Balada Cinta Anak Manusia

Balada Cinta Anak Manusia
Jika perbuatan curang itu menuai karma


__ADS_3

Kedua gadis cantik yang sama-saa mengkuatirkan kondisi pasien di dalam ICU itu bergandengan tangan saling menguat kan, Myrna berkali-kali memeluk pundak calon kakak ipar nya agar berhenti bersedih. Bimo memindai kedua gadis itu dengan mata memicing.


"Mas gimana kondisi Mas Aryo sekarang?" tanya Andrea perlahan.


Bimo menghela nafas nya lalu mencoba menjawab sesuai kenyataan.


"Operasi nya berhasil namun sampai saat ini Aryo belum sadar. Kata dokter sekarang masih masa kritis nya. Jika dia bisa melalui malam ini, insya allah besok dia membaik."


Andrea menutup mulut nya dan menangis tergugu lagi. Ya dia sangat terpukul dengan kondisi Aryo dia ingin sekali masuk ke dalam dan menunggui calon suami nya itu namun Bimo mengatakan jika Aryo belum bisa di jenguk. Mungkin besok kalau kondisi nya sudah sadar dokter akan memperboleh kan mereka menengok secara bergantian.


Malam makin larut dan hawa dingin pengaruh erupsi Merapi membuat tubuh menggigil kedinginan. Bimo kasihan melihat kedua adik nya yang terlihat lelah sebenar nya kalau secara fisik pun dia juga sangat lelah dan butuh istirahat namun dia tak tega jika meninggal kan Aryo tanpa ada yang menunggu.


Keluarga Galuh pun sekarang tinggal Ayaj dan kakak lelaki nya saja yang sedang duduk bersandar di dinding menunggu Galuh di ruang ICU.


Danu memberikan 2 botol air mineral dan satu kantong cemilan untuk Kakak Galuh. Lelaki ini sangat setia kawan dan tak pernah sedikit pun mengeluh menunggui orang sakit.


"Myrna dan Andrea sebaik nya kalian kembali ke kamar saja. Istirahat lah pasti kalian lelah."Perintah Bimo dengan lembut. Karena dia melirik dari tadi Myrna bolak balik menguap.


"Iya dek, ada Kami berlima disini tidak usah kuatir" jawab Danu.


"Tapi Mas, ini satu-satu nya kesempatan ku menunggu Mas Aryo hanya malam ini. Besok pasti ada Tante Hana yang akan marah jika melihat ku masih disini."


Bimo kasihan melihat tunangan adik kandung nya yang terintimidasi oleh ibu nya yang sangat keras dan pemaksa itu.


"Iya Mas tahu kalau ini kesempatan kamu menunggu Aryo, namun kamu harus mengukur kapasitas dan kemapuan tubuh kamu juga. Kalau kamu sakit juga gimana? " Bimo menasehati Andrea yang terlihat murung.

__ADS_1


Lalu dari arah koridor terdengar suara langkah kaki menuju ke arah mereka.


Terlihat Tofan dan 2 rekan lain nya mendatangi mereka. Sambil bersalaman dengan Ayah Galuh, Tofan menyapa Bimo dan yang ada disitu.


Tofan dan 2 rekan nya berinisiatif ikut menjaga Aryo dan Galuh sebagai bentuk empati dan solidaritas mereka sebagai sesama teman. Tofan melihat ke arah Andrea dan Myrna. Seperti nya dia pernah melihat Andrea tapi dia tidak ingat.


"Ohya Bang, ini Kak Andrea tunangan Mas Aryo." jelas Myrna ketika Tofan melihat Andrea, kemudian pemuda itu langsung mengangguk tersenyum


Dia jadi ingat wajah Andrea seperti foto yang ada di dompet Aryo. Pantas saja Aryo sering memuji Andrea ternyata gadis pujaan Aryo ini sangat cantik dan lebih cantik dari foto nya.


"Andrea, Myrna kalian lihat kan kalau yang menjaga Aryo dan Galuh sudah banyak. Lebih baik kalian kembali ke hotel saja, besok pagi kalian boleh kemari. Ayo Mas antar sampai ke depan" ajak Bimo pada kedua gadis itu.


Dengan berat hati akhir nya Andrea menuruti ajakan calon ipar nya itu karena dia juga merasa tidak enak disitu hanya dia dan Myrna saja yang perempuan dan status hubungan dia juga masih dalam kondisi tidak baik-baik saja akibat ulah ibu kandung kekasih nya.


Seorang dokter jaga dan seorang perawat wanita masuk ke ruang ICU untuk memeriksa kondisi pasien. Danu dan Ayah Galuh tampak berdiri menunggu dokter itu keluar ruangan.


Selang 15 menit kemudian dokter dan perawat itu keluar darisana dan Ayah Galuh maju mendekati nya. Dia menanyakan kondisi Galuh dan Aryo apa sudah sadar, dan ternyata Galuh saat ini sudah sadar dan sedang di berikan tindakan yang lebih intensif. Namun mereka belum boleh menjenguk nya.


Sedang kan Aryo masih dalam kondisi sama belum ada perkembangan. Danu mendesah dia berdoa semoga adik sahabat nya itu segera tersadar. Dia tahu kondisi Aryo lebih parah tapi boleh kan dia juga mengingin kan keselamatan pada pemuda itu.


Setelah mengantar kan adik nya kembali ke hotel Bimo segera kembali ke rumah sakit lagi untuk menunggu perkembangan Aryo karena jadwal dokter jaga malam ini akan mengunjungi nya.


Setelah terengah-engah dokter tampan itu sudah kembali bersama para rekan nya di depan ruang ICU. Untung nya dr Haris sebagai dokter jaga yang tadi memeriksa kedua pasien itu masih berdiri disana dan berbincang serius dengan mereka.


Dr Haris mengatakan jika nyawa Aryo tadi nya sangat kritis mengingat pemuda itu kehilangan darah sangat, dan tadi ada kendala teknis katanya pendonor yang sedia nya akan di ambil darah nya itu kondisi kesehatan nya tidaknmemungkin kan karena HB nya turun dan tensinnyantinggi sehingga dia tidak jadi mendonorkan darah.

__ADS_1


Sambil menghela nafas pelan dr Haris berkata lagi, "untung lah di saat chaos itu,ada 2 pendonor yang bersedia dengan ikhlas mendermakan darah nya untuk saudara Aryo."


Tofan menunduk kan kepala karena dia tak mau mengakui bahwa diri nya dan Zul lah yang menjadi pendonor itu. Namun darah Zul lah yang banyak di ambil tadi. Dia sangat ikhlas memberikan sedikit darah untuk menolong nyawa sahabat nya itu.


Bimo mengernyitkan alis nya pertanda sangat bingung dengan cerita dr Haris. Dia tadi mengatakan bahwa pendonor pertama tidak memenuhi syarat karena masalah kesehatan nya. Dan itu mengarah pada kondisi sang Ibu yang memang menderita tensi tinggi. Apakah ibu nya berbohong pada keluarga nya dengan mengatakan dia yang mendonor kan darah demi sebuah keinginan nya untuk menguntung kan diri nya sendiri?


Karena penasaran dan tak mau su'udhzon dengan ibu kandung nya Bimo terpaksa memberani kan diri menanyakan hal itu pada dr Haris karena ini sangat penting menyangkut hubungan asmara adik nya.


" Maaf dr Haris apakah pendonor yang di maksud itu seorang Ibu?"


Dr Haris mengangguk dan kebetulan dia tidak mengetahui nama nya dan tidak tahu bahwa pendonor itu Mami Bimo.


Bimo tersenyum lega, ada kebahagiaan tersendiri di hati nya kala mengetahui yang mendonorkan darah itu bukan Ibu nya kadi dia memiliki senjata untuk membantu Aryo kelak melawan ke egoisan ibu nya.


" Baik lah jika begitu cerita nya, lalu siapa dermawan yang membantu adik saya dokter ?" tanya nya lagi.


Tofan makin menunduk dia berharap dr Haris tidak mengetahui identitas nya karena sungguh dia hanya ingin Allah lah yang akan memberikan nya balasan atas perbuatan nya di dunia ini.


Dr Haris tersenyum lembut lalu menepuk pundak Tofan yang sedang menunduk menekuri lantai.


"Saudara ini lah yang telah baik hati mendermakan darah nya untuk Adik anda dr Bimo."


Bimo segera memeluk Tofan dengan mata berkaca-kaca.


"Teimakasih..terimakasih saudara ku" pelukan kedua nya terasa hangat dan manis.

__ADS_1


__ADS_2