
"Iya nak ada, beliau adalah salah satu donatur tetap disini. Nak Ratu mengenalnya?" Ujar Ibu Tuti.
"Kak Afzam kan Kakak Tania, Bu" sahut Tania.
Ratu terdiam sejenak, sebelum memutuskan untuk pergi keluar dan menelepon Afzam. Ia tidak mengerti, Afzam tau semuanya, dan mengapa ia menyuruh Ratu melihat sekitar.
Afzam : "Kakak tau kamu mau ngomong apa. Kamu gak kasihan melihat mereka semua, kehilangan pekerjaan mereka"
Ratu : "Kakak mau aku berbuat apa?"
Afzam : "Nanti Kakak jelasin, biar kamu sama teman-teman kamu paham. Udah dulu ya, Kakak banyak kerjaan. Bye, love you"
Ratu : "Love you too"
Ratu menutup teleponnya, ia berusaha untuk meredam rasa penasaran tersebut. Sembari menatap Neil yang sedang membantu Kris menyapu halaman. Gadis itu kembali menyalakan kameranya, memotret Neil yang sedang berbincang dengan senyuman indah diwajah.
"Foto aja terus Kak, sampai bosen" celetuk Liam dari belakang Ratu. "Sialan loe, kalau bosen ya ngilang aja, nanti juga kangen" canda Ratu.
Liam menatap Ratu yang sibuk dengan kameranya. Ada rasa penasaran yang besar dalam diri Liam, alasan Ratu menyukai Neil. Tetapi bibir Liam tak mampu berkutik didepan gadis ini. Ia hanya bisa menatap Ratu dan berharap jika gadis dihadapannya ini peka dengan apa yang ia rasakan.
Neil yang tak sengaja mengedarkan pandangannya, menatap Liam yang sedang memandangi Ratu. Hati Neil kembali berkecamuk, perasaan curiga mulai tumbuh disana. Pikirannya mulai berkelana, hal terburuk yang terlintas. Dari mereka bertiga, Liam lah yang paling sering membicarakan Ratu.
Ratu ini dan itu, seakan tak ada habisnya untuk Liam bahas. Entah itu sebuah kekaguman semata atau memang ada rasa suka. Yang jelas hal itu sukses membuat Neil terluka.
Kris menepuk pundak Neil, menyadarkan Neil dari lamunannya. Pemuda itu memberitahu Neil jika teman-temannya akan pulang. Karena hari sudah menjelang sore, mereka sudah cukup lama berada dirumah singgah.
__ADS_1
Ratu memimpin semua rombongannya berpamitan pada Ibu Tuti. Tak lupa ia memberikan bantuan yang sudah ia siapkan sebelumnya.
"Mohon diterima Bu, ini tidak banyak" ucap Ratu sopan sembari memberi amplop coklat cukup tebal. "Terimakasih banyak nak, kalian sangat baik. Ini sangat membantu kami, terimakasih" ujar Bu Tuti terharu. Beliau senang dan bangga melihat anak muda yang memiliki kepedulian begitu tinggi untuk sesama.
Tania dan teman-temannya bergantian mengecup tangan Ibu Tuti sambil berterimakasih. Atas pelajaran dan waktu yang telah mereka ajarkan. Sangat sedih rasanya karena mereka harus berpisah.
Ratu tak langsung membawa anak-anak pulang, ia mengajak mereka untuk makan terlebih dahulu. Neil dan kawannya tentu saja ikut bersama mereka. Mereka masuk disalah satu restoran, dan duduk bersama di satu meja besar. Ratu membebaskan mereka memesan apapun yang diinginkan.
"Waah, Kak Ratu, udah cantik, baik lagi. Jadi suka" celetuk Leo ditengah acara makan mereka.
"Leo, kamu gak boleh suka sama Kakak aku. No no" sahut Tania kesal.
"Kenapa gak boleh? Kan dia calon kakak ipar ku" balas Leo.
Perkataan Leo membuat pikiran mereka menjadi sedikit terganggu. Terutama Liam dan Neil yang seketika menjadi canggung. Padahal kalimat itu hanya ceplosan anak kecil yang tak berarti. Damar memperhatikan sikap kedua sahabatnya, sejak kapan mereka terasa sangat jauh. Pandangannya pun beralih pada Ratu yang masih tertawa mendengar ucapan Leo.
Damar mencoba menendang kaki Ratu yang duduk dihadapannya. Mencoba memberitahu gadis itu jika yang terjadi bukan hanya sekedar lelucon untuk kedua temannya. Ratu menatap kakinya, lalu memandang Damar meminta penjelasan. Hanya dengan satu lirikan dari Damar, Ratu bisa mengerti ada jarak diantara Liam dan Neil.
"Leo, jadi kau menyukai adikku ini ya? Hei, susah mendapatkan hatinya, tetapi lebih susah meminta restuku" goda Ratu.
Tania memukul lengan kakaknya, ia menutupi wajahnya yang memerah. Begitu juga dengan Leo yang tersenyum malu-malu. "Iya nih Kak, aku sudah dua kali ditolak" gerutu Leo kesal.
"Wah, kita senasib Leo" balas Ratu. Gadis itu tertawa terbahak-bahak sembari mendekap adiknya yang masih tersipu malu.
Ratu melirik Neil dan Liam yang canggung, walau mereka sudah mengerti maksud perkataan Leo. Gadis itu pun menatap Damar yang malah asik makan dan tertawa. Pemuda itu tak pengertian, ia yang meminta bantuan tapi dirinya yang melepas semua begitu saja.
__ADS_1
Setelah selesai makan, Ratu mengantar semua anak kecuali Leo. Leo sudah pulang terlebih dahulu bersama Kakaknya. Dalam perjalanan pulang, Tania kecil tersenyum malu memandangi jalanan yang ramai. Sembari sesekali menutup wajahnya tanpa alasan. Ratu hanya melirik sekolah setiap hal yang dilakukan oleh adiknya.
Perasaan yang sama, Ratu pernah merasakan apa yang Tania rasakan saat ini. Cinta monyet, menyukai setiap hal yang dilakukan oleh seseorang. Wajahnya selalu terbayang tanpa alasan. Menciptakan ukiran senyuman, menyenangkan tetapi kadang menyakitkan. Ratu berharap, adik kecilnya bisa menjadi wanita yang kuat dan bijaksana.
Dibandingkan dengan Ratu, Tania memiliki kualifikasi terbaik untuk menjadi seseorang yang layak dikagumi. Diusia muda yang begitu gemar membantu banyak orang. Ratu melihat diri Afzam pada Tania.
"Untung saja dia seperti Kak Afzam, dan kenapa gue harus niru Kak Melvin. Hm.. " gumam Ratu seorang diri.
Mobil Ratu memasuki pekarangan rumah. Ratu merasa dirinya sangat lelah, berbeda dengan Tania yang sudah berlarian masuk kedalam rumah. Dengan malas Ratu melangkahkan kakinya, membuang tubuhnya diatas sofa ruang tamu. Ia pejamkan mata lelahnya, sambil memijat kepalanya yang pusing. Benturan dikepalanya masih terasa, ia harus berbohong kepada Tania untuk menyembunyikan luka goresan itu.
"Spedaaa" teriak David memasuki rumah Ratu. Pemuda itu berjalan santai, dan langsung merebahkan dirinya diatas sofa. Sembari menatap Ratu yang tertidur lelap.
Tak lama setelah kedatangan David, satu persatu anggota SS mulai berkumpul. Dan peserta terakhir dari rapat tersebut juga sudah datang. "Halo Kak Afzam" sapa Ezra. Afzam mengangguk dan menyapa semua adiknya.
Matanya beralih menatap Ratu yang masih terlelap dalam mimpi. Para pemuda itu membiarkan Ratu tertidur. "Kok gak dibangunin?" Tanya Afzam sembari menunjuk Ratu dengan dagunya.
"Males ah, takut ditampar, sakit" jawab David dengan entengnya. Mereka semua setuju dengan apa yang David katakan.
"Halo Taniaa" sapa anggota SS yang melihat Tania turun dari kamarnya. Tania melambaikan tangannya dengan senyum lebar. Gadis kecil itu berjalan menghampiri Ratu yang masih tertidur pulas. Hanya Tania yang berani membangunkan Ratu dalam mimpinya. Dipukulnya pipi Ratu perlahan, sembari memanggil nama kakaknya.
Ratu masih enggan bangun, tetapi suara adiknya membuatnya membuka mata. "Adaa apa? Kamu mau makan? Atau mau kakak antar? Ada tugas?" Ratu menanyakan rentetan pertanyaan dengan nada khas seseorang yang baru saja bangun dari tidurnya.
"Bangun Kak, yang lain udah nungguin nih. Kak Afzam juga sudah datang" kata Tania sambil menarik tangan Ratu untuk bangun.
Ratu terpaksa bangun, walau kantuk masih menyerangnya. Setelah memastikan kakaknya sudah sadar, gadis kecil itupun kembali ke kamarnya setelah membawa beberapa camilan dari dapur.
__ADS_1