
Di rumah penduduk yang berada di perkampungan lereng gunung merapi, tepat nya tempat itu sudah menjadi base camp sementara para relawan dari mahasiswa tempat Andrea kuliah. Seorang lelaki terlihat murung, sudah beberapa hari ini dia tak bisa menghubungi kekasih nya.
Pasal nya ponsel nya kemarin terjatuh di selokan dan langsung mati total tak bisa di hidup kan lagi. Sial nya ketika dia ingin meminjam ponsel milik teman nya jaringan komunikasi sedang mengalami trouble.
Apalagi saat hujan abu kemarin yang mengakibat kan seharian mereka tak berani berada di dalam rumah dan beramai-ramai mengungsi di tenda besar yang berada di radius 10 km dari lokasi. Tepat nya di depan pendopo kabupaten.
Zul melihat sahabat dekat nya itu murung dia tak tahu jika ponsel milik Satrio jatuh ke dalam parit.
"Bang Sat ! Eh..heahahahaha.." canda Zul mencairkan suasana yang terasa sepi.
"Sialan lu!" jawab Satrio gemas.
Zul terkekeh kemudian duduk di samping sahabat nya itu. Dia menawarkan segelas wedang jahe yang masih mengepul kan asap buatan para penduduk desa yang kebagian memasak di dapur umum hari ini.
" Nih minun, wedang jahe gula merah. Biar anget badan dan otak hahhaha.." ledek Zul sambil mendaratkan pantat nya di bangku kayu yang panjang.
"Taroh aja disono !" jawab Satrio malas.
Zul meletak kna cangkir berwarna hijau itu di atas meja.
"Kenapa manyun ? Kucing lo hamil lagi?" canda Zul iseng.
Satrio melempar kan kulit kacang rebus ke arah Zul karena kesal. Sudah dia menahan rindu pada sang kekasih beberapa hari ini eh rindu nya tak bisa tersampaikan karena musibah yang tak di harap kan nya.
"Hape gue metong !" sungut nya kesal.
Zul mengangkat alis nya terkejut, dia tak tahu jika teman nya ini sedang mengalami kesulitan.
"What ! Kok bisa?"
__ADS_1
Satrio mengangkat kedua bahu nya " gak tahu, meluncur ke dalam parit di depan rumah yang kemarin ada penduduk yang terjebak di dalam nya."
Zul menggeleng kan kepala nya prihatin, lalu dia merogoh saku celana nya. Dan memberikan ponsel nya pada lelaki yang ada di depan nya itu.
" Pasti You butuh ini kan? Mau nelpon Ratna kan?"
Satria tersenyum miring. " Percuma juga ! Gak ada sinyal disini!:
Zul segera memeriksa layar ponsel nya dan dia berdecak kesal karena memang tak ada jaringan yang terdeteksi.
"Ya udah sih, tunggu besok pagi semoga sinyal nya udah ada." kata nya seolah memberi suport pada teman nya.
"Semoga Ratna gak berpikiran buruk. Gue juga mau ngabarin kejadian yang terjadi beberapa hari inike Ratna, ohya gimana kondisi Taruna yang kemarin mengalami kecelakaan di jurang? Semoga mereka selamat kasihan jika sampai terjadi hal.buruk pada mereka" satrio bergumam sendiri.
Zul kemudian menceritakan kejadian yang terjadi di rumah sakit hingga dia mendonor kan darah nya bersama dengan Tofan. Dia tak akan menyangka jika lelaki yang di tolong nya adalah lelaki yang ke depan nya akan menjadi rival nya dalam memprebutkan cinta Andrea.
"Syukur lah kalau mereka selamat dan semoga cepat pulih." jawab Satrio.
Satrio mengangguk setuju dan setelah nya mereka berdua masuk ke dalam temda darurat untuk beristirahat karena rasa lelah yang sangat dan mengharuskan nya untuk segera merebah kan diri di atas matras.
-----🍏
Pagi telah menjelang, matahari mulai menampak kan wajah nya malu-malu karena waktu masih menunjukkan pukul 06.00 wib. Namun selagi ini suasana di tenda darurat sudah riuh para pengungsi yang sedang melakukan aktifitas nya sehari-hari.
Zul dan Satrio sudah rapi dan bersiap pergi ke Rumah Sakit seperti rencana mereka tadi malam. Mereka berdua meminjam kendaraan inventaris kelurahan untuk ke rumah sakit, dan Zul yang pernah tinggal di Jogjakarta saat sekolah dulu sudah sangat hapal sekali dengan jalanan di kota gudeg ini. Tak mengheran kan jika jarak tempuh yang seharus nya memakan waktu 45 menit bisa lebih cepat 30 menit karena Zul bisa mencari jalan tikus yang cepat.
Satrio tampak senang sekali menghirup udara pagi kota pelajar ini, tak suasana yang masih tampak asli dan membuat rindu untuk selalu datang lagi. Para pelajar yang memakai seragam putih biru tampak ceria mengayun sepeda kumbang sambil bercanda dengan teman-teman nya.
Satrio melihat pengendara becak yang asyik mengayuh pedal sambil melambaikan tangan ke beberapa pejalan kaki dengan maksud menawari mereka menumpang becak nya.
__ADS_1
Zul mengajak Satrio membeli makanan untuk para penjaga pasien disana. Tadi dia sudah kontak Tofan saat keluar dari pendopo dan kebetulan jaringan sinyal sudah normal kembali.
10 kotak makan pagi sudah ada di tangan kanan dan kiri mereka dan Zul berpikir orang-orang yang berjaga sampai pagi pasti membutuh kan asupan gizi dan vitamin agar tidak ikut tumbang sakit.
Lelaki yang baik dan teman yang setia kawan adalah julukan pas untuk Zulfikar, walaupun baru berkenalan di tempat kejadian musibah beberapa hari yang lalu tapi dia sudah merasa nyaman akrab dan Nyambung dengan Tofan.
Motor telah terparkir dengan sempurna di parkiran motor di samping ruang ICU. Terlihat Ayah dan Kakak Galuh sedang meminum sesuatu dari cangkir merah sedang kan Tofan dan Bimo terlihat memejam kan mata dengan cara bersandar di kursi besi rumah sakit.
Mereka berdua berjalan dengan langkah terburu-buru agar segera sampai ke depan ruang ICU karena jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi jadi waktu nya sarapan bagi para penunggu.
Sebenarnya Bimo tadi sudah ke kantin rumah sakit namun kantin belum selesai menyediakan makan pagi, mereka baru menyediakan jajanan kue basah dan gorengan pengganjal lapar sementara.
Zul mengucapkan salam para mereka semua dan Tofan segera membuka mata mendengar suara teman baru nya. Tofan memperkenalkan Zul dan Satrio pada Bimo dan keluarga Galuh.
"Mas ini orang yang saya cerita kan tadi malam. Beliau lah yang mendonorkan darah nya untuk Aryo"
Bimo segera memeluk tubuh Zul yang masih berdiri serta mengucap kan banyak terimakasih pada Zul, kemudian dia tersentak sesaat karena sadar telah di peluk oleh Bimo yang bertubuh kekar.
Setelah mereka duduk dan berbincang hangat mengenai pertama kali Zul berada di tempat kejadian musibah. Satria membagi kan makanan untuk mereka yang berjaga disana.
Sambil menikmati Sarapan pagi nasi uduk dan teh hangat yang memiliki aroma melati mereka berbincang santai. Seorang perawat mendorong trolly berisi makanan untuk pasien masuk ke dalam ruang ICU.
Bimo mendengar kan cerita Zul dan Tofan bergantian. Dia merasakan ngeri saat mendengar Adik nya terpelanting karena menolong Galuh.
Di saat sedang asyik bercerita dari selasar loby Rumah sakit dua orang gadis cantik berjalan menuju ruang ICU.
Dan saat mereka sampai di ruang tunggu itu, bersamaan dengan Zul yang hendak membuang kotak bekas makan pagi nya ke tong sampah yang berada di luar ruangan.
Andrea tertegun melihat lelaki yang selama ini di hindari nya itu berdiri terpaku memandang nya. Mereka berdua saling terdiam sesaat namun kesadaran segera menghentakkan lamunan Zul dan membuat nya menyapa sang gadis idaman.
__ADS_1