
Myrna mendapati sang Ibu sedang menangis terisak-isak di pelukan sang ayah yg sedang duduk diam memandang nanar ke depan. Sedang kan Kakak pertama nya saat ini sedang melakukan panggolan telepon entah dengan siapa sepertinya sangat serius.
Perlahan dia mendekati kedua orang tuanya dan duduk di samping ibunya, tangan nya terulur memegang pundak sang bunda.
Si Ibu menoleh ke samping dan melihat anak bungsu nya dengan tangis yang belum reda bahkan makin keras.
"Bunda kenapa menangis? ada apa? Papi? kenapa? "tanya nya bingung.
Pak Bagus tak dapat berkata apa pun juga hanya tatapan mata yang kosong dan helaan nafas panjang.
Setelah melihat Bimo selesai menelpon, Myrna segera menanyakan penyebab kedua orang tuanya bersedih. Bimo memeluk adik perempuan saru-satu nya itu dengan mata berkaca-kaca.
"Mas Aryo kecelakaan di gunung, sekarang belum sadarkan diri di rumah sakit" jawab nya pelan dan sangat hati-hati
"Hiks.. Hikss.. Hiksss... Mas Aryo!!! "teriaknya histeris lalu tiba-tiba tubuhnya terkulai di sebelah ibunya.
Myrna memang sangat dekat dengan Aryo daripada Bimo, karena itu dia sangat terpukul dengan kecelakaan kakak nya.
Bunda merengkuh tubuh anak gadisnya itu dan menepuk-nepuk pipi nya yang berkulit putih mulus. Bimo segera sigap membantu menopang tubuh adiknya dan membawa nya ke kamar.
"Papi dan Bunda sabar ya, istighfar yang banyak, doa yang banyak untuk Aryo. Bimo bawa Myrna ke kamar dulu" kata Bimo menenangkan orang tua nya.
Pak Bagus mulai tersadar dari rasa shock nya lalu perlahan menangis tergugu memeluk istrinya. Dia sangat sedih anak kebanggaan nya yang sebentar lagi akan lulus pendidikan harus mengalami kejadian ini. Sang istri pun akhirnya menghentikan tangis dan berusaha menguatkan suaminya. Karena dia tak mau jika sang kepala rumah tangga itu jatuh sakit karena memikir kan anak nya.
"Papi, ayo ke kamar Myrna kita harus berusaha kuat demi anak-anak " anaknya pelan dan menggenggam kedua tangan sang suami untuk memberinya kekuatan hati dan Pak Bagus pun mulai bisa menguasai dirinya.
__ADS_1
"Astagfirullah hal adzim...ya Allah selamatkan lah Aryo" seru nya berulang kali lalu dia berdiri mengikuti istrinya masuk ke kamar anak gadisnya.
Bimo tampak sedang memeriksa denyut nadi si bungsu dengan tangan kanan nya lalu dia mulai mengambil stetoskop dan mulai memeriksa lagi. Pak Bagus memandang anak sulung nya dengan tanda tanya
"Tak apa-apa, dia hanya terkejut saja mendengar berita tadi. Bimo bantu sadarkan sebentar. " sebagai seorang dokter dia tahu apa yang harus di lakukan nya agar adiknya segera sadar.
Dia juga memberikan suntikan vitamin untuk adiknya tak lama kemudian Myrna sudah siuman.
"Bundaa.. hiks.. Hikss.. Mas Aryo" tangis nya lagi. Si Ibu segera mendekati ranjang dan duduk memangku kepala anaknya. Di belai nya dengan sayang sang gadis kecil yang kini sudah dewasa dan berusia 20 tahun itu dengan menyematkan kalimat yang menghiburnya.
"Pap, Bimo sudah menelpon sejawat Bimo yang dinas di rumah sakit umum Jogjakarta. Dia janji akan memantau langsung kondisi Aryo. Dan nanti Bimo akan terbang kesana untuk mendampingi Aryo." terang nya pelan.
"Papi ikut kamu! "
"Bunda Juga! "
Bimo akhirnya menyetujui permintaan keluarga nya dan dia segera menelpon Dinda agar di bantu untuk booking tiket pesawat malam ini juga.
"Pi maaf sebelum nya, apa kita tidak memberitahukan Mami tentang ini? "tanya Bimo hati-hati takut sang Ayah marah.
Pak Bagus terdiam dia sebenarnya tak ingin mantan istrinya itu nanti akan bertindak semau nya dan kadang berbuat onar disana seperti kebiasaanya yang sudah-sudah. Namun dia juga tak enak kalau Hana tak mengerti kondisi Aryo karena Hana adalah ibu kandung Aryo.
"Iya kasih tahu Mami mu, Papi dan Bunda akan bersiap-siap dahulu."
Pak Bagus segera mengajak istrinya untuk mempersiapkan semua keperluannya untuk ke Jogja beberapa jam lagi, tiba-tiba istrinya itu mengingat tentang Andrea.Dia pun meminta ijin pada suaminya untuk mengabari keadaan Aryo pada calon menantunya itu.
__ADS_1
Setelah mendapatkan ijin dari suaminya, Bu Hafzah segera menelpon Andrea. Saat itu Andrea baru selesai di rawat luka nya oleh Mbak Tini. Andrea berteriak histeris ketika mendengar kabar dari calon mertuanya. Tangis nya pecah ketika Bunda Aryo belum selesai menutup telpon. Dia menangis ingin ikut ke Jogjakarta dan Papi nya Aryo pun akhirnya menyetujui permintaan calon menantu nya itu.
Andrea segera berlari mencari Mama nya di paviliun dan meminta ijin untuk ikut ke Jogjakarta untuk menjemput sang kekasih yang saat ini sedang mengalami kecelakaan. Sang Ibu pun terkejut dan dengan terpaksa dia mengijinkan anak gadisnya itu pergi ke daerah itu.
Selang satu jam mobil Bimo sudah berhenti di depan rumah Andrea dan gadis itu telah siap dengan tas ranselnya untuk segera terbang menemui calon suaminya.
Perjalanan selama 1 jam 30 menit ke Jogjakarta dengan burung besi itu terasa lama sekali. Air mata tak henti hentinya mengalir menganak sungai di pipinya yang putih.
Genggaman tangan Myrna berusaha menguatkan mentalnya yang rapuh saat ini. Tuhan jika boleh ku meminta lagi tolong selamatkan Mas Aryo dan aku akan lebih baik lagi menjadi hamba Mu. Pinta nya dalam hati. Tepat satu jam lebih burung besi itu telah mendarat dengan selamat di bandara Adi sucipto.
Bimo celingukan mencari sosok penjemput mereka dan tak lama kemudian sosok lelaki seusia nya datang terburu-buru menemui nya. Lelaki itu adalah teman kuliah Bimo yang berasal dari kota ini. Mereka berdua berpelukan melepas rindu setelah hampir 6 tahun berpisah.
Setelah memperkenalkan diri pada keluarga Bimo, lelaki bernama Danu ini segera mengajak Bimo dan keluarga nya menuju tempat parkir. Disana sudah terparkir mobil SUV mewah milik lelaki yang berprofesi sebagai dokter juga di salah satu rumah sakit milik keluarga nya.
Seorang driver membuka kan pintu mobil untuk atasan dan tamunya. Mobil SUV mewah itu melaju meninggalkan bandara menuju rumah sakit rujukan tepay Aryo di rawat. Perjalanan kurang lebih 30 menit pun akhirnya berakhir di depan rumah sakit Umum daerah istimewa Jogjakarta.
Keluarga Pak Bagus segera berjalan mencari loby rumah sakit,setelah beberapa lama mereka telah mendapatkan informasi dari pihak resepsionis tentang keberadaan pasien yang bernama Aryo salah satu relawan korban jatuh dari lereng merapi itu sedang berada di IGD.
Mereka berenam segera menuju IGD dan disana sudah ada komandan dari Pasukan itu bersama 2 rekan Aryo yang sedang menunggu di depan pintu IGD.
Kedua orang tua Aryo segera menemui sang komandan dan memperkenalkan diri sebagai orang tua Sermatutar Aryo. Sang komandan menjelaskan kronologi terjadinya kecelakaan itu dan air mata Andrea beserta Bunda dan Myrna merebak tak tertahankan. Mereka ingin sekali melihat kondisi lelaki itu.
Namun sang komandan mengatakan jika Aryo belum dapat di jenguk karena sedang di tangani oleh paramedis disitu.
Naluri Bimo sebagai seorang dokter membuatnya langsung bertindak menemui dokter yang menangani adik kandung nya itu yang kebetulan keluar dari IGD. Kebetulan Danu ternyata mengenal dokter yang menangani Aryo.
__ADS_1
Raut wajah -wajah gelisah tergambar jelas di kedua orang tua Aryo dan Andrea serta Myrna. Dokter lelaki yang memiliki name tag Johan itu tampak serius memberitahukan kondisi Aryo yang mengalami patah tulang pada kaki dan tangan nya untuk saat ini belum di ketahui ada perdarahan atau tidak di kepala Aryo karena mereka belum melakukan CT Scan.
Dr Johan meminta ijin pada Bimo selaku keluarga Aryo untuk melakukan tindakan itu dan tentu saja Bimo dan Papi nya segera menyetujui nya agar Aryo juga bisa segera mendpaatkan tindakan medis sesuai dengan kondisi nyam