
Aryo menerima panggilan telpon dari Mami nya,handuk putih dia kalung kan ke leher nya. Kaos hitam yang mencetak tubuh atletis nya telah basah kuyup oleh keringat.
"Hmmmm....Aryo hari ini sudah ada acara Mi. Kayak nya gak bisa ke rumah Tante Vania." tolak Aryo halus. Dia memang sudah lama tak pernah berkunjung ke kerabat jauh nya itu dan sekarang dia paham maksud Mami menyuruh nya kesana pasti ada udang di balik rempeyek.
Mami terus memaksa anak bungsu nya itu datang bahkan sampai mengancam akan blokir nomer nya jika dia tidak datang siang ini. Sebenarnya Bu Hana ketar ketir juga jika Aryo tetap tidak menghiraukan ancaman nya karena dia tak bisa kehilangan sumber kekayaan nya di masa depan.
Bu Hana pura-pura marah dan menutup sepihak pembicaraannya dengan Aryo namun dia berharap Aryo segera menelpon nya kembali.
Satu menit...
Dua menit...
Tiga menit...
Aryo calling
"Iya Halo...kenapaa lagi? Kamu gak bisa kan ke rumah Tante Vania ! Ya sudah gak usah telpon Mami !" kata Bu Hana kesal.
Aryo menghela nafas panjang, begini nih kalau udah ngambek pasti kemauannya minta di turutin terus.
"Hmmm....Mami kalau mau nyuruh Aryo jemput gapapa. Habis selesai urusan Aryo pasti kesana. Orang sebentaran doang" jawab aryo polos dia sungguh tak tahu jija ibunya memang pura-pura ngambek.
Senyum Bu Hana terbit lagi. Dia sudah menduga pasti si bungsu tampan nya itu tak akan menolak keinginan nya. Ya sudah lag walaupun tidak sekarang dia kemari yang penting nanti dia datang ke rumah ini.
Setelah telpon di tutup Aryo meninju udara yang ada di depan nya. Ingin marah tapi takut dosa..
Grrr.....
Grrrr.....
Ingin rasanya dia berteriak meluapkan kekesalannya namun dia merasa tak etis jika melakukan hal itu karena dia sudah dewasa dan malu dengan status nya sebagai seorang abdi negara.
Aryo segera mandi dan bersiap menjemput Andrea. Selesai mandi dan berpakaian casual dia mengambil kunci mobil yang menempel di dinding kamarnya.
Setelah pamit pada Bi Marni Aryo berangkat melaju ke rumah kekasihnya. Di sepanjang perjalanan beberapa pesan dari aplikasi hijau masuk ke ponselnya. Dia mengabaikan pesan itu karena tak mau mengemudi sambil bermain ponsel karena membahayakan jiwa nya dan orang lain.
__ADS_1
Tiga puluh menit kemudian Mobilnya sudah tiba di depan gerbang rumah Andrea dan setelah mematikan mesin dia mulai mengambil benda pipih berwarna hitam di atas dashboard.
Aryo memeriksa beberapa pesan di ponselnya dan dia sangat malas membaca pesan dari Dona yang mengatakan akan menunggu kedatangannya. Lalu dari Mami yang menyuruhnya membeli satu buket bunga mawar putih untuk keluarga Dona.
Ckk !
Mengesalkan sekali, pikirnya. Lalu dia memencet bel yang ada di dinding pagar. Bari sekali pencet seseorang sudah datang membuka kan pagar.
"Pagi Mbak Tini."
"Iya Pagi Mas Aryo. Mau kemana udah rapi aja nih."balas Mbak Tini ramah
Aryo tersenyum "Mau nganter Nona muda kuliah...hehehe"
Mbak Tini tersenyu mendengar candaan Aryo, mereka memang sudah kenal lama dan tak canggung lagi jika bertemu.
"Ayo masuk Mas, Andrea ada di meja makan. Langsung aja kesana." Ajak Mbak Tini.
Aryo mengekori langkah Asisten itu ke dalam dan mendapati Andrea sedang menyiapkan bekal di kotak makan.
"Mas udah makan tadi bubur ayam buatan Bunda. Masih kenyang" tolaknya sambil menarik bangku di meja makan lalu meletakkan pantat nya disitu.
"Kok sepi pada kemana?"
Andrea menghentikan tangan nya yang sedang memasukkan beberapa potong kue ke dalam kotak makan nya.
"Mama ke pasar belum pulang, Papa udah berangkat dari tadi. Axel lagi ke rumah temannya."
Aryo menyimak penjelasan kekasihnya dengan tersenyum. Ah...betapa cantiknya kekasihku ini. Batinnya sendiri. Andrea yang merasa di perhatikan menjadi tersipu malu.
"Udah sih ngeliatin terus ntar capek"
"Habis kamu cantik banget dek. Bikin Mas gak bosen liatin terus" gombal nya. Andrea melempar tissur yang di tadi di gumpalnya ke arah Aryo.
"Ish gombal ! Ayo berangkat aja nanti kesiangan. Ohya ini tadi Mama bikin kue Risol kesukaan Mas. Aku bawain buat kita makan di mobil ya. Sekalian mau ngasih Ratna sama Myta"
__ADS_1
Aryo mengangguk lalu tak lama kemudian mereka berdua sudah keluar rumah sebelumnya sudah pamit sama Mbak Tini agar nanti tak bingung ketika Mama mencari nya.
Selama perjalanan telpon Aryo berdering 3x. Dia sudah menduga pasti Mami nya yang menelpon karena dia sudah tahu sifat ibunya yang tak sabaran itu.
Andrea melirik ke arah Ponsel Aryo dia tahu jika Aryo enggan menjawab telpon itu karena ada dirinya.
"Udah terima dulu telpon nya, sapa tahu penting" saran nya.
Aryo menggelengkan kepala dia mulai merasa tak nyaman dengan telepon ibunya. Dia merasa di teror saat ini.
"Mami Dek, biarin deh nanti berhenti sendiri. "
"Jangan bersikap seperti itu Mas, siapa tahu Mami butuh Mas saat ini" kata Andrea sabar.
Jika saja kamu tahu Mami memaksaku menemui keluarga Dona apakah kau akan tetap menyuruhku menerima telpon dari Mami?
Batin Aryo sambil terus menyetir. Andrea terdiam tak melanjutkan lagi perkataannya karena dia tahu Aryo sedang tak berkenan membicarakan hal itu.
"Dek, nanti Mas gak bisa lama-lama menemani kamu ya?"
Andrea memutar tubuhnya menghadap Aryo. Dia bingung dengan sikap Aryo dua hari ini saat bersama nya.Awalnya Aryo janji akan menemani nya sampai pulang kuliah lalu mengajak jalan berdua tapi sekarang dia berubah lagi.
Gadis itu meminta penjelasan pada lelaki tampan di depannya.
"Mami menyuruh menemani"
Wajah Andrea berubah mendung, betapa tidak mengenakkan bagi nya saat ini. Harusnya dia bisa bersama dengan Aryo saat liburan ini tapi ada kendala yang di luar kemauanya.
Dia juga tak enak melarang Aryo untuk menemani Ibunya karena mengingat mereka berdua jarang bertemu pasti mereka berdua saling merindukan. Dia tak boleh egois sekarang karena biar bagaimana pun Mami nya Aryo lebih berhak mendapatkan waktu dan perhatian lebih daripada dirinya yang sekaramg masih berstatus tunagan saja.
"Ya udah gapap Mas, tapi nanti tolong luangkan waktu mu seharian buat kita ya sebelum Mas berangkat ke Jogjakarta. Pinta nya melas.
Aryo merasa tak enak hati dengan andrea dia meraih tangan kanan Andrea lalu mengecupnya lembut.
"Deal!" jawabnya singkat padat dan jelas.
__ADS_1
Andrea tersenyum bahagia dia tak pernah berpikiran jelek pada Aryo. Dan Aryo pun sangat menjaga perasaan Andrea. Dia berjanji akan meluangkan waktu untuk kebersamaan mereka yang jarang terjadi selama dia pendidikan.