
Bimo pamit pulang terlebih dahulu pada keluarga nya, dengan menggunakan sedan berlambang bintang segitiga di dalam sebuah lingkaran dan berwarna hitam metalic. Mobil yang baru di belinya 1 tahun lalu pasca dirinya menjabar sebagai seorang direktur utama di sebuah RS Swasta disini. Hasil kerja kerasnya selama 3 tahun mengabdi di negara berlambang Singa ituitu.
Walaupun Papi juga memberikan sejumlah uang untuk tabungannya tak membuatnya ingin memakai uang tersebut. dia ingin bangga dengan hasil kerja nya. Dan tabungan dari ayahnya dia simpan untuk masa depannya kelak.
Memang semua anaknya sudah di berikan tabungan masing-masing 300 juta sebagai modal hidup mereka dan Sang Ayah yakin mereka sudah dewasa dan bisa mempertanggung jawabkan amanah yang telah di berikan nya dan bisa mengelola modal itu dengan baik.
Myrna yang masih Abage labil pun tak luput mendapatkan kepercayaan dari Papi dan bunda nya namun dia sengaja menitipkan uang itu kepada Bunda nya hanya mengambil 50 juta saja untuk di rupa kan bisnis online skin care nya yang mulai rame belakangan ini.
Uang yang bisa dia kelola dengan baik pun berkembang dan bisa mencukupi kehidupan nya tanpa perlu dia meminta lagi pada orang tuanya untuk biaya kuliah dan uang jajan nya. Pun dengan Bimo dia masukkan untuk deposito dan sebagian dia pakai untuk mengembangkan hoby nya otomotif dan diam-diam dia telah memiliki bengkel mobil yang sudah mulai berjalan 1 tahun belakangan ini.
Untuk Aryo dia juga memiliki usaha sampingan yang di kelola oleh sepupunya yaitu bisnis distro pakaian anak muda yang hasilnya dia terima tiap bulan melalui transfer rekening pribadinya sendiri.
Jadi tanpa Bu Hana ketahui kedua anak lelakinya itu juga pengusaha plus. Jika saja dia tahu pasti wanita itu tak segan-segan merengek meminta jatah pada keduanya.
Begitu lah Pak Bagus mendidik anak-anak nya sejak. muda untuk jadi pengusaha walaupun mereka memiliki pekerjaan tetap, agar kehidupan anak-anak nya kelak lebih baik dan terjamin masa depannya daripada kehidupan nya dulu.
Mobil sedan itu sudah meninggal kan area Bumi moro menuju hotel tempat Bimo sekeluarga menginap. Sengaja Bimo membawa mobil dri Jakarta ke Surabaya karena sekalian dia ada seminar di kota Pahlawan dan rencana mengunjungi keluarga besar Adinda.
Mereka berangkat berempat, sepasang suami istri teman Bimo yang juga dokter di rumah sakit yang berbeda. Bersama dr Emran dan dr Kartika mereka bergantian menyetir kendaraan mahal itu.
Besok acara seminar kedokteran yang setiap tahun di gelar megah di hotel bintang lima di kota itu. Acara temu ilmiah untuk membahas technology kedokteran dan kesehatan yang makin modern.
Sebagai seorang dokter spesialis bedah dia harus selalu up to date ilmu yang tiap saat berubah. Jangan sampai dia ketinggalan ilmu yang membuat rumah sakit tempatnya mencari nafkah tak bisa mendapatkan sertifikasi ISO.
"Mamy, kita menginap disini malam ini ya, selama tiga hari Bimo ada seminar. Jadi nanti Mami bisa jalan-jalan sama Adinda menghabiskan waktu luang di Mall yang ada disini"
Bu Hana mengangguk pasrah karena dia sudah tak memiliki tujuan lagi selain itu dia juga sedang enggan pulang ke Bandung karena belum siap menghadapi suaminya.
Bimo menyerah kan kunci kamar pada ibunya, tadi saat di jalan dia sempat menghubungi pihak hotel untuk menyiapkan satu kamar untuk ibunya. Dan kebetulan kamarnya berhadapan dengan kamarnya.
__ADS_1
Setelah mereka masuk ke kamar masing-masing, Bimo merebahkan tubuhnya ke atas kasur Queen size yang empuk itu. Rasa lelah dan pegal mulai terasa. Menyesal dia tak mengajak salah satu driver Papi nya di rumah.
"Yank, mandi dulu gih,biar capeknya hilang " kata Adinda lembut di samping suaminya yang sudah mulai memejamkan mata.
"Nanti saja setelah bangun, badanku rasanya rentek mau copot tulang rasanya"
Adinda tersenyum lembut " Ya udah nanti aku bangunin kalau mau waktu sholat ya"
Dengan mengedipkan mata saja Bimo menjawab karena matanya sudah lengket seperti lem alteka.
"Hmmm... gayanya mau touring sendiri gak tahunya capek banget kan.Nanti pulang nya gak tambah capek orang nyetir sendiri lha wong Mas Emran sama Mbak Tika mau naik pesawat! " Adinda mengomel sendiri karena suaminya udah terlelap memeluk mimpi.
Dengan telaten dia membuka sepatu dan kaus kaki Bimo, lalu membuka ikat pinggang suaminya. Karena lelahnya lelaki itu tak sempat membuka sepatu.
Tepat 2 jam kemudian pintu kamar Bimo di ketuk dari luar, pasti Mami yang mengetuk nya. Dinda yang memang tidak tidur dan dia hanya beberes isi koper mereka untuk di masuk kan ke dalam lemari. Dengan cepat dia berjalan membuka pintu dan benar saja Bu Hana sudah berdiri di depannya.
" Bimo kemana Din? "
"Ya Ampun, nih bocah udah sore begini masih molor.! " omelnya sambil masuk ke dalam kamar. Karena suara cempreng ibunya lah membuat Bimo menggeliat dan terbangun.
"Mi, udah mandi? " sapa nya basa basi karena melihat sosok ibunya sudah wangi dan segar.
"Udah dong, nih udah mau magrib kamu masih molor aja. kita makan malam dimana? " tanya nya sambil menjatuhkan bobot tubuhnya ke atas kursi hotel.
"Iya Mi, Bimo mandi dan sholat dulu setelah itu kita cari makan di luar aja. Mami mau makan rawon setan gak? " tawar Bimo.
Hana terdiam sesaat dia teringat dulu pernah ke Surabaya dengan Bagus, mereka mendapatkan voucher hotel bintang tiga dari kantor nya. Mereka melakukan perjalanan dinas plus bulan madu yang sangat berkesan. Makanan khas Surabaya di cicipi nya dengan senang.
Yang paling berkesan adalah rawon khas Surabaya, makanan yang berupa sup daging dan ada iga dengan warna kuah hitam dari bumbu kluwak atau pucung. Sampai nambah 2 porsi dia menikmati makanan itu. Lalu minuman nya es temulawak asli dari rempah.
__ADS_1
"Mi... mau makan apa?! " tanya Bimo lagi.
Hana tergagap mendengar suara anak sulung nya.
"Oh eh.. mami ngikut kamu aja Mas, Rawon juga boleh. Jadi teringat Papi kamu dulu hehehe" jawabnya getir.
Bimo merasakan kesedihan yang mendalam melihat wajah ayu sang ibu kandung, namun dia berusaha tidak menampakkan nya agar suasana malam itu tidak menjadi hari biru.
" Ya udah tunggu Bimo bebenah dulu ya, setelah itu kita berangkat ke warung Rawon setan"
Dinda seger a menyiapkan pakaian suaminya dan dia sendiri dari tadi sudah mandi tinggal bersiap untuk sholat.
" Mami ndak sholat ya Din, lagi capek" tutur nya.
Adinda mengerutkan dahi nya mendengar jawaban mertua nya, ah...gak sholat karena capek, bukannya masih sehat dan wajib ya sholat bagi seorang muslim. Namun hanya dalam hati saja dengungan itu terdengar, dia juga tak enak mau menegur mertuanya karena dia juga baru beberapa kali saja bertemu tidak akrab pula.
Dinda tersenyum sambil mengangguk, biar Mas Bimo aja lah yang menegur Ibu kandungnya daripada nanti aku di musuhi nyonya besar, dia merasa sangat berdosa karena tidak mengingat kan mertuanya namun dia juga takut mertuanya murka, jadi dilema sebenarnya.
Cek lek..
Pintu kamar mandi terbuka, keluar lah Bimo dengan handuk yang melilit tubuh bawahnya namun dia sudah memakai kaos yang tadi di pakai nya. Kemudian dia mengambil baju koko dan sarung yang telah di sediakan istrinya.
Setelah berganti kostum, Bimo segera menuju ke atas sajadah nya, sebelum melakukan ibadahnya dia menoleh ke arah Mami nya.
"Mami udah sholat? " tanya nya pelan.
Bu Hana meletakkan ponselnya di atas meja, dia menghela nafas kasar. Memang Ibu satu ini paling malas menjalankan ibadah wajib ya hanya saat lebaran saja dia mau beribadah.
"Mami capek Bim, jadi sementara gak sholat dulu"
__ADS_1
Bimo menghela nafas pelan, mau menceramahi ibunya gak mungkin di depan istrinya takut ibunya tersinggung dan gak enak hati di depan menantunya. Akhirnya Bimo memutuskan sholat berjamaah saja dengan istri tercintanya. Nanti saat Dinda gak ada saja aku akan menegur Mami pikirnya dulu.