
Ruangan VVIP yang di tempati Aryo terlihat sangat mewah seperti kamar hotel. Ada satu ranjang lagi untuk tempat tidur penunggu pasien dan satu sofa besar berwarna hitam berukuran letter L ada di dalam lamar tersebut.
Kulkas 2 pintu yang berisi beberapa air mineral, susu uht dan minuman kaleng tersedia di dalam nya, di atas meja sudut ada parcel buah-buahan segar serta televisi LED ukuran 24 inch juga tersedia sebagai pelengkap kamar VVIP tersebut.
Di sebelah kamar Aryo ada kamar Galuh yang sudah terisi oleh nya.Dan keluarga Galuh juga sudah masuk ke dalam kamar menemani pemuda itu..
Ayah Galuh tadi sebelum mengikuti anaknya sudah mengucapkan terimakasih kepada Pak Bagus karena telah memfasilitasi anak nya dengan sangat istimewa. Sebagai orang tua yang penuh rasa syukur dia pun menangis haru sambil berpelukan dengan Ayah Aryo.
Anak nya selamat saja sudah merupakan mukjizat dan hadiah terbaik dari Allah SWT,apalagi sekarang anak nya di perlakukan bak tamu agung oleh sahabat baru nya itu.
Pak Bagus mengatakan jika Pak Ramdani butuh apapun untuk kesehatan Galuh, dia dengan tangan terbuka akan membantu semampu nya keluarga Galuh.
Pak Ramdani yang notabene seorang guru sekolah dasar adalah keluarga sederhana dan di segani di kampung nya. Beliau tak pernah neko neko dan seorang guru yang benar-benar memililiki dedikasi tinggi akan kesederhanaan. Dan beliau pun merasa sungkan jika merepotkan lagi keluarga Aryo yang telah berbaik hati memberikan fasilitas kesehatan yan terbaik untuk putra nya.
"Terimakasih banyak Pak Bagus dan Ibu, kami sekeluarga terutama saya tak akan pernah bisa membalas kebaikan Bapak sekalian.Saya hanya bisa mendoakan yang terbaik bagi Keluarga Bapak" ucap Pak Ramdani tulus sambil menagkup kan kedua tangan nya di depan dada.
Karena kesederhanaan dan ketulusan Pak Ramdhani membuat Pak Bagus tak sayang memfasilitasi Galuh dengan kemewahan di Rumah sakit .
Kebaikan Pak Bagus tidak akan di manfaanfatkan ayah Galuh karena dia bukan lah orang yang aji mumpung padahal pengusaha itu tak merasa keberatan sama.sekali jika Galuh atau keluarga nya membutuh kan sesuatu dia siap membantu kapan pun.
__ADS_1
Mami Hana dan Dona sok sibuk mengurus Aryo yang jelas-jelas tak membutuh kan apapun karena sudah ada suster yang sipa sedia 24 jam melayani kebutuhan kesehatan nya.
"Aryo..mau makan apa nak? Pasti kamu lapar kan ?" tanya Bu Hana lembut atau tepat nya berusaha berkata lembut untuk menarik hati putra nya.
Aryo menggeleng kan kepala karena dia memang tak nafsu makan lagian untuk pasien pasti rumah sakit sudah menyiapkan makanan khusus. Entah kenapa Bu Hana tidak mengetahui nya.
Dona duduk di kursi yang ada di depan ranjang Aryo. Gadis berambut panjang itu tampak menyilangkan kaki kanan nya ke atas paha nya. Paha nya yang putih mulus terlihat menantang bagi mata lelaki normal yang melihat nya. Sayang nya tidak bagi Aryo karena dia saat ini sedang berjuang melawan rasa nyeri pasca operasi.
"Tante mungkin Aryo mau bubur ayam kesukaan nya. Dona bisa pesan kan online kok. Mau ya Ar?" rayu Dona mencoba berkomunikasi dengan sepupu plus lelaki idola nya itu.
Aryo diam tak bergeming. Dia tak mau menjawab karena dia sedang merasakan nyeri di kaki nya.
Reaksi obat bius saat operasi sudah menghilang seperti nya dan sekarang sudah lebih dari 7 jam pasca dia sadar dari koma. Aryo mengernyit kan kedua mata nya menahan sakit.
Suara ketukan di pintu kamar terdengar beberapa kali,Dona berdiri dan berjalan menghampiri pintu lalu dia membuka nya.
Ternyata Bimo dan Adinda serta Pak Bagus dan Bu Hafzah datang. Dona celingukan mencari sosok yang tak di sukai nya itu ternyata tak terlihat disitu.
"Oh Om Bagus tante, Mas Bimo."Sapa Dona menampilkan raut wajah ramah. Karena dia pun ingin mengambil hati ayah kandung dan kakak kandung Aryo.
" Boleh kami masuk?" tanya Bimo mode sopan padahal tak usha meminta ijin seperti itu dia pun berhak masuk dan menjenguk si adik.
__ADS_1
Bimo ingin menguji kesopanan Dona saja apakah gadis ini punya etika pada orang tua nya.
"Ehmm..tentu saja. Kalian kan keluarga Aryo juga. Mari masuk Om Tante "jawab Dona seolah dia adalah kekasih Aryo saja.
Adinda tersenyum miring melihat Dona yang pura-pura ramah pada mertua dan suami nya namun dia sendiri sudah paham maksud keramahan Dona itu.
Rombongan itu masuk dan menghampiri ranjang Aryo.Sebagai seorang dokter naluri Bimo mengatakan jika adik nya itu sedang menahan sakit yang luar biasa karena wajah Aryo yang terlihat mengernyit terus.
Bimo mendekati ranjang dan menanyakan pada Aryo apakah adiknya itu sedamg merasakan sakit, di jawab dengan anggukan kepala Aryo. Lalu Bimo sehera memencet bel untuk suster jaga yang ada di depan kamaradik nya.
Tak lama kemudia seorang lerawat wanita masuk membawa peralatan medis nya. Dan dia meriksa sebentar tensi darah Aryo. Tak lama kemudian suster mengeluarkan satu spuit jarum dari dalam kotak yang di bawa nya. Dan mengambil 1 botol obat injecsi pereda nyeri dan menyuntik kan ke dalam botol infus yang tergantung di tiang penyanggah nya.
"Bunda...Bunda..Aryo haus " permintaan pemuda itu langsung tertuju pada ibu sambung nya ketika mata nya melihat sosok wanita paruh baya yang lembut tutur kata nya itu di antara mereka yang memasuki kamar.
Bu Hana tampak mengepalkan tangan nya ke bawah tanda dia kesal dengan sikap anak nya yang terlalu memilih di layani istri mantan suami nya. Ada rasa nyeri yang berdenyut du hati nya saat melihat wajah anak kesayangan nya itu melihat terus ke arah Hafzah.
Apa kurang Mami pada mu nak,sehingga kamu lebih memilih ibu sambung daripada ibu kandung mu? Batin Hana nelangsa. Ada embun yang berkabut di pelupuk mata nya yang sudah mulai berkerut.
Bimo melihat selintas kesedihan ibu nya dan ada rasa tak tega melihat nya,dia merangsek maju mendekati ibu nya untuk menenang kan kepedihan nya.
Bu Hafzah maju mendekati ranjang Aryo dan mengambil segelas air yang telah tersedia di atas nakas. Dia duduk di samping ranjang dan mengangkat tubuh anak lelaki nya ke depan dan memberikan bantal di belakang punggung nya. Setelah itu dia mulai mendekatkan sedotan putih ke ke bibir Aryo yang terlihat pucat.
__ADS_1
Tiga teguk air telah melalui tenggorokan nya yang kering. "Terimakasih Bunda" ucap nya pelan. Bu Hafzah mengangguk tulus,setelah itu dia mulai tersenyum pada semua keluarga nya.
"Mana Andrea? Aryo pengen bertemu Andrea Bunda!" permintaan Aryo menohok kedua wanita yang ada di depan nya.