Balada Cinta Anak Manusia

Balada Cinta Anak Manusia
Kedatangan relawan Taruna


__ADS_3

Wajah lelah dan perut keroncongan sudah tergambar nyata di mata para Taruna itu. Mereka segera turun berkemas untuk keluar dari mobil dan apel wajib sebentar dan melaporkan kedatangan pada aparat desa.


Seorang pamong desa menemani salah satu Taruna senior untuk menghadap Pak Kades dan kebetulan Pak Kades,Pak Camat serta Pak Bupati sedang ada di lokasi posko.


Sosok tubuh tinggi tegap dan terlihat bersemangat itu mengayunkan kaki mengikuti Pak Pamong ke posko 3 yang terletak agak ke selatan dari pendopo.


Ternyata Pak Kades ,Pak Camat dan pak Bupati sedang mengunjungi korban yang kemarin melahirkan di posko. Sedang enaknya menanyakan keadaan para korban asisten Pak Kades membisikkan sesuatu kepada nya.


Pak Kades manggut-manggut tanda mengerti lalu dia berpamitan pada atasan nya untuk menyambut para taruna itu.


Karena Pak Camat dan Pak Bupati sudah selesia tinjauan nya, rombongan mereka semua kembali ke pendopo utama untuk menyambut para relawan itu.


Acara penyambutan sederhana telah selesai di lakukan, para taruna di persilahkan untuk beristirahat di 3 rumah yang sangat besar disana telah di sediakan tempat untuk beristirahat selama mereka disini.


Para Taruna segera berjalan menuju ke rumah yang telah di tunjuk untuk tempat beristirahat mereka. Relawan grup nya Satria pun telah beristirahat di rumah penduduk yang aman dari lahar gunung merapi.


Satria dan teman-teman nya yang lelaki berada di salah satu rumah kuno milik Pak Raden orang terkaya di kampung itu. Yang bersebelahan dengan rumah tempat tinggal para relawan putri. Rumah Pak Raden ada beberapa buah dan hanya di tempati oleh para pembantu nya, sedangkan Pak Raden dan istri nya tinggal di Jakarta mereka ada bisnis disana.


Sebagai bentuk simpati dan kedemawanan Pak Raden mengijinkan siapa pun untuk menempati rumah nya untuk tempat berlindung dari hujan abu dan lahar dingin. Pak Raden juga memerintahkan 2 pembantu yang menjaga rumah nya untuk menjamu para relawan itu dengan masakan yang bahan baku nya telah di siap kan sendiri oleh Pak Raden.


Pak Yus dan istrinya yang menjaga rumah Pak Raden sedang menyiapkan makan malam untuk para Taruna. Sayur sup dan Perkedel kental dan Ayam goreng menu untuk para relawan itu.


Sedangkan di rumah para relawan putri telah siapkan menu yang sama pula oleh Bu Ani dan suaminya.


Mereka menggelar tikar untuk makan bersama dan para bapak anggota Basarnas ikut pula menginap disitu. Suasana akrab dan kekeluargaan tercipta saat makan malam bersama sambil bercanda dan membahas agenda acara besok.


Zul menggenakan sweeter pemberian Andrea saat makan malam dan kebetulan Satria pun tak sadar memakainya juga. Karena udara mendadak sangat dingin dan membuat tubuh menggigil.

__ADS_1


Saat mereka keluar bersamaan ke ruang tamu, mata rekan-rekan nya langsung melotot tertuju pada mereka berdua karena memakai sweeter bermotif sama namun beda warna saja.


"Ih...kembar siam nih. Kayak anak panti aja Mas Sat sama Mas Zul..hahahaha..."ledek Benu sambil menutup mulutnya.


Mereka yang ada disitu otomatis tertawa bersama dan akhirnya Satria melepas sweeter itu karena malu di bully rekannya.


"Ngapain di lepas Mas?! Kan cakepan tuh di pake di ono. Keren!" ledek Rudy sambil nyengir.


"Aaahhh...sial lo pade sirik ya lihat kita kembaran " kata Satria.


Mereka tertawa ngakak lalu kembali fokus pada makan malam yang telah di tata di lantai beralaskan tikar itu. Mereka makan dengan sangat lahap karena udara memang mendukung dan sedari sore mereka menahan lapar.


Sesekali para mahasiswa itu bercanda saling melempar candaan untuk melepas ketegangan.


Setelah makan malam Pak Didit mebgumpulkan para mahasiswa untuk briefing sebentar. Namun sebelum nya dia telah menyuruh para relawan putri untuk bergabung dengam mereka untuk saling bertukar masalah dan briefing.


Setelah mandi mereka pun telah siap untuk menyantap makanan khas Jogjakarta yaitu gudeg. Perut kenyang membuat rasa kantuk mulai menyerang dan karena mereka telh terbiasa tidur tertib di waktu yang sama maka mereka pun telah tetidur untuk mengistiratkan diri guna menyambut kegiatan mereka esok pagi.


Aryo salah satu Taruna yang tidak bisa tidur malam ini, dia dan Tofan sahabat nya terlihat bercanda di teras rumah itu. Sambil bersandar di dinding Aryo membayangkan kehidupan nya kelak dengan Andrea jika telah menikah.


Aryo menyesal tak membawa ponselnya harusnya dia bisa bawa ponsel dan di titipkan ke ibu penjaga rumah sehingga malam ini dia bisa mengabari Andrea akan keadaannya disini.


Tofan menggelengkan kepala melihat kebucinan sahabat seperjuangan nya itu, Tofan juga sudah memiliki kekasih yang jauh di mata namun dia bukan lah orang romantia yang sering-sering mengabari pacarnya melalui telpon.


Dari depan halaman rumah tampak suara sandal yang di seret.


"Sreegk..sreggg..."

__ADS_1


Aryo dan Tofan langsug mencari sumber suara itu. Mereka berdua bangkit dari tempat duduk nya menuju ke arah pintu gerbang halaman rumah ini.


Desau angin malam yang dingin karena efek dari lahar dingin disini membuat mereka harus merapatkan jaket tebal nya. Aryo menyalakan senter yang ada di sakunya. Memang kemana-mana lelaki itu selalu siap dengan kecil yang bisa menerangi kegelapan itu.


Sreg...sreggh..sreegh..


Terdengar suara itu lagi tapi seperti makin menjauh dari situ, alhasil mereka berdua tak menemukan apa pun disitu dan membuat bulu kuduk mereka meremang.


Hiiii.....


Apaan tuh !seru Tofan terkejut karena dia melihat sekelebat bayangan orang yang berlari meninggal kan bunyi kaleng yang terinjak kaki !'


Klontang !!!


Lalu sunyi..


Aryo segera mengajak Tofan untuk segera masuk ke dalam rumah karena tubuhnya merinding merasakan ada sesuatu yang sedang mengintai keberadaan mereka di rumah Pak Raden.


Mereka berdua gegas meninggalkan halaman yang terlihat temaram karena sinar dari rembulan malan.


"Yo, kunci pintu nya cepat!" perintah Tofan pada sahabat nya itu sambil terengah-engah.


Ternyata di dalam rumah sudah tak ada orang mungkin mereka semua sudah masuk ke dalam kamar masing-masing.


Kamar di rumah ini ada 10 kamar. 5 kamar ada di sisi sayap kanan dan 5 kamar lagi di lantai 2. Kebetulan 1 kamar bisa menampung 4 orang.


''Yo! Kamu sudah kunci kan rumah nya?" tanya Tofan memastikan keamanan di rumah ini terjaga.

__ADS_1


Aryo mengacungkan jempol kanan nya ke arah wajah nya. Tofan bersiap naik ke tangga yang menghubungkan nya dengan kamar nya di lantai 2.


__ADS_2