
Neil mendengar apa yang dikatakan oleh Ratu. Karena itu ia mencegah Ratu untuk pergi. Gadis itu menatap Neil dengan penuh tanda tanya.
"Kak Ratu mau move on kan? Jangan pergi" ujar Neil.
"Tapi hatiku masih menginginkan dia" jawab Ratu lirih.
Neil membantu Ratu untuk turun dari motornya. Mengatakan jika ia akan mengantar Ratu pulang, setelah itu pergi kerumah Neil dan mereka jalan bersama. Ratu tidak keberatan dengan rencana tersebut.
"Faiq, gak usah naik taksi, nih pakai mobil gue" teriak Ratu seraya melempar kuncinya pada Faiq.
"Loe gimana? Gue kan mau les" balas Faiq.
"Dianterin Neil" sahut Ratu singkat.
Faiq menatap mereka berdua dengan curiga. Sembari membentuk hati dengan tangannya. Hampir saja Ratu melempar sepatunya karena sikap konyol Faiq mengundang perhatian.
"Neil, kan aku pakai rok, kalau naik motor kamu, hm..." gumam Ratu lirih.
Neil mengambil jaketnya dari dalam tas. Mengikatkan jaket itu pada pinggang Ratu. Gadis itu merasa tersipu, senyuman lebar tak pernah pergi dari wajahnya. Hal manis yang dilakukan Neil sukses membuat wanita manapun iri kepada Ratu. "Aaaahh, so sweet" ucap Ratu kegirangan.
Ratu bertingkah seperti anak kecil, seolah ia baru saja diberi permen. Imej kejamnya seketika menghilang begitu saja, bahkan Faiq yang hendak pergi pun mengurungkan niat. Setelah melihat Ratu yang lain dihadapannya. Tak lupa Bela dan Geya mengambil video romantis Ratu lalu mempostingnya di sosmed mereka.
"Kok kamu bawa helm dua? Sering boncengin cewek ya" gerutu Ratu sambil memakai helm. "Gak Kak, emang sengaja. Aku gak seberani itu buat ngajak Kak Ratu pulang bareng" jawab Neil santai. Pemuda itu menjulurkan tangannya, membantu Ratu untuk naik ke atas motor.
__ADS_1
Neil melajukan motornya meninggalkan sekolah, menuju rumah Ratu sesuai perintah. Pemuda itu tercengang memasuki perumahan besar nan mewah disana. Ratu sesekali harus memukul helm Neil karena berkendara tidak benar. Sebab terpesona dengan perumahan megah itu, Neil berkendara tidak pada jalurnya.
"Pak, bukaa" teriak Ratu sembari menyuruh Neil untuk mengklakson. Tak butuh waktu lama, gerbang tinggi itu terbuka, terlihat halaman yang begitu luas. Rumah besar yang mewah. Neil melajukan motornya memasuki istana sang Ratu.
Ratu meminta Neil untuk menunggu diruang tamu. Sedangkan ia akan bersiap-siap terlebih dahulu. Para asisten rumah tangga, menjamu Neil dengan sangat baik. Cukup lama Ratu berdandan, sudah kodratnya seorang wanita seperti itu.
Dari luar rumah terdengar suara dua orang yang sedang berbincang ria. Tania kecil yang baru saja pulang dijemput oleh Afzam. Gadis itu nampak gembira, karena sudah lama tak menghabiskan waktu bersama sang kakak. Tania begitu senang karena digendong oleh Afzam.
"Loh kakak ipar, haloo" sapa Tania. Gadis itu melambaikan tangannya dengan riang. Neil menyapa sapaan Tania dengan senyuman.
"Apa? Siapa?" Tanya Afzam terkejut. Tania meminta turun dari punggung Afzam, ia tertawa cekikikan berlari ke kamarnya. Meninggalkan Afzam yang sedang menatap Neil penuh selidik.
Neil sangat gugup karena Afzam menatapnya begitu intens. Bukan tanpa sebab, Afzam mengingat wajah itu, wajah seseorang yang ia kenal. Baru saja Afzam akan membuka mulutnya, tetapi Ratu datang menyela. "Bukan, bukan dia" ujar gadis itu.
"Jadi, ini siapa lagi?" Tanya Afzam sembari memiting leher Ratu.
Gadis itu menggerutu kesal, lalu menjatuhkan dirinya ke sofa, meletakkan kepalanya dipangkuan Neil. Ia tertawa kecil mendapati Neil yang sedang gugup. Afzam tidak semenakutkan itu, hanya saja raut wajahnya memang terlihat kejam.
"Ratu, jangan bawa anak orang pulang malam-malam ya" nasihat Afzam sebelum menghilang dari pandangan.
Nasihat itu untuk Ratu, bukan untuk Neil. Afzam memang aneh, ia lebih mempercayai pemuda itu dibandingkan dengan adiknya sendiri. Neil masih terdiam, Ratu mencubit pipinya membangunkan Neil dari lamunan. Neil terkejut dan menatap Ratu yang masih tidur dipangkuannya. Ia pun membangunkan tubuh Ratu dan mengajaknya untuk segera pergi.
Kini mereka beralih menuju rumah Neil. Mereka berpapasan dengan Mama Neil yang akan keluar rumah karena ada urusan penting.
__ADS_1
"Menantu, tumben main" sapa Mama Neil sembari memeluk Ratu. "Gimana lagi Ma, anak Mama gak berani ngajak aku kencan" bisik Ratu pada Mama Neil.
Kedua wanita itu tertawa kecil, meninggalkan Neil yang sedang menatap mereka dengan malas. Perbincangan para wanita memang menyebalkan. Walau tak tahu apa yang dibicarakan, Neil tetap merasa kesal.
"Neil, jangan nakal ya, awak kalau Ratu diapa-apain" ancam Mama Neil pada putranya.
"Kebalik kali mah" sahut Neil lalu masuk kedalam rumah.
Ratu masih diam sembari menunggu hingga Mama Neil pergi dengan taksi menjauh dari rumahnya. Sembari melambaikan tangan diiringi senyuman lebar.
Neil kembali keluar rumah, menarik Ratu untuk segera masuk kedalam. Ia membawa gadis itu menuju kamarnya. Kamar yang rapi, dan wangi. Semuanya tersusun dengan indah.
"Nakal ya kamu, ini pertama kalinya aku main kerumah kamu, dan kamu ngajak aku ke kamar" goda Ratu sambil membaringkan tubuhnya diatas kasur.
Neil nampak kelabakan mendengar pernyataan Ratu. Ia menjadi gugup dan salah tingkah. "A..apa sih Kak, aa..a..aku gak ma..mau ngapa-ngapain kok" jawab Neil gelisah. Ia berjalan mondar-mandir didepan lemari, tanpa tahu harus berbuat apa.
Ratu mengeluarkan ponselnya, memainkan game tanpa peduli Neil yang gelisah tanpa alasan. Setelah pemuda itu lelah mondar-mandir, ia memutuskan untuk pergi mandi dan bersiap-siap. Kini giliran Ratu yang menunggu Neil bersiap.
Rasa kantuk mulai menyerang Ratu, perlahan matanya mulai tertutup. Gadis itu perlahan terlelap dalam mimpinya.
"Aku juga suka Kak Ratu, tapi, aku gak bisa menerima pergaulan Kak Ratu. Aku berjanji, akan membantu kakak berubah, menjadi wanita yang baik dan lebih pengertian" gumam Neil lirih. Neil memandang wajah Ratu, terlihat seperti gadis lugu yang manis saat tertidur.
"Aku yakin, saat imej kejam Kak Ratu sudah mulai hilang, pasti bakal banyak cowok yang naksir Kakak. Dan mungkin aku harus siap jauh dari Kak Ratu" sambung Neil. Neil bangun dari duduknya, mengecup kening Ratu lalu pergi keluar kamar.
__ADS_1
Mata Ratu perlahan terbuka, memandang ke arah pintu kamar yang terbuka lebar. Ia menghembuskan napasnya kasarnya. Permintaan Neil, ia mendengar semuanya, semua tanpa terkecuali. "Jika itu maumu, kamu akan melihat aku dari sisi yang berbeda. Tetapi kamu tidak akan bisa menghilangkannya, Ratu yang kejam" gumam Ratu.
"Neil, sikapku ini, untuk melindungi semua orang yang aku sayangi. Aku tak ingin kehilangan seseorang lagi" sambung Ratu sebelum gadis itu kembali memejamkan matanya.