
Sepanjang perjalanan ke rumah Bimo yang tak jauh dari rumah sakit tempatnya bekerja, kedua orang itu menampakkan aksi diam. Andrea membuang muka keluar jendela sambil diam seribu bahasa. Sedang kan Aryo ingin memulai pembicaraan juga canggung karena sedari tadi wajah masam Andrea tak berhenti terpasang.
Hmmm.... dasar es batu ,pacar ngambek bukannya di rayu kek biar cair, eh malah ikut Diem.
Batin Andrea kesal sendiri.
Padahal batin Aryo juga ingin bersuara namun dia tak tahu harus memulai darimana karena dia bukan Type perayu juga.
Kurang lebih 20 menit perjalanan mereka telah sampai di kediaman asri dr Bimo dan istri. Seorang penjaga rumah membuka kan gerbang sambil mengangguk hormat.
Sepasang suami istri keluar dari dalam rumah menyambut kedatangan tamu nya.
"Assalamualaikum Mas Bimo, Kak Dinda.Apa kabar? "sapa Andrea ramah sesaat dia melupakan kekesalannya pada Aryo.
Bimo melirik Aryo yang berdiri mematung sambil memainkan stop kontak Mobilnya.
Hmmmm... pantes pacarnya ngambek orang dianya juga cuek kayak gak ada perasaan bersalah juga.. ckk! dasar es kutub
" Waalaikum salam, Kami baik Dek, Ayo masuk-masuk udah di siapin makan malam nya " ajak Dinda ramah.
Kedua pasangan itu masuk ke dalam ruang makan langsung, Bimo menarik bangku untuk tempat duduk nya.
"Wah Kak jadi gak enak nih langsung duduk disini aja, Ohya ini dari Mama "sahut gadis itu sungkan sambil mengangsurkan sekotak makanan.
Dinda menerima kotak pemberian xalon iparnya itu.
"Apa isi nya Dek? harta karun ya.. hehehe" canda Bimo mencairkan suasana makan malam.
Aryo memainkan game di ponsel nya matanya tak lepas dari layar pipih berukuran 7 inc itu. Bimo melirik lagi kegiatan adiknya itu.
" Puding Mas, kata Mama buat cuci mulut hehehe"
__ADS_1
Mereka semua sudah siap duduk di bangku kayu berlutut coklat tua itu sambil mengisi piring nya masing-masing dengan lauk yang tersedia.
"Ini semua yang masak Kak Dinda?"tanya Andrea heran melihat banyak lauk di meja makan.
Ikan gurami bakar..
Ayam saos mentega...
Sup asparagus
cumi saos tiram
''Tentu saja tidak.. Hahaha.." jawab Bimo dan Dinda serempak.
"Lho jadi kalian beli semua ini?"tanya Aryo akhirnya bersuara.
"Apa gunanya ada Mas Ojol yang siap sedia dia suruh ke restoran hehe"jawab Dinda lalu tangannya lincah memotong puding bawaan Andrea dan menaruhnya di piring-piring kecil untuk di suguhkan pada mereka sebagai makanan penutup mulut.
"Iya Kak" jawab gadis itu sambil melirik kekasih nya yang tampak asyik menghabiskan puding.
Suasana makan malam yang tadinya hangat tiba-tiba harus terkontaminasi dengan Telpon dari Mami nya Aryo. Dia melakukan Video call pada gawai anaknya, Aryo serba salah dengan keadaan ini dia tak mengindahkan panggilan telepon ibunya. Bimo melotot pada Aryo agar segera menerima panggilan telpon yang berkali-kali menjerit.
"Angkat aja siapa tahu penting! " perintah kakak kandung nya itu dengan suara bas nya. Akhirnya Aryo menerima panggilan dengan mode suara.
Andrea membuang muka nya yang tiba-tiba berubah keruh seperri menahan tangis. Adinda dan Bimo yang melihat perubahan wajah Calon iparnya itu merasa kasihan karena niatnya kesini tadi mereka ingin meluruskan permasalah bukan malah menambah masalah lagi.
Beberapa saat kemudian Aryo telah menyelesaikan pembicaraan nya. Bimo menyuruhnya duduk di sebelah Andrea. Sepertinya memang Bimo harus turut campur mendamaikan mereka berdua agar tidak terjadi salah paham.
Bimo menanyakan kenapa Mami menelpon Aryo padahal tadi sedari siang hingga sore mereka telah bertemu dan menghabiskan jatah waktu Andrea.
"Mami minta besok aku yang jemput ke hotel. Sekalian check out"
__ADS_1
Wajah Andrea tampak kecewa lagi karena sudah beberapa kali Aryo tidak bisa membersamainya saat ini.
"Sudah nanti Mami yang jemput Mas Bimo sama Kak Dinda saja, Kamu besok kan hari terakhir cuti, jalan aja sama Andrea. Karena setelah ini kamu lanjut ke Jogjakarta dan masuk Mess lagi kan? "
Wajah Aryo sumringah dia bahagia sekali karena Abangnya sangat pengertian sekali dengan kondisi nya saat ini. Sungguh dia ingin memeluk dan mencium Andrea tapi ada rasa malu dan gengsi karena di depan kakaknya.
Hmmm.... gengsi mu di gedein terus aja Mas. Buang dong gengsi kalau pengen peluk..dasar manusi dalju.. anyep
Andrea gemas sekali dengan Calon suamunya.
Tiba - Tiba Aryo mendekati nya dan memeluk nya dari samping " Yank senyum dong jangan cemberut begitu. Nanti cantiknya luntur lho" Aryo? memberanikan diri merayu, Andrea mencebikkan bibirnya dan sedikit menarik lengkungan bibirnya ke atas tanda dia mulai lunak karena besok masih punya harapan bisa bersama dengan kekasihnya.
Bimo menasehati keduanya agar saling percaya dan menjaga kesetiaan cinta yang telah mereka ikrarkan hingga tiba waktunya bersanding di pelaminan
Apa pun yang terjadi jangan pernah ada rasa curiga dan tak percaya berita yang belum tentu kebenarannya jika belum mendapatkan konfirmasi dari pasangannya sendiri. Kedua calon pengantin itu mengangguk bersamaan. Ada rasa lega terpancar di wajah Aryo seiring dengan terbitnya senyum manis Andrea.
Karena waktu sudah menunjukkan pukul 20.30 wib maka mereka berdua pamit pulang karena tak enak pulang larut malam, takut terjadi fitnah yabg tidak-tidak dari orang yang tak senang.
Sesampai di rumah Andrea, Papa dan Mama nya ternyata sedang duduk di teras depan rumah. Sengaja mereka berdua menunggu kedatangan Andrea dan axell yang sedang keluar rumah.Aryo turun dari mobilnya dan menghampiri calon mertuanya, dia memberi salam dan mencium punggung tangan kedua orang tua itu.
"nanti aku telpon kalau udah sampai rumah" bisik nya pelan sambil menguap. Andrea sebenarnya kasihan melihat kekasihnya itu lelah namun dia juga tak enak jika menyuruhnya duduk lagi karena hari sudah malam.
Tak lama kemudian dia pun pamit pulang karena tak enak juga membuat Bunda dan Papi menunggu kedatangannya.
Setengah jam kemudian Aryo sudah sampai di rumah dan benar saja kedua orang tuanya masih menunggu nya di ruang keluarga sambil menikmati sinetron kesayangan Bunda.
Malam pun merambat larut mata Aryo tak bisa lagi kompromi hingga dia tertidur setelah menunaikan ibadah malam nya. Niatnya tadi mau menelpon Andrea setelah sholat namun badan nya sangat lelah dan kantuk sudah menyerang nya. Alhasil Andrea manyun menunggu telpon dari kekasihnya hingga dia ikut tertidur karena kelelahan.
Bu Hana sedang mengadakan party kecil-kecil an dengan 3 orang temannya dia seakan lupa dengan keluarga nya di Bandung yang sedang menunggu nya. Memang kedua anak kembarnya sudah besar dan bisa mengurus diri sendiri jadi dia santai meninggal kan mereka Berhari-hari padahal si kembar sering protes karena kurang perhatian dengan Ibunya.
__ADS_1
Di restoran Western yang terkenal di Jakarta mereka berempat menikmati makanan yang lumayan menguras kantong. Namun uang segitu tak ada artinya bagi Hana karena dia memiliki kartu kredit yang memiliki limit tinggi. Dan yang penting lagi dia bisa happy menikmati malam panjang dengan teman sosialitanya.