Balada Cinta Anak Manusia

Balada Cinta Anak Manusia
Meredakan emosi Mami


__ADS_3

Siang telah merangkak senja, orang kekasih yang sedang menderita batin karena restu sang ibu tak kunjung tiba itu pun sepakat kembali ke rumah sang wanita karena takut orang tua sang kekasih menunggu nya. Tak pernah terbayangkan dalam benak mereka berdua akan menghadapi situasi yang tidak menyenangkan seperti ini.


Aryo membelokkan mobil nya ke sebuah pelataran mini market yang dekat dengan rumah Andrea. Dia menyuruh Andrea ke toilet gratis mini market itu untuk mencuci wajah nya yang sembab agar bekas air mata nya tersapu air bersih dan bisa segar kembali.


Kedua orang itu berjalan memasuki mini market,sembari Andrea ke toilet Aryo membeli beberapa snack dan minuman kaleng dingin serta susu kotak.


Setelah mencuci wajah, air muka nya terlihat lebih segar walaupun mata nya masih bengkak.Dia mengeluarkan bedak padat dan sebuah gincu warna merah jambu yang selalu berada di tas kecil nya.


Di sapukan nya bedak ke seluruh wajah merata dan di oleskan tipis-tipis gincu itu ke bibir nya yang sudah merah. Satu touch up sudah membuat wajah nya segar dan terlihat seperti orang bangun tidur saja.


Setelah membayar belanjaan nya Aryo menggandeng Andrea keluar dari mini market dan segera mengantar nya pulang ke rumah.


10 menit kemudian mobil Aryo telah berhenti di depan gerbang rumah Andrea. Sebelum keluar dari mobil Aryo memperhatikan wajah Andrea yang sudah segar tapi masih tampak sembab dan mata nya sedikit bengkak.


"Ehmmm..yank kamu yakin pulang dalam keadaan mata masih bengkak seperti itu,?"tanya nya penuh kekuatiran.


Dia benar-benar tak enak hati menghadapi kedua orang tua Andrea nanti jika mereka bertanya tentang penyebab wajah sembab anak gadis nya.


" Terus aku tak jadi pulang gitu? Malah heboh nanti orang rumah di kira kau culik Mas?" balas Andrea mencoba bercanda.


Aryo menggaruk kepala nya yang tiba-tiba saja tidak bisa di ajak nya berpikir logis.


"Telpon Axell dulu, apa Om dan Tante ada di rumah,"


Andrea cemberut "Langsung aja sih masuk,dari pada membuat kuatir Mama Papa karena kita keluar sejak tadi siang, sekalian aja sholat magrib dulu di dalam "

__ADS_1


Akhir nya Aryo turun dari mobil dan mengikuti langkah gadis itu memasuki gerbang.


Ting..tong...


Ting..tong..


Dua kali bunyi bel rumah membuat mbak Tini berlari kecil membuka kan pintu.


"Assalamualaikum Mbak" salam Andrea pada asisten ibu nya.


" Waalaikum salam Neng, Eh ada Mas Aryo "balas Mbak Tini. Kedua orang itu mengangguk kan kepala lalu mereka masuk ke dalam ruang keluarga yang sudah menyala lampu nya.


Adzan magrib telah selesai berkumandang dari televisi LED berukuran 75 inch yang bertengger apik di dinding berwarna putih itu.


"Kok sepi Mbak, Papa sama Mama belum pulang?" tanya Andrea sambil meletakkan kantong kresek berisi snack dan minuman kaleng belanjaan Aryo di atas meja.


Andrea dan Aryo lega mendengar kedua orang tua nya belum datang jadi mereka tak mengkuatirkan jika keduanya akan bertanya macam-macam.


"Axell kemana mbak?"tanya Aryo celingukan tak melihat batang hidung calon adik ipar nya.


"Tadi keluar nganter teman nya yang main kesini. Cakep deh Neng, cewek pakai seragam kayak tentara gitu"


Sejenak Andrea heran lalu dia ingat cerita Axell tentang Malika yang sekarang sudah menjadi seorang tentara wanita.


"Owh..itu pasti mantan pacar Axell." gumam nya pelan namun masih bisa.di tangkap di telinga Aryo.

__ADS_1


"Yank aku sholat dulu disini setelah nya aku pamit pulang ya? "


Andrea mengangguk lalu mengantar kan Aryo ke ruang tempat ibadah di rumah nya yabg terletak di samping ruang keluarga. Mbak Tini masuk ke dalam dapur dan membuat kan kedua orang itu susu coklat hangat. Sembari Aryo beribadah Andrea masuk ke kamar nya untuk berganti baju dan menunaikan ibadah juga.


 👉👉👉


Di kediaman Bimo Bu Hana tampak kesal dan terus menerus mengomel dan pelampiasan nya adalah anak sulung dan menantu nya.


Dia merasa tak di hargai dan di acuhkan oleh anak-anak nya karena tak di beri kabar saat Aryo bertunangan dengan Andrea. Jika saja dia ada di saat itu pasti dia akan menentang keras pertunangan Aryo yang tak di setujui nya sama sekali.


Dinda tak bisa berkata apa-apa karena dia tak berani ikut capur urusan mertua nya selain itu dia juga di minta Bimo untuk mengacuhkan omelan pedas Mami nya. Dia sudah tahu watak ibu kandung nya itu jika permintaan nya tak dapat di penuhi oleh anak-anak nya dia bakalan betah marah-marah seharian sampai ada yang bisa membuat nya reda.


"Bimo !! kamu juga sangat keterlaluan, kau anggap Mami batu!!?? Sampai hati kau tak memberi tahu kan masalah Aryo bertunangan dengan gadis itu!" semprot nya kesal.


Bimo menggeleng-geleng kan kepala melihat tingkah pola ibu nya yang sungguh unik dan mau menang sendiri.


"Sudah lah Mi,Aryo ber hak menentukan pilihan hidup nya sendiri. Dia sudah dewasa. Jangan memaksa kan kehendak Mami. Kalau Mami bersikap seperti ini terus, Bimo jamin 100% Aryo akan semakin menjauhi Mami dan tak akan mau bertemu Mami lagi.Bimo tahu sifat Aryo kalau sudah kecewa dengan orang lain:"


Bu Hana bukan nya diam merespai ucapan anak sulung nya malah kemarahan nya makin menjadi saat ponsel Aryo tak dapat di hubungi nya lagi.


"Bener-bener tuh anak gak tahu diri banget ya!? Bikin Aryo sampai melawan Mami! Pasti ada sesuatu yang bikin Aryo tunduk sama dia!" sembur nya kesal


Bimo dan Istrinya menggelengkan kepala mendengar pemikiran pendek ibu nya. Pantas saja Papi lebih nyaman dan bahagia hidup nya ketika bersanding dengan Bunda sekarang daripada saat dulu hidup bersama Mami. Karena sifat Mami yang tidak bisa mengontrol emosi dan selalu memaksa kan kehendak nya sendiri.


Dinda diam terpekur menatap lantai tak berani mengangkat kepala karena dia sungkan mendengar perdebatan ibu dan anak yang tak kunjung usai sejak tadi.

__ADS_1


Ada rasa kasihan juga dengan Bimo yang jadi sasaran kemarahan ibu nya namun dia juga tak berani mau menghentikan atau mengajak Bimo pergi dari situasi itu, sampai akhir nya Bimo mendengar adzan Magrib dan mengakhiri perdebatan nya.


Bu Hana masuk ke dalam kamar dengan dongkol dan rasa marah yang belum reda. Dia tak bisa menghentikan kepergian Aryo tadi bersama Andrea. Kalau tak ada orang ingin rasa nya dia mendorong gadis itu saat bersimpuh di kaki nya tadi.


__ADS_2