Because I'M Ratu

Because I'M Ratu
BIR - 23


__ADS_3

Neil, Liam dan Damar sudah berdiri didepan BS. Mereka menatap kafe megah itu, walau sudah meyakinkan diri akan baik-baik saja, tetap saja ketakutan itu datang tanpa alasan.


"Woy, kenapa berdiri disini?" Ujar Kris yang baru saja tiba bersama teman lainnya.


Ketiga pemuda itu terkejut bukan main, mereka mengelus dada mereka karena kaget. Dion selaku ketua penyelenggara sudah berdiri didepan pintu kafe bagian bawah, ia melambaikan tangan pada Neil dan kawan-kawan. Bagian bawah kafe BS memang sering dibooking untuk berkumpul, sedang bagian atas selalu terbuka untuk umum.


Neil dan kawannya memasuki kafe, berjalan menuju satu sisi yang telah ditunjuk oleh Dion. Sebab sisi lainnya adalah perkumpulan anak-anak sekolah lain. Neil saling bertegur sapa disana. "Woi, tiga serangkai, masih lengket aja kalian, pasti masih pada jomblo ya" goda salah satu teman mereka.


"Hai Neil, apa kabar mantan?" Ujar Desi seraya bergelayut manja di lengan Neil.


Sontak saja pemuda itu merasa merinding kemudian menghempaskan tangan Desi dari lengannya. Secepat kilat Neil duduk ditengah-tengah kerumunan, agar mantannya yang gila itu tak bisa menyentuh dirinya lagi.


"Dih, si Des bedes ini, pergi loe, sana sama ciwi ciwi, ini daerah cowok nih sana" usir Liam kejam. Liam mendorong wanita centil itu menjauh dari mereka.


Semua pemuda saling bertukar sapa, membicarakan sekolah baru mereka yang megah dan banyak aturan serta tugas. Neil, Liam dan Damar, hanya mereka bertiga yang sukses masuk ke sekolah elite SM. Selain mereka juga cerdas, masuk ke SM memang melewati persaingan yang sengit. Karena prestasi SM tak bisa diragukan lagi, selalu memiliki murid unggulan.


"Keren kalian bisa sekolah disana, gue dengar kan banyak geng, kalian gak tindas kan?" Tanya salah seorang teman mereka.


"Iya, wah gila, parah penindasan disana. Untung aja nih si Neil, kita diselamatkan oleh dia" goda Liam sembari mengedipkan matanya pada Neil.


Neil yang tersipu malu, segera mengganti topik perbincangan mereka. Kembali membahas hal lain dan masalalu mereka. Kenakalan, kekocakan, kekonyolan mereka saat SMP. Tidak bisa mereka lakukan lagi di SMA karena peraturan yang ketat dan senioritas yang tinggi.

__ADS_1


"Kalian lihat gerombolan yang disana, salah satunya itu Kakak kelas gue, yang paling ditakutin disekolah" bisik Dion sembari menunjuk bagian lain kafe.


"Iya, kakak kelas gue juga tuh"


"Oh iya, ada kakak kelas gue juga"


"Lah, pada ngumpul disana semua ya? Ngeri bet ini mah"


"Berarti ada Kakak kelas kalian juga dong? Anak SM"


Neil, Damar dan Liam mengangguk, mereka melihat Daren serta gengnya. Juga mereka mendapati beberapa anggota SS disana. Gerombolan para senior itu begitu riuh, hingga perbincangan mereka terdengar sampai di reunian sekolah Neil.


Neil sedang asik berpesta melepas rindu dengan kawannya hingga segerombolan reman SMP nya yang lain datang menghampiri. "Loe berani ya, nyakitin cewek gue" ujar pria bernama Ario. Ario adalah pacar Desi, mantannya Neil. Neil tidak tahu dan bahkan tidak peduli apapun yang dilakukan oleh Desi. Ario memang selalu saja mencari alasan untuk memulai pertengkaran dengan Neil.


Bbuukkk...


Satu tinju melayang sukses mengenai wajah Neil. Entah apa yang Desi katakan hingga membuat Ario gegabah mengambil keputusan. Semua yang disana adalah saksi jika Neil tak melakukan apapun disana. Sekali lagi Ario hendak melayangkan tinjunya, tetapi tertahan oleh tangan seseorang.


Orang itu memelintir tangan Ario, memutar tubuh pemuda itu hingga membuatnya berlutut kesakitan. "Sekali lagi gue lihat loe nyentuh dia, gue patahin tangan loe" ancamnya dingin. Semua orang yang berada disana tertegun bukan main, mereka juga merasakan hawa dingin yang menyeruak hingga menusuk tulang.


"Kak Ratu" panggil Neil lirih. Liam dan Damar segera membantu Neil berdiri dan sedikit menjauh dari TKP.

__ADS_1


Ario masih terus mengoceh, ia mulai mengancam Ratu dengan berbagai alasan. "Lepasin, atau gue bakal serang sekolah loe bangs*t" teriak Ario dengan amarah. Ratu memberikan kode untuk menyuruh semua orang kembali ketempat duduk mereka. Barulah setelah itu dirinya melepaskan tangan Ario.


"Hei, cewek murahan, jangan loe pikir bisa lari dari ini ya. Lihat aja, gue akan buat pembalasan ke sekolah loe" teriak Ario yang masih terselimuti amarah.


Ratu hanya diam menatap Ario, membiarkan pemuda itu terus mengoceh, memaki, serta mengancam dirinya. Hingga tak ada lagi kata yang bisa pemuda itu keluarkan. "Sekolah loe? SMA mana?" Tanya Ratu singkat.


Pemuda itu tersenyum miring, kembali merendahkan Ratu yang mulai merasa takut dengan ancamannya. Suasana di kafe masih cukup tegang. "SMA Pelita, kenapa? Takut loe? Gue punya koneksi dengan para Kakak kelas disana, geng paling ditakuti. Terlambat, mending loe dan sekolah loe bersiap-siap" oceh Ario yang tak kunjung henti. Teman-teman se-geng Ario juga tertawa meremehkan Ratu.


Gadis itu tertawa kecil lalu duduk diatas salah satu meja. Sembari menyilangkan tangannya didepan dada, ia berteriak, "SMA Pelita, maju"


Hanya dalam hitungan detik sepuluh siswa berjejer dihadapan di Ratu. Mata Ario dan teman-temannya terbelalak bukan main. Menatap para senior disekolah mereka, senior yang paling berpengaruh disana. "Ko..kokk Ka..ka..kak semua ada disini?" Tanya Ario mulai gugup.


"Jadi kalian mau nyerang sekolah gue?" Ujar Ratu sembari menatap satu persatu pemuda didepannya. "Enggak, jangan dengerin nih bocah, emang gak tau apa-apa dia. Bocah sialan kalian" ucap salah seorang perwakilan. Setelah puas mendengar kalimat itu, Ratu menyuruh sepuluh pemuda tersebut untuk kembali ketempat mereka.


Kembali Ratu berdiri dan menatap Ario yang kini tertunduk dihadapannya. "Loe gak tau siapa gue? R A T U ... Ratu" ujar Ratu. Ario dan teman-temannya menjadi lebih gugup dan tegang dari sebelumnya. Rasa takut mereka sudah mulai menjalar ke seluruh tubuh. Hingga detak jantung mereka berdetak sangat kencang.


"Kak, aku gak apa-apa, sudah lupain aja" pinta Neil menyela pembicaraan. Ratu menatap Neil, ada darah diujung bibirnya. Hal itu membuat Ratu semakin marah dan ingin menghajar Ario dan kawannya. Tetapi Neil menahannya, pemuda itu tak ingin ada keributan.


Ratu berteriak meminta P3K pada waiters. Ia membiarkan Ario dan memilih mengobati luka Neil. Sembari tangannya sibuk, bibir Ratu juga tanpa hentinya mengoceh, memarahi Neil karena diam saja. Pemuda itu tak seharusnya diam dan menerima perlakuan kasar tanpa alasan. Jika tak ingin berkelahi, Neil setidaknya harus bisa menangkis pukulan agar dirinya tak terluka.


"Sakit kan? Makanya jangan diem aja, lain kali pukul balik, atau tangkis pukulannya. Kan kalau gini kamu yang rugi" omel Ratu dengan amarahnya.

__ADS_1


"Aku gak apa-apa Kak, kok Kak Ratu jadi marah-marah?" Tanya Neil heran.


"Gimana aku gak marah, aku khawatir sama kamu. Mana bisa aku diem aja lihat orang yang aku suka terluka" sahut Ratu.


__ADS_2