Balada Cinta Anak Manusia

Balada Cinta Anak Manusia
Pamit


__ADS_3

Malam ini adalah malam terakhir Aryo bisa bertemu dengan kekasihnya sebelum besok pagi dia berangkat satgas ke Papua. Ada ribuan ton beban yang terasa menghimpit hatinya, dia tahu hal ini tidak mudah bagi hubungan nya dengan Andrea tapi semua ini harus di lalui nya sebagai abdi negara.


Setelah berpamitan dengan Ibu sambungnya Aryo memacu motor sportnya membelah jalanan menuju ke rumah sang tunangan. Tadi sore dia sudah mampir ke rumah Bimo untuk berpamitan pada sang Kakak. Lalu dia pun pulang ke rumah sebentar untuk membersihkan tubuh nya yang terasa lengket oleh keringat karena sepulang dinas dia langsung ke rumah Bimo tanpa mandi terlebih dahulu.


Di rumah Bimo, ternyata Kakak iparnya yang kini sedang hamil tua sedang menyiakan bekal lauk untuk di bawa nya ke Papua. Memang dia tak akan kekurangan makan ketika menjalankan tugas namun dia pasti akan merindukan masakan orang-orang yang di sayangi nya. Aryo sangat suka dengan Empal gepuk buatan Adinda yang asli Solo, wanita itu pintar sekali meracik rempah dan bumbu menjadi satu harmoni indah yang membalur daging sapi yang di masak empuk dengan panci slow cooker andalan nya.


Adinda sudah menyiapkan dari beberapa hari lalu pesanan adik ipar nya itu, lauk yang di masuk kan ke wadah kedap udara berukuran 1000 gram itu telah tersedia rapi di atas meja. Jangan lupakan sambal teri buatan ipar nya itu juga membuatnya selalu menambah nasi jika singgah ke rumah Bimo. Mungkin karena Adinda yang anak bungsu dan tak pernah memiliki adik kandung menjadi enjoy saja dengan permintaan adik iparnya. Belum lagi si centil Myrna yang kadang-kadang memintanya membuat pastel isi telur bebek kegemarannya.


Bekal dari Adinda dia letakkan di atas meja makan bersama dengan satu kotak yang berukuran sama untuk Ibunya.


" Bunda itu ada empal gepuk dari Kak Dinda buat makan malam. Aryo mau ke rumah Andrea dulu " pamit laki-laki gagah itu pada ibu sambungnya


" Eh Mas, ini bekal untuk ke Papua kan? " tanya Bunda sambil meletak kan wadah itu ke tengah meja.


"Iya bun yang kotak warna merah itu untuk di rumah dan yang kotak hijau itu untuk Aryo bawa ke sana" jawabnya sambil mengenakan sepatu ketsnya.


Bunda langsung menyisihkan bekal untuk anaknya itu ke atas lemari makan karena dia takut kalau Myrna datang dari kampus terus main comot tanpa ijin. walaupun dia tahu pasti anak lelakinya itu pasti akan memberikan nya.


Sepeninggal Aryo, Bunda segera mengambil beberapa toples ukuran 500 gram untuk di isi nya dengan aneka sambal kesukaan Aryo karena anak lanangnya itu sudah request untuk minta di bekali sambal ikan asin, sambal udang, dan satu lagi acar bawang yang sangat di sukainya.


Motor sport berwarna merah itu melaju dengan kecepatan sedang menyapa jalanan pada senja itu. Malam ini dia ingin menghabiskan waktu dengan sang kekasih karena untuk satu tahun ke depan dia tak akan bisa bertemu secara langsung dan tak bisa mendampinginya saat wisuda.


Beberapa saat kemudian motor telah berhenti di depan pagar rumah keluarga Andrea. setelah menstandarkan kuda besinya itu, dia mulai berjalan ke arah pintu gerbang dan memencet bel yang ada di samping pilar.


Dua kali memencet membuatnya menunggu agak lama, dia jadi kuatir kalau kekasihnya itu tidak ada di rumah. Namun kekuatirannya sirna ketika melihat sosok cantik itu berjalan membuka pintu gerbang. Rambut panjang tergerai indah hingga ke bahu, matanya terlihat lelah dan ada lingkaran hitam di kedua matanya. mata panda kata Axell kalau menggodanya.

__ADS_1


Pagar sudah di buka dari dalam, Aryo menuntun motornya masuk dan memarkirnya di depan garasi mobil. Setelah pagar tertutp Andrea langsung berlari memeluk erat kekasihnya seolah enggan untuk melepaskannya lagi.Tangisnya pecah saat ini dia hanya ingin memeluk dan memeluk kekasihnya. Rasa hatinya sudah lelah menjalani hubungan yang berat ini, jika saja dia tidak keras kepala untuk menyelesaiakan kuliahnya hingga wisuda mungkin saat ini dia sudah halal dan sah dengan kekasihnya.


Tahun lalu setelah Aryo selesai masa penempatannya dia berniat mengajak Andrea menikah namun gadis itu meminta waktu sampai dia selesai wisuda dengan alasan pertama dia tak mau kuliahnya selama empat tahun itu terbengkalai dan yang kedua dia juga ingin merasa pantas mendampingi Aryo saat posisi strata pendidikannya sama dengan suaminya agar suaminya tidak malu bersanding dengannya.


Sebenarnya alasan kedua itu tidak di permasalahkan oleh Aryo dan keluarganya namun dia merasa minder dan insecure sendiri tatkala mengingat Mami Aryo yang begitu gila bobot,bibit dan bebet untuk mendapatkan calon menantu yang sederajat. Papi dan Bunda sebenarnya sudah menyarankan untuk menyegerakan pernikahan agar mereka bisa tenang karena sudah dalam ikatan sah dan halal, dan kuliah Andrea bisa dilanjutkan setelah menikah. Namun gadis itu tetap teguh dengan pendiriannya dan meminta pengertian dari calon suami serta keluarga besar mereka. Aryo juga tak mau memaksa keinginan Andrea dan dia pun menyetujui keinginan kekasihnya toh hanya menunda 1 tahun saja tak lama baginya.


Aryo membalas pelukan kekasihnya itu dengan hati teriris,betapa tidak dia juga tak menyangka jika penantian untuk menuju maghligai suci itu akan di uji lagi dengan perpisahan lagi, kemudian dia menuntun Andrea untuk menuju bangku yang ada di depan teras rumah masih dalam mode memeluk. Kedua orang tua Andrea ada di dalam rumah dan sedang berada di kamar, sepertinya mereka mengerti perasaan anak dan calon menantunya karena itu dia memberikan waktu untuk berdua saat ini.


"Mas sampai kapan disana ?" tanya gadis itu dengan mata yang masih berair.


Helaan nafas berat tersembur dari hidung lelaki itu " menurut surat tugas hanya satu tahun saja tapi entah bagaimana dalam prakteknya. Biasanya melebihi tenggat waktu dari surat tugas karena menunggu pasukan pengganti yang datang."


Andrea menarik tangan yang tergenggam di jemari Aryo, dia menghapus air matanya yang tak bisa berhenti mengalir. Dia tak bisa berkata apapun lagi karena ini sudah kewajiban pasti dan tak bisa di tolak.


"Dua minggu lagi aku wisuda, pasti gak enak ya gak bisa foto berdua dengan mu..hiks..hiks" Aryo merangsek mendekati kekasihnya yang sekarang terlihat makin imut dan menggemaskan walaupun tanpa make up sama sekali.


" Jaga hati, jaga perasaan dan jaga kesehatan selama kita jauh. Aku tahu ini berat bagi kamu, tapi aku yakin kamu dan kita bisa melalui nya. Ingat gak saat aku masih pendidikan ? kita bisa lalaui semuanya dan aku minta sekali lagi bertahan demi aku. Demi impian kita bersama, mau kah kau menua dengan ku??" pinta nya sambil menggenggam erat kedua tangan Andrea.


Mbak Tini keluar membawa nampan berisi minuman teh manis panas dan kue buatan ibu Andrea tadi sore, Sepertinya Mama mengerti saat yang tepat untuk menyuruh Mbak Tini keluar agar kedua anak manusia itu tidak terhanyut dan terlarut dengan suasana perpisahan mereka.


"Ayoo silahkan di coba kue nya Mama Andrea, Mas. " kemunculan Mbak Tini yang tiba-tiba tanpa suara membuat jantung Andrea melonjak karena posisi kepalanya sedang bersandar ke dada Aryo. Dia malu setengah mati melihat Mbak Tini yang cengengesan pasti dia tahu kalau mereka tadi sedang berpelukan, untung saja Ary sedang tidak jail dengan mencuri ciumannya, kalau tidak bisa habis dia di omelin Mamanya.


Setelah Mbak Tini masuk lagi ke dalam rumah,dari dalam suara Mama terdengar memanggil anak gadisnya. Menyuruh Andrea membawa Arya masuk ke dalam rumah karena sudah lumayan lama mereka berada di luar berdua takut mereka keblabasan juga sih. Andrea mengajak Arryo masuk ke ruang tamu namun Aryo menahan tangan gadisnya untuk tinggal sementara waktu saat Andrea berbalik badan Aryo segera menyambar bibirnya dan menyesapnya sesaat. Andrea terkejut bukan main, seumur mereka berpacaran Aryo tidak pernah mencium bibirnya seperti itu, paling mereka hanya mencium kening dan pipi nya saja.


Ciuman kilat itu membuat tubuh Andrea membeku dan seperti terbang ke angkasa. Rasa dingin dan kenyal manis dari bibir lelaki yang tak pernah merokok itu seperti sengatan listrik yang mengalir 220 votl. Mata keduanya menjadi sayu refleks Aryo makin memberanikan diri untuk mencium lebih dalam. Kaki Andrea berjinjit karena mengimbangi tubuh jangkung kekasihnya, untung saja lampu teras di depan remang-remang dan tertutup bunga Mawar Mama yang tumbuh rimbun.

__ADS_1


Andrea tersadar jika yang mereka lakukan saat ini bisa membahayakan jantungnya maka dia mendorong pelan dada bidang Aryo yang begitu erat mendekapnya.


"Maaf..." hanya kata itu yang keluar dari bibir mungilnya, keduanya tersenyum malu karena jujur saja mereka sangat menikmati ciuman itu walaupun hanya beberapa saat saja. Wajah Aryo merah padam menahan gejolak di dadanya, dia lelaki dewasa normal dan sudah cukup umur untuk menyalurkan hasrat kelelakiannya, namun harus terhalang karena belum dalam ikatan yang halal.


Keduanya berjalan masuk ke dalam rumah dengan perasaan yang entah hanya mereka berdua saja yang tahu, Andrea masuk ke dalam untuk mengambil sesuatu dari kamarnya yang sudah di siapkan jauh-jauh hari sebelumnya. Dia mengambil satu kotak kecil sebesar kotak ponsel yang terbungkus dengan rapi dengan kertas coklat. Kemudian gadis itu memberikannya kepada lelaki yang sedang memainkan ponselnya.


" Ini untuk Mas, buka di rumah saja" kata nya sambil menyerahkan kotak itu.


Aryo mengambil kotak itu dan memasukkan ke dalam saku jaketnya. Dia menanyakan keberadaan adik Andrea yang tak terlihat dari tadi padahal Aryo juga ingin berbicara dengan nya untuk pamit.


" Dia ke rumah temannya, menjenguk ayahnya yang katanya anfal. Dan sepertinya mereka dekat lagi setelah beberapa waktu terpisah" Andrea mendaratkan tubuhnya di sofa hitam di depan Aryo.


Papa dan Mama Andrea keluar menemui Aryo, beliau terlihat seperti tahu kalau calon menantunya itu hendak pamit untuk tugas negaranya besok.


" Selamat malam Om,tante, mohon ijin maaf Aryo mungkin agak malam disini karena besok Aryo sudah bertugas ke Papua" " sapa Aryo sambil mencium tangan kanan Papa dan Mama Andrea.


" Malam Aryo, iya Om dan tante sudah di beri tahu oleh Andrea, kamu sudah mempersiapkan semua kebutuhanmu nak? besok jam berapa berangkat ?" Pak Bagas duduk di sofa single di sebelah anaknya.


" Sudah Om sudah beres semuanya. Kami berangkat menggunakan kapal pukul 08.00 , Aryo minta ijin untuk mengajak Andrea menginap malam ini di rumah kami karena besok Aryo ingin diantarkan oleh Andrea Om."


Andrea tak menyangka jika Aryo berani meminta ijin untuk mengajaknya menginap di rumahnya selama hampir enam tahun merajut cita ayahnya adalah orang yag paling keras jika anaknya pergi keluar rumah sampai menginap, dia tak mau kebiasaan tidak pulang ke rumah itu menjadi kebiasaan buruk. Pak Bagas menghela nafasnya pelan sebenarnya dia tidak enak jika anaknya yang belum terikat pernikahan itu menginap ke rumah calon mertuanya namun Aryo berusaha memberi pengertian jika di rumah nanti Andrea akan tidur bersama adik perempuannya, dan dia berjanji akan menjaga kehormatan putri sulung Pak Bagas itu hingga waktu ijab tiba.


Melihat kesedihan calon menantunya itu membuat Pak Bagas tak sampai hati jika tak mengijinkan mereka, akhirnya Pak Bagas menyuruh Andrea untuk bersiap-siap tanpa disuruh 2x si anak gadis itu segera melesat pergi ke kamarnya dan mengambil 2 helai baju gantinya. Hanya butuh waktu 15 menit untuk bersiap dan kembali lagi menemui di depan. Ternyata Axell sudah pulang dan ikut bergabung dengan orang tua nya di ruang tamu.


" Xel, kok udah pulang aja. Gimana kondisi Ayah Aruna? kok kamu udah balik aja" Tanya si kakak melihat adiknya yang mendadak menjadi pendiam. Axell membetulkan letak duduknya.

__ADS_1


" Udah sadar kak, tadi udah dapat transfusi darah. Disana udah ada yang menunggu jadi aku balik aja kangak enak juga mengganggu" perkataan Axell terdengar lesu dan ambigu. Namun Andrea menunda untuk bertanya lagi karena ada urusan lebih urgent yang harus di selesaikannya dahulu.


Aryo juga melihat perubahan sikap Axell yang mendadak menjadi tidak semangat namun dia tak berani menanyakan hal yang bukan menjadi ranah urusannya jika si empunya masalah segan bercerita.  Mereka berdua berpamitan dan beberapa saat kemudain mereka sudah membelah jalan raya menuju ke rumah keluarga Pak Bagus.


__ADS_2