Because I'M Ratu

Because I'M Ratu
BIR - 59


__ADS_3

"Karena kalian membahas tentang basket, saya akan memanggil para ketua tim basket wanita dari setiap sekolah untuk maju kedepan. Silahkan" ucap Bilal.


Keempat wanita yang menyandang status sebagai ketua tim basket berjalan naik ke panggung satu persatu.


"Halo, saya ketua tim basket putri dari SMA Buana. Nama saya Adelia"


"Halo, saya ketua tim basket putri dari SMA Pelita. Nama saya Bintang, salam kenal"


"Hai, saya ketua tim basket putri dari SMA Pelita. Nama saya Clara"


"Dan saya adalah ketua tim basket putri SMA Sinar Mutia, Hera"


Riuh tepuk tangan menyambut ke empat wanita yang berdiri dipanggung.


"Kak, siapa yang paling hebat?" Teriak salah satu murid.


"Kita semua sama hebatnya. Jika didalam lapangan kami adalah musuh, diluar lapangan kami berteman baik" jawab Bintang.


"Ha ha ha" tawa seseorang dengan nada mengejek. Tawa itu menciptakan suasana canggung disana. Membuat mereka saling memandang.


"Kak Ratu ih, jangan keras-keras ketawanya" bisik Damar. Tak ada yang tahu siapa orang dibalik tawa itu selain Ratu dan sekitarnya.


"Eh Ratu mana? konsumsinya kan tanggung jawab dia" celetuk seseorang yang tak tahu tempat. Kini dia yang menjadi pusat perhatian.


Bilal mencoba manarik perhatian para murid lagi, namun mereka lebih tertarik setelah mendengar kata konsumsi.


"Sorry-sorry, bentar gue telepon" sahut Ratu bangkit dari duduknya. Ia dengan santai berjalan keluar aula tanpa memedulikan semua orang yang sedang menatapnya.


"Ada lagi yang ingin kalian tanyakan?" Ucap Bilal mengalihkan perhatian.


"Kenapa kalian gak tanding aja sekarang, buat nentuin mana yang paling hebat" saran seorang siswa.


"Kalau kalian bertanya mana yang lebih hebat diantara kami, jawabannya adalah sama. Tapi jika kalian bertanya siapa yang lebih hebat dari kami, kami punya jawabannya" jelas Adelia.


Para murid mulai berbisik-bisik, mereka tidak mengerti, jika keempat wanita itu ditunjuk sebagai ketua tim bukankah mereka yang paling hebat. Para murid mulai menebak-nebak siapa saja pemain tim basket yang memungkinkan untuk mengungguli para ketua tim.


"Siapa Kak?"


"Cewek sombong dan arogan. Dia sangat egois, menginginkan semua hal berjalan seperti apa yang dia inginkan" jawab Clara. Matanya memandang pada seorang siswi yang masuk kedalam aula dengan kantong besar ditangannya.

__ADS_1


"Haruskah kita menyebut namanya? Atau memanggilnya ke depan?" Imbuh Clara.


"Panggil panggil panggil" sorak para murid bersamaan. Mereka ingin tahu siapa siswi yang diceritakan oleh para ketua tim basket putri.


"Dia datang" celetuk Bintang ketika melihat Ratu maju kedepan untuk menaruh konsumsi.


Sontak saja semua mata memandangnya, sekali lagi mereka dibuat terkejut. Terlebih Ratu telah mengambil perhatian mereka sejak pembukaan. Membanting salah satu siswa dengan sangat keras.


"Kak Ratu? Tapi kan Kak Ratu bukan anggota tim basket" celetuk Devan.


Ratu memalingkan pandangannya, menatap ke empat wanita yang sedang berdiri diatas dipanggung. Dengan percaya diri ia melangkahkan kakinya berdiri tepat ditengah. Ratu lalu membalikkan badannya, menatap para murid yang tertegun tak percaya.


"Ada yang ingin berkenalan denganku?" Ucap Ratu dengan wajah datarnya. Ia menatap seluruh murid yang berdiri, membuat mereka spontan duduk kembali.


"Loe banyak berubah ya, Ratu" sahut Bintang.


"Menjadi lebih membosankan, dan yah dibawah level kami" imbuh Adelia.


"Hahaha.. Tapi sayangnya, gue lebih populer dari kalian" sahut Ratu membungkam semua para wanita itu. "Ada lagi yang ingin kalian katakan? Gue sibuk" sambung Ratu. Ia mengeluarkan kacamata hitamnya dan berlagak sok keren. Ratu berjalan dengan angkuh meninggalkan tempatnya.


Adelia melemparkan bola basket dengan kuat kearah Ratu, tapi dengan mulus gadis itu menangkap bola tersebut.


"Yah Ratu, hanya ini yang bisa diberikan oleh tuan rumah? Penyambutan yang membosankan" celetuk Adelia.


Ratu berjalan menaiki panggung, memeluk satu persatu temannya. Mereka sudah lama tidak saling bertemu.


"Cewek emang banyak drama" celetuk Devan kesal karena semua yang ia lihat.


"Hooohh" para murid terkejut ketika melihat Ratu hendak melemparkan bola basket. Tetapi nyatanya ia hanya sedang mengerjai Devan. Namun hal itu sukses membuat Devan bungkam dan terduduk lemas dikursinya.


"Gue turun dulu, harus ngurus konsumsi nih" pamit Ratu.


"Mana biji jagung loe, kita mau lihat" ucap Bintang"


"Biji jagung apa'an?" Tanya Ratu tak mengerti.


"Brondong, hahaha" ujar Bintang, Clara dan Adelia dengan kompak.


Ratu tersenyum malu, lalu pergi meninggalkan mereka semua, sembari melirik Hera yang tak ingin menatapnya. Bukan urusannya, tanpa Hera pun ia masih bisa hidup, bahkan hidup lebih tenang.

__ADS_1


Bilal yang berada dipinggir panggung, mengulurkan tangannya untuk membantu Ratu turun. "Anak nakal" bisik Bilal kesal.


"Ini jam tanganmu kan? Aku menemukannya di lorong sekolah, kenapa bisa jatuh?" Ujar Ratu seraya memakaikan jam tangan itu pada Bilal.


"Aku juga gak sadar sayang, untung kamu yang nemuin. Makasih ya" ucap Bilal seraya mengelus kepala Ratu pelan. Gadis itu mengangguk dan berjalan meninggalkan Bilal.


Ratu berjalan sembari mengangkat tangannya memberikan isyarat ok pada para senior yang menatapnya. Melihat hal itu, spontan mereka mengikuti kemana Ratu pergi.


Acara masih berjalan, perbincangan dengan para ketua tim basket putri masih berlangsung. Sembari membagikan konsumsi untuk para junior yang kelaparan.


Disisi lain, Ratu dan para teman-temannya sedang berkumpul disalah satu kelas. Mereka kembali berbagi informasi yang mereka dapatkan. Kebenaran mengenai jam tangan Bilal, tetapi mereka masih belum yakin jika pembawa pesan itu adalah Bilal.


Juga sebuah fakta lain yang mengejutkan, salah satu dari mereka melihat Argam dan Devan sedang berdebat. Fakta ini bisa menuntun mereka untuk mendapatkan lebih banyak informasi mengenai Argam dari Devan. Terlebih kemampuan Devan yang mahir menggali informasi seseorang.


"He, ikut gue" teriak Tristan yang datang dengan tergesa-gesa. Ia mengajak Ratu dan yang lainnya menuju toilet sekolah.


Ah, ini pasti ada anak nakal yang tidak tahu tempat. Selalu saja ditoilet, seakan tak ada tempat lain untuk bermain.


"Kita mau kemana?" Tanya Lay kebingungan, sebab Tristan tak membawa mereka ke toilet, tapi ke gudang peralatan sekolah. Mereka semua mengikuti Tristan dan mengintip lewat celah.


"Sial, itukan mantannya Neil. Cowok itu juga yang mukul Neil kan? Wah lihat nih cewek kayak gini, dia udah ngapain aja sama Neil? Sialan nih cewek, kesel gue lihatnya. Kenapa dia jadi mantannya Neil sih, auh sumpah sialan nih cewek" omel Ratu tak ada hentinya.


Para pemuda itu memilih pergi meninggalkan Ratu yang masih menonton sambil mengomel. Mereka bukannya tak tahan dengan adegan yang dipertunjukkan, tetapi mereka tak bisa menahan tawa mendengar ocehan Ratu yang panjang.


"Nih cewek kenapa sih?"


"Tau deh"


"Gak kuat gue dengarnya"


"Bikin ngakak anjing"


"Dah yok pergi, nanti pada curiga lagi"


Merekapun memutuskan untuk meninggalkan Ratu seorang diri disana.


......***Jangan lupa mampir di ceritaku yang lain ya, Lebih Berwarna dan Suami Pilihan Papa.........


...Terimakasih sudah membaca......

__ADS_1


...lope lope Kakak...🥰🥰***...


__ADS_2