Because I'M Ratu

Because I'M Ratu
BIR - 10


__ADS_3

Sepulang dari sekolah, Ratu mengganti seragamnya, menggunakan kaos oblong putih dan celana training serta sepasang sandal jepit. Ia melajukan mobilnya menuju sebuah perumahan. Perumahan itu jelas tak bisa dibandingkan dengan perumahan rumahnya yang mewah.


Ratu melajukan mobilnya perlahan sembari memperhatikan setiap rumah. Mencari rumah yang ingin ia datangi. Setelah menemukan rumah itu, Ratu keluar mobilnya menggunakan kacamata hitam yang sudah terpasang rapi diwajahnya.


"Kakaakk" panggil seorang gadis menghampiri Ratu. Gadis kecil itu menarik tangan Ratu memasuki sebuah rumah. Disana sudah ada banyak teman-teman sang gadis. "Semuanya, kenalin ini Kakak aku, namanya Kak Ratu" ucap gadis itu dengan riang. Ratu tersenyum ramah menyambut para anak kecil dihadapannya.


"Wah Kakaknya Tania cantik ya" puji salah seorang gadis.


"Iya cantiknya pakai banget. Nama aku Leo Kak" sahut salah seorang pemuda yang menjulurkan tangannya pada Ratu. Ratu menerima uluran tangan itu dan berterimakasih untuk pujian yang diberikan oleh anak-anak padanya.


Tania memperhatikan sekitar kakaknya, tak biasanya sang kakak tak membawa apapun ditangannya. "Ada, bentar Kakak ambil dulu" ujar Ratu lalu berjalan pergi. Ratu membuka bagasi mobil Toyota FT 86 miliknya. Ia mengeluarkan dua kantong besar disana, pesanan sang adik tercinta. Ratu membawa kantong itu dan memberikannya pada Tania. Sang adik terlihat begitu senang dan gembira, tak terkecuali teman-temannya.


"Loh Kak Ratu?" Celetuk seseorang yang hendak keluar rumah. "Liam, ini rumah loe?" Tanya Ratu balik. Liam mengangguk dan memperkenalkan Leo yang rupanya adalah adiknya. Ratupun memperkenalkan Tania, adik tersayangnya.


"Wah, Kak Ratu dipalak anak-anak ini ya. Dasar kalian" ucap Liam lalu menyambar salah satu makanan dan pergi.


Liam dan Ratu berbincang singkat didepan rumah. Membahas ketidaksengajaan mereka dipertemukan sekali lagi. Liam kembali teringat perkataan yang selalu Ratu ucapkan setiap kali mereka bertemu. Ia lalu menunjuk rumah sebelah yang ternyata adalah rumah Neil, dan disamping rumah Neil adalah rumah Damar. Ketiga sahabat ini memang tinggal berjejer, karena itulah alasan mereka menjadi sangat dekat sampai sekarang ini. Sebab mereka sudah saling mengenal sejak berada di Sekolah Dasar.

__ADS_1


"Bang, bakso Bang" teriak Ratu menghentikan penjual bakso. Ratu memesan satu porsi begitu juga dengan Liam. Tak lupa ia juga menawarkan pada anak-anak. "Maauuuu" teriak anak-anak dengan semangat. Mereka segera berlarian menghampiri Abang tukang bakso. Anak-anak pintar, mengantri dengan tertib dan tenang.


Liam dan Ratu yang sudah mendapatkan jatah terlebih dahulu, duduk dilesehan depan rumah Liam. "Kak Ratu anaknya konglomerat tapi kok mau sih makan kayak gini? Pakaiannya juga biasa banget, padahal main kerumah orang" celoteh Liam seperti biasanya. Ratu hanya tertawa mendengarnya, dan melanjutkan memakan baksonya.


"Bang, satu porsi" pinta seseorang yang baru saja keluar dari rumah disamping Liam. Pemuda yang menggunakan kaus tanpa lengan berwarna hitam dan boxer bergambar Patrick star. Ratu yang tak sengaja menoleh tertawa terbahak-bahak hingga memuntahkan bakso utuh yang hendak ia makan.


Pemuda itu menoleh menatap Liam dan Ratu yang juga sedang memandangi dirinya. Matanya terbelalak dan secepat kilat berlari kedalam rumah. "Jangan ilfeel ya Kak, tuh anak emang kadang kayak bocil" ucap Liam berusaha membela Neil. Ratu tak menggubrisnya, ia masih tak bisa menghentikan tawanya.


Tak berselang lama setelah insiden itu, Damar juga keluar rumah dan menghampiri penjual bakso. Ia juga terkejut mendapati Ratu yang sedang makan sambil tertawa tanpa alasan. "Eh Mar, makan-makan, gue traktir" kata Ratu sambil berusaha menahan tawanya. "Loe kenapa Kak? Gila ya" sahut Damar. Liam membelalakkan matanya, melihat keberanian Damar mengatakan hal sekasar itu. Untung saja bayangan Neil belum hilang, sehingga Ratu tak terlalu memperhatikan ucapan Damar.


Mereka bertiga kembali melanjutkan makannya sembari bergosip dan menunggu kemunculan Neil. Seolah tertelan bumi, pemuda itu tak kunjung menampakkan dirinya.


Saat Ratu sibuk berbincang dengan penjual bakso. Mama Neil keluar dan hendak memesan bakso untuk putranya. "Tante, Neilnya mana? Kita tungguin dari tadi nih" tanya Liam heran. "Gak mau keluar, malu katanya, habis diketawain sama cewek" jawab Mama Neil sambil menahan tawa.


Mama Neil menatap Ratu yang juga tersenyum ramah kepadanya. "Ini teman kalian? Cantik sekali, nama kamu siapa?" Ucap Mam Neil seraya memegang dagu Ratu. Pipi Ratu menjadi merona karena pujian tersebut, dengan ramah ia memperkenalkan dirinya. "Nama saya Ratu, saya Kakak kelas mereka disekolah" jelas gadis itu singkat.


"Kakak, anterin teman aku mau ya? Kan gak baik kalau harus naik ojek atau angkutan umum, iya kan Kak?" pinta Tania.

__ADS_1


"Tentu saja, selagi ada Kakak, kenapa harus naik angkutan umum. Cium Kakak" ucap Ratu pada adiknya. Gadis itu mendekatkan pipinya pada Tania.


"Gak ah, aku kan udah besar. Malu dilihatin teman-teman" balas Tania lalu pergi meninggalkan Ratu. Hati Ratu sangat kecewa mendengarnya dari adik tersayang. Gadis itu duduk didekat Liam, sembari menatap adiknya yang sedang berbincang ria. "Sabar Kak, namanya juga anak kecil" hibur Liam. Kedua pemuda itu berusaha menghibur Ratu yang bersedih.


"Kak Ratu sayang banget ya sama adiknya? Kan suatu hari nanti dia juga akan dewasa, gak selamanya bakalan sama Kak Ratu terus" celetuk Damar. Perkataan Damar sungguh menyakitkan untuk Ratu, tetapi itu semua memang benar. Tak selamanya Tania akan bersama dirinya.


"Iya gue sayang banget sama Tania. Apapun yang dia mau, gue tidak pernah berkata tidak. Waktu begitu cepat berlalu ya" gumam Ratu lirih.


Ratu sudah berdiri didekat mobilnya, menunggu sang adik dan teman-temannya. Tania dan lainnya sedang berpamitan kepada Leo dan keluarga. Ratu masih menyempatkan diri berbincang dengan Liam sejenak. Membicarakan tentang teman sekelas Liam yang sudah lama tak masuk sekolah.


Tania berjalan menuju mobil sembari mengotak-atik ponsel miliknya. Hingga saat dia lengah, dua orang penjambret menyambar ponselnya secepat kilat.


"Wooi jambreeet" teriak Ratu langsung berlari menarik salah seorang penjambret itu. Ia menarik salah seorang yang dibonceng, Ratu sedikit terseret sepeda motor. Hingga ia mengeluarkan tendangannya yang sukses membuat dua penjambret itu terjatuh dari motor mereka. Tak tinggal diam begitu saja, Ratu mengambil paksa ponsel adiknya sambil menghajar para penjambret itu.


Beruntung tak lama petugas keamanan serta beberapa warga keluar untuk membantunya. Kedua penjambret itupun diarak oleh warga menuju rumah Pak RT.


Ratu berjalan dengan senyuman menuju adiknya, walau tangan dan kakinya sedikit terluka. Baju Ratu sudah kotor bercampur tanah, luka ditangannya kembali terbuka, meninggalkan jejak di kaos putihnya. "Untung Kakak dapat hp nya. Ini.." ucap Ratu seraya memberikannya pada Tania.

__ADS_1


Tania menatap Kakaknya itu, bukannya berterimakasih ia malah memukul-mukul tubuh Ratu. Walau Ratu bertanya alasannya, Tania tak menjawab dan terus memukulnya tanpa henti.


__ADS_2