Because I'M Ratu

Because I'M Ratu
BIR - 45


__ADS_3

Ratu menatap lekat mata Neil. Kini Ratu menemukan keberanian yang sudah lama terpendam.


"Jika menjadi temanmu bisa membuat kita sedekat ini, aku tak masalah. Tapi..." ujar Ratu.


"Tapi apa?" Tanya Neil.


"Tapi, kau harus siap melihatku bersama yang lain. Kau tidak ingin mengikatku, jadi aku.." ucap Ratu nampak ragu.


"Eits, kedekatan nih" sela Bilal. Ia mencoba menarik Ratu menjauh dari Neil.


Deg....


Neil menatap Ratu dan Bilal secara bergantian. Bilal merangkul pundak Ratu lalu membawanya pergi keluar kantin.


Tak hanya Neil, para murid juga terkejut melihat hal itu. Perasaan Neil berkecamuk, ia masih tidak mengerti dengan situasinya. Ini hanya rekayasa atau sebuah kenyataan.


"Ratu sama Bilal balikan? Serius?"


"Gak mungkin"


"Gue harus cari tahu"


Obrolan para gadis itu berakhir kala mereka mulai mengikuti kemana Bilal dan Ratu pergi.


Bahkan Aidan dan David juga mengikuti mereka. Neil juga ingin pergi, tetapi David melarangnya. "Jangan, nanti kita kasih tau loe kalau ada info" ujar David sebelum pergi menyusul Aidan.


Ratu dan Bilal sedang berjalan menuju lapangan basket. Mereka tampak berbincang dengan serius. Bilal terus saja mengelus kepala Ratu, tak ingin melepas tangannya sedetikpun dari sana. "Aku akan bantu kamu, jangan sedih dong. Aku gak akan biarin siapapun nyakitin kamu" ujar Bilal dengan lembut.


Hati Ratu kembali lemah dihadapan Bilal, ia tak bisa bersikap seolah semuanya baik-baik saja. Tangisnya bahkan pecah dalam pelukan Bilal. Ratu memeluk Bilal dengan sangat erat, penyesalan kembali teringat. Kesalahan terbesar Ratu, melepas Bilal karena taruhannya dengan Hera.


"Ratu, kenapa kita tidak kembali saja? Aku masih sangat mencintaimu" ucap Bilal.


"Maaf, ini salah Bilal. Kau dan Hera, kalian adalah sepasang kekasih. Aku tidak berniat merebut mu darinya, aku belajar untuk menerima ikatan diantara kalian" balas Ratu seraya menarik tubuhnya menjauh dari Bilal.


"Aku dan Hera sudah lama putus. Kau tau benar akan hal itu, aku sudah menceritakan semuanya padamu" sahut Bilal seraya memeluk Ratu dari belakang.


Ratu memegang tangan Bilal yang ada diperutnya, mengelusnya mesra sebelum ia membanting tubuh Bilal ke lantai. Bilal mengerang kesakitan, menggosok punggungnya.

__ADS_1


"Kembalilah pada Hera, dia sangat mencintaimu" pinta Ratu seraya duduk didekat Bilal.


Bilal merangkak dan menaruh kepalanya dipangkuan Ratu. Ia tak ingin Hera, hatinya masih untuk Ratu, dan akan selalu seperti itu.


"Kamu sudah tidak mencintaiku?" Tanya Bilal sekali lagi.


"Masih, tapi, kau tahu aku mudah jatuh cinta Bilal. Kini hatiku hanya milik Neil" jawab Ratu.


Bilal menghembuskan napasnya kasar, ia sudah muak mendengar Ratu selalu menyebut nama Neil. Ia kembali menyatakan perasaannya pada Ratu, dan memintanya untuk melupakan Neil, sebab Bilal merasa Neil tidak akan pernah mengikat Ratu dalam hubungan apapun. Bilal yakin Neil hanya ingin bermain-main.


"Loe tau apa tentang gue?" Celetuk Neil yang sudah berdiri dihadapan Ratu dan Bilal setelah membelah kerumunan yang ada didepan pintu.


Neil menarik Bilal dengan kasar, kini mereka saling berhadapan. Tanpa aba-aba mereka berdua sudah memasang kuda-kuda. Bilal tersenyum miring, ia melayangkan pukulan pertama. Mereka berdua saling berkelahi, para penonton mulai masuk, sedangkan Ratu masih duduk menatap keduanya.


Bbukk..Bbukk..


"Ratu, gila loe ya, kenapa loe cuma diem lihatin mereka berantem?" Omel Bela sembari menarik Ratu untuk berdiri.


Ratu tersenyum miring, ia mengacak pelan rambutnya sendiri lalu berjalan pergi.


"Ratu, hei, ini gimana?" Teriak Geya.


Bela dan Geya masing-masing menarik Bilal dan Neil. Wajah keduanya sudah babak belur, lebam dan penuh luka. Kembali mereka mengomel mengenai perkelahian tak bermakna ini.


Para teman Bilal dan Neil yang baru saja tiba segera membawa masing-masing ke tempat lain.


Setelah mereka semua pergi, Bela dan Geya menghampiri Ratu yang sedang merokok seorang diri dipojok bangunan sekolah. Tempat paling aman dan jauh dari keramaian. Tak banyak murid yang tahu mengenai tempat ini, kecuali mereka berkeliling ke setiap sudut sekolah.


"Ratu" panggil Bela. Ratu hanya menjawab dengan deheman. Ia masih begitu asik menghirup rokoknya.


"Loe kenapa sih? Drama apa lagi yang loe mainkan? Gak kasihan sama Neil?" Oceh Geya sangat lancar seperti kereta api.


"Gue cuma mau Bilal tau, kalau posisinya telah tergantikan. Dia terus mengusik gue, disaat gue mulai lupa akan kenangan" jelas Ratu singkat. Ia lalu mematikan rokoknya kemudian pergi meninggalkan Bela dan Geya.


Bela dan Geya masih mengikuti Ratu, mereka tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Ada begitu banyak pertanyaan dalam benak mereka.


"Daripada kalian mikirin ini, mending belajar, setelah penilaian, gue mau main-main sama Hera. Cewek sialan itu, bikin Tania marah ke gue" curhat Ratu.

__ADS_1


"Tania tahu berita tentang loe?"


"Kok bisa sih?"


"Menurut kalian? Si bajingan Hera itu, ngirim pesan ke Tania lewat sosmed. Sialan emang dia"


"Eksekusi cus, gue panggil yang lain"


"Eits, gue sendiri dulu, baru kalian"


"Lah kenapa? Asik juga barengan"


"Kalau mainnya keroyokan gak puas bego. Dah ah cus masuk kelas"


Begitulah setidaknya perbincangan ketiga gadis remaja ini. Merekapun masuk kedalam kelas untuk mengikuti pelajaran.


"Anak-anak, persiapkan diri kalian karena sebentar lagi penilaian semester akan dilakukan. Belajar yang rajin dan jangan banyak main apalagi berbuat ulah. Kalian mengerti?" Nasihat para Guru kepada semua muridnya.


"Mengertiiiiiiii" balas para murid dengan semangat.


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


Ratu sedang sibuk dengan leptopnya di meja belajar. Mengulang kembali materi yang telah disampaikan. Ini adalah hari-hari dimana Ratu mulai sibuk dengan buku-bukunya. Sejenak melupakan kegiatan nakalnya diluar sana.


"Ratu, kamu berantem ya sama Tania?" Seru Afzam yang masuk ke kamar Ratu.


Gadis itu tak menjawab, ia menunjukkan screenshot berita tentangnya yang sudah tersebar.


"Terus kamu diem aja? Gak coba jelasin ke Tania?" Tanya Afzam.


"Terserah dia mau percaya atau gak. Padahal aku sayang banget sama Tania, tapi dia gak percaya aku. Sedangkan Kakak yang sibuk aja percaya sama aku" jawab Ratu kesal.


"Tania kan masih kecil, dia belum mengerti" nasihat Afzam.


Afzam mengelus kepala Ratu, mencium kepala adiknya. Ia mencoba menjelaskan pada Ratu, jika hati Tania masih terlalu lugu dan mudah percaya. Karena itulah tugas Ratu sebagai seorang Kakak untuk menjelaskan segala hal yang membuat Tania ragu.


"Sejak kapan Ratunya Kakak jadi sensitif gini? Biasanya dewasa banget, sekarang kok dikit-dikit ngambek" goda Afzam seraya mencubit kedua pipi Ratu.

__ADS_1


"Oh iya, lebih baik kamu cerita tentang dia ke Adik Ipar. Sudah saatnya dia tahu, alasan dibalik kau yang begitu menyukainya" imbuh Afzam sebelum pergi meninggalkan Ratu.


__ADS_2