
Detik demi detik telah berganti dengan menit begitu pun menit sudah berganti dengan jam. Jarum di arloji Andrea sudah bergeser dari angka 4 ke angka 6.
Yah pergantian waktu siang ke malam telah tiba, suara adzan dari masjid yang ada di rumah sakit terdengar memanggil seluruh umat Islam untuk segera bersujud Allah SWT pemilik kehidupan yang sesungguh nya.
Pak Bagus mengajak keluarga nya untuk segera melaksanakan sholat Magrib terlebih dahulu sambil mendoakan keselamatan Aryo dan teman nya yang sedang berjuang melawan maut di ruang operasi.
Akhirnya dokter akan melakukan tindakan operasi pada Aryo dan Galuh karena setelah di CT Scan dna rontgen pada kedua nya, Aryo mengalami patah tulang rusuk dan kondisi nya lebih parah daripada Galuh, yang hanya mengalami patah tulang kaki dan tidak mengalami gegar otak.
Sedangkan Aryo mengalami patah tulang rusuk yang menembus ke paru-paru nya, dokter menjelaskan kondisi Aryo di sebabkan saat dia terjatuh tubuhnya dalam posisi tertelungkup dan kemungkinan besar membentur batu yang ada disana
Lalu dokter menjelaskan jika Aryo harus segera di operasi karena takut terjadi gagal nafas, karena Ketika jaringan paru tertusuk patahan tulang rusuk, udara dari dalam paru akan bocor dan terjebak di ruang kosong di rongga dada. Kondisi memicu kolapsnya jaringan paru dan menyebabkan masalah pernapasan. Pneumothorax merupakan istilah medis untuk kondisi tersebut.
Keluarga pun tanpa ragu segera menyetujui saran dari dr Johan lalu Bimo selaku wakil keluarga nya menanda tangani inform consern pasien untuk proses persetujuan tindakan bedah yang akan di jalani Aryo. Setelah selesai menanda tangani beberapa lembar berkas itu, Bimo tampak menyugar rambutnya dengan kasar. Dia tahu persis bagaimana kondisi Aryo sekarang dari rekam medis yang telah di baca nya tadi.
Ada bayangan kuatir dan sudut netra nya mulai mengembun. Dia berdoa semoga Allah SWT segera memberilan keajaiban pada adik kandung nya yang sekarang masih kehilangan kesadarannya. Dia jadi menyesali pertengkaran nya dengan Aryo beberapa waktu lalu saat makan malam bersama sang ibu. Dia memang kesal saat itu karena sang adik meninggikan suara pada ibu nya.
Perlahan dia mulai menghembuskan nafas nya dengan cepat kemudian menghela nya lagi seakan ini adalah stok oxygen terakhir di muka bumi. Raut wajah nya tak bisa menipu jika saat ini perasaan nya sedang tidak baik-baik saja. Gelisah dan cemas itu sudah jelas tergambar dari wajah nya yang tampan.
__ADS_1
Dari arah belakang punggung nya dr Danu teman kuliah Bimo terlihat datang dari arah Masjid lalu terlihat berkali-kali menelpon seseorang, ternyata dia sedang memesan kan kamar hotel untuk keluarga Bimo selama tinggal di Jogjakarta, dia berusaha memberikan servis terbaik untuk keluarga sahabat nya sebagai unggapan rasa balas budi nya karena dulu Bimo dan keluarga nya sering membantu nya saat kuliah. Bimo sering membantu di bidang akademik dan pernah menampung nya saat masa Ospek dahulu.
Setelah beberapa menit dia telah mengakhiri percakapan nya. Lalu dia berjalan mendekati Bimo.
"Bro, kalau kau mau sholat sekarang aja, biar aku yang jaga Aryo disini."Kata Lelaki berkaca mata minus itu. Kebetulan dia sudah melaksanakan sholat sesaat setelah adzam berkumandang tadi di masjid.
Bimo mengangguk lalu menepuk pundak sahabat lama nya itu pelan dan berlalu menuju masjid menyusul anggota keluarga nya yang maaih ada disana.
Di dalam ruangan yang telah di steril terdapat dua tubuh laki-laki yang sedang berjuang melawan maut, kedua nya telah di anastesi dan beberapa orang perawat serta dokter tampak telah siap untuk melakukan tindakan operasi. Dokter orthopaedi dan traumatology, dokter anasthesi, dokter bedah thorax sudah siap dengan baju operasi.
Dr Johan sebagai ketua tim operasi mengajak para dokter dan perawat untuk berdoa sesuai agama masing-masing agar operasi pada pasien ini bisa berjalan lancar tanpa kendala yang berarti.
Bunda menggenggam tangan calon menantu nya itu dengan erat mereka saling memberi kekuatan dan si bungsu tampak duduk bersandar si bahu sang Ayah yang juga sibuk komat kamit berdzikir untuk meminta kemurahan hati pada sang pemilik hidup untuk memberikan keselamatan pada anak keduanya.
Di saat mereka terdiam bergelut dengan keresahan nya masing-masing dari radius 500 meter tampak tiga orang dewasa sedang berjalan terburu-buru menuju ke keluarga Pak Bagus.
"Bimoo..Bimoo !!bagaimana nasib adik kamu!"tanya nya dengan suara nyaring sehingga membuat beberapa orang menoleh ke arah nya.
__ADS_1
Pak Bagus menengadah kan wajah nya yang sedari tadi terpekur melihat lantai, ah suara itu selalu saja berisik tak tahu tempat. Namun Pak Bagus tak bisa mengatakan apapun karena dia sudah tahu karakter wanita yang telah memberinya 2 anak itu.
"Mami, tolong rendah kan volume suara nya ya. Kita tidak boleh membuat keributan disini sehingga merusak konsentrasi dokter di dalam" jawab Bimo pada wanita yang telah melahirkan nya 28 tahun silam.
Bu Hana mengangguk,tampak raut kecemasan di wajah nya yang masih terlihat cantik di usia nya yang telah memasuki kepala 5 itu. Dia terkejut melihat keberadaan Andrea disitu. Ingin rasanya dia mengusir namun dia tak enak dengan mantan suami nya disitu.
Hampir lima tahun dia tak bertemu muka dengan mantan suaminya itu namun rasa simpati nya itu tak pernah luntur sedikit pun pada Pak Bagus karena dia lah laki-laki yang dulu pernah di perjuangkan nya di depan kedua orang tua nya.
Demi menghormati tamu nya Pak Bagus berdiri untuk menjabat tangan Ferdy. Begitu pun dengan Bu Hafsah istrinya juga berdiri untuk mengjormati kedatangan Ibu kandung anak-anak sambung nya itu. Bu Hana terlihat enggan menerima uluran tangan Bu Hafsah namun Pak Ferdy sengaja menyenggol lengan nya agar istri nya itu menerima jabat tangan Bu Hafsah.
"Bimo, bagaimana kejadian nya?"tanya Om Ferdy suami Bu Hana yang baru itu memecahkan kecanggungan yang terjadi diantara mereka. Di sebelah nya sudah ada Dona yang terlihat sedang mengotak atik ponselnya.
Bimo mempersilahkan Ibu kandung dan ayah tiri nya itu duduk di bangku yang ada di seberang Ibu sabung nya.
Dokter tampan itu menceritakan ulanh penyebab Aryo jatuh seperti yang di ceritakan sang komandan. Dan Om Ferdy tampak manggut-manggut mendengar cerita anak tiri nya itu, walaupun dia tidak dekat dengan kedua anak tiri nya namun dia juga merasakan kesedihan yang sama seperti yang di rasakan istri nya.
"Jadi sekarang Aryo dan teman nyabitu sedang di operasi?" tanya Bu Hana cepat.
__ADS_1
Bimo mengangguk kan kepala nya, Pak Ferdy melirik Dona dengan ujung mata nya, lelaki itu heran dengan sikap Dona yang terlihat santai tak ada kecemasan sama sekali.
"Ah mungkin gadis itu sedang mengalihkan kesedihannya dengan cara nya sendiri.' batin nya sendiri. Dona yang sadar di lihat oleh Pak Ferdy segera memasuk kan ponsel ke dalam tas nya.