Balada Cinta Anak Manusia

Balada Cinta Anak Manusia
pov andrea


__ADS_3

Kalau harus ku memilih pergi atau tinggal aku akan memilih pergi dari situasi tak menyenang kan ini, namun aku tak bisa terus menghindar dari masalah restu dari ibu kandung calon suami ku ini.


Memang aku akui salah telah berani berjanji pada Bu Hana untuk meninggalkan Mas Aryo saat itu, semua itu aku lakukan karena aku tak bisa berpikir jernih dan aku merasa harga diri ku di injak-injak.


Mungkin saat ini dia telah melihat aku sebagai wanita yang tak bisa di pegang ucapan nya tidak konsisten dengan janji nya namun apa lah daya rasa cinta ini begitu besar, semua restu sudah aku kantongi dan semua liku-liku perjalanan cinta kami sudah sangat lama tinggal menunggu titik final kami bersatu dalam ikatan sah tali pernikahan.


Bersatu berjanji dan berikrar di hadapan orang tua dan Tuhan. Entah bagaimana perasaan Mas Aryo sekarang yang jelas aku berusaha meredam kan gemuruh di dada ku yang terus bergema tak mengerti kondisi. Keringat sudah membasahi blouse ku padahal ruangan ini ada AC nya.


Kami semua di giring ke meja makan untuk menikmati makan siang yang telah di siapkan Kak Dinda. Aku duduk di samping Mas Aryo dan di seberang meja ku ada Mas Bimo serta kak Dinda. Di ujung meja duduk Bu Hana dengan wajah dingin yang tak bisa ku terjemah kan arti nya.


Rasanya hidangan yang menggugah Selera itu tak membuat nafsu makan ku terbit. Air liur ku berasa asam mungkin karena asam lambung ku naik karena stres menghadapi situasi ini.


Kak Dinda mulai menawarinya menyendok kan nasi pada Bu Hana, lalu wanita yang paras nya mirip dengan Mas Aryo yg itu menyuruh menantu nya untuk mengambilkan secentong nasi di piring nya.


Selanjutnya dia menyendok kan untuk suami nya lalu menawarkan pada kami. Mas Aryo mengambil alih periuk nasi itu dari tangan ipar nya. Ternyata dia melayani ku dengan mengambilkan secentong nasi putih di piring ku. Aku terharu mendapat perlakuan istimewa itu di depan keluarga nya namun aku sempat melihat Alis mata Bu Hana terangkat ke atas menandakan ketidak sukaan nya pada tindakan Mas Aryo melayani Aku.


"Hmmm... seharus nya yang melayani itu wanita bukan Pria nya.Sekarang aja seperti ini bagaimana besok?? Bisa di ngelunjak kan? " sindir Bu Hana.


"Mi !! Please!! "Jawab Mas Bimo.


"Huh! " Bu Hana melengos mungkin Kesal.


Sumpah aku ingin berlari saja keluar dari rumah ini agar aku bisa menangis menumpah kan rasa kesal yang ada di hati ku. Namun aku masih menghormati Bu Hana selaku Ibu Mas Aryo.


Dendeng balado kering yang seharus nya rasa nya nikmat ini terasa seperti pahit ketika melewati tenggorokan ku. Aku tak tahu ini hanya aku yang merasakan atau memang masakan ini pahit.

__ADS_1


"Ayo makan nya yang banyak ya masakan Dinda ini khusus Lho buat kita siang ini" kata Mas Bimo memecah keheningan.


Hanya denting sendok garpu yang beradu dengan piring kami serta bunyi gemericik air di aquarium ikan yang berada di ruang makan ini.


"Kak Dinda memang juara deh masakan nya semua nya enak! "puji Mas Aryo. Aku hanya tersenyum simpul tak berani bersuara.


"Apa ku bilang, Dinda emang jago masak. Rencana ke depan pengen buka kedai makanan kayak nya, "canda Mas Bimo.


"Ish cubit nih ngawur. Orang baru belajaran kok mau buka kedai, " timpal Kak Dinda tersipu malu.


Seperti nya Kak Dinda sudah di terima oleh Bu Hana sebagai menantu nya, apa kriteria menantu idaman Bu Hana itu seperti Kak Dinda ya, atau seperti Dona yang cantik dan dari keluarga berada.


"Ayo nambah lagi Dre, jangan di liatin doang Ayam nya gak bakalan hidup lagi kok hehehe" canda Mas Bimo mencoba mengajak ku bicara karena dari tadi aku hanya terdiam saja.


Apalagi orang itu adalah orang tua yang seharus nya memiliki kehangatan dan penerimaan yang baik bagi tamu nya walaupun tak menyukai kedatangan ku, setidak nya pura-pura lah tersenyum hingga nanti aku pulang, harap ku sendiri.


Beberapa saat kemudian kami telah menyelesaikan makan siang yang kaku dan dingin bagi ku. Aku sedikit kecewa pada Mas Aryo karena dia seperti nya belum membuka percakapan penting tentang hubungan ku dengan nya. Apa dia menunggu waktu yang tepat ya?


Setelah makan dan membereskan meja makan dan membantu Kak Dinda mencuci piring serta peralatan lain nya. Sebenar nya Kak Dinda melarang ku mengerjakan itu semua karena di rumah mereka ada asisten rumah tangga yang membantu namun aku sudah mati kutu di depan calon mertua dan rasa tak nyaman ku jika berhadapan dengan nya saat ini.


"Aku ingin membantu Kak Dinda biar cepat beres "jawab ku. Kak Dinda tersenyum hangat lalu memegang kedua tangan ku.


"Calon adik ipar ku yang cantik, jangan cemas dan gelisah ya. Berdoa saja semoga Mami luluh dan merestui kalian berdua. Yang penting sekarang ikuti dulu alur nya" Kata Kak Dinda membuat hati ku menghangat.


"Kak, waktu mau nikah dulu apa kakak langsung mendapatkan restu dari Bu Hana? "suara ku berbisik takut ada yang mendengar obrolan antara menantu dan calon menantu di dapur ini.

__ADS_1


"Hmmm... aku gak tahu Mami langsung kasih restu atau gak, yang jelas Kakak hanya 3x saja bertemu dengan beliau dan memang sikap beliau dingin juga pada Kakak namun Mas Bimo selalu berusaha mendekatkan dan membela aku di depan Mami nya. Jadi aku mau berjuang juga mendapatkan restu beliau."


Aku mengangguk angguk kan kepala tanda mengerti. Aku harus bersikap baik dan tetap menghormati Bu Hana apapun terjadi. aku akan tetap berjuang seperti Kak Dinda selama Mas Aryo juga memperjuangkan cinta kami.


Kami keluar dari dapur menuju ruang keluarga, tampak Mas Bimo sedang berjuang membuka kulit durian dengan tangan nya. Mas Aryo menyodorkan wadah ke arah nya. Tampak nya kehadiran mereka berdua membuat Bu Hana terlihat senang. Apa aku dan Kak Dinda bersembunyi saja ya, agar kebahagiaan mereka tidak berhenti.


Tiba-tiba Mas Aryo menoleh ke arah kami berdua. "Ayo kita makan durian ini udah di kupaskan Mas Bimo manis Lho ternyata hebat pilihan mu yank"


Aku menunduk malu karena pujian Mas Aryo itu memang aku juga penggemar durian sehingga aku sangat muda mengenali durian matang atau mentah dari membaui kulitnya saja.


Bu Hana terlihat menggeser geser ponsel nya lalu tak lama kemudian dia mulai bercakap-cakap dengan lawan bicara nya.


"Ayoo cepat kesini kita ada pesta durian juga..hahaha... jangan sampai Tante habiskan sendiri lho" kata nya sumringah.


Tak lama kemudian dia menyudahi percakapan nya. Lalu menoleh ke arah kami semua yang duduk bersila di bawah.


"Dona sebentar lagi datang kemari. Tolong belikan durian lagi pakai uang Mami saja" pinta Bu Hana dingin.


Wajah Mas Aryo terlihat masam dia merasa tidak senang seperti nya. "Beli nya jauh Mi, dekat rumah Papi. kalau Mami menyuruh Aryo beli lagi berarti sekalian aja Aryo pulang" jawab nya kesal.


bu Hana mencebikkan bibir nya yang memakai gincu warna terang.


"Ya udah gak usah kalau Gitu, kita makan yang ada aja.Tapi sisa kan satu untuk Dona" pinta nya lagi.


Duh jadi benar-benar gadis ini sangat special di hati Bu Hana. Apakah aku bisa merebut hati Bu Hana?

__ADS_1


__ADS_2