Because I'M Ratu

Because I'M Ratu
BIR - 17


__ADS_3

Ratu, Neil, Damar dan Liam berpamitan pada kedua orang tua Mita. Mereka harus pulang karena hari sudah malam.


"Oh iya Mit, kalau ada apa-apa langsung hubungi gue. Jangan sungkan, kita pergi dulu ya, byee" pamit Ratu sembari melambaikan tangannya.


Neil, Damar dan Liam berjalan dibelakang Ratu, mereka sedang membicarakan orang didepan mereka. Mereka juga tidak percaya jika Ratu bisa mengeluarkan uang sebanyak itu hanya demi menolong orang lain.


Ratu tak langsung memulangkan mereka bertiga, tetapi ia mengajak ketiga pemuda untuk makan di restoran. "Kak Ratu, gak dimarahin orang tuanya? Itu kan mahal banget Kak" tanya Liam yang paling penasaran. Gadis itu menghentikan makannya, ia menatap Liam. "Bukan uang orang tua gue. Kalian pasti mikir karena orang tua gue kaya, gue bisa minta apapun yang gue mau kan? Iya emang bener" jawab Ratu dengan candaannya.


Liam menatap Ratu datar, ia kesal dengan jawaban tersebut. "Serius nih Kak" timpal Damar yang juga penasaran.


"Mar, gue maunya serius sama Neil, bukan sama loe" sahut Ratu. Kini giliran Damar yang menatap Ratu dengan kesal. Liam dan Damar saling memukul kepala mereka. Sedangkan Neil, ia hanya diam memandangi kedua temannya yang sedikit terkena gangguan mental.


Setelah mereka selesai makan, Ratu mengantarkan ketiga pemuda untuk pulang. Liam dan Damar masih saja terus menanyakan banyak hal pada Ratu. Kedua anak itu sudah merasa nyaman dekat dengan Ketua geng SS. "Kak" panggil Neil menyela pertanyaan teman-temannya. Ratu berdehem dan melirik Neil sekilas. "Kak Ratu baik ya ternyata, aku kira Kak Ratu itu hm, semua yang mereka omongin tentang Kak Ratu cuma jeleknya aja" sambung Neil sembari menatap jendela samping.


Neil sedang menyembunyikan wajahnya yang merona karena memuji Ratu.


"Bagus deh kalau sadar, udah sampai nih turun" perintah Ratu. Gadis itu memang kejam, sifatnya terus saja berubah-ubah.


"Menantu" panggil Papa Neil yang baru saja keluar dari mobilnya. Ratu juga ikut turun setelah mendengar panggilan tersebut. "Waah, kok kencannya berempat?" Goda Papa Neil sembari manatap anaknya.


"Masih malu dia Pa. Ratu pamit dulu ya Pa, sudah ditungguin Kakak dirumah" pamit Ratu lalu pergi meninggalkan rumah Neil. Papa Neil terus saja menggoda anak semata wayangnya.


Ratu memasuki rumah, berlari secepat kilat menuju kamarnya melewati Afzam yang sedang berkutik dengan leptop di meja makan. "Ratu, sini" panggil Afzam ketika merasakan kehadiran seseorang. Ia tahu benar siapa yang belum tidur jam segini dan terus berkeliaran sepanjang malam.


Afzam menyuruh adiknya untuk duduk, mengalihkan leptopnya dan mulai menatap tajam ke arah Ratu. Ratu menatap langit-langit menghindari tatapan mata sang kakak. Afzam menjitak kesal kepala adiknya. "Kakak dengar, kamu mau beli kebun pisang ya?" Tanya Afzam. Ratu keheranan, ia tidak mengerti mengapa kakaknya masalah membahas hal seperti ini dan bukannya mengenai motor yang baru saja ia beli.


"Iya Kak, tapi masih belum sih. Gak tau juga mau dikelolanya gimana" curhat Ratu.

__ADS_1


"Kamu sama teman-teman belum kesana ya?" Selidik Afzam lagi. Gadis itu mengangguk, membuat Afzam sekali lagi menjitak kepalanya. Ratu mengeluh sakit dan mengelus kepalanya.


"Buruan survei, lihat-lihat sekitar juga ya. Jangan cuma kebunnya aja! Sudah sana tidur!!" Perintah Afzam lalu kembali mengerjakan pekerjaannya.


Ratu menatap Kakaknya aneh, tapi ia tidak peduli. Gadis itu segera bergegas naik ke kamarnya. "Kakak gak marah, karena perbuatan kamu baik. Daripada uang itu kamu simpen buat mabuk-mabukan, taruhan mending kasih aja ke orang yang membutuhkan" celetuk Afzam. Ratu kembali menatap Kakaknya yang masih fokus dengan leptop. "Biarin dih, gue kan masih muda, wlee" gumam Ratu pelan mengejek sang Kakak. Ia pun segera bergegas naik sebelum Kakaknya berubah pikiran.


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


Esok hari disekolah, Ratu sedang berdiri menyenderkan tubuhnya pada tiang. Kacamata hitam dan topi fedora pie sudah melekat indah pada dirinya. Entah apa yang dilakukan gadis itu, menatap kantin yang begitu ramai.


"Kak Ratu kenapa deh"


"Gak tau, galau kayaknya"


"Nakutin ah"


"Lihat siapa sih dia"


Begitulah setidaknya sang Ratu yang sedang menjadi bahan perbincangan.


"Loe ngapain sih berdiri disana?" Tanya Bela. "Nungguin siapa? Noh si Neil udah disitu, atau nungguin Bilal? Tuh sama Ibunya" timpal Geya dengan candanya. Bela dan Geya tertawa terbahak-bahak sambil melakukan tos. Sedangkan Hera hanya bisa bergumam kesal menanggapi kedua siswi tersebut.


"Bahu gue kosong kok, daripada loe senderan di tembok" ujar seseorang yang tiba-tiba saja berdiri disamping Ratu. "Sialan loe, mana dia?" Balas Ratu ketus.


"Loe apain cewek gue Lay? Ada apa sih cantik?" Ucap Daren sembari merangkul pinggang Ratu.


Tiba-tiba saja Bilal dan Neil berdiri secara bersamaan setelah melihat apa yang dilakukan Daren. "Eits, ada dua nih yang berdiri. Sorry-sorry" ujar Daren lalu melepaskan tangannya dari pinggang Ratu. Keduanya seperti orang kikuk, kemudian duduk kembali ditempat mereka.

__ADS_1


Ratu duduk dimeja bersama dengan Daren dan gengnya, ingin membahas sesuatu dengan mereka.


"Mit, duduk mana? Rame nih" ujar seorang murid. Mita dan dua temannya sedang mengedarkan pandangan mencari bangku yang kosong. Ratu yang menyadarinya segera menghubungi ponsel Bela. "Ajak duduk bareng loe dan Geya" pinta Ratu lalu menutup teleponnya.


Bela berdiri dan memanggil nama Mita. Untung saja Bela satu langkah didepan Fiona dan gengnya. Sebab Fiona juga berniat menarik Mita ke tempat duduknya.


Mita dan temannya dengan ragu mendekati meja Bela. "Gausah takut duduk sini aja. Lagian kita juga selalu berdua ya Bel" ajak Geya menarik Mita dan temannya untuk duduk. "Iya, kita temannya Ratu, Gue Bela, ini Geya" kata Bela memperkenalkan dirinya. Mita dan temannya juga bergantian memperkenalkan diri mereka.


"Kak Ratu kemana kok gak kelihatan Kak?" Tanya Mita mengedarkan pandangan ke meja Ratu. "Tuh si Ratu lagi pacaran" teriak Geya tanpa alasan. Mita memandang ke arah tempat duduk Ratu, namun dirinya hanya menemukan Neil dan kawannya.


"Bukan sama Neil, sama cowok lain noh, disana" sambung Geya sembari menunjuk tempat duduk Ratu. Ratu melambaikan tangannya pada Mita, gadis itupun refleks menunduk memberi salam.


"Ada apa sih? Tumben loe nyari gue" Tanya Daren seraya menyuapi Ratu dengan bakso. "Gue mau ikut balapan, tapi taruhannya motor" jawab Ratu santai.


Plak... Plak... Plak... Plak.. Plak... Plak..


Enam kali Ratu mendapat pukulan dikepalanya. Rupanya itu adalah anggota geng SS. Mereka kesal mendengar permintaan Ratu, taruhan macam apa yang tidak masuk akal itu.


"Loe mau beli motor baru? Mending motor lama loe kasih ke gue, daripada loe buat taruhan" ucap Ubay. Itu adalah saran yang positif, anggota SS lainnya juga menyetujui saran Ubay.


"Gue mau motor dia, lawan anak SMA Nusa kan?" Sahut Ratu mengungkap kebenaran. Mereka semua menatap Ratu heran, gadis ini bisa saja membeli motor baru, kenapa harus minta motor orang lain. Pertanyaan itu ada disetiap benak kepala para pemuda disana.


Ratu bangkit dari duduknya, ia mulai menceritakan bagaimana anak SMA Nusa membuat lecet motor kesayangannya.


Sekitar seminggu yang lalu, Ratu buru-buru pulang kerumah karena Tania mencarinya. Ia melewati tongkrongan anak SMA Nusa. Saat Ratu lewat, mereka melempari dirinya dengan telor mentah dan membuatnya motornya tergores. Gadis itu sangat marah, tetapi karena Tania menunggu ia mengabaikannya begitu saja.


"Anak-anak sialan itu, beraninya mereka, belum tau siapa itu Ratu. Bisa gak gue ikut balap?" Tanya Ratu sekali lagi.

__ADS_1


"Bisa sih, tapi kenapa gak loe ajak tarung bebas aja. Biar bonyok sekalian tuh anak" saran Daren.


"Ya kalau dia mati gue yang disalahin. Kalau balapan dia mati kan salah dia sendiri. Hahahah" perkataan yang sungguh kejam dari seorang gadis SMA.


__ADS_2