
Aryo dan Bimo sudah ada di stasiun Gambir, 10 menit lagi kereta api Parahyangan akan tiba. Aryo gelisah berkali-kali melihat ke arah arloji mahalnya.
Tik.tok.tik.tok
Detik demi detik telah berputar menjadi menit suara petugas memberitahukan pada para penumpang bahwa kereta telah tiba di stasiun Gambir.
Bimo dan Aryo berjalan mendekati pintu keluar penumpang dari arah timur stasiun. Bimo melipat tangan nya ke depan dada lalu Aryo terlihat celingukan mencari sosok Ibunya.
Seorang wanita berusia sebaya memAkai gaun berwarna merah menyala berjalan berdampingan dengan seorang gadis seusia Aryo. Rambut hitam nya yang panjang di ikat ke belakang seperti ekor kuda.
Seulas lipstik berwarna merah plum melapisi bibir nya yang sensual. Dua koper berukuran sedang di tangan kanan dan kiri gadis itu.
"Tuh Mami udah jalan kemari, lha kenapa bawa body guard sekarang ya?" ledek Bimo iseng mencairkan ketegangan adiknya.
Aryo menatap tajak ke arah Ibu nya yang berjalan santai dengan gadis di sebelahnya. Hmmm....jadi Mami membawa Dona kesini. Pasti bakal ngerecokin aku dan Mas Bimo lagi deh. Batin Aryo kecut.
Tak sampai lima menit kedua wanita itu telah berdiri di hadapan kedua lelaki muda yang gagah dan tampan.
"Mi...assalamualaikum"
Bimo dan Aryo bergantian mencium tangan ibunya. Bu Hana tersenyum lebar dan memeluk kedua anaknya penuh rasa rindu. Lalu Bu Hana menoleh ke arah Dona dan menarik tangan Dona agar bersalaman dengan kedua jagoan nya.
"Waalaikum salam anak-anak ku. Mami senang sekali bertemu kalian lagi. Ayo Dona salam dong sama Mas Bimo dan Aryo"
Dona yang masih sepupu dengan mereka segera menjabat tangan kedua saudaranya. Tatapan rindu dan sendu terlihat di wajah Dona yang cantik.
Penampilan Dona terlihat berbeda dengan penampilannya saat SMA. Sekarang Dona lebih terlihat feminim dan terkesan sedikit pendiam. Entah hanya pura-pura karena ingin mengambil hati Aryo atau ingin benar-benar berubah Aryo tak perduli. Karena sejak awal dia hanya menganggap Dona tak lebih dari saudaranya saja.
Aryo mengambil koper yang berada di tangan Mami nya. Dan Bimo mengikuti langkah Mami nya dari samping Aryo. Suasana dingin tercipta diantara mereka berempat.
Ke empat orang itu memasuki mobil Aryo dan Mami mengarahkan Aryo ke swbuah hotel yang berada tak jauh dari pusat perbelanjaan yang terkenal di Jakarta.
"Mi, ada acara apa ke Jakarta?"tanya Bimo membuka percakapan.
__ADS_1
"Lhooo gimana sih Bimo, Mami kan rindu kalian. Selain itu Mami ada perlu dengan orang tua Dona disini."Kata Mami nya sambil membetulkan rambutnya yang lepek.
"Ehmmm...Om Totok dan Tante Siska masih tinggal di Jakarta Don?" tanya Bimo lagi entah kenapa Aryo hanya diam saja sambil serius mengemudikan mobilnya.
"Eh iya Mas. Orang tua masih di Jakarta semua. Dona ada bisnis di Bandung jadi tinggalnya disana" jelas nya sambil mencuri pandang ke arah Aryo yang acuh.
"Oh begitu. Di Bandung tinggal dimana ?"
Tanya Bimo lagi.
Mami Hana terkekeh " Ih..Bimo kepo ya? Awas nanti istrinya cemburu lho kalau dengar Abang kepo sama Dona"
Bimo nyengir sambil garuk kepala bingung, ini Mami yang ganjen atau Bimo yang kepo ya? Padahal maksud hati ingin menanyakan untuk kepentingan penyelidikan saja eh Mami salah sangka.
"Eittt...gak boleh su'udhzon lho Mi, Bimo sama Dona ini sepupuan. Mana ada kepo-kepo. Lagian ya wajar dong Bimo tanya kan udah lama kagak bertemu sama keluarga Om Totok" elak Bimo sambil menyeruput air mineral yang di bawa nya di tas.
Bu Hana tertawa senang melihat Bimo dan Dona sudah mulai berinteraksi tinggal si bungsu nya aja yang masih dingin.
Bimo hanya manggut -manggut saja tanpa memberi komentar lagi.
"Kita makan dulu yuks ke restoran langganan Mami dulu disini. Mami pengen sop kaki kambing nya Pak Brewok yang ada di senayan tuh!" ajak Mami
Aryo cemberut mendengar permintaan ibunya, karena jelas disana daerah macet apalagi kam makan siang begini.
"Mi, langsung ke hotel aja ya, jam segini macet. Nanti order via online saja. Biar Mas Bimo orderkan sekarang" tolak Aryo enggan. Bimo melotot ke arah Aryo kenapa jadi dia yang di suruh? Dasar kupret juga nih anak.
Mami cemberut mendengar penolakan anak nya. Padahal sejak di dalam kereta dia sudah bercita-cita ingin menikmati Semangkuk Sup kambing hangat yang rempah-rempah nya bikin ngiler. Dan sate nya yang bikin rindu untuk datang kembali ke Jakarta.
"Ya udah kalau kamu gak mau nganter, Mami naik taxi online aja deh. Udah turunin Mami disini. " rajuknya kesal.
Ish...Mami mulai deh merajuk, emang ya kalau udah watak dan bawaan dari lahir pasti susah dirubah. Batin Aryo kesal karena sifat semau gue' ibunya yang masih saja melekat sampai sekarang.
"Yo! Turunin Mami disini!" kata Ibu nya ngambek, padahal dalam hatinya juga ketar ketir kalau Aryo bakal menurunkan nya tapi hati kecilnya masih percaya kalau Aryo gak bakalan berbyat seperti itu. Karena Aryo adalah anak baik dan penurut.
__ADS_1
Terpaksa Aryo memutar haluannya, menuju ke Senayan untuk mengikuti kemauan ibunya. Dona tersenyum melihat dari kaca spion ketika Aryo merubah arah laju kendaraan nya.
30 menit terjebak macet dan akhirnya mereka berempat sampai di restoran langganan Ibunya. Aryo memarkir mobilnya di samping restoran. Lalu ke empat orang itu berjalan memasuki restoran yang mulai di penuhi oleh para tamu yang bertujuan sama. Yaitu ingin menikmati sup kaki kambing rempah yang nikmat tiada duanya.
Berada di ruangan dengan gadis yang tidak ingin di temui nya membuat Aryo bungkam diam seribu bahasa. Hanya jawaban pendek yang dia lontarkan ketika Mami atau gadis yang masih sepupunya itu bertanya.
Bau harum masakan koki restoran membuat perut kosong semakin berbunyi krucuk krucuk. Di tambah hawa dingin Ac restoran yang sangat.dingin makin membuat perut keroncongan.
Mami mengambil sepotong risoles mayo untuk mengganjal lapar. Dia menawari kedua anak nya untuk mengambil kudapan yang ada di depan mereka. Dona mengambil sepotong pisang goreng madu lalu di masukkan ke dalam mulutnya.
Sambil menunggu pesana datang, Mami mengatakan akan di jakarta selama seminggu. Dan selama di Jakarta Mami minta untuk di temani Aryo karena kebetulan Aryo sedang cuti jadi ada waktu luang untuk menemaninya. Kalau Bimo tidak di haruskan menemani karena Mami tahu kalau dia juga bekerja di sebuah rumah sakit yang tidak bisa se enaknya saja di tinggal kan.
Ponsel Aryo bergetar, dia segera minta ijin menerima telpon pada Ibunya. Aryo melihat layar ponselnya dan melihat nama Ayah nya. Terbit senyum di bibir tipisnya lalu dia mulai bercakap-cakap dengan Ayahnya. Dia mengatakan saat ininsedang bersama Mami dan Abang nya.
Pak Bagus memang memastikan jika Aryo sedang bersama dengan Mantan istrinya karena dia sedang merencakan sesuatu untuk nya. Sesuatu yang akan membuatnya berhenti memaksa Aryo untuk menjalin hubungan dengan gadis pilihannya.
Setelah beberapa saat Aryo menyudahi percakapannya dengan Sang Ayah dan kembali ke meja makan nya lagi dan makanan ternyata sudah terhidang beberapa menit yang lalu.
Memang cuaca mendung dan hawa dingin ruangan membuat liur anak muda itu hampir menetes melihat sup kaki kambing yang kuahnya mengepul ke atas.
"Yo, ayo cepat makan keburu dingin gak enak nanti" kata Mami Bimo sudah lebih dulu mengambil nasi dan mulai menyuapi mulut nya dengan kuah panas yang menggugah selera itu.
"Hmmmm....gak rugk deh kita kesini bermacet ria. Ternyata emang enak Sup nya." Kata Bimo sambil terus mengunyah.
Bu Hana makin mekar hidung nya karena pujian untuk masakan pilihannya.
"Apa Mami bilang. Pasti kalian puas deh, nanti kalau kalian ingin makan sup lagi sudah tahu kan tempat nya." Bu Hana menyuapkan sesendok sup ke mulutnya sambil tersenyum senang.
Mereka berempat menikmati hidangan itu sampai tandas tak tersisa. Setelah membereskan tagihan makanan nya Bu Hana mengajak anak dan keponakan nya kembali ke hotel.
Sepanjang perjalanan tak ada percakapan berarti diantara mereka karena perut kenyang dan mata yang sudah mengantuk apalagi cuaca mendukung untuk segera merebahkan tubuh di atas ranjang empuk.
Aryo memutar lagu nostalgia kesayangannya dengan Andrea. Dia berharap setelah mengantar ibunya ke hotel dia bisa segera pulang dan malam nya bisa berkunjung ke rumah Andrea.
__ADS_1