Balada Cinta Anak Manusia

Balada Cinta Anak Manusia
Resti hilang


__ADS_3

Semua relawan telah berkumpul di pendopo pagi ini, kemarin mereka telah berhasip melakukan evakuasi korban di hari pertama dan mereka berhasil memindahkan beberapa jenazah warga yang di laporkan hilang dan nanti setelah selesai proses identifikasi akan di adakan prosesi pemulasaran jenazah dan akan di kebumikan d'i makam warga desa pada siang ini juga. Para keluarga yang di tinggalkan oleh kerabat nya tampak menangis tersedu-sedu ketika melihat jenazah selesai di sholatkan bersama di pendopo.


Seorang gadis kecil terlihat duduk menyendiri di sudut ambulance, gadis berusia kurang lebih 5 tahun itu memeluk boneka panda yang sudah lusuh. Baju tidur yang di kenakan nya itu terlihat kotor banyak debu, tangis nya terdengar menyayat hati dan Resti yang kebetulan berdiri sambil melamun di dekat ambulance mendengar tangis nya, Resti berjalan mendekati gadis yang ada di belakang ambulance itu.


"Anak cantik, kenapa menangis?ayo kemari sama kakak" lambai Resti pada si kecil berambut panjang dan di kucir dua.


Gadis itu mengusap air mata dengan punggung tangan nya yang berwarna sawo matang. Sambil menghidu ingus yang meleleh di atas bibir nya gadis itu beranjak mendekati Resti sambil menyeret boneka panda nya.


"Tangan nya kenapa dek? Kok berdarah lengan nya?" tanya Resti ketika melihat pangkal tangan kanan gadis itu seperti berdarah. Namun darah nya telah mengering.

__ADS_1


Gadis itu tak mengeluarkan suara hanya menangis dan menunduk. Resti makin penasaran dengan gadis itu lalu dia mendekati nya dan berusaha memegang tangan nya.


Aneh nya saat tangan nya di sentuh Resti anak kecil itu tak menangis, dia diam lalu tangan kiri nya terangkat menunjuk ke arah lembah yang ada di ujung kampung.


Di sisi pendopo setelah mensholatkan para jenazah para relawan dan warga sekitar bersiap-siap untuk menuju makam yang terletak di dekat ujung kampung. Satria dan teman-teman nya pun telah siap membawa peralatan untuk menggali makam seperti cangkul, sekrop dan lainnya. Zul tampak membawa selembar kertar berisi daftar relawan.


Memang setiap akan mengadakan kegiatan, Zul berkewajiban mengabsen para rekan nya, agar dia tahu jika ada salaah satu rekan nya yang tidak ikut kegiatan atau sakit.Jadi bisa lebih waspada dan cepat tanggap tertangani.


"Resti Triana! Resti Triana!" serunya 2x namun si pemilik nama tak mendengar panggilan nya dia malah asyik berbicara di depan ambulance.

__ADS_1


"Noh Reasti bicara sendiri kayak orang gila!" seru Andy sambil wajah nya di toleh kan ke arah ambulance dan tangan nya menunjuk ke arah Resti yang terlihat tertawa sendiri.


Zul reflek menoleh ke arah telunjuk tangan Andy dan astaga dia melihat Resti sedang bercakap-cakap sendiri sambil tanganya seperti membelai-belai suatu benda.


"Res !! Resti!!" Zul mencoba memanggil lagi namun gadis itu tak mendengar karena memang jarak pendopo dengan lapangan agak jauh. Resti tetap berbicara sendiri lalu saat Zul berbalik badan dia melihat Resti sudah berjalan keluar lapangan menuju lembah.


Zul panik memanggil Resti hingga beberapa orang disitu ikut-ikutan sibuk berlari kecil mengejar Resti.


Aneh ! Kenapa Resti berjalan sangat cepat seolah bukan Resti yang berbadan agak sintal dan berisi jika berjalan pasti hampir sama dengan siput berjalan kata Ayu dan Mima teman sekelas nya.

__ADS_1


Dan saat Resti sudah berjalan terlalu jauh meninggal kan perkampungan, Grup Aryo sekarang menyisir hutan yang berdekatan dengan kaki merapi. Di curigai disana masih ada para penduduk yang terjebak di dalam hutan karena ada sebagian penduduk yang bermata pencaharian sebagai peternak domba dan sapi. Sehingga mereka menggembalakan ternak mereka ke dalam hutan untuk mencari makan berupa pucuk pucuk rumput.


Mungkin saat terjadinya banjir lahar dingin mereka masih dalam posisi mencari rumput dengan ternaknya.


__ADS_2