
Siang telah menjelang senja, matahari yang tadi nya bersinar sangat garang telah bersembunyi di balik peraduan sang malam. Suara adzan telah terdengar dari Masjid di ujung gang. Andrea masih meringis menahan rasa melilit yang kembali menyerang lambung nya. Papa tadi sore sudah pulang dari kantor dan melihat kondisi anak kesayangan nya yang tergolek di atas ranjang sambil meringkuk.
Selimut tebal menutupi tubuhnya hingga sebatas leher. Anak gadis nya itu terlihat pucat. Tangan kekar lelaki separuh baya itu membelai kening nya dan merasakan suhu tubuh anak nya itu demam.
Mama mengambil satu baskom kecil air hangat dan waslap untuk mengompres kening Andrea.
"Kita bawa ke rumah sakit saja Ma, Papa takut kondisi nya malah memburuk" Kata Papa dengan raut kuatir.
" Coba Mama bangun kan dulu,tadi Kakak menolak waktu Mama ajak ke Rumah Sakit"
Si Ibu tampak membelai pipi putrinya yang tampak sedikit tirus. Memang belakangan ini kesibukan Andrea sangat banyak. Tugas kuliah dan kerjaan magang nya sedang banyak aktifitas sehingga waktu istirahat nya berkurang dan jadwal makannya tidak teratur.
Sebenarnya Mama nya sudah berkali-kali memperingatkan putri nya untuk pandai membagi waktu antara kuliah dan kerja jika dia tak bisa menghandle kerja lebih baik dia melepas saja pekerjaan magang nya itu. Mama kasihan melihat Andrea sering kali mengeluh capek tapi tetap saja dia tak bisa mengurangi aktivitas nya.
Apalagi beberapa bulan lagi dia akan menghadapi ujian skripsi nya. Bukan tak mungkin kondisi tubuhnya akan drop. dan sekarang sudah ada tanda-tanda tubuhnya mulai limbung.
"Sayang, ayo bangun. Papa mau mengajak Kakak ke Rumah Sakit." Suara lembut Mama memanggilnya.
Andrea masih menutup mata nya, sekedar untuk membuka mata saja rasa nya sangat berat bagi Andrea apalagi untuk menegakkan tubuhnya yang lemah.
"Kakak lemas Ma" jawab Andrea dengan mata terpejam. Papa nya mulai gelisah dan segera memanggil Axel untuk menyiapkan kendaraan untuk membawa Andrea ke Rumah Sakit terdekat.
Papa menyuruh Mama untuk mengganti pakaian Andrea dengan baju lebih hangat dan lebih tertutup.
Tanpa banyak kata lagi, Lelaki separuh baya itu mulai mengangkat tubuh Andrea membawa nya masuk ke dalam mobil yang di kemudikan Axel.
__ADS_1
Sekitar 20 menit menempuh perjalanan, Keluarga itu sudah berada di depan loby Rumah Sakit Swasta terbaik di dekat rumah. Axel keluar menuju resepsionis untuk mendaftarkan kakaknya dan meminta sebuah brankar untuk membawa kakaknya.
Dua orang perawat jaga keluar membawa brankar menuju mobil Axel. Papa dan Axel membantu menurunkan Andrea yang di pangku sang Ibu. Setelah itu Andrea di bawa masuk ke dalam UGD.
Seorang dokter jaga laki-laki memeriksa detak jantung dengan stetoskop. Lalu membuka kedua mata Andrea dan menerangi matanya dengan senter kecil.
Beberapa saat setelah pemeriksaan selesai, dr Prastiyo namanya, memanggil keluarga Andrea. Papa maju mewakili keluarga.
"Begini Pak, Pasien Andrea sepertinya mengalami masalah di pencernaan nya. Menurut diagnosa saya mengarah ke arah typus. Untuk lebih jelas dan pasti nya nanti saya beri rujukan ke laboratorium untuk tes darah. Saat ini saya menyarankan untuk rawat Inap dulu untuk observasi"
Papa yang terlihat cemas langsung menyetujui saran dokter untuk merawat Andrea dengan rawat inap karena besok pagi dia akan di ambil darahnya. Setelah mengisi berkas di meja resepsionis Papah segera keluar menemui Mama di dalam kamar UGD DNA memberitahukan saran dr Prastiyo dan menyuruh Axel untuk pulang mengambil pakaian ganti kakak nya.
Axel melihat sahabat karib kakak nya itu berdiri sambil berjinjit karena tinggi nya tak sampai menggapai bel rumah.
"Kak Ratna !"sapa Axel
Gadis manis berhijab itu menoleh kemudian menghentikan aktifitasnya memencet bel karena tuan rumah telah tiba.
"Eh Axel, Kak Andrea ada? Ini kakak mau ngantar motor nya, dia tadi sakit kata siapa kata kampus" Kata Ratna.
Axel telah turun dari mobil dan menghampiri Ratna.
"Iya Kakak sakit sekarang opname di Rumah Sakit YM dekat dari rumah kok"
__ADS_1
Ratna terkejut mendengar sahabat nya itu sampai masuk rumah sakit. Kemarin dia masih baik-baik saja bahkan sempat tertawa tertipu di kantin bersama nya.
"Ya Allah, jadi Andrea opname? terus diagnosa dokter apa? "
Axel menghembuskan nafas pelan "Sementara ini masih terduga typus tapi untuk hasil. valid nya besok harus periksa darah juga"
Ratna manggut-manggut lalu menyerahkan kunci motor Andrea pada Axel.
"Terus siapa yang menjaga kakak di sana?"
"Mama sama Papa ini aku akan kembali lagi kesana karena mengambil perlengkapan pribadi kakak saja"
Ratna memutar bola mata nya tampak berpikir sebentar.
"Xel, Kak Ratna boleh gak ikut kesana? mau Nengokin sekalian gitu. Ntar kakak pulang dari RS pake ojek online aja. "pinta Ratna karena cemas dengan keadaan; bestie nya.
"Oh ya boleh Kan, ayo masuk dulu tunggu di dalam. Tenang aja di dalam ada Asisten kita Mbak Tini. " Axel memasukkan motor Andrea ke dalam garasi di ikuti langkah kaki Ratna.
Axel memanggil Mbak Tini untuk membawakan minuman buat Ratna. Beberapa saat kemudian Mbak Tini membawa namban berisi mug putih abu berisi cairan coklat panas.
"Silahkan Mbak Ratna" Asisten rumah tangga keluarga Andrea memang sudah familiar dengan kehadiran Ratna di rumah ini jadi dia tak canggung lagi menyapanya.
Axel telah selesai membereskan semua keperluan Andrea dan Ratna pun telah menghabiskan coklat panas nya. Dia bersiap berangkat ke Rumah Sakit. Sebelum nya dia telah menghubungi kekasih nya mengabarkan jika Andrea sedang di rawat.
------
__ADS_1