
Di salah satu kamar hotel bintang 4 yang letak nya di seberang rumah sakit itu terlihat dua orang gadis sedang duduk termenung seolah di liputi kepedihan yang dalam. Salah satu nya beranjak ke toilet untuk membersihkan badan dan ingin segera beristirahat karena waktu telah menunjukkan pukul 20.00 wib.
"Kak, Bunda bilang kita makan malam di kamar saja, sudah Mas Bimo pesan kan untuk kita tadi" suara Myrna memecah keheningan kamar.
Andrea menyahut dari kamar mandi "Kakak gak lapar Myr, kamu makan duluan aja gapapa"
Sudah dia duga Andrea tak mau makan pasti karena hati nya masih sakit dan swsih karena kejadian tadi sore yang membuat syok seluruh keluarga nya.
Myrna terdiam namun dia segera mengirim kan pesan pada Kakak nya jika Andrea tak mau makan.
Sesaat kemudian balasan Bimo masuk ke gawai nya. Dia menyuruh Myrna menghibur Andrea dahulu, mengenai masalah tadi sore Bimo akan mencari jalan keluar yang terbaik bagi Andrea dan Aryo. Yang penting sekarang ini Aryo sudah dalam keadaan terselamat kan.
Myrna membalas pesan jika dia sedih kalau memang Aryo dan Andrea tidak jadi menikah karena hal ini dan sudah bisa di pastikan hubungan kekeluargaan mereka pada keluarga Andrea terancam hancur juga.
Bimo menyakin kan adik bungsu nya itu dengan sedikit memberi nasehat bijak yang bisa mendingin kan hati.
" Halo jangan pesimis dong say, Ingat kita punya Allah, segala sesuatu yang terjadi di muka bumi ini sudah tercatat di lauful mahfudz jauh sebelum manusia itu di ciptakan bahkan daun yang gugur ke buni saja sudah dalam catatan nya."
Bimo menghela nafas mencari oxygen untuk nafas nya lalu dia berkata lagi
"Jika Allah sudah berkehendak maka tak akan ada satu manusia pun di bumi ini bisa melawan takdir Nya. Berdoa yang lebih banyak agar Mas Aryo dan Kak Andrea bisa melewati ujian berat ini. Dan bisa bersatu dalam maghligai pernikahan."
Myrna merasa terhibur dengan nasehat Bimo dan dia akan menghibur Andrea dengan kata-kata yang sama nanti nya agar gadia indo itu bisa mengikir kepedihan nya perlahan.
Andrea telah selesai mandi dan dia mulai menghamparkan sajadah tipis memakai mukenah putih yang di bawa nya dari rumah nya. Sesaat kemudian dia telah khusyuk menjalankan ibadah malam nya dan di tutup dengan dzikir dan doa. Dia ingin mengadu pada sang maha Allah yang memiliki kuasa untuk membolak balikkan hati dan jiwa manusia. Dia berdoa semoga kesehatan Aryo segera pulih dan me jalan terbaik untuk hubungan mereka berdua di masa yang akan datang.
__ADS_1
Myrna segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan badan gantian dengan Andrea setelah itu dia pun melaksanakan ibadah malam nya.
Hotel Ganesha...
Di kamar 202 itu sepasang suami istri sedang berdebat panjang. Sang suami meminta agar si istri tidak memaksakna kehendak nya sendiri untuk memutuskan jalinan cinta anak nya.
Sang suami yang sedang kesal karena lelah dan perut lapar tampak emosi melihat kekerasan hati istri nya.
"Sudah lah Pah, jangan paksa aku untuk menyetujui gadis itu. Mama sudah kecewa sama dia karena dia pernah membohongi mama waktu itu" dengus nya kesal sambil tangan nya mengeluarkan pakaian dari dalam koper yang di bawa nya tadi.
Ferdy terlihat kesal sekali dia tak menyangka jika istri nya itu tega sekali memisah kan anak nya. Walau pun dia hanya sebagai bapak sambung Aryo dia juga menyayangi Aryo dan Bimo seperti anak kandung nya sendiri.
Memang dia jarang sekali bertatap muka dengan mereka berdua karena dia paham jika anak sambung nya itu belum sepenuh nya menerima diri nya sebagai ayah sambung nya. Dia merasa bersalah karena tidak belajar mengakrab kan diri dengan anak tiri nya itu sehingga mereka berdua seperti menjaga jarak jika bertemu dengan nya.
" Kamu harus nya memiliki calon menantu seperti Andrea karena dia terlihat gadis yang baik dan penurut." Ferdy berusaha memprovokasi istri nya.
"Ah..Papa kan tidak tahu sifat asli gadis itu. Dia itu pandai bicara dan melawan.Mama tidak suka nanti nya Aryo akan menjadi tunduk seperti kerbau yang di cocok hidung nya pada Andrea jika mereka menikah" Bu Hana mencoba mencari kesalahan Andrea yang seperti nya hanya alibi nya saja dan mengada-ada.
Pak Ferdy menyugar rambut nya yang telah memutih sebagian dengan tangan kanan nya pertanda sangat geram dengam tindakan Bu Hana.
"Ma, aku bingung dengan sikap mu, kenapa kamu berubah seperti ini, otoriter dan semau sendiri. Ingat Aryo sudah dewasa dan dia bisa menentukan hidup nya sendiri."
Bu Hana melengos dia kesal dengan tudingan suami nya padahal memang itu suatu kenyataan yang ada pada diri nya.
__ADS_1
"Sudah lah Papa gak usah ikut campur dengan urusan ini. Mama akan mengatasi sendiri ! Lagian Aryo pasti menurut sama Mama karena berkat darah Mama nyawa nya tertolong !" seru Bu Hana sambil menghempaskan tubuh nya di atas ranjang .
Pak Ferdy terkejut mendengar penuturan istri nya dia tak menyangka istri nya tega menyuruh nya tak ikut campur. Sebagai seorang laki-laki diri nya sangat terluka harga diri nya.
"Oke aku gak akan ikut campur lagi urusan kamu mulai detik ini urus saja semua nya sendiri ! Jangan melibat kan aku ! Dan aku akan pulang !" Ferdy tersinggung dengan ucapan Hana yang semau sendiri itu.
Lelaki yang berprofesi sebagai seorang pengusaha itu segera mengemasi tas kecil yang berada di atas nakas. Tas itu berisi dompet, atm, kartu kredit dan uang tunai yang selalu di bawa nya kemana-mana.
Dengan cepat dia menyambar tas nya dan segera berjalan menuju pintu tanpa menoleh lagi, Bu Hana terkejut melihat reaksi suami nya yang tak pernah dinduga nya akrena selama ini sang suami sangat penurut pada nya.
"Pa...papa...papa mau kemana?!" tanya nya dengan setengah berteriak karen suami nya taknmenghirau kan nya lagi
Pak Ferdy membuka pintu dan menutup nya dengan kencang.
Brak !
Bu Hana melonjak kaget dia memegang dada nya karena gemetar, seumur perkawinan nya dengan Ferdy yang telah berjalan hampir 19 tahun, baru kali ini Ferdy bertindak kasar seperti itu.
Ferdiansyah lelaki tampan pengusaha sukses itu rela meninggal kan istri nya yang tak kunjung memberi kan nya keturunan selama 3 tahun menikah dan berpaling pada Hana yang masih ada hubungan darah dengan keluarga nya.
Lelaki itu menurut sekali ketika Hana meminta nya menceraikan Atika yang saat itu sedang menjalani program bayi tabung demi sebuah ambisi orang tua Fery yang sangat menginginkan cucu dari rahim nya sendiri.
Atika yang saat itu berhasil mengandung benih Ferdy akhir nya stres dan keguguran sehingga memantapkan hati Ferdy untuk menceraikan nya walaupun perempuan itu menangis mengiba namun Ferdy yang sudah terpesona kecantikan janda muda Hana tak mengindah kan lagi dan tanpa belas kasihan tepat 1 minggu setelah sidang perceraian selesai Hana langsung saja meminta Ferdy untuk segera menikahi nya dan berjanji akan memberikan nya anak yang banyak untuk penerus keturunan keluarga nya.
Ferdy keluar dari kamar tak sengaja berpapasan dengan Dona yang kebetulan keluar kamar dengam menempelkan telepon genggam di telinga nya. Entah gadis itu sedang berbicara dengan siapa yang terlihat jelas dia sedang tertawa gembira seolah tak memiliki empati pada kesehatan Aryo yang kata nya sangat di cintai nya.
__ADS_1
Dona terkejut karena hampir menabrak suami tante nya itu. Dan seperti maling yang tertangkap basah gerakan Dona tiba-tiba gugup seketika menghentikan tawa nya yang keras tadi.
Ferdy yang sedang kesal tak mau berbasa basi busuk juga dengan keponakan istri nya itu. Dia hanya menyapa saja lalu segera berjalan lagi tanpa menoleh.