Because I'M Ratu

Because I'M Ratu
BIR - 51


__ADS_3

"Bohong Kakak Ipar, kita mau jalan-jalan. Kakak yang traktir" sela Tania. Ia menghampiri Ratu, menyuruh Ratu untuk meminta ijin pada Mama Leo.


"Yah, jalan-jalan sekalian cari cowok ganteng" ujar Ratu kemudian masuk kedalam rumah Leo.


"Kak Ratu kelihatan cantik ya" puji Damar seraya terus menatap kepergian Ratu. Pernyataan jujurnya itu sukses membuat Neil dan Liam menatapnya tajam.


"Kalian ikut aja, pasti Kakak senang ada Kakak Ipar" ajak Tania. Mereka bertiga saling berpandangan, tanpa kata segera masuk kerumah masing-masing dan bersiap secepat kilat.


"Cowok aneh" gumam Tania lalu masuk menyusul Ratu dan teman lainnya.


Tania mengatakan pada Ratu untuk menunggu Neil dan yang lain. Gadis itu hanya mengangguk, semuanya harus sesuai apa yang adiknya inginkan.


Setelah cukup lama menunggu, Ratu meminta Neil, Damar dan Liam untuk membawa sepeda motor sendiri. Karena mobilnya tidak akan memuat, sebab didalam mobil sudah ada empat teman Tania termasuk Leo.


Ketiga pemuda itupun mengangguk dan mengikuti kemana mobil Ratu pergi. Ke sebuah pusat perbelanjaan, tentu saja sesuai instruksi sang adik.


"Kak, all you can eat yaa" pinta Tania seraya mengayunkan lengan Kakaknya. Ratu mengangguk setuju, lalu Tania dan teman-temannya bersorak kegirangan. Merekapun memimpin jalan, menuju restoran yang ingin dituju.


Tania dan teman-temannya duduk dimeja yang berbeda. Meja mereka berseberangan dengan meja Ratu. Mereka memilih dua meja paling pojok agar nyaman untuk mengobrol.


Ratu duduk disamping Neil berhadapan dengan Damar dan Liam. Kedua pemuda itu mengambil semua yang mereka lihat. Sedangkan Ratu dan Neil, masih asik ngobrol berdua.


Ratu menaruh tangan Neil dipinggangnya, merapatkan jarak antara mereka. Tak pernah sekalipun Ratu membiarkan tangan Neil pergi dari sana, ia menahan tangan Neil sambil sesekali memainkannya.


"Neil, aku hanya ingin bermain-main dengan Bilal, untuk membalas Hera. Tapi, sepertinya Bilal kembali jatuh hati padaku. Dia tak ingin melepasku lagi" curhat Ratu.


"Jadi semua ini hanya sandiwara? Kalian membohongi semua orang?" Tanya Neil tak percaya.


"Iya untukku tapi tidak untuk Bilal" jawab Ratu. Neil menatap Ratu dengan bingung, lalu apa yang sebenarnya coba Ratu katakan padanya.


"Itu terlihat jelas, dia selalu saja menciummu setiap kali ada kesempatan" oceh Neil yang cemburu.


Ratu terkekeh melihat pemuda yang ia sukai cemburu. Ratu menyuapi Neil seraya menatapnya gemas. Ia menarik dagu Neil untuk mendekatkan wajah mereka.


"Neil, kau ingat saat aku mengatakan kau lebih berani daripada Bilal?" Tanya Ratu. Neil mengangguk, ia ingat kalimat itu.


"Aku tahu Bilal pernah tidur dengan Hera. Tapi apa kau tahu, dia bahkan tak pernah sekalipun menyentuhku lebih dari berciuman biasa. Dia tidak seliar dirimu dihadapan ku" sambung Ratu.


Neil terbatuk-batuk, terkejut mendengar pernyataan itu. Neil pikir, Ratu pernah menghabiskan malam bersama Bilal, sebab itulah Ratu membuat batasan karena masih mencintai Bilal.

__ADS_1


"Kenapa? Karena kamu memukulnya?" Ucap Neil penasaran.


"Aku pernah memukulnya hingga pingsan karena berani memasukkan tangannya ke dalam bajuku. Aku sangat kesal karenanya, beraninya dia bertindak sejauh itu tanpa seijinku. Aku tidak menyukainya" oceh Ratu kesal. Ia kembali teringat hari itu, kekesalannya karena Bilal yang menyebalkan.


Neil tak bisa menahan tawanya, ia tertawa karena mengetahui Ratu pernah memukul Bilal hingga pingsan. Itu hal yang sangat menyenangkan untuk didengar.


"Kalian dari tadi ngomongin apa sih?" Sela Liam. Damar dan Liam yang asik makan, tak bisa mendengar apapun yang Ratu dan Neil bicarakan.


"Kalau mau tau, cari pacar dulu gih" goda Ratu seraya mengedipkan sebelah matanya.


"Gue dengar kalian mau latihan bela diri ya? Ditempat gue latihan aja, nanti kita bisa latihan bareng" tawar Ratu. Ia masih melanjutkan makannya, tak menggubris tiga pasang mata yang terkejut karena Ratu tahu apa yang akan mereka lakukan.


"Kak Ratu kok bisa tahu? Jangan-jangan..." sahut Damar dengan tatapan menyelidik.


"Gimana gue gak tahu kalau kalian tanya-tanya ke anak-anak disekolah tempat latihan yang bagus. Hel..loooo, kalian lupa ya gue siapa? R A T U, Ratu jelas tahu semuanya" jelas Ratu santai.


Ketiga pemuda itu mengangguk percaya dengan apa yang Ratu katakan. Tak ada hal yang tidak Ratu ketahui, karena ia memiliki banyak informan dimanapun.


"Kakak, Ayah nelepon nih" teriak Tania menunjukkan ponselnya.


Ratu menghampiri adiknya, meraih ponsel Tania lalu pergi ketempat yang tidak terlalu berisik.


Ratu : "Baik kok Yah, ada apa? Kenapa gak langsung nelepon aku?"


Ayah : "Nomor kamu gak aktif"


Ratu : "Hehehehe, lupa ngecas"


(Jawab Ratu setelah memeriksa ponselnya)


Ayah : "Gimana penilaiannya? Peringkat satu lagi kan?"


Ratu : "Iya dong Yah, Ratu akan selalu jadi nomor satu"


Ayah : "Ayah sudah mulai mengurus semuanya, jadi kedepannya kamu gak perlu khawatir. Oh iya, soal teman kamu itu gimana? Ayah gak tahu kalau kamu bisa sekejam ini. Anak Ayah, kamu baik-baik ya disana"


Ratu : "Iya, semuanya terserah Ayah. Udah minta maaf tadi kerumah. Aku kan pernah bilang, gak akan biarin siapapun hidup tenang kalau mereka buat adikku menangis. Ayah tahu kan, Tania itu nyawa ku"


Ayah : "Iya udah, belajar yang benar. Salam buat calon mantu. Ayah sang kamu, byee"

__ADS_1


Ratu : "Ratu juga sayang Ayah"


Panggilan pun berakhir.....


Ratu menghembuskan napasnya kasar, ia tidak mengira jika semua ini melelahkan.


"Sayang, kamu disini?" Sapa seseorang mendekati Ratu.


"Hai Bilal, sendirian aja kamu?" Jawab Ratu seraya menatap disekitar.


Bilal memang datang kesana seorang diri, karena ia sedang membeli parfum. Sebenarnya Bilal berkali-kali mencoba menghubungi Ratu untuk mengajaknya, tetapi ponsel Ratu mati, jadi ia tak bisa menghubunginya.


"Maaf ya, lupa ngecas" ucap Ratu manja. Hati Ratu memang melemah dihadapan Bilal, sifat manjanya terkadang muncul begitu saja.


"Kebiasaan buruk, gemes deh" balas Bilal seraya mencubit pipi kekasihnya.


Ratu mengajak Bilal untuk masuk, memberitahu Bilal jika dirinya sedang makan-makan bersama Tania dan teman-temannya. Bilal yang sudah lama tak pernah bertemu dengan Tania, ia tertarik untuk gabung bersama mereka.


"Loh, Kak Bilal disini?" Seru Tania ketika melihat kehadiran Bilal.


"Halo Tania cantik, emangnya Kak Bilal gak boleh nih gabung sama kalian? Kan aku pacar Kakak kamu" balas Bilal dengan senyuman.


Tania menatap Ratu yang sedang menatap Bilal dengan tawa kecilnya. Padahal Tania sudah bilang ia tidak ingin Kakaknya kembali bersama Bilal, tapi mengapa Ratu melakukan hal ini. Sesuatu yang tak disukai oleh Tania.


"Wah, pacarnya Kak Ratu ganteng ya"


"Iya, gagah, aku jadi malu"


"Dia kan bukan pacar kamu"


"Habisnya ganteng, bikin seneng lihatnya"


"Hoeekk, sok imut"


"Kalau gak ganteng, Kak Ratu mana mau" ujar Ratu lalu duduk di mejanya. Meninggalkan para bocil itu tertawa karena perkataannya.


"Yaelah, nih bocah-bocah lagi" celetuk Bilal. Ia malas melihat Neil dan kawan-kawan selalu ada disekitar kekasihnya.


Ratu duduk diantara Neil dan Bilal, kini Neil bisa melihat jelas keduanya dari dekat. Sakit tapi tak berdarah. Mau marah tapi bukan siapa-siapa.

__ADS_1


__ADS_2