
...Bintang malam katakan padanya...
...Aku ingin melukis sinarmu di hatinya...
...Embun pagi katakan padanya...
...Biar ku dekap erat waktu dingin membelenggunya...
...Bintang malam samapaikan padanya...
...Aku ingin melukis sinarmu di hatinya...
...Embun pagi katakan padanya...
...Biar ku dekap erat waktu dingin membelenggunya...
...Tahuakan engkau malam ini...
...Ku ingin bertemu membelai wajahnya...
...Ku pasang hiasan angkasa yang terindah...
...Hanya untuk dirinya...
...Lagu rindu ini kuciptakan...
...Hanya untuk bidadari hatiku tercinta...
...Walau hanya nada sederhana...
...Ijinkan ku ungkap segenap rasa dan kerinduan...
...Tahukah engkau wahai langit...
...Aku ingin bertemu membelai wajahnya...
...Kan ku pasang hiasan angkasa yang terindah...
__ADS_1
...Hanya untuk dirinya...
...Lagu rindu ini kuciptakan...
...Hanya untuk bidadari hatiku tercinta...
...Walau hanya nada sederhana...
...Ijinkan ku ungkap segenap rasa dan kerinduan.....
Suara merdu penyanyi pria favorit nya itu sungguh membius angan nya di siang hari ini. Selama dalam perjalanan menuju ke Mess nya dia tak henti-henti nya memainkan ponsel nya menikmati lagu untuk teman perjalanan nya.
Foto-foto kebersamaan nya dengan sang kekasih membuatnya makin merindu. Ah...betapa melow hati nya saat ini. Jujur saja beberapa hari belakangan ini dia tak bisa fokus memperhatikan kekasihnya saat masa cuti hampir satu minggu lama nya.
Dia di sibuk kan oleh Ibu kandung nya yang luar biasa sedang menguji kesabaran dan kedewasaan nya. Dia agak menyesal mengacuh kan Kakak kandung nya kemarin dan sampai dia berangkat tadi pagi pun dia tak sempat berpamitan ke kakak kandung yang selama ini selalu menemani dan membela nya.
Air mata merebak berbayang di pelupuk mata nya. Sebenar nya dia tak mau mengacuhkan abang kandung nya itu namun dia juga masih kesal dengan bentakan Bimo kemarin. Seharusnya Bimo tak perlu membentak nya di depan Andrea karena dia punya rasa malu pada sang calon istri. Harga diri nya terasa di pertaruh kan saat itu.
45 menit lagi mobil mini bus milik anak buah Papi nya akan tiba di gerbang asrama yaitu tempat kawah candra di muka tempat nya menimba ilmu dan bekal persiapan mengabdikan diri untuk negara nya kelak.
Dia mengirim pesan untuk Andrea dan Foto diri nya sedang berada di dalam kendaraan menuju asrama. Dia berpesan agar Andrea bisa menjaga diri dan menjaga hati untuk nya.
Nanti saat berada di asrama dan besok ketika di Jogjakarta dia tak akan bisa mengirimkan kabar pada orang-orang tercinta nya untuk sementara waktu karena ponsel nya pasti akan di serahkan pada pengurus Asrama.
💥💥💥
Andrea meneteskan air mata mendapat pesan dari Aryo, entah karena masih terbayang dengam masalah karin yang masih menggantung atau entah lah dia memiliki firasat yang tak enak saat menerima pesan Aryo.
Dia bingung harus menceritakan pada siapa tentang kegelisahan nya itu. Jika bercerita pada Papa Pasti akan menambah beban beliau lagi jika bercerita pada Ratna pasti bestie nya itu akan mengalihkna pembicaraan alih-alih menghibur hati nya yang galau.
Mobil minibus berwarna silver metalik itu telah berhenti tepat di depan gerbang penjagaan. Aryo menjabat tangan sang driver dan seorang lelaki yang usianya sepantaran dengan Bimo, Ardi adalah tangan kanan Papi nya di kota ini
Dia mengucapkan terimakasih karena telah di jemput dan diantar hingga ke asrama. Setelah keluar dari mobil Aryo segera berjalan menuju pos penjagaan dan melaporkan diri bahwa dia telah datang tepat waktu. Beberapa saat kemudian Aryo telah berjalan menuju ke ruang mess nya sambil menyandang satu tas ransel ukuran sedang.
Ternyata teman-teman se liting nya telah banyak yang datang dari acara pesiar mereka di kota masing-masing. Selama sepekan Mereka tidak berjumpa dan saat ini mereka tampak saling bertukar cerita tentang kegiatan cuti mereka.
Setelah selesai bercengkrama sebentar Aryo segera pamit ke ruangan nya untuk segera membersihkan diri dan menghadap ke senior nya.
__ADS_1
Wajah dan tubuh nya telah bugar tersiram air dingin dari bak mandi, rasa kantul dan lelah nya telah hilang, kegiatan hari ini masih bebas dan nanti malam akan ada acara persiapan untuk keberangkatan mereka semua ke dusun terdampak bencana merapi.
Dengan memakai seragam nya yang berwarna coklat, Aryo menghadap ke komandan nya yang kebetulan saat itu sedang berada di ruangan nya.
Aryo mengetuk pintu 2x. Lalu perintah masuk dia dapatkan dari suara Bas seorang lelaki dari dalam.
Dia membuka pintu berwarna coklat itu dengam sebelah tangan nya. Seorang lelaki berpangkat kapten itu sedang duduk di belakang meja persegi panjang.
Kapten Rifky Ardiansyah sedang menelisik wajah Aryo dari atas ke bawah. Pemuda itu dalam mode siap mata memandang lurus ke depan dengan kedua tangan berada di belakang punggung nya.
Kapten Rifky mempersilahkan Aryo duduk di bangku yang ada di depan meja nya.Setelah Aryo duduk tegap, Kapten Rifky mulai menanyakan kesiapan Aryo dan pasukan nya berangkat ke medan jelajah esok hari.
Ternyata Aryo menjadi ketua kompi untuk acara besok. Dan kapten Rifky memberikan mandat yang sangat berat tanggung jawab nya yaitu menjaga seluruh anggota kompi nya berangkat dan pulang dalam keadaan selamat.
Aryo diberikan arahan penting ketika menghadapi daerah yang berbahaya jika terjadi hal yang membahayakan nyawa mereka dia harus mengutamakan keselamatan anak buah nya. Aryo mendengarkan dengan serius arahan arasan nya yang sudah berpengalaman itu.
Dia harus fokus dengan tugas nya besok urusan pribadi harus dia kesampingkan dulu. Tak ada yang boleh mengacaukan konsentrasi nya besok.
Andrea berjalan mondar mandir di depan kamar orang tua nya, dia harus mengatakan sekarang pada mereka berdua karena tanda tangan mereka sangat di butuhkan untuk persetujuan menjadi seorang relawan.
Jantung nya berdegup sangat kencang membayangkan wajah Papa nya yang melarang dan wajah Mama nya yang memelas. Duh kalau seperti ini dia butuh bantuan Axell untuk menyakinkan orang tua nya.
Dia berjalan mendekati kamar adik nya yang pintu nya hanya tertutup setengah. Kebiasaan Axell tak pernah menutup pintu jika berada di kamar. Terdengar suara alunan lagu dari tv kabel yang ada di kamar adiknya.
Tok..tok..tok..
Andrea mengetuk pintu kamar bercat putih itu, Axell yang sedang berbaring tengkurap segera mendongakkan kepala nya melihat ke arah pintu.
"Kenapa kak?" tanya Axell tanpa mau berdiri masih dalam posisi tertelungkup.
"cell bantuin kakak! Pleaeeese!" nada cemaas terdengar di telinganya.
Axell bangun dari posisi tiduran nya dan duduk menghadap ke arah kakak nya.
"What happend, aya naon?" canda nya sambil menaik turun alis nya yang lebat.
Andrea masuk ke dalam kamar adik nya dan mulai menceritakan tentang keresahan nya. Axell jelas saja melotot mendengar cerita kakak kandung nya itu yang terdengar nekad.
__ADS_1
"Kak, rindu boleh saja. Tapi jangan bodoh ya!! Andrea leticia!! Aku gak mau bantu kakak kalau masalah ini. No way!" Axell tak mau membantu kakaknya untuk menyakin kan kedua orang tuanya nanti jika meminta ijin ke Merapi.