
Air muka Zul terlihat merah menahan cemburu dan ingin rasanya menarik tangan Andrea yang sedang memeluk kekasih nya. Tuhan sesakit ini mencintai orang yang salah. Tolong buang cinta ini Tuhan agar aku tak merasakan sakit ini setiap melihat nya.
Tubuhnya bersandar di balik pintu kamar kalau tak inget malu ingin rasanya tubuhnya melorot ke bawah dan menekuk lututnya disitu. Kenapa dia datang pada saat yang tepat dan menyaksikan kemesraan pasangan itu. Dia pun pergi meninggalkan tempat itu dan menelpon Tofan menanyakan keberadaan nya saat ini.
Ternyata Tofan, Pak Bagus dan keluarga nya pergi ke kantin Rumah Sakit mereka sengaja memberi waktu pada Aryo dan Andrea untuk bercakap-cakap menyelesaikan masalah yang membelit hubungan mereka.
Zul menyusul ke kantin dengan langkah gontai semangatnya menguap ke udara bersama dengan rasa pedih harus berusaha melupakan Andrea yang saat ini masih ada di hati dan pikiran nya.
*****
Hening hanya suara isak tangis penyesalan dari bibir Andrea dia sangat takut kehilangan Aryo tadi seandainya saja Mas Bimo tak mengatakan kebenaran tentang Ibu nya sudah dapat di pastikan dia akan kehilangan Aryo. Karena Aryo sudah pernah mengancam nya jika dia menyerah pada Mami, maka Aryo pun akan menyerah juga karena dia merasa percuma berjuang sendiri dalam mempertahankan cinta mereka.
"Berjanji lah untuk tetap setia di samping ku. Jangan pernah pergi lagi. Tunggu lah aku sampai lulus setelah itu menikah lah dengan ku! " bisik Aryo lembut.
Andrea mengangguk dan sekali lagi minta maaf lalu dia berjanji untuk setia menunggu Aryo dan tak akan terpengaruh oleh siapa pun juga.
🫥🫥❤️🩹❤️🩹
Tiga hari kemudian kondisi Aryo dan Galuh semakin sehat. Andrea, Myrna dan Bunda masih setia menunggu nya, sedang kan Pak Bagus, Bimo dan Adinda sudah kembali lagi ke Jakarta karena pekerjaan yang tak dapat di tinggal kan lagi.
Di Bandung Bu Hana dan Ferdy suami nya sedang melakukan perang dingin. Dari dia datang ke rumah tak ada sapaan maupun senyuman dari bibirnya. Bu Hana yang merasa bersalah karena perlakuannya yang membuat pergi suami nya kemarin tidak berani menegur sapa dulu, namun dia juga kesal karena suaminya itu meninggal kan nya seolah-olah dia tak berharga sama sekali.
__ADS_1
Pagi itu Ferdy sudah berpakaian rapi dan bersiap untuk ke kantor, namun ada yang aneh dan menjadi perhatian kedua anak kembarnya tatkala melihat kedua orang tuanya tak lagi tidur dalam satu kamar yang sama.
Mereka berempat sekarang berada di meja makan untuk rutinitas sarapan pagi. Mbok Nung menyajikan sarapan nasi goreng sea food sesuai request si kembar, segelas susu dan setangkup sandwich berada di depan piring Pak Ferdy. Semangkuk oatmeal dan potongan strawbery dan pisang ada di depan Bu Hana.
"Mih, nanti Kakak pinjam mobil nya ya? "Si sulung meminta ijin pada Mami nya.
"Hmmmm.... " jawab Bu Hana sambil mengaduk Oatmeal di depan nya.
Rania mendengus dengan bibir maju lima centi. Dia kesal karena si ibu tak menanggapi permintaan nya.
" Mih! " Panggil Rania lagi
Bu Hana mendongak kan dagu nya, "Kenapa dengan mobil kakak? rusak? "
"Rania titip kan ke rumah Aksan, kemarin Ibu nya Aksan kena serangan jantung. Dan dia tak memiliki mobil untuk membawa ke rumah sakit" jawab nya pelan seolah takut menghadapi wajah Ibu nya.
"Apa?! Aksan?! kamu masih berhubungan dengan lelaki itu? Rania!!! kenapa gak mau dengar omongan Mami ! "
Riana sang kembaran Rania yang memiliki sifat lembut dan pendiam tampak terkejut dengan suara keras ibunya. Pun dengan Pak Ferdy juga langsung terbatuk-batuk mendengar suara istrinya yang menggelegar.
Ferdy langsung menghempaskan sanwich nya ke atas piring karena nafsu makan nya langsung menguap mendengar keributan di meja makan pagi itu. Lalu dia berdiri menyambar kunci kontak mobil yang ada di atas dinding.
__ADS_1
"Pih... Papi!! kok papi pergi gak pamitan Mami? ' B Hana berdiri menyusul langkah suami nya. Agar tertatih dia berjalan karena kaki nya masih terasa ngilu karena harus duduk lama di kereta saat dari Jogjakarta kemarin. Dia tak mendapatkan tiket pesawat untuk pulang.
Lelaki yang memiliki perusahaan tekstil itu berhenti sejenak mendengar teguran istrinya. Dia memang menunggu saat seperti ini dimana dia akan meluapkan rasa marah dan kecewa nya pada sang istri.
"Owh.. masih ingin di pamitin ya? bukan nya kamu udah tidak membutuhkan aku lagi? " sindir nya jelas.
Bu Hana menunduk kan kepala nya dia segan akan membalas sindiran suaminya.
"Jangan bicara seperti itu dong Pih, Pasti Mama butuh Papi. Mami minta maaf ya Pih, tolong lupakan kejadian di jogjakarta kemarin. "
Pak Ferdy tersenyum miring, harga dirinya sebagai lelaki dan kepala keluarga seolah-olah di rendah kan oleh istri nya sendiri.
"Maaf? enteng sekali kamu bicara seperti itu, kamu gak tahu betapa kecewa nya aku terhadap sikap mu. Dan satu lagi, kamu boleh mengatur hidup Aryo karena memang dia anak kandung kamu, tapi jangan pernah kau atur hidup Rania! karena aku Ayah kandung nya! Dan aku tak akan membiarkan kamu mencampuri urusan anak-anak termasuk dengan siapa mereka berteman! jika tidak, tunggu saja kemarahan ku! '
Bu Hana terisak, seumur hidup berumah tangga dengan Ferdy baru 2x dia mendapatkan perlakuan keras dari suami kedua nya.
Rania dan Riana yang masih menunggu di meja makan, tak berani melerai orang tuanya karena takut akan memperkeruh suasan yang sudah tidak kondusif.
Ohhh Tuhan... jerit Riana lirih. Baru kali ini dia melihat keberanian Papi nya pada Mami. Selama ini sosok lelaki yang di panggil nya ayah itu selalu mengalah pada istrinya. Tak pernah berdebat atau pun mendebat perkataan istrinya, sehingga mereka memberika julukan PapPapi tersabar sedunia.
Suara tegas sang Ayah terdengar seperti halilintar di siang bolong yang membuat semua yang ada di. rumah tak berani berkutik.
__ADS_1
Setelah meluapkan kemarahan nya Pak Ferdy berbalik badan dan berjalan lagi ke garasi mobilnya. Tubuh sinyal wanita berusia setengah abad itu melorot ke lantai, dia menangis terisak karena sedih dengan perlakuan suaminya. Seumur pernikahannya selama hampir 20 tahun itu tak pernah sekali pun Ferdy membentak nya. Dia selalu di ratu kan dan di manja oleh Ferdy sehingga sifat egois nya semakin menjadi-jadi dan membuat nya lupa akan kodratnya sebagai istri yang tetap harus menghargai dan memperlakukan suami dengan lembut.