Balada Cinta Anak Manusia

Balada Cinta Anak Manusia
Upaya penyelamatan Aryo


__ADS_3

Pintu kamar Andrea di ketuk dari luar dan suara Mbak Tini terus memanggil nama nya. Karena pintu tidak di buka Mbak Tini tidak sabar membuka dari luar. Ternyata pintu nya tak terkunci.


"Mbak Tini...huhu..huhu.hiks..hiks" tangis Andrea pecah ketika melihat wajah Tini menyembul dari balik pintu.


"Astaghfirullah hal adzim...kak kenapa tangan nya berdarah?" tanya Mbak Tini terkejut melihat telapak tangan gadis itu berdarah.


Mbak Tini segera masuk dan mata nya terbelalak melihat gelas yang sudah pecah dan pecahan nya berserakan di bawah nakas.


"Mbak Tini...sakit ! Hiks..hiks..hiks" Andrea hanya bisa menangis sambil memegang tangan kanan nya.


Mbak Tini segera memegang tangan Andrea dan melihat luka di telapak tangan gadis itu cukup dalam. Dengan perlahan dia meraba telapak tangan gadis itu takut ada kaca yang masih menempel disitu, syukur lah tak ada serpihan kaca yang menempel disana


Tini menghembuskan nafas perlahan wanita berusia 26 tahun dan masih single itu mencari sesuatu di dalam laci meja rias gadis itu. Akhirnya apa yang di cari nya ketemu, dia menemukan selembar sapu tangan berwarna biru lalu dia membalut luka Andrea dengan benda itu.


Untuk sesaat luka nya telah tertutup oleh sapu tangan dan darah sudah membasahi kain itu.


"Kakak tunggu disini dulu, Mbak mau ambil cairan pembersih luka sama antiseptic biar luka nya tidak infeksi. " kata Mbak Tini sambil meletakkan tangan Andrea ke atas nakas.


Andrea mengangguk lalu dia memejamkan mata menahan perih di tangan nya. Tiba-tiba jantung nya berdebar kencang mengingat Aryo.


Ya Allah semoga Mas Aryo disana sehat selamat. Jauh kan dia dari marabahaya. lindungi lah dimanapun dia berada.


Doa gadis itu sambil bersandar di kepala ranjang nya. Bibirnya di gigit dengan pelan entah mengapa hatinya gelisah. Ini hari ketiga Aryo pergi ke Merapi dan dia belum mendapatkan kabar dari calon suaminya.


Akhirnya dia meraih ponsel pintar nya yang tergeletak di ranjang dengan tangan kiri. Lalu dia mencari nama Bunda Aryo di daftar buku telpon nya. Rasanya perasaan ini bisa tenang kalau udah dengar kabar Mas Aryo siapa tahu bunda bisa menelpon Mas Aryo. Pikir nya cepat.

__ADS_1


Tuttt... tuuuttt... tuuuttt...


Dering ketiga akhirnya ada suara dari ponselnya.


"Assalamualaikum Bunda, " sapa Andrea parau karena habis menangis kesakitan tadi.


"Waalaikum salam nak, apa kabar nya? Andrea sehat? " jawab Bunda agak heran mendengar suara Andrea yang berbeda dari biasanya.


"Ehmm... iya sehat Bunda, bagaimana kabar Bunda dan Papi? sehat juga kan? Bunda apa sudah dapat kabar dari Mas Aryo,? " gadis itu memberondongkan beberapa pertanyaan sekaligus hingga Bunda bingung harus menjawab yang mana dulu.


"Alhamdulillah kami sehat semua disini, Bunda belum mendapatkan kabar dari Aryo nak. Rencana habis ini Bunda mau menelpon ke salah satu Senior nya yang membawa ponsel. Bunda kebetulan dapat nomernya dari Aryo saat dia pulang kemarin" Wanita berusia 50 tahunan itu menjelaskan..


Andrea menceritakan kegelisahan hatinya pada calon mertua nya itu dan karena tak mau menambah beban pikiran calon menantunya itu bunda tak menceritakan firasatnya saat pigora yang berisi foto Aryo itu terjatuh sendiri.


Mbak Tini masuk ke kamar setelah melihat Andrea menyudahi pembicaraan nya dengan Calon mertuanya. Padahal Sedari tadi dia mendengar percakapan Andrea dan dia juga merasakan kegelisahan seperti anak majikannya itu.


Semoga Mas Aryo sehat disana, doanya dalam hati lalu dia mengetuk pintu kamar Andrea dan bergegas masuk setelah Andrra menyuruhnya langsung masuk. Mbak. Tini sudah membawa kasa, cairan antiseptic dan obat antiseptic untuk membersihkan luka di tangan itu.


Dengan cekatan Mbak Tini mulai membuka sapu tangan dan di iringi dengan teriakan kecil Andrea. Mbak Tini membersihkan perlahan luka itu dengan Cairan pembersih dan seperti biasa Andrea akan berteriak mengaduh kesakitan.


Mama yang telah selesai memeriksa pekerjaan para karyawan nya itu terkejut mendengar teriakan Andrea dari dalam kamar. Mama segera masuk kedalam kamar putri nya dan melihat lantai kamar sudah basah dan ada pecahan gelas yang belum di bersihkan.


Mbak Tini menjelaskan kejadian yang di alami putri kesayangan majikannya itu dan Mama pun prihatin melihat tangan Andrea yang sekarang sudah di balut kasa oleh Mbal Tini.


Setelah selesai merawat luka Andrea, Asisten rumah tangga itu permisi keluar untuk mengambil sapu serta pengki untuk membersihkan kekacauan di kamar gadis itu. Mama melihat luka Andrea yang sudah tpai terbalik kasa perban dan plester.

__ADS_1


 


Di lereng gunung Merapi tepatnya di hutan tempat Aryo dan rekan nya berjuang untuk tidak jatuh ke dasar jurang, Tangan Aryo masih memegang Akar pohon Mahoni yang melintang panjang dan menjulur hampir ke arah jurang.


"Ar!! bertahan lah, aku akan menarikmu! " teriak Tofan dari atas.


Aryo yang bergelantungan sejak beberapa menit yang lalu hanya bisa pasrah dan tetap erat memegang akar pohon itu. Keringat sudah mengucur deras dari seluruh pori - pori di tubuhnya bahkan dia bisa merasakan tubuhnya menggigil kedinginan.


Tofan dan beberapa rekan nya berusaha menarik tangan Aryo dan 2 teman nya yang menggelantung juga. Satu teman nya berhasil di selamatkan tinggal Aryo dan Galuh yang belum bisa di tarik karena mereka takut tanah di sekitarnya ikut longsor karena tanah itu bekas runtuhan dari lereng.


Aryo hanya bisa pasrah dan berdoa air mata nya mulai menetes membasahi pipi nya. Dia memalingkan wajahnya melihat wajah Galuh yang putus asa.


"Galuh !!! bertahan lah!! " teriak Aryo pada teman nya seolah dia memberi Semangat pada diri nya sendiri.


Tiba-tiba angin bertiup kencang dan suara guruh mulai terdengar.Langit yang tadinya mendung mulai turun hujan. Pasukan Aryo mulai mencari tempat berteduh, namun Tofan tetap berusaha meraih tangan Aryo dia tak mau sahabat nya itu merasakan berjuang sendiri sedangkan Galuh juga mulai tertunduk lesu.


Sebagai wakil ketua pasukan Tofan harus bertindak cepat dan tepat serta tak membahayakan keselamatan nyawa pasukan nya, dia mengambil alih tugas Aryo. Tofan memerintahkan Pasukan nya untuk mengulurkan tambang yang tadi mereka siapkan untuk evakuasi korban bencana alam.


Di saat Tofan dan rekan nya berusaha mengevakuasi Galuh dan Aryo, di sisi sebelah hutan Zein dan tiga orang mahasiswa juga sedang mencari Resti yang tadi tiba-tiba berjalan meninggal kan pendopo.


Mereka kehilangan jejak gadis itu dan mereka mulai mengandalkan bekas jejak kaki Resti yang terlihat semakin menuju ke bawah jurang.


"Restiii!!! Restiii!!! " teriak Zein memanggil adik tingkatnya itu kencang karena suaranya berpadu dengan deru suara geluduk.


Langit gelap dan tiba-tiba suara teriakan beberapa orang lelaki membuat langkah Zein dan ketiga teman nya terhenti.

__ADS_1


__ADS_2