
Bu Hana melengos mendengar teguran mantan suami nya dia masih merasa jumawa dengan mengatakan diri nya paling berjasa menyelamat kan nyawa Aryo. Tofan yang melihat kejadian itu mengernyit kan kedua alis mata nya.
Insting nya mendadak tajam melihat Ibu kandung Aryo itu berkoar-koar jumawa di depan mantan suami nya. Sebagai seorang indigo dia langsung bisa melihat kilasan kejadian kehidupan sahabat nya itu. Seolah ada beberapa slide menari-nari di pelupuk mata nya dan dia pun sudah mendapat kan benang merah dari kejadian itu. Dari saat Bu Hana mengintervensi Andrea dan perkataan Bu Hana yang seolah-olah mengatakan dia lah yang berjasa mendonor kan darah untuk Aryo.
Naluri nya berkata jika sahabat nya itu dalam kesulitan akibat ulah ibu kandung nya sendiri dan dia ingin sekali membantu sahabat nya itu agar terhindar dari cengkeraman Ibu nya.
Tofan melirik Zul dan lelaki itu seperti bisa membaca pikiran teman baru nya. Sesaat suasana menjadi panas karena Bu Hana masih saja berdebat dengan mantan suaminya dan istri Pak Bagus itu berusaha melerai dengan cara mengelus-elus pundak suami nya dengan lembut.
Pak Bagus sudah muak dengan perlakuan Bu Hana yang tidak mau mengerti situasi dan kondisi di saat ini. Seharus nya mereka bersyukur Aryo sadar dari koma dan tidak membuat keributan yang memalukan disitu. Mau meladeni lagi rasa nya kok seperti laki-laki yang tak ada wibawa nya sehingga Pak Bagus terdiam dan menjauh dari hadapan Bu Hana yang melipat Kedua tangan nya di depan dada.
Saat Pak Bagus dan Bu Hafsah berjalan mendekati bangku kosong di sebelah Zul lelaki yang sebenar nya memiliki kesabaran tinggi itu akhir nya mengalah daripada berdebat kusir dengan wanita egois itu.
2 orang perawat tampak mendorong bed pasien keluar ruang ICU. lalu seorang perawat memanggil salah satu keluarga Galuh, Ayah nya maju ke depan dan berbicara dengan perawat itu. Lalu kemudian Ayah Galuh melambaikan tangan ke arah kakak nya untuk mengikuti si perawat mendorong bed yang di tiduro adik nya itu menuju ruang perawatan.
Andrea dan Myrna berdiri mematung dengan dada yang berdegup kencang menunggu giliran Aryo di bawa keluar menuju ruang perawatan. Bu Hana dan Dona merangsek maju ke depan seperti menghalangi orang yang hendak melihat Aryo. Seperti orang kampungan saja sikap mereka berdua.
__ADS_1
Tak lama kemudian kedua perawat itu telah kembali masuk ke ruangan lalu beberapa menit kemudian mereka berdua mendorong ranjang pasien yang berisi tubuh Aryo.
Salah satu satu dari perawat itu memanggil keluarga dari Aryo, Bu Hana buru-buru menjawab diri nya sebagai wakil keluarga seolah takut keduluan Pak Bagus untuk mendampingi anak nya.
Pak Bagus menggeleng kan kepala tanda kesal namun Lagi-lagi istri manis nya itu menyabar kan nya. Myrna menarik tangan Andrea untuk maju mendekati ranjang Aryo. Air mata Andrea tak berhenti menetes dari kedua mata nya yang berwarna Hazel.
"Mas Aryo !" panggil nya lirih dengan berlinang air mata. Zul terlihat menggigit ujung bibir, perasaan nya saat ini terlalu sakit melihat orang yang di cintai nya itu menangisi kekasih nya.
Aryo menoleh ke arah sumber suara yang sangat di kenal dan di rindu nya. Kepala nya masih di perban dan kedua kaki nya juga di gips karena mengalami patah tulang saat jatuh. Wajah nya yang pucat terlihat bersinar ketika melihat sosok gadis yang di rindukan nya itu.
Pun dengan Bu Hana juga terlihat kesal karena anak nya tidak terlalu merespon kehadiran nya. Pak Bagus maju ke depan lalu mendekati ranjang putra kesayangan nya. Aryo menyinggung kan senyum terbaik nya untuk sang ayah dan ibu sambung nya.
Bu Hafsah menyusut tangis nya dengan sapu tangan yang Selalu di simpan nya di saku baju nya. Perawat mengajak salah satu keluarga besar Aryo untuk mengikuti mereka menuju kamar perawatan dan Bu Hana dengan Percaya diri langsung menawar kan diri menemani anak nya.
Akhir nya Pak Bagus dan keluarga nya mengalah tidak mengantar kan Aryo ke ruang perawatan dan membiarkan Bu Hana serta keponakan nya itu mengiringi Aryo ke ruang VVIP yang telah di pesan oleh Bimo yang tadi pagi.
__ADS_1
Saat mereka sudah tidak terlihat lagi di hadapan para penunggu, Tofan memberanikan diri mengatakan kebenaran pada Pak Bagus di dukung dengan saksi kejadian saat donor yaitu Zulfikar.
"Maaf Om, kalau saya lancang dan tak ada maksud menguping pembicaraan Om dan Tante Hana. " Kata Tofan pelan takut Ayah nya Aryo tersinggung setelah menceritakan kejadian yang sebenarnya.
Di luar ekspektasi anak-anak muda itu ternyata Pak Bagus malah langsung memeluk Tofan dan Zul. Tangis nya pecah karena terharu atas pengorbanan kedua orang pemuda itu pada anak kesayangan nya dan rasa lega yang tak terkatakan karena keluarga nya terutama dia tak memiliki hutang budi apa pun terhadap mantan istri nya.
Sebagai seorang Ayah yang jadi panutan anak dan istri nya dia akan bertekad memperjuangkan kebahagiaan anak-anak nya dan akan membatasi dan melarang keinginan Hana mencampuri urusan anak-anak nya.
Kartu As kelicikan Hana telah di pegang Ayah Aryo, Myrna dengan cerdas nya tadi telah merekam semua cerita Tofan sebagai alat bukti untuk membongkar kebohongan Hana.
Zul menatap wajah wanita yang di cintai nya itu dengan senyum tipis, ingin sekali dia membawa pergi gadis itu keluar dari masalah yang membelenggu nya, namun apa daya bukan dia yang ada di hati Andrea. Dia kini tahu apa arti cinta yang sesungguhnya nya yaitu tulus, ikhlas tanpa pamrih.
Dari Andrea dia tahu makna cinta yang syarat akan pengorbanan untuk orang yang di cintai nya dan dia akan mengorban kan rasa cinta nya untuk Andrea jika membuat Andrea bahagia bersama dengan Aryo.
Raut kelegaan dan senyum bahagia terpancar dari wajah bule nya yang ayu dan menggemaskan kan dia berharap dengan terbuka nya kedok Ibu Hana maka tak akan ada lagi penghalang hubungan Mereka kelak.
__ADS_1
Pak Bagus mengajak istri nya untuk mendatangi kamar Aryo karena ingin melihat perkembangan kesehatan anak nya. Dan dia juga mengajak Myrna serta Andrea serta. Kini dia tak perlu mengkuatirkan intimidasi dari mantan istri nya karena dia telah mengetahui kebohongan Hana yang terencana