
Hari ini adalah hari pertama penilaian. Selama seminggu ke depan para murid SM akan sibuk belajar. Kemanapun mereka pergi, buku tak pernah mereka tinggal. Seperti yang sudah beredar, SM sangat terkenal akan persaingan nilai yang ketat. Walau memiliki banyak geng dan berbagai macam masalah seperti halnya sekolah lain. SM tak pernah mengecewakan, setiap tahun selalu ada lulusan terbaik di SM. Membuat para orang tua ingin menyekolahkan anak mereka disana.
Selain sistem belajar yang ketat, penilaian semester di SM juga memicu semangat belajar para siswa. Sebab nama mereka terpampang nyata dihadapan umum. Siapapun dapat melihat peringkat mereka. Salah satu alasan untuk memicu timbulnya semangat belajar.
"Kak Ratu" panggil Neil menghadang langkah Ratu.
"Apa?" Tanya Ratu cuek.
"Kenapa menghindar?" Balas Neil.
"Aku sibuk" jawab Ratu singkat lalu pergi melewati Neil.
Neil tidak tinggal diam, ia terus mengikuti kemana Ratu pergi.
Sejak perkelahian antara Neil dan Bilal, Ratu tidak lagi mendekati keduanya. Ia berusaha menghindari mereka berdua, bahkan pesan dan panggilan masuk dari Neil tak pernah Ratu gubris. Ia hanya sedang ingin fokus belajar untuk penilaian.
"Pergi ke kelasmu, jangan mengikuti aku. Datanglah padaku jika kau berada diperingkat pertama, kau mengerti" bentak Ratu.
Neil memandangi Ratu, ah, raut wajah menggemaskan itu hampir membuat Ratu luluh. Sebelum ia melemah, Ratu pergi meninggalkan Neil yang masih terpaku.
Para murid sudah duduk dengan tertib. Mereka masih bergulat dengan buku sebelum penilaian dimulai.
Tting Tting Ttoong...
Bahkan bel masuk mampu membuat jantung mereka berdegup kencang. Guru mulai memasuki kelas, membagikan setiap soal beserta lembar jawaban.
30 menit berlalu...
Ratu memberikan hasil ujiannya pada guru. Seperti dugaan, sang Ratu tak pernah mengecewakan. Setelah selesai ujian, Ratu meminta ijin untuk keluar kelas. Ia kembali mengitari sekolah, memastikan jika tidak ada yang berulah.
Setiap lantai ia putari, setiap kelas ia singgahi. Hanya sekedar melihat memastikan tak ada satu muridpun yang tak mengikuti penilaian.
"Ratu Bulan Batara" panggil seseorang menghentikan langkah Ratu.
"Apa kau mengenalku? Tidak perlu berbalik, cukup dengarkan apa yang akan aku katakan. Malam ini, jam sembilan, di depan Pakuwon pohon ketiga setelah pintu masuk" ujarnya seseorang itu.
__ADS_1
Ratu membalikkan badannya, namun ia tak menemukan siapapun disana. Gadis itu mencari disekitar, disetiap selah sempit yang memungkinkan untuk bersembunyi. Nihil, seseorang itu menghilang bagai angin.
"Undangan yang indah" gumam Ratu. Ia pun kembali berkeliling memeriksa kelas-kelas.
Hingga kini waktunya memeriksa setiap kelas anak kelas 1. Ratu menjulurkan kepalanya, menyapa setiap guru yang ada. Mereka semua masih tertib mengerjakan ujian.
"Ratu, kau sudah selesai dengan ujianmu?" Tanya Pak Cipto ketika Ratu berada dikelasnya.
Gadis itu mengangguk pasti, ia mengatakan jika semua soalnya sangat mudah, dan ia merasa bosan karenanya.
"Seperti yang diharapkan dari sang Ratu Sekolah" puji Pak Cipto. Beliau tak menatap Ratu, matanya masih fokus memandangi anak didiknya yang masih mengerjakan ujian.
Drrrtttt.... Drrrttt ..
Ponsel Ratu bergetar, ada panggilan masuk dari sekolah Tania. Ratu menjauh keluar kelas untuk mengangkatnya.
Ratu : "Selamat siang"
Guru Tania : "Selamat siang, kami dari sekolah Tania. Tania sedang sakit, sekarang dia ada diruang UKS. Kami sudah coba menghubungi Kakaknya yang lain namun tidak tersambung. Apakah anda bisa datang ke sekolah?"
Panggilan itu berakhir. Ratu berpamitan pada Pak Cipto kemudian lari ke kelasnya. Ia juga berpamitan pada guru dikelasnya sebelum pergi. Karena tak ada agenda lain selain ujian, Ratu pun diijinkan pergi.
Gadis itu melajukan mobilnya menuju sekolah Tania. Sesampainya disana, Pak Satpam mengantarkan Ratu menuju ruang UKS.
Tania sedang duduk diatas ranjang sambil sesenggukan. Ratu menghampiri adiknya, mengelus kepala Tania perlahan. Gadis kecil itu mendongak, memeluk Ratu dengan sangat erat.
"Anda Kakaknya Tania? Masih sekolah?" Tanya penjaga UKS. Beliau heran karena melihat Ratu yang mengenakan seragam sekolah.
"Iya saya Kakaknya. Sekolah saya sedang ada ujian, karena itu pulangnya cepat" jelas Ratu. Penjaga itu mengangguk memahami alasan yang Ratu utarakan.
Penjaga UKS meminta waktu sebentar untuk berbicara berdua bersama Ratu. Mereka menjauh dari Tania yang masih menangis.
"Begini, Tania, ini adalah hari pertamanya haid. Dia terkejut karena ada bekas darah di roknya, karena itu ia menangis" jelas Penjaga UKS.
Ratu terkejut sekaligus tertawa mendengarnya. Ia kembali mengingat perkataan Afzam, Tania memang masih kecil dan belum mengerti apapun. Karena itulah Ratu harus mengajarinya segala hal. Sebab ia adalah satu-satunya Kakak perempuan Tania.
__ADS_1
"Sayang, tidak apa-apa. Ayo kita pulang" hibur Ratu pada Tania. Gadis kecil itu mengangguk. Ratu akhirnya membawa Tania pulang setelah mendapatkan ijin dari penjaga UKS.
Ratu menggendong Tania dipunggungnya, membiarkan Tania membasahi seragamnya karena air mata.
"Mau langsung pulang, atau kita belanja? Makan? Atau pergi ke Timezone?" Rentetan pertanyaan Ratu saat mereka sudah melaju pergi dari sekolah.
"Tania, itu tandanya kamu sudah besar sayang. Kakak kan juga gitu, karena Tania sudah besar, kita bisa shopping beli baju habisin uang Kak Afzam" hibur Ratu lagi. Tania masih diam dan terus menangis. Ia masih tak bisa memahami situasinya.
"Aku mau pulang, aku gak mau lama-lama semobil sama Kakak" ucap Tania ketus.
Ratu mengerti, adiknya masih marah dengannya. Ia belum bisa menjelaskan semuanya pada Tania. Tidak bisa sebelum ia membalas semua perlakuan Hera.
Ratu memasuki pekarangan rumah mewahnya. Membiarkan Tania berlari masuk kedalam rumah tanpa memandang dirinya sedikitpun. Ia pun menyusul masuk kedalam rumah dengan jalan santai. Ratu kembali teringat pesan yang ia dapatkan dari seseorang saat disekolah.
"Apa ini jebakan? Tapi, aku merasa jika ini bukan jebakan. Siapa pria itu? Aku yakin dia seorang pria" gumam Ratu.
Fokusnya kini terbagi, materi pelajaran terasa sangat membosankan untuk ia pelajari. Menunggu waktunya tiba membuat Ratu merasa hampir mati. Berbagai kegiatan ia lakukan untuk mengalihkan perhatian. Mulai dari jogging keliling kompleks, bermain basket dilapangan kompleks. Ia sudah bosan dengan kegiatannya. Hingga jam menunjukkan pukul setengah sembilan, Ratu langsung melajukan motornya.
Motor semakin ia pelankan seiring dengan mendekatnya jarak antara Ratu dan tempat yang disebutkan.
"Ramai.." lirih Ratu.
Beberapa orang terlihat disana, penjual kaki lima dan para pembeli. Ini memudahkan Ratu untuk lebih dekat. Ia memarkirkan motornya bersama motor lainnya. Berjalan mendekat menyusuri tepi jalanan yang ramai dengan khalayak umum.
Pandangan ia edarkan mencari pohon ketiga. Begitu banyak orang, Ratu sangat yakin ada sesuatu disini. Ia buka telinganya lebar-lebar, mencoba mendengar setiap kalimat yang terlontar dari bibir setiap orang.
Samar, sesuatu mulai terdengar samar. Suara pengirim pesan.
"Aku sudah mengikuti Ratu sesuai perintah, ini orang yang dekat dengannya. Aku akan memberi saran untuk tidak mengusik Neil, karena dia akan marah" ujar pria itu.
Tak yakin dengan apa yang ia dengar, Ratu mencoba lebih mendekat. Ia yakin tak akan ada yang mengenali dirinya, dengan topi dan juga masker yang ia kenakan.
"Bos menyuruh kita untuk tidak menyakiti siapapun sebelum beliau memerintahkan. Jadi tetap waspada, jangan sampai mereka tahu dan akhirnya harus ada pertumpahan darah" ucap pria lainnya.
Ratu mencoba mengenali suara mereka. Tetapi mereka hanya berbincang singkat lalu berpencar. Ratu memilih mengikuti suara pria yang tak ia kenali sebelumnya. Karena pria itu yang menyebutkan kata bos, Ratu yakin kedudukannya lebih tinggi.
__ADS_1
"Sial, mobil itu" gumam Ratu tertegun melihat mobil dan plat nomor yang menabraknya.