
"Neil, kamu pulang diantar mereka ya. Aku ada urusan"
"Oke, kalau ada apa-apa kabarin aku ya"
"Iya sayang, daah"
Setelah berpisah dengan Neil, Ratu menaiki motor Gio. Pemuda itu mengantarkan Ratu pulang kerumah. Sebelum itu, Ratu menyempatkan diri untuk merokok sebelum bertemu dengan Bundanya. Hari ini, Ratu akan mengatakan semuanya.
Sampai didepan rumah, Bunda dan Ayah Ratu tengah duduk diruang tamu. Mereka berdiri begitu menatap Ratu masuk kedalam rumah.
Gadis itu membeber beberapa foto didepan Bundanya, foto saat ia minum, merokok dan nongkrong di club dengan temannya.
"Apa ini?" Tanya Bunda terkejut.
"Aku sudah melewati batas itu Bunda. Marahlah padaku, aku tahu alasan apapun itu tidak akan bisa diterima"
"RATU" sela Ayah.
"Bunda harus tahu Yah, aku memberikan Bunda alasan agar bisa menamparku berkali-kali"
Bunda mencengkram tangan Ratu dengan kasar. Beliau kembali menitihkan air mata setelah melihat mata anaknya yang jujur itu. Tak ada ketakutan disana, ini adalah kejujuran dan kebenaran. Bunda terduduk dan kembali menangis sesenggukan.
Ayah mencoba menenangkan istrinya, beliau memarahi Ratu. Bahkan tangan Ayah kini sudah memiliki jejak di pipi Ratu.
"Aku capek Yah, hidup dalam bayang-bayang atas kematian Daniel. Aku merasa bersalah, ini adalah beban, yang tak bisa membuatku hidup tenang"
"Kamu tahu itu hanya alasan?" Sela Bunda.
"Aku tahu Bund, lebih baik aku pergi dari dunia ini. Aku merasa sesak karena mencoba mencari kebenarannya"
Ratu berbalik dan hendak melangkah pergi, tapi Bunda menghentikannya. Beliau menarik tangan putrinya dan memeluk Ratu. Bunda tahu putrinya terluka, tapi cara Ratu tetaplah salah. Beliau menatap suaminya, meminta Ayah Ratu agar melakukan sesuatu. Bunda tak ingin kehilangan Ratu, senakal apapun putrinya itu.
"Yah, bantu Ratu untuk menemukan jawabannya. Bunda tidak mau kehilangan dia"
"Tidak Bund, biarkan saja"
Bunda masih tak membiarkan Ratu pergi dalam dekapannya. Beliau terus memohon pada Ayah agar mau membantu Ratu.
"Ayah tidak akan membantu Bunda. Karena Ayah tahu sebagian alasan dibalik kematian Daniel adalah kesalahan nya"
"Apa maksud kamu?"
"Bunda aku akan pergi, dan akan kembali setelah Ayah mau memberikan semua informasi mengenai Daniel padaku"
Ratu melepaskan pelukan Bunda dari tubuhnya. Ia berdiri dan kembali melangkahkan kakinya. Ratu tahu, Bunda tidak akan membiarkannya pergi begitu saja. Gadis nakal itu membuat Bundanya memohon pada sang Ayah sambil sesenggukan.
__ADS_1
"Satu, dua, ti..." gumam Ratu.
"Ratu" panggil Ayah.
Gadis itu menghentikan langkahnya, lalu berbalik menatap sang Ayah.
"Beri Ayah waktu untuk memikirkannya Ratu"
"Baiklah, aku akan kembali setelah Ayah siap"
Segera Ratu melangkahkan kakinya kembali, kali ini ia benar-benar pergi keluar rumah. Ayahnya sangat sulit dibujuk, tapi ia yakin Bundanya tidak akan membiarkan dirinya berada diluar terlalu lama.
Ratu mengambil kunci motor dan juga barang-barangnya yang sudah disiapkan oleh Melvin. Ia melajukan motornya pergi menuju BS. Bertemu dengan temannya disana.
"Bela, Geya, sorry nunggu lama ya"
"Sialan loe, ini udah sejam lebih tau gak" sentak Bela kesal.
"Semalem gue sama Neil habis gituan, hehe"
"Apa?" Ucap keduanya bersamaan.
Emosi Bela tiba-tiba mereda, ia kini malah menghujani Ratu dengan berbagai pertanyaan. Amarahnya tak berlaku kala hal menarik yang terjadi diantara Neil dan juga sahabatnya itu sudah melewati batasan.
Ratu menceritakan pada kedua temannya, semua tanpa terkecuali, bahkan saat dimana Neil begitu kasar menyentuhnya. Hal itu justru membuat Bela dan Geya tertawa terbahak-bahak.
"Malam pertama loe berkesan anjir, suruh si Neil nongkrong bareng cowok kita lah, biar tahu caranya. Hahaha" imbuh Bela.
Ratu menyalakan rokoknya, ia menatap Geya dan Bela yang masih sibuk menertawakan kekasihnya. Ia meluangkan waktu sejenak untuk melupakan misinya, melelahkan.
Gadis itu memeriksa ponselnya beberapa kali, berharap ada pesan atau panggilan masuk dari sang Ayah. Tapi ponselnya hanya dipenuhi pesan dari Neil. Waktu untuk Neil sudah habis, kini giliran Ratu yang menikmati waktunya.
"Ratu, Hera gimana jadinya?" Tanya Bela.
"Ah sial, gue lupa. Gue cabut dulu deh, Ayah harus tau tentang ini"
"Aku akan bertanggungjawab Ratu"
"Bilal?"
Bilal berjalan mendekati Ratu, ia menarik gadis itu agar pergi ketempat yang lebih tenang dan sepi. Ratu sudah muak berhadapan dengan pria pengecut seperti Bilal. Bahkan Neil saja mau bertanggungjawab jawab padahal Ratu tidak sedang hamil.
"Itu keputusan yang bagus, cepat nikahi dia setelah kita lulus nanti"
"Dengan satu syarat, kau mau menghabiskan malam bersamaku"
__ADS_1
Plakkk.....
Bbuukkk.....
Tak cukup satu tamparan Ratu layangkan diwajah Bilal, ditambah sebuah tinjuan yang membuatnya geram. Persyaratan konyol, tentu Ratu takkan mau melakukannya, apapun alasan Bilal.
"Kalau begitu, aku tidak akan menikahi Hera"
"Terserah loe pengecut, gue gak peduli"
Bilal menahan tangan Ratu yang hendak pergi, ia mencoba menyentuh Ratu. Tapi sekali lagi gadis itu melawan dan malah memukuli Bilal disana. Untung saja Geya dan Bela datang untuk menghentikan Ratu.
"Ratu, mungkin saja itu bukan anakku"
"Picik loe Lal, buktinya sudah ada"
"Itu rekayasa"
"Gue ada disana Lal, saat Hera melakukan tes itu"
Pemuda itu kembali terdiam sejenak, ia tak memiliki jawaban lagi atas apa yang Ratu katakan. Geya menarik Ratu untuk pergi, sedangkan Bela meminta Bilal untuk pergi juga. Pertemuan mereka hanya akan menimbulkan masalah baru, jadi lebih baik keduanya saling menjauh untuk sesaat.
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
Setelah pertengkaran singkat dengan Bilal, Ratu tengah duduk seorang diri didalam kamar hotelnya. Kamar itu sudah sangat berantakan, bahkan kaleng minuman sudah berserakan dimana-mana. Beginilah cara Ratu melampiaskan amarahnya, pada minuman yang nyatanya hanya akan merusak dirinya.
Drrrtttt.....
Ayah Calling.
Ratu : "Aku capek Yah, terserah Ayah. Aku mau pergi ketempat yang tenang"
Ayah : "Ratu, hei, jangan gila kamu ya, dengarkan Ayah"
Terdengar suara Bunda yang khawatir diseberang sana. Ratu sudah lelah dengan semuanya. Bayangan Daniel, dan kini sahabatnya Hera. Ratu membenci hidupnya.
Ayah : "Ratu, nak, sayang, dengarkan Ayah hei"
Ratu : "Ayah, aku benci hidupku. Suruh Bilal bertanggungjawab, dia telah menghamili Hera. Dan minta dia untuk tidak menggangguku"
Ayah : "Apa? Bilal menghamili Hera? Kamu serius?"
Ratu : "Aku capek Yah, kita sambung nanti ya"
Ratu menutup teleponnya sepihak, didepannya sudah ada sebuah pisau yang tajam. Pikiran Ratu kembali kalut dalam masalalu. Bayangan tentang dirinya yang mencoba mengakhiri hidupnya sendiri kembali terbesit.
__ADS_1
"Ah sial" umpat Ratu menghentikan aksinya. Darah sudah mengalir ditangannya, tapi bayangan Neil tiba-tiba saja muncul.
"Ratu bodoh, apa yang akan terjadi pada Neil jika gue pergi? Aaaahhh, tidak ini...ini..."