
Bbukkk...
Ratu begitu senang mendengar apa yang Neil katakan, saking senangnya ia malah menonjok perut Neil.
"Aah, sorry sorry" ujar Ratu ketika melihat Neil meringkuk karena pukulannya.
"Dejavu nih, bukannya Kak Ratu dan Neil dulu ketemunya juga kayak gini ya" celetuk salah seorang murid SM.
"Ciyeeee"
Para murid kembali bersorak menggoda. Gadis itu tak bisa menyembunyikan senyumnya, Neil memang menyebalkan. Sayangnya Bilal membuyarkan drama romantis mereka. Ia kembali menertibkan para murid, juga meminta Neil dan Ratu kembali ke tempat duduk masing-masing.
"Sekarang waktu bebas untuk kalian. Nanti malam kita akan berkumpul di lapangan basket. Dan, jangan coba macam-macam, karena para panitia akan selalu berkeliling" kalimat terakhir Bilal sebelum membubarkan kerumunan.
Para siswi dan siswa berjalan menuju bangunan yang berbeda. Nama-nama mereka telah terpampang di didepan gedung asrama. Setiap kamar setidaknya diisi oleh tujuh orang murid.
"Ratu" panggil Bilal menghentikan langkah gadis itu.
Ratu meminta Bela dan Geya untuk pergi ke kamar mereka terlebih dahulu. Ia menghampiri Bilal yang sedang menunggunya.
"Ratu, tentang aku dan Hera itu, aku benar-benar gak tahu. Kamu tahu kan, aku lagi mabuk gak bisa berpikir jernih"
"Udah lah Lal, tanggung jawab aja. Anak loe kan"
"Tapi aku cintanya sama kamu. Ratu, ini kesalahan"
Bbuukkk....
Ratu memukul Bilal hilang tersungkur ke tanah. Ia tak peduli walau banyak mata yang memandang mereka. Ini memang kesalahan, dan yang bersalah harus bertanggungjawab. Padahal Bilal begitu mengagumkan saat menjadi pemimpin, tapi ia malah tak ingin bertanggungjawab atas kesalahannya.
"Ratu, aku cuma ingin kamu" ucap Bilal sembari menarik Ratu agar dekat dengannya.
"Sorry Bilal, gue udah punya yang lain. Mending loe berusaha jadi calon suami yang baik, atau loe akan hancur" ancam Ratu. Ia memukul Bilal sekali lagi, kini wajah itu hanya bisa menimbulkan amarah dalam hatinya.
__ADS_1
Gio dan Faiq yang melihat, menarik Ratu untuk menjauh dari Bilal. Karena kerumunan telah tercipta untuk melihat mereka berdua yang sedang baku hantam.
Neil mendekat lalu menarik Ratu menjauh dari Gio dan Faiq. Sedikit menjauh agar pembicaraan mereka tak terdengar oleh siapapun.
"Kak Ratu, kamu itu apa-apaan sih? Nanti kalau kenapa-kenapa gimana? Nanti kalau anak kita terluka gimana?" Oceh Neil tanpa henti.
"Anak? Anak kita? Neil, kamu masih belum sadar, atau lagi mabuk"
Pemuda itu mengelus perut Ratu dan mengatakan jika anak mereka ada disana. Walau ia masih tak mengingat kejadian malam itu, tapi Neil begitu yakin jika anaknya ada dalam perut Ratu.
Ratu tertawa terbahak-bahak, ia bahkan tak bisa berdiri karenanya. Sekali lagi Ratu menjadi pusat perhatian. Sedangkan Neil berusaha menghentikan Ratu yang sedang tertawa.
"Bodoh, kamu bahkan belum menyentuh ku. Aku tidak hamil Neil" bisik Ratu lalu melanjutkan tawanya.
"Apa? Tap..tapi, waktu di UKS, hamil itu.." Neil masih tidak mengerti yang terjadi.
Gadis itu membawa Neil pergi menuju kantin, tertawa membuatnya merasa lapar. Disana ia mulai menceritakan kejadian yang sebenarnya.
Dan untuk kehamilan, ia hanya bercerita jika itu temannya. Tanpa memberitahu bila yang hamil adalah Hera dan itu anak Bilal. Ratu rasa, Neil tak perlu tahu akan hal itu.
"Kak, aku ditampar Mama karena ini" curhat Neil. Ia ingin menghubungi Mamanya, tapi sayangnya tidak ada sinyal disana. Karena kegiatan sekolah ini memang mengajari mereka untuk menjauh dari dunia maya.
"Maaf, kenapa kamu gak tanya aku?"
"Ya kan aku pikir. Iya deh maafin aku juga ya"
Neil menggenggam tangan Ratu, lalu menciumnya. Mereka sudah terlihat seperti sepasang kekasih, walau sebenarnya mereka hanya sebatas teman.
"Kakak oey, jadi kalian udah jadian nih?" Goda Raja yang ikut bergabung.
"Maunya sih gitu Ja, tapi teman loe ini, HTS an mulu. Lama-lama gue cari yang baru nih" curhat Ratu.
"Tuh si Ario nunggu" sahut Raja sembari menggerakkan dagunya menunjuk Ario yang tengah menatap mereka.
__ADS_1
Ratu terkekeh dan bergidik ngeri hanya dengan mendengar nama pemuda itu. Neil menatap Ario dengan tajam, lalu mencium tangan Ratu sekali lagi. Ia ingin menunjukkan pada Ario, jika Ratu hanya miliknya. Tak akan ada yang bisa merebut Ratu darinya, bahkan Ario pun tidak akan bisa.
"Ratu, kita harus bicara" sela Daren yang sudah mengerubungi Ratu bersama gengnya.
Gadis itu menatap Lay dan Justin yang sedang menatapnya dengan amarah. Pasti ini karena kejadian kemarin di sanggar lukis, kini mereka sudah mendengar insiden yang menimpa Ratu.
Ratu menolak, ia sedang ingin menghabiskan waktu bersama Neil dan Raja. Tidak ingin memikirkan hal yang membuatnya pusing tujuh keliling. Daren terus memaksanya untuk pergi, tetapi Ratu masih kekeh tak ingin pergi.
"Coba lihat" pinta Daren seraya menarik kepala Ratu. Ia ingin melihat bekas merah di leher gadis itu.
"Kak Ratu itu kenapa?" Sahut Neil yang juga terkejut.
Ratu menepis tangan Daren, dan membenarkan kembali bajunya untuk menutupi bekas dileher. Ia menyuruh Daren dan teman-temannya untuk pergi, sebab dirinya ingin menghabiskan waktu bersama Neil.
"Oke gue pergi, tapi kalau ada apa-apa, hubungi salah satu dari kami. Jangan gegabah, ngerti cantik" ucap Daren seraya mengedipkan sebelah matanya.
"Sialan loe, ntar gue suka aja baru nyesel loe" sahut Ratu. Ia memang mudah jatuh cinta, itu sudah menjadi hal umum yang diketahui oleh banyak orang.
Neil mencubit tangan Ratu kesal. Bisa-bisanya Ratu mengatakan hal seperti itu padahal Neil berada dihadapannya.
"Neil, foto yuk, mau upload di sosmed. Kita kan gak pernah foto bareng" pinta Ratu.
Pemuda itu mengangguk dan menarik Ratu untuk pergi, juga mengajak Raja bersama mereka. Ketiga murid itu berjalan mencari spot foto yang bagus. Tak sedikit para murid yang juga melakukan hal sama seperti mereka. Berfoto-foto untuk di-upload saat mereka kembali nanti.
Raja yang memang membawa kamera, sudah siap menjadi juru foto untuk sang Kakak. Ia mengarahkan Ratu dan Neil agar terlihat seperti pasangan romantis yang sedang berbulan madu.
Ratu yang memang lebih pendek dari Neil, menaiki sebuah batu agar posisi mereka menjadi sejajar. Raja memfoto pasangan itu membelakangi matahari, menjadikan gambar mereka seperti siluet.
"Kak Ratu" panggil Neil lirih. Ia menaruh tangannya di pinggang Ratu, sedangkan gadis itu menaruh tangannya di pundak Neil.
"Hm.."
"Mau gak, jadi pacar aku?" Tanya Neil seraya mencium bibir Ratu.
__ADS_1