Balada Cinta Anak Manusia

Balada Cinta Anak Manusia
Rumah Bimo


__ADS_3

Bu Hana mondar mandir di dalam kamar tidur yang di sediakan Bimo untuk menginap nya.Jujur dia merasa canggung dengan anak dan menantu nya sendiri. Entah apa yang ada dalam pikiran nya saat ini harus nya dia berusaha mendekati dan mengakrabi anak dan menantu nya.


Bimo hari ini sengaja cuti untuk menemani Ibu nya di rumah. Sudah lama dia ingin merasakan kehadiran sosok ibu kandung nya setelah dua puluh tiga tahun berpisah rumah.


Dinda pun sengaja cuti juga karena ingin menghormati kedatangan mertua nya, dia sengaja memasak hidangan kesukaan mertua nya dengan tangan nya sendiri. Dia juga membersihkan rumah dan merapikan tanaman di halaman depan rumah nya agar lebih rapi dan indah.


Jujur saja dia benar-benar tak mengenal baik sosok ibu kandung suami nya. Dia hanya bertemu beberapa kali sebelum menikah dan saat resepsi pernikahan nya beberapa bulan lalu dengan Bimo.


Itu pun hanya sekedar bercakap-cakap biasa saja tak sampai menyentuh ke tanah pribadi masing-masing.Entah kenapa sikap Bu Hana dingin pada nya namun dia tak memperdulikan nya selama Bimo mencintai dan menerima nya apa ada nya maka disitu dia akan tegar menghadapi sikap dingin mertua kandung nya.


Beda sekali dengan sikap Ibu tiri Mas Bimo yang hangat dan penuh kasih ketika bersama nya, dia nyaman dan merasa di perlakukan sangat baik. Dinda sudah tahu kenapa Bimo lebih dekat dengan ibu tiri daripada ibu kandung nya. Ya karena sikap Ibu tiri nya lebih menyenangkan dan hangat. Menghargai keberadaan anak-anak tiri Bay dan tak membedakan kasih sayang dengan anak kandung nya.


Bimo menghampiri Dinda yang sedang menata piring dan makanan di atas meja makan. Dia memeluk istri nya dari belakang dan mencium leher istrinya dengan mesra.


"Ish... mas.. ish ah.. jangan begini. Nanti di lihat Mami kan gak enak" kata Dinda pelan takut terdengar mertua nya.


Bimo terkekeh sambil melepaskan pelukan nya dia memang romantis jika bersama berdua saja dengan istrinya. Dia tak pernah memperlihatkan kemesraan pada publik.


Krieettt...


Pintu kamar Ibu nya terbuka, bersamaan dengan bunyi suara bel rumah nya berbunyi. Dinda berpaling melihat ke arah pintu lalu dia meletakkan piring yang ada di tangan nya.


"Biar aku yang membuka pintu nya Mas, siapa tahu Aryo yang datang"

__ADS_1


Dinda berjalan menuju pintu utama, Bimo menghempaskan bokong nya di kursi makan yang terbuat dari kayu jati. Bu Hana keluar kamar dan mendekati anak sulung nya yang terlihat sedang mengatur letak piring dan sendok di meja.


Bu Hana duduk di kursi sofa yang tak jauh dari tempat duduk Bimo.


"Siapa yang datang Yank? "tanya Bimo ke arah Dinda.


"Aryo dan Andrea Mas" kata Dinda.


Bu Hana terkejut mendengar perkataan Dinda, dia tak menyangka jika gadis itu masih berhubungan dengan anak kesayangan nya padahal dia sudah pernah memperingatkan nya dahulu.


"Hmmm... masih berani dia menampakkan diri kemari. Dia sudah mengingkari janji nya pada ku. Baik lah seberapa berani dia menampakkan wajah nya di depan ku.


Kedua sejoli itu mengikuti jejak langkah kakak ipar nya menuju ruang keluarga. Andrea meremas ujung kemeja nya dengan tangan nya yang sudah dingin.


Ingin rasanya dia menangis dan berlari saat ini dia benar-benar belum siap mental menghadapi ibu kandung Calon suami nya itu. Bu Hana pura-pura tak mengetahui kedatangan nya padahal hati nya sudah sangat geram dan kecewa pada kedua orang itu.


"Waalaikum salam.. eh datang juga kamu nak" jawab nya pura-pura senang. Padahal hatinya sudah geram sedari tadi. Namun dia berusaha mengendalikan diri agar tak terlihat kampungan di depan anak dan menantu nya.


"Eh iya Mi , tadi mampir beli durian monyong kesukaan Mami. Ini tadi Andrea yang pilih lho. Dia jago kalau cari durian" jawab Aryo berusaha mengambil hati Mami nya untuk calon istrinya itu.


Bu Hana melirik melihat kedua tangan Aryo telah menggelantung 4 buah buah berduri kesukaan nya itu. Bau harum durian wangi dan khas nya membuat liur nya ingin keluar dari bibir nya yang tipis itu.


Hmm dia mungkin ingin mengambil hati ku dengam cara membelikan durian tapi maaf hati ku udah terlanjur kecewa nak dengan kamu. Dan kenapa wanita ini tak tahu malu menjilat ludah nya lagi?

__ADS_1


"Mami lagi gak pengen durian nak, Mami cum pengen di temani kamu saja menghabiskan waktu Mami di Jakarta dengan sisa waktu mu yang masih ada. " jawab Bu Hana sarkasme namun dia memahami jika Ibu nya tengah mencari perhatian anak nya.


"Lho kan dari kemarin udah Aryo temani, sekarang gantian Aryo yang akan mengenalkan Mami pada calon istri Aryo " jawab Aryo sambil meletakkan buah durian itu di atas ubin yang ada alas kaki nya.


"Apa? calon istri?! " sengit Bu Hana terkejut dia benar-benar tak tahu arah pembicaraan Aryo


"Maksud kamu apa ?" tanya nya dengan nada suara tinggi.


Bimo yang mendengar ibunya sewot segera menghampiri mereka. Dia melihat Andrea menundukkan kepala dan memainkan ujung kemeja nya dengan jari jemari nya.


"Hai Ar, Andrea ayo duduk dulu yang enak. Kita bicara baik-baik yuks. "Bimo berusaha menenangkan suasana yang agak kaku itu. Andrea masih berdiri di belakang tubuh tegap Aryo.


Aryo menoleh kan pandangan nya ke wajah Andrea yang terlihat pucat pasi menahan tangis.


Diae menggandeng tangan itu dan mulai menduduk kan tubuh kekasih nya itu ke sofa yang ada di sudut. letak nya agak menjauh dari Ibu nya.


"Mas.. " bisik Andre saat Aryo hendak berdiri meninggal kan nya.


"Tenang aja, semau akan baik-baik saja oke? trust me! " jawab Aryo sambil berbisik pula. Bu Hana melihat dengan ekor mata nya saja saat ini dia ingin sekali mengusir gadis yang ada di depan nya namun dia masih mencari cara dan mencari waktu karena Aryo sedari tadi tak membiarkan gadis itu sendiri.


Bimo mengajak Dinda duduk di ruang keluarga, sebagai anak tertua. di keluarga dan sebagai kepala keluarga pula, dia ingin menegak kan kebenaran dan mencari ketenangan di dalam keluarga nya.


Setelah Dinda duduk di sebelah Bimo maka lelaki itu memulai percakapan nya.

__ADS_1


"Sebelum kita berbicara panjang lebar ada baik nya kita mengisi perut dulu agar semua masalah yang kita hadapi bisa kita selesaikan dengan tenang dengan kerut kenyang. Jika perut lapar maka emosi dan emosi lah yang menguasai otak dan pikiran kita sehingga kita tak dapat berpikir jernih"


Bimo melipat tangan di dada nya saat ini dia terlihat sangat berwibawa dan di segani oleh semua anggota keluarga.


__ADS_2