orang wanita beda usia sedang berlari kecil mencari sesosok lelaki yang di rindukannya pula.


"Yahhhh acara intinya udah Selesai. Percuma dong ke sini! " seru wanita yang lebih muda sambil berhenti mengatur nafasnya yang ngos-ngosan.


"Udah jangan bawel, Tante telpon Aryo lagi deh!! " sungut wanita yang lebih tua.


Wanita itu adalah Bu Hana Saraswati yang datang terlambat karena terhambat kecelakaan di jalan tol tadi. Dona yang memakai gaun berleher Sabrina terlihat menjadi pusat perhatian disana. Sudah kesal karena terhambat eh sekarang dia kepanasan dan haus sekali.


Bu Hana mengajak Dona menepi di tempat teduh lalu mengeluarkan ponsel pintarnya. Dia mulai menghubungi Bimo sesaat kemudian hape nya berbunyi nyaring dan benda pipih itu di tempel kan ke telinga kanan nya.


Suasana penuh tawa dan beberapa keluarga tampaknya saling bercengkrama untuk beramah tamah. Aryo duduk di samping Andrea dengan tegap, Karena sekarang acara bebas santai maka mereka saling menikmati snack dan nasi kotak yang telah di sediakan panitia. Bu Hana terlihat datang sambil membawa sebuah hadiah yng telah di bungkus rapi di tangan nya.


"Aryo... hiks... hiks.. " Tiba-tiba saja wanita itu datang sambil menubruk tubuh anaknya tanpa mengucapkan salam terlebih dahulu.


Pak Bagus terdiam dia hanya bisa menghela nafas saja melihat tingkah laku mantan istrinya yang absurd itu. Seperti tak memiliki etika pergaulan saja datang nyelonong tidak mengucapkan salam pada Pak Bagus dan istrinya.

__ADS_1


Aryo berdiri menyambut pelukan ibu kandung nya, walaupun dia tak menyukai kepribadian nya namun hati kecilnya yang paling dalam merasakan bahagia ibunya hadir di tengah-tengah kebahagiaan nya menjadi seorang Perwira muda.


Bi Hana masih memeluk anaknya dengan erat dan sesenggukan walau bagaimana pun juga dia ikut bangga atas pencapaian anak bungsunya itu.


"Terimakasih telah hadir disini Mi. Ayo Silahkan duduk Mi" Aryo melerai pelukannya.


Bu Hana akhirnya duduk di sebelah Bimo yang duduknya ada di ujung. Dia tak mau menegur Pak Bagus karena masih kesal dengan kejadian di Yogyakarta beberapa bulan lalu dan bagi Pak Bagus itu tak jadi masalah juga, dia merasa lebih baik diabaikan Hana sepet saat ini daripada mantan istrinya itu bikin keributan di saat yang tak tepat.


Dona mengulurkan tangan menjabat tangan Aryo dan memberikan sebuah bingkisan pada lelaki tampan itu.


*Selamat ya Ar, ini buat kamu dari keluarga Dona" kata gadis cantik yang memakai baju agak terbuka itu.


Aryo terdiam sambil melirik ke arah Andrea, sedangkan gadis yang sedang di lirik nya itu membuang wajah ke arah luar, Hatinya cemburu melihat Dona sedang memberikan hadiah untuk kelulusan kekasihnya namun dia tak kuasa melarang Aryo agar menolak hadiah tersebut.


"Ayo Ar, itu buat kamu, Tante vania sudah bersusah payah memberi itu lho, ayo di Terima! " kata Bu Hana mencoba menggosok anaknya.

__ADS_1


Pak Bagus sebenarnya ingin menggelengkan kepala agar anaknya itu tak usah menerima pemberian Vania karena takut ada udang di balik batu dari pemberian itu alias pamrih.


__ADS_2