
Ratu telah sampai dirumahnya.
Baru saja sampai, ia sudah akan pergi lagi. Tidak ada waktu menunggu jika untuk melakukan hal yang baik. Ia segera menghubungi Lay dan Justin, karena mereka akan pergi ke sanggar lukis Papa Devan.
Setelah membersihkan diri, Ratu melajukan motornya menuju sanggar lukis Papa Devan. Ia sudah janjian dengan Justin dan Lay di tempat itu.
"Ratu, disini? Loe yang bayarin kan?" celetuk Lay.
"Tenang, ada Ratu, gausah mikirin uang. Masuk" jawab Ratu. Ia berjalan mendahului Lay dan Justin.
Ratu dan teman-temannya memasuki sanggar sederhana yang dominan dengan interior kayu tersebut. Ia menghampiri resepsionis dan mulai bertanya-tanya mengenai biaya untuk les, sebagai formalitas.
"Ratu" panggil seseorang.
Ratu dan teman-temannya menoleh, menatap seorang pria paruh baya yang berdiri tak jauh dari mereka.
"Pak Hassan, apa kabar Pak?" Sahut Ratu seraya mengulurkan tangannya.
Pak Hassan menerima uluran tangan itu, beliau terlihat senang melihat Ratu ada disana. Beliau memang sudah tertarik dengan Ratu, semenjak melihat gambar bangunan yang Ratu buat saat dipertemuan orang tua di sekolah. Namun sayangnya, Ratu tidak terlalu tertarik mendalami kegiatan melukis. Padahal Pak Hassan berpikir jika Ratu memiliki potensi yang besar dalam bidang tersebut.
"Nak Ratu, ada apa kemari? Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Pak Hassan sembari mengajak Ratu, Lay dan Justin berkeliling sanggar.
"Begini Pak, kami mau daftar les melukis" jawab Ratu dengan ramah.
"Nak Ratu mulai tertarik dengan melukis? Itu sangat bagus"
Ratu tersenyum kecil, Pak Hassan terlihat begitu antusias kala menyambut murid barunya. Beliau menjelaskan setiap ruangan yang ada disana, juga detail interior yang memang dibuat untuk membangun inspirasi dalam melukis.
Mereka telah sampai di kelas melukis luar ruangan, disana ada banyak murid yang tengah melukis. Ratu mengedarkan pandangannya, menemukan Devan dan Argam yang duduk diantara mereka.
"Lah si Devan tuh, ngapain dia?" Celetuk Lay sambil menunjuk tempat duduk Devan.
__ADS_1
Pak Hassan memperkenalkan Devan dan Argam pada Ratu dan teman-temannya. Ratu, Lay dan Justin mengangguk-angguk seolah mereka baru mengetahui kebenaran akan hal itu.
"Kak Ratu, ngapain loe disini? Kangen ya sama gue" goda Devan.
"Gak kebalik Dev? Kayaknya loe yang kangen gue" jawab Ratu.
Pak Hassan tertawa melihat anaknya begitu akrab dengan temannya. Beliau kemudian menunjukkan tempat untuk Ratu, Lay dan Justin, agar bisa mencoba melukis disana.
"Apa rencana loe? Loe punya maksud lain datang kesini kan?" Sentak Argam yang datang dan duduk disamping Ratu.
Gadis itu hanya tersenyum tipis, sembari terus mencoret kanvasnya dengan kuas. Ia membiarkan Argam yang mengoceh dengan berbagai pertanyaan dibenaknya.
Setelah pemuda itu terdiam, giliran Ratu yang memulai pertanyaannya.
"Loe kenal sama pemilik mobil berplat L 1412 NG ?" Tanya Ratu tanpa basa-basi.
Argam nampak terkejut mendengar plat nomor tersebut. Ia lalu menuliskan sebuah pesan di kertas untuk Ratu sebelum pergi meninggalkan sanggar lukis.
Ratu menerima pesan itu dan menyimpannya. Ia tak pergi menyusul Argam, melainkan melanjutkan melukis di atas kanvasnya. Lay dan Justin menghampiri Ratu, mereka meminta kertas yang diberikan oleh Argam, namun gadis itu tak memberikannya.
"Bukan apa-apa, lanjutkan gih ngelukisnya" balas Ratu.
Seperti biasa, apa yang dikatakan oleh Ratu adalah perintah. Kedua pemuda itu melanjutkan kegiatan melukis mereka hingga Pak Hassan mengajak mereka pergi untuk makan siang.
Awalnya Ratu hendak ikut, tetapi tiba-tiba saja ia berdalih Kakaknya menyuruh pulang. Tak ada yang curiga, mereka percaya begitu saja dengan apa yang Ratu katakan.
Setelah menjauh dari Pak Hassan dan teman-temannya, Ratu membuka pesan yang Argam berikan. Sebuah alamat untuk bertemu. Tanpa menunggu lagi, gadis itu melajukan motornya dengan kencang menuju alamat yang telah Argam berikan.
Ratu memelankan laju motornya, memandangi tempat sekitar. Ini jauh dari perkotaan, dan tempatnya seolah tak memiliki penghuni. Bisa dibilang, tempat ini adalah bekas pabrik yang sudah tak terpakai.
Motor ia parkirkan di gerbang depan, sedangkan dirinya masuk kedalam bangunan dengan berjalan kaki. Pandangan ia edarkan pada setiap sudut jalan yang dilaluinya. Menerka-nerka apa yang akan Argam tunjukkan karena mengundangnya ke tempat seperti ini.
__ADS_1
"Ratu Bulan Batara" panggil seseorang.
Orang itu tengah duduk dan dikelilingi oleh lima orang lain yang bertubuh kekar. Hal itu tak membuat Ratu bergidik ngeri. Ia malah tersenyum miring mengetahui kejutan yang ia dapatkan.
"Jadi kalian tahu gue bakal samperin Argam? Ck, jika gue tahu bisa bertemu dengan loe secepat ini, maka gue akan datang lebih awal" ujar Ratu.
"Ini hanya rencana cadangan. Kejutanmu lebih menyenangkan untuk ditonton seluruh negeri" balas seseorang itu.
Ratu mencoba berjalan mendekat, tetapi dengan sigap para pengawal itu juga bergerak seiring dengan pergerakannya. Mereka menahan kedua tangan Ratu dan menyudutkannya ke tembok.
Pemuda yang menggunakan topeng untuk menutupi wajahnya itu berjalan mendekati Ratu. Ia menaruh tangannya dileher gadis itu, sambil sedikit mencekiknya. Mata mereka saling bertatapan, Ratu sama sekali tak menunjukkan ketakutan apapun dimatanya.
"Sebaiknya loe berhenti disini, atau loe benar-benar akan kehilangan seseorang yang loe cintai untuk keduakalinya" ancam pemuda itu.
Tangannya masih mencekik leher Ratu, sedangkan tangan yang lainnya, ia gunakan untuk mengelus pipi gadis itu.
"Loe takut?" Celetuk Ratu diselingi senyuman miring.
"Hahahah, konyol. Itu tidak mungkin. Beri dia peringatan" perintah pemuda itu lalu pergi meninggalkan Ratu.
Pemuda itu pergi bersama tiga pengawalnya, meninggalkan Ratu dengan dua pengawal yang masih menahan lengannya.
Gadis itu melakukan pemanasan, sudah lama ia tidak berkelahi. Badannya menjadi sedikit kaku, tapi kemampuannya tak berkurang sedikitpun.
Ratu memulai dengan menangkis satu persatu pukulan. Hingga waktu yang tepat ia mulai menyerang. Tak jarang gadis itu mendapat satu dua pukulan diwajahnya, tetapi ia membalas dengan sangat brutal. Hingga sukses membuat kedua pengawal itu babak belur dan pingsan.
"Cih, sialan kalian" umpat Ratu setelah melihat darah di bibir dan pelipisnya.
Gadis itu tak langsung pergi, ia merogoh saku setiap para pengawal. Tak lupa juga berkeliling sebentar jikalau saja ada petunjuk yang tertinggal.
Ternyata nihil, mereka tak meninggalkan jejak. Bahkan ponsel pun tak ia temukan di saku para pengawal itu.
__ADS_1
Ratu berjalan keluar menuju motornya, sebelum mengenakan helm ia menunjukkan senyuman lebar. Tak lupa juga memberikan acungan jempol yang terbalik. Ia merasa jika pemuda dan ketiga pengawalnya itu masih mengawasinya dari sisi lain gedung.
"Brengsek kalian, beraninya bikin bekas dileher gue" gumam Ratu saat melihat bekas merah dilehernya lewat spion. Setelah itu ia pun memakai helm dan pergi meninggalkan bangunan kosong tersebut.