
Pukul 20:00....
Ratu telah selesai berdandan, dan dengan percaya diri menghampiri Raja yang sedang menunggunya diruang tamu
"Wah, niat banget loe Kak mau narik perhatiannya Neil" ujar Raja saat melihat penampilan Ratu.
"Gue mau dengar pendapatnya, apa Desi masih lebih baik dari gue, uuh pasti cewek itu juga ada disana kan? Gue gak mau kalah saing" jelas Ratu.
Ratu dan Raja berjalan menuju mobil merah Ratu. Melajukan mobilnya menuju rumah Neil sambil merokok. Ratu ingin menunjukkan semua sisi buruknya hari ini pada Neil. Terlebih karena ia tahu wanita seperti apa yang Neil sukai.
Saat sampai dirumah Neil, Raja menyapa teman-temannya dan meminta mereka untuk segera masuk kedalam mobil. Tak ada yang bertanya, mereka hanya melirik Ratu seolah gadis itu tak terlihat oleh mereka.
"Waw bener ya sih Ario, ngerayain ulang tahun di salah satu club terkenal" puji Raja membuka pembicaraan. Suasana didalam mobil cukup hening setelah mereka pergi meninggalkan rumah Neil.
"Ario? Cowok yang berani nantangin gue di BS? Jadi ini ulang tahun dia? Pantes aja mesum disekolah" sahut Ratu.
"Ha? Nantangin loe? Mesum disekolah? Kapan?" Tanya Raja terkejut.
"Di acara reuni Ja, loe gak Dateng waktu itu" ucap Damar.
"Mesum gimana Kak?" Tanya Liam penasaran.
"Gak apa-apa lupain aja" jawab Ratu ketus.
Ratu kembali fokus menyetir jalanan, sembari mencuri-curi dengar apa yang ke empat remaja itu bicarakan.
Raja mencoba memancing Neil untuk mengatakan tipe cewek seperti apa yang ingin ia jadikan pacar. Walau terlihat acuh, Ratu menunggu jawaban pemuda tersebut.
"Gak punya tipe cewek. Siapa aja asal bisa bikin gue bahagia" jawab Neil.
Perlahan sudut bibir Ratu naik, ia pun mematikan rokok yang ada ditangannya. Bahagia itu memang sederhana.
"Oh ya? Kakak gue ini kan gampang banget buat orang jatuh cinta ke dia, apalagi bahagian orang lain. Terlalu banyak drama dan trik licik" sindir Raja.
__ADS_1
"Ya saking baiknya gue, sampai dipikir itu semua cuma permainan. Kalau gue cuek, gue dibilang kejam. Susah ya jadi Ratu yang diinginkan banyak orang" balas Ratu dengan kesombongannya.
"Udah lah Ja nyerah aja. Neil gak suka Kak Ratu" sela Liam. Ratu berdehem menyetujui perkataan Liam. Padahal mereka semua tahu perasaan masing-masing.
"Massa sih? Udah pernah ciuman massa gak ada perasaan? Loe mah sama nakalnya kayak Kakak gue Neil" sahut Raja.
Liam dan Damar terkejut bukan main, pasalnya Neil tak pernah bercerita apapun tentang itu. Sedangkan Neil, hanya tertunduk malu karenanya. Ratu? Tentu saja ia tertawa mendengar hal itu. Tidak terlalu mengejutkan.
Kini giliran Liam dan Damar yang menghujani Neil dengan berbagai pertanyaan mendesak.
"Itu bukan cinta adik-adik, itu namanya nafsu. Hm, kalian sangat polos" sela Ratu.
"Bagaimana bisa itu dikatakan nafsu disaat aku mencintai Kak Ratu?" Ucap Neil kesal. "Itu terjadi begitu saja bukan, lalu bagaimana jika cinta?" Imbuhnya.
"Kamu terdengar serius kali ini, didepan banyak orang kamu mengatakan mencintaiku. Aku terkesan, turun dah sampai nih" jawab Ratu lalu keluar mobil. Ia menyenderkan tubuhnya dipintu mobil, menunggu para adik keluar.
Setelah memastikan mereka semua keluar, Ratu mengunci mobilnya dan hendak pergi kedalam. Namun Neil menahannya, pemuda itu berdiri diam menatap Ratu. Ada amarah dalam tatapan Neil.
"Apa?" Tanya Ratu cuek.
"Jangan mengekspos nya seperti ini, aku benar-benar marah melihatnya" jawab Neil pelan.
"Massa sih? Kan mantan kamu....Hei Neil, Neiiilll" teriak Ratu kesal karena Neil pergi begitu saja sebelum ia sempat menyelesaikan perkataannya.
Walau Neil pergi begitu saja, setidaknya Ratu bisa tahu isi hati Neil. Ia pun menyusul yang lainnya untuk masuk kedalam. Ah, Ratu sudah terbiasa dengan suasana seperti ini. Namun sepertinya malam ini club tak begitu liar karena ada acara ulang tahun, sungguh anak konglomerat.
"Wah, berani sekali mereka melakukan itu dihadapan banyak orang" gumam Ratu terkejut. Ia baru saja masuk dan melihat ke arah kerumunan. Matanya terpanah mendapati Ario dan Desi yang sedang berciuman didepan teman-temannya. Dia menarik kembali ucapannya, yang terjadi adalah malam ini club lebih liar dari biasanya.
"Ratu, jangan bengong, iri bilang bos" teriak Daren mengejek Ratu.
Ratu mendongakkan kepalanya, menatap para pemuda sialan yang sedang menikmati pesta. Ia pun hanya tersenyum miring dan berjalan menuju lantai atas.
Setelah sampai dilantai atas, Ratu kembali menyalakan rokoknya dan ikut bergabung bermain biliar. Gadis itu menikmati waktunya dengan bahagia, setelah semua kekacauan yang mengganggu pikirannya.
"Gimana kelanjutannya?" Celetuk Daren. Ia ingin tahu apa rencana Ratu selanjutnya setelah memastikan semua informasi yang ada.
__ADS_1
"Santai dulu lah bos ku, butuh waktu untuk lanjut" jawab Ratu santai.
"Dalam hidup Ratu hanya ada dua peraturan. Peraturan pertama, life for fun. Peraturan kedua, follow the first rule" sahut Ersya mengingatkan apa yang pernah Ratu katakan. Ia sukses mendapat dua jempol dan tepuk tangan dari Ratu.
Apapun yang dikatakan Ratu adalah perintah untuk mereka. Malam itu mereka melepaskan penat dan tertawa riang. Bersenang-senang dengan banyak minuman dan obrolan mengenai masalalu.
Baru saja mereka tertawa menikmati waktu luang, keributan dari lantai bawah mengusik kedamaian. Ratu yang mendengar tentu saja segera melihat, ia tak ingin terjadi sesuatu pada Neil.
"Waaah pesta nih, gabung lah, ayo minum-minum" ucap salah seorang pemuda yang nampaknya sedang mabuk. Pemuda itu adalah pemuda yang Ratu pukuli karena mencoba menyuntikkan narkoba pada Neil.
Melihat ketiga pemuda itu mengacaukan acara, Ratu bergegas turun menghampiri. Daren dan yang lainnya berteriak dari lantai atas menyuruh tiga pemuda mabuk itu untuk pergi. Namun karena ketiganya hilang kesadaran, mereka malah semakin menjadi-jadi.
Para pemuda itu bahkan mencoba menyentuh para gadis-gadis yang memang berpakaian seksi di pesta itu.
Ratu yang datang dengan menerobos, menarik lalu menonjok satu persatu pemuda mabuk itu.
Salah seorang dari pemuda itu mencoba mengayunkan botol minuman ditangannya. Namun dengan lincah Ratu menghindar dan memukul punggung pria itu hingga pingsan. Untuk kedua kalinya, mereka bertiga kembali tersungkur dihadapan Ratu.
"Kalian semua gak apa-apa? Ada yang luka?" Tanya Ratu memastikan. Semua remaja yang ada disana menggeleng dan mengatakan jika mereka baik-baik saja.
Ratu memanggil penjaga, memarahi mereka karena membiarkan para brengsek ini masuk dan membuat keributan. Ia meminta para penjaga untuk membawa ketiga pemuda ini keluar club.
"Kak Ratu, makasih ya" ucap Ario sembari memegang tangan Ratu.
Ratu memandangi pemuda dihadapannya itu, menatapnya dengan datar. Ia mengangguk lalu memalingkan wajahnya menatap Desi. Baju gadis itu talinya terputus, hampir persis seakan ia tak memakai baju karenanya.
"Ada yang bawa jaket?" Tanya Ratu menatap semua orang. Sekali lagi mereka hanya menggeleng.
Ratu memegang hoodie yang ia kenakan, ia hendak melepas hoodie tersebut. Tapi matanya tak sengaja menatap Neil, dan pemuda itu menggeleng seolah tahu apa yang akan Ratu lakukan.
Gadis itu mengurungkan niatnya, ia lalu memanggil Daren dan yang lain untuk meminta jaket. Namun tidak ada satupun diantara mereka yang membawa jaket atau apapun yan bisa Desi pakai.
"Salah satu dari kalian, lepas bajunya" perintah Ratu.
Para pemuda yang berada diatas saling berpandangan, mereka tak ingin melepas baju, apalagi hanya untuk wanita seperti Desi.
__ADS_1
Ratu menundukkan kepalanya, menghembuskan napasnya kasar. "Yang kasih gue bajunya, besok gue beliin baju baru tiga" teriak Ratu.