
Taxi Online yang mereka tumpangi sudah berhenti dengan sempurna di sebuah rumah mewah dengan model Eropa. Hunia yang nyaman dan terkesan lux. Mereka berdua memasuki halaman yang luas itu dengan senyum merekah.
Sebentar lagi Bu Hana akan bertemu sepupu jauhnya yang sudah lama tak dia temui karena kesibukannya belakangan ini.
Pintu jati dari jepara yang terukir indah itu terlihat megah, tangan Dona memencet bel yang ada dinding.
Ting..tong...ting...tong
Beberapa saat kemudian seorang wanita baya memakai daster rumahan membuka pintu. Wanita itu tersenyum dan mempersilahkan Dona dan Bu Hana masuk rumah.
" Mama kemana Bi?"tanya Dona sambil mengikuti langkah kaki asisten rumah tangga nya yang sudah se umuran Doba ikut keluarga nya.
Bi Asih berhenti "Ibu tadi keluar sama Bapak non. Katanya ada resepsi anak.kolega nya di gedung Sarinah"
" Owh gitu padahal kita mau kasih kejutan jadi terkejut sendiri..hehe.hehe" jawab Dona lalu dia memberikan buah tangan yang di bawa nya dari Bandung.
"Nih Bi, buat cemilan di rumah. Dan ini khusus buat Bibi." kata Dona mengangsurkan dua buah paper bag satu besar satu kecil.
" Makasih Non, ini Bibi letakkan di meja makan ya no biar Ibu tahu" jawab Bi Asih. Dona mengangguk kan kepala.
Setelah Bi Asih masuk ke dalam untuk membuatkan minuman buat tamu nya Dona mengajak Bu Hana untuk duduk.
"Ayo Tan, duduk dulu, atau mau ke kamar Dona saja istirahat di kamar?" tawar nya pada Bu Hana.
Wanita itu tampak mengangguk, dia ingin tahu juga kamat gadis sekarang seperti apa, kalau dulu dia sangat rapi karena orang tuanya juga sangat disiplin mengajari anak-anak nya tentang kebersihan kamar masing-masing.
"Iya Boleh, Tante numpang rebahan dulu sembari menunggu Mama kamu"
Dona berjalan mendahului Bu Hana menuju kamar berukuran 6 x6 meter itu. Luas sekali kamar gadis ini. Interiornya juga bagus dan perabotan nya modern. Ranjang ukuran king size terletak di tengah ruangan. Lalu ada meja rias berwarna monokrom yang sesuai dengan warna putih dinding kamarnya.
"Tante malam ini sebaiknya kita menginap disini saja, besok baru ke hotel. Kan Dona pengen bobok di rumah bentar, udah lama Dona gak tidur disini,mau ya Te" pinta Dona sambil duduk di samping ranjang.
__ADS_1
Bu Hana mengangguk kan kepala dia juga ingin membicarakan masalah pertunangan Dona dengan Aryo. Diam-diam Bu Hana dan Mama nya Dona membuat kesepakatan sendiri tak melibatkan mantan suaminya.
"Oke sayang, Malam ini kita tidur disini. Tante pengen ngerasain tidur di rumah calon menantu"
Dona tertawa senang karena merasa sudah memenangkan hati Bu Hana. Urusan dengan Aryo nanti bisa pelan-pelan dia cari cara nya sendiri. Gak mungkin seorang lelaki menolak di cintai wanita secantik dia.
Dona membantu Bu Hana memasukkan tas kecil nya yang berisi pakaian rumahan. Dia menyuruh Bu Hana beristirahat dahulu di kamar karena dia akan menyuruh Bi Asih menyiapkan makan malam yang enak untuk calon mertuanya.
-----
!!!!
Ting..tong...ting...tongg...
Suara bel rumah mewah itu terdengar lagi, waktu telah menunjukkan pukul 21.30 Wib. Bi Asih kembali membukakan pintu untuk tamu nya.
Sepasang suami istri dan seorang gadis berusia dua belas tahun memasuki rumah, ternyata mereka adalah orang tua dan adik bungsu Dona.
"Bi, si Kakak udah datang?"tanya Wanita sosialita itu pada asisten nya.
"Iya Bu, tapi Non Dona datang sama seorang ibu-ibu"jawab Bi Asih sambil menunduk.
"Ibu-ibu siapa Bi?" Bu Vania penasaran.
"Bibi ndak tahu Bu. Sepertinya Non Dona akrab dengan beliau" Bu Vania manggut-manggut dan menyuruh Bi Asih membuatkan susu coklat hangat untuk si bungsu yang sudah mulau menguap.
Pak Thomas suaminya masuk sambil melepas jas biru nya.
"Ma, Dona udah datang?" tanya Pak Thomas sambil mengendorkan dasi yang masih di lehernya.
"Iya Pa. Kayaknya dari tadi sampai rumah. Mama mau lihat Dona dulu ya Pa?" Pak Thomas mengangguk lalu Bu Vania berjalan ke kamar Dona. Dia mengetuk pintu kamar anaknya yang kedap suara itu dengam keras.
__ADS_1
Dona yang sedang asyik rebahan di ranjang mendengar suara ketukan pintunya segera bangkit. Kebetulan Bu Hana sudah terlelap setelah makan malam tadi bersama Dona.
"Eh Mama." Dona menyalami ibunya dan mulai mencium pipi kanan dan kiri nya.
"Udah lama datang nya kamu nak?
Dona menganggukkan kepala. Bu vania melihat sosok wanita yang tidur menyamping di ranjang anak nya.
"Tante Hana Ma!" bisik Dona di telinga ibunya.
Bu Vania manggut-manggut lalu menarik tangan Dona keluar kamar karena dia ingin mengobrol dengam putri sulungnya itu.
Dona menutup pintu dengan sangatbpelan seolah takut membangunkan Calon mertuanya yang terlelap.
Pak Thomas duduk di kursi yang ada di ruang keluarga. Dona menghampiri ayah nya dan mencium tangan lelaki pertama yang mencintainya tanpa syarat.
"Pa." sapa nya riang lalu dia memeluk ayahnya dengan manja. Memang di rumah ini Pak Thomas jadi rebutan para wanita. Sampai-sampai Romy adik nya yang laki-laki cemburu dengan mereka karena Dona dan Nirina selalu berebut bermanja-mnaja
"Eh anak Papa udah datang, kamu sama siapa nak?" Pak Thomaa menyesap secangkir teh manis hangat yang masih mengepulkan uap nya.
"Sama Tante Hana Pa, tapi beliau audah tertidur dari tadi lelah karena perjalanan"
Pak Thomas mengangguk-angguk.Kemudian mereka berbincang-bincang melepas rindu yang telah tertahan beberapa bulan. Dona memang jarang pulang ke Jakarta dia lebih senang tinggal di Bandung. Jadi mau tak mau Papa dan Mama nya yang sering datang kesana untuk melepas rindu mereka pada anak gadis nya.
Dua bulan yang lalu mereka baru bertemu saat Dona merayakan opening butiknya.
Bu Vania masuk ke dalam kamar nya dan berganti dengan pakaian rumahan. Setelah itu dia memasuki kamar Nirina si bungsu yang ada di lantai dua.
Gadis kecilnya itu asyik bermain hape sambil tiduran. Bu Vania menyuruhnya untuk meminum susu coklat hangat buatan Bi Asih lalu menyuruhnya segera tiduer karena sudah malam. Gadis kecil itu merengut karena baru saja bermain sudah di suruh tidur.
Di ruang keluarga Dona masih asyik bercanda dengan Papa nya sesekali papa nya memakan kue oleh-oleh anaknya. Bu Vania ikut bergabung bersama mereka berdua setelah turun daru kamar Nirina.
__ADS_1