Balada Cinta Anak Manusia

Balada Cinta Anak Manusia
Kepergian Andrea


__ADS_3

Bu Hana wajah nya terlihat merah karena menahan amarah pertama karena dia merasa tak di hargai oleh Aryo dan kedua dia merasa kesal pada Aryo karena saat ini bukan dia yang di cari melain kan gadis yang sangat di benci nya itu.


"Kenapa kamu mencari gadis itu?! Dia tak ada guna nya juga jika disini" kesal nya dengan suara yang di tekan agar tidak membuat kehebohan di saat ini.


"Aryo mau bertemu Andrea.!" jelas nya tegas tak mau di bantah.


Bimo dan Adinda saling memandang mereka berdua tak bisa mengatakan apapun karena menghargai Ayah nya sebagai tetua disitu.


"Anak ku sayang, sabar ya, Papi pasti bawa Andrea kemari. Tapi kamu harus janji, tidak membuat keributan ya." akhir nya suara Pak Bagus yang berwibawa keluar dari mulutnya.


Bimo dan Adinda menghela nafas lega,akhir nya Ayah nya mengambil alih keadaan yang kurang nyaman gara-gara sikap adik nya yang sedikit kekanakan.


"Dinda tolong panggil Andrea dan Myrna kemari nak, Bilang pada mereka Papi yang menyuruh."


Bu Hana mendelik kesal pada mantan suami nya " Tapi Mas !"


"Sttt....!! Sudah jangan berdebat ! Tolong hargai saya disini sebagai kepala keluarga!" kata tegas Pak Bagus memotong suara Bu Hana yang ingin protes, Dona melirik kesal pada Ayah kandung Aryo namun dia juga tak berani berbuat apa-apa.


Hening tak ada suara yang terdengar hanya suara helaan nafas dan bunyi mesin monitor jantung yang terdengar.Dinda segera keluar ruangan mencari keberadaan adik ipar dan calon adik ipar nya. Namun dia berinisiatif untuk menelpon Myrna untuk mencari tahu posisi mereka dimana. Dan setelah beberapa saat kemudian Dinda melangkah ke arah kantin yang tak jauh dari pavilun tempat rawat Aryo.


Andrea,Myrna, Zul dan Satrio serta 2 orang teman Aryo ternyata sedang menikmati minuman penghangat tubuh seperti susu coklat dan kopi panas di kantin. Zul sekarang memahami betapa besar nya cinta Andrea pada Aryo sehingga gadis itu mau berkorban mengakhiri cinta nya demi hubungan baik Aryo dengan ibu kandung nya. Dia mulai belajar rasa ikhlas dari hubungan itu.


Zul menyeruput kopi hitam nya dengan perlahan sambil sudut matanya melirit ke arah Andrea yang memain kan sendok di dalam cangkir nya. Mengaduk aduk minuman coklat itu dari tadi.


Dinda masuk ke dalam kantin dan mencari keberadaan kedua adik nya dia menoleh kanan kiri dan akhir nya mata nya melihat adik nya itu duduk di luar kantin di bawah payung berwarna merah marun.


Myrna melaimbaikan tangan ke arah pintu dan di sambut dengan anggukan kepala Dinda. Wanita berhijab itu mendatangi meja mereka.


Dia heran melihat Andrea dan Myrna berada di dekat beberapa orang lelakinyang tak di kenal nya. Dan sikap itu bisa di tangkap oleh Andrea karena dia juga merasa kurang enak berada diantara para lelaki walaupun mereka juga kenal dengan nya.


"Kak Din,kenalin ini teman Mas Aryo dan teman Andrea yang menyelamat kan Mas Aryo saat jatuh kemarin."

__ADS_1


Wajah Dinda berubah menjadi lebih ramah dan tersenyum tulus pada mereka yang ada disana. Dinda menangkupkan kedua tangan ke depan dada nya.


"Terimakasih banyak untuk pertolongan nya pada adik kami, semoga Allah SWT membalas semua kebaikan kalian dengan kebaikan yang berlipat ganda"


Semua lelaki yang ada disitu menangkupkan kedua tangan dan membalas ucapan Dinda dengan tulus. Lalu Dinda menyampaikan maksud kedatangan nya menjemput Andrea dan Myrna untuk menemui Aryo di kamar nya.


Andrea tampak ragu-ragu karena dia tahu di dalam kamar itu ada Ibu Kandung Aryo dan bisa di pastikan nanti dia akan di hina dan di usir oleh Bu Hana. Lalu Dinda mengatakan jika yang menyuruh nya menjemput mereka adalah sang Ayah.


Akhirnya kedua gadis itu pun mengikuti Adinda untuk menemui Aryo sebelum nya mereka pun telah berpamitan pada teman-teman nya disana. Dan Dinda juga mempersilah kan teman-teman Aryo yang mau datang menjenguk adiknya.


Kepergian Andrea di iringi dengan helaan nafas Zul yang masih merasakan pedih. Satrio menyenggol pundak Zul sambil berdehem menggoda.


"Ikhlasin napa Bro, cewek masih banyak yang single hihihi" goda nya pelan.


Zul tersenyum kecut dan melempar puntung rokok nya ke arah Satrio menghilangkan kesalnya.


Karena minuman sudah habis mereka sepakat untuk menuju kamar Galuh untuk menjenguk nya dan setelah itu mereka akan kembali ke base camp untuk bergabung lagi dengan para relawan.


Di dalam kamar Aryo yang luas, Pak Bagus dan Bu Hafzah sudah duduk di sofa dan Bu Hana lebih dulu mengambil tempat duduk di sebelah ranjang anak nya.


Bimo yang berusaha membuat suasana kamar tidak kaku dan hening terlihat sedang bertanya pada adiknya kronology kejadian yang telah menimpa nya.


Pintu kamar di ketuk dari luar. Bimo berjalan membuka dan tampak lah ketiga wanita cantik di depan nya. Jantung Andrea berdegup kencang saat melihat Bu Hana duduk bersedekap melihat nya.


Myrna mengeratkan genggaman tangan nya pada tangan dingin Andrea dia memberi kekuatan mental pada calon ipar nya itu menghadapi wanita keras kepala yang ada di depan nya.


"Assalamualaikum.." Sapa Adinda


Serempak semua yang ada disitu menjawab salam nya "Waalaikum salam"


"Mas Aryo..!" lirih suara Andrea terdengar di telinga mereka.

__ADS_1


Aryo tersenyum lemah memandang gadis kesayangan nya sedang berdiri di depan pintu dengan ekspresi takut.


Dia belum mengetahui permasalahan yang terjadi diantara ibu kandung nya dengan Andrea. Dia hanya tahu jika si ibu tak menyukai calon istrinya itu.


"Masuk lah nak. Temui Mas mu siapa tahu sakit nya bisa segera sembuh melihat kedatangan mu disini" suara Pak Bagus memerintah kan Andrea.


Bu Hana segera menampak kan wajah tak suka nya dan dengan kesal dia berdiri dari dudul nya ketika Andrea berjalan mendekati mereka.Dia tak sudi melihat Andrea dan dia juga kesal pada semua orang yang seolah tak menganggap nya ada. Dona pun bersedekap dengan memandang Andrea dengan wajah kesal.


"Sudah lupa atau pura-pura lupa dengan janji nya? Apa perlu saya ingat kan lagi disini? Dasar bebal !" seru Bu Hana tiba-tiba saat melihat gadis itu mau maju mendekati anak nya.


Karena tak tahan dengan kesedihan nya,Andrea pun berbalik badan dan berlari keluar meninggal kan mereka semua tak memperdulikan lagi suara Aryo yang memanggil nya dengan suara lemah.


"Sayang ! Jangaj pergi !" seru nya pelan karena dia masih menahan rasa nyerindi kaki nya. Sang Ayah terkejut melihat reaksi yang di perlihat kan mantan istri nya itu.


"Kamu sungguh keterlaluan Hana !" teriak nya menggelegar.


"Papi sabar!" myrna menahan ayah nya agar tidak maju menghampiri mantan istri nya. Dia tak mau jika sang ayah khilap dan melakukan tindakan kasar.


Bimo pun menghalangi ayah nya dan Dinda berlari keluar menyusul Andrea yang masih terisak di luar. Dengan langkah gontai gadis itu berjalan sambil berurai air mata di pipi nya.


"Andrea !! Tunggu !" seru Dinda sambil berlari menyusul nya namun gadis itu sudah terlanjur sedih tak menghiraukan lagi panggilan istri Bimo.


Dinda berhasil mensejajari Andrea dan menarik tangan kanan gadis itu. "Jangan pergi Dre ! Aryo butuh kamu !"


"Aku gak bisa menunggu nya Kak, karena Bu Hana sudah menyuruh ku pergi dan aku juga sudah berjanji akan meninggal kan mAs Aryo jika dia telah sembuh" isaknya makin keras dan otomatis tangan Dinda merengkuh bahu Andrea dan membawa nya di dalam pelukan nya.


"Jangan gegabah dalam mengambil keputusan yang akan kamu sesali seumur hidup mu. Kembali lah kesana dahulu" kata Dinda lembut.


Andrea menggelengkan kepala, dia tak mau di hina dan di olok kan lagi oleh Bu Hana karena janji nya itu.


"Maaf kan Andrea kak. Sampaikan permintaan maaf ku pada semua nya. Dan aku pamit ya kak." jawab Andrea lalu dia melepas kan pelukan nya pada Dinda dan segera berlari meninggal kan Dinda yang berdiri termangu karena tak menyangka kalau Andrea akan pergi menyerah meninggal kan kekasih nya.

__ADS_1


__ADS_2