Balada Cinta Anak Manusia

Balada Cinta Anak Manusia
Begini ya jadi calon istri


__ADS_3

Skripsi sudah selesai di kerjakan, banyak revisi disana sini yang membuat bete dan hampir putus asa, tak terasa sidang skripsi akan di jalani 1 Minggu lagi bersamaan dengan Aryo ke daerah pedalaman di Papua. Sebagai perwira muda lelaki itu harus siap sedia di tugaskan kapan pun dan dimana pun juga.


Sebenarnya saat ini gadis itu membutuhkan waktu untuk konsentrasi untuk menghadapi sidang skripsinya namun hati nya gelisah ketika mendengar kekasihnya akan pergi bertugas dalam beberapa bulan. Disana sedang ada pemberontakan separatis bersenjata yang di labeli pemerintah dengan sebutan KKB atau kelompok Kriminal Bersenjata atau bisa di sebut ******* juga.


Disana sedang terjadi chaos dan banyak kerusuhan penyebab KKB yang membantai para pekerja tambang tak berdosa, membakar gedung sekolah dan fasilitas umum serta menyadera pada wanita dan anak-anak demi memenuhi tuntutan mereka kepada pemerintah.


Para KKB ingin melepaskan diri dari negara Kesatuan Republik Indonesia. Mereka akan berbuat anarkis jika keinginan nya tak terpenuhi, sebagai bagian aparat negara maka para tentara berkewajiban membela negara nya ketika ibu pertiwi memanggilnya. Pun dengan Aryo yang notabene adalah abdi negara yang setiap saat wajib berangkat memenuhi tugas nya sebagai seorang pelindung masyarakat.


Aryo tersenyum manis di depan ayah dan ibu sambung nya namun dia sebenarnya sangat sedih harus berpisah lagi untuk sementara waktu entah berapa lama dia sendiri tak tahu pasti. Namun merujuk surat tugasnya yang mengatakan hanya 6 bulan namun biasanya praktek di lapangan bisa berbeda lagi.


"Ar, kamu sudah berpamitan dengan Andrea? " tanya Bu Hafzah sambil mengaduk cangkir kopi hitam untuk suaminya.


"Belum Bunda, karena baru tadi siang Aryo dapat surat tugasnya. Dan sebenarnya Aryo tak tega untuk berpamitan pada Andrea karena dia sedang konsentrasi untuk sidang skripsi. Takut mengganggu konsentrasi nya" jawab lelaki kedua dari Gen Bagus itu.

__ADS_1


Bunda memberikan cangkir berisi teh hangat manis untuk anak sambung nya lalu mengambil lagi untuk suaminya yang duduk di ruang keluarga.


Myrna yang baru saja selesai mandi dan bergabung di meja makan terlihat murung juga. Aryo sebenarnya tahu penyebab mendung di wajah adiknya pasti karena Tuhan mendapatkan tugas negara juga. Kok ada mendung ya.. " canda Aryo sambil memainkan sendok kecil nya di pinggir cangkir.


" Huft.. gini banget ya jadi calon bini tentara. Bakalan jadi yang kedua deh di hidupnya" adanya masih dalam mode mendung.


" Emang kenapa? kan kamu sudah tahu resiko nya berpacaran dengan body guard nya negara. Pasti kamu akan sering di tinggal tugas sapi beberapa waktu. Kalau mau di tunggu in terus ya cari yang profesi nya seperti Papi aja. hehee, bener gak Pih" seloroh cowok dengan tinggi 180cm itu dengan candaan yang bikin adiknya baper.


"Uh... emang gak bisa ya stay aja di satu kota gitu. Harus nya kan... " cemberut si bungsu mengeluarkan curhatannya pada Aryo dan Bunda.


Pasti tugas negara adalah hal wajib yang harus di utamakan daripada perasaan kekasihnya sendiri. Dan para abdi negara harus siap dengan segala resiko termasuk jiwa dan raga nya untuk negara. Pilihan sulit tapi wajib di Terima dengan lapang dada jika nekad menginginkan seorang suami tentara. Dan hubungan Myrna dengan Tofan sekarang sudah ada kemajuan. Setelah hampir 1 tahun merajut cinta akhirnya Tofan meminang dang kekasih untuk segera di halalkan setelah Tofan selesai pulang dari tugas nanti.


"Emang kenapa wajah kamu di tekuk begitu? kan belum musim hujan sekarang malah suhu panas banget 38 derajat lho" goda Aryo sambil menaik turunkan alisnya.

__ADS_1


Myrna mendesah perlahan meluapkan rasa kecewanya. Aryo merangkul tubuh adiknya dari samping. " Udah lah nikmati saja menjadi calon pendamping abdi negara itu di asyikin aja. Mental kamu pasti akan menjadi mental baja deh seperti kami. Sabar dan sabar hehee"


Dua kakak beradik yang sering kali ribut kecil karena bercanda itu akhirnya bisa akur. Bunda keluar dari dapur membawa sepiring lumpia rebung yang baru saja di goreng oleh Bibik. Bau harum gurih lumpia membuat dua orang itu mengendus-endus kan hidung nya ke arah belakang.


Bunda terkekeh melihat tingkah laku kedua anaknya dan meletakkan piring itu ke atas meja. Aryo langsung mengambil tisu dan mencomot sebuah lumpia itu. Myrna pun mengikuti kegiatan abang nya karena dia sangat menyukai kudapan lokal ini. Bahkan sekali makan bisa habis 3 biji lumpia dia.


Ayah meletakkan kacamata dan ponselnya lalu merubah posisi tubuhnya menghadap ke arah kedua anaknya yang masih asyik melahap snack sore buatan ibunya.


" Mas, jadi kapan kamu berangkat ke Papua? "


Aryo meletakkan lumpia nya di atas piring kecil, lalu dia menjawab pertanyaan ayah nya.


" 6 hari lagi Pi"

__ADS_1


Pak Bagus menghembuskan nafas berat seberat rasa hatinya melepaskan anak perjakanya ke medan juang. Tapi apa daya putranya adalah seorang A di negara yang sudah tersumpah sebagai prajurit untuk setiabela negara dan bangsa saat di butuhkan saat ini


__ADS_2