Because I'M Ratu

Because I'M Ratu
BIR - 11


__ADS_3

"Kenapa? Tania terluka? Coba Kakak lihat" ujar Ratu seraya membolak-balik badan adiknya. Ia juga melakukan hal yang sama pada teman-teman Tania, barangkali salah satu dari mereka terluka.


"Bukan kita tapi Kakak" bentak Tania. Ratu menatap adiknya bingung. "Ini, ini, ini dan ini. Banyak kan lukanya. Kakak ini bodoh ya, Tania bisa minta hp gini lagi ke Bunda. Tapi kalau Kakak kenapa-kenapa, aku harus bilang apa ke Bunda? Bilang kalau Kakak terluka karena Tania? Atau karena kebodohan Kakak?" sambung Tania dengan tangisnya.


Ratu memeluk adiknya dan tersenyum. Ia menepuk pelan punggung adiknya, sembari berusaha menenangkan emosi sang adik. Gadis itu merasa senang, rupanya sang adik masih begitu menyayanginya. Bahkan hal kecil seperti ini saja membuat sang adik khawatir padanya.


"Tania, tidak ada yang bisa menyakiti Kakak. Jadi jangan buang waktu kamu buat khawatirin Kakak" ucap Ratu. Ia mencium kening adiknya, menyeka setiap bulir air mata yang keluar dipipi sang adik. "Emangnya Kakak punya seribu nyawa?" Tanya Tania kesal. Dengan santai Ratu mengiyakan hal tersebut, membuat Tania semakin kesal dengan Kakaknya.


"Sini Tante obatin" ujar Mama Neil yang sudah siap dengan kotak obatnya. Ratu duduk didepan teras rumah Neil, sembari memperhatikan Mama Neil yang sedang mengobatinya. Anak-anak juga ikut menatap luka-luka Ratu, mereka merasakan sakitnya. Berteriak setiap kali luka Ratu diobati. Berbeda dengan Ratu yang hanya tertawa melihat reaksi sang adik yang khawatir.


"Gak sakit Kak?" Tanya Liam sembari mengernyitkan dahinya.


"Kok gue yang ngilu sih Kak" timpal Damar.


"Biasa aja, gak keras apa-apa. Kalian aja yang berlebihan, wleee" ejek Ratu seraya menjulurkan lidahnya. Liam dan Damar saling berpandangan lalu menghardikkan bahu mereka.


Mama Neil berteriak meminta putranya mengambilkan minum untuk Ratu. Dengan ragu pemuda itu keluar dengan setelan baju yang berbeda dari sebelumnya. Ratu yang tak sengaja menatapnya kembali tertawa mengingat kejadian tadi. Begitu juga dengan Liam yang tak mampu menahan tawanya. Hanya mereka berdua dan Neil yang tau apa yang terjadi diantara mereka.


Neil memberikan minuman itu pada Ratu. Seraya sesekali melirik luka yang ada pada tubuh gadis itu.


"Kenapa? Kamu khawatir juga sama aku? Khawatir kok ngintip dari dalam, keluar dong" goda Ratu kemudian meminum air pemberian Neil. Mama Neil menahan tawanya, melihat putra tunggalnya tersipu malu dihadapan wanita.


"Terimakasih ya Tante, saya sudah tidak apa-apa" ucap Ratu lalu bangkit dan mengajak anak-anak untu masuk kedalam mobil. "Hati-hati ya nak pulangnya" nasihat Mama Liam yang juga khawatir. Gadis itu mengangguk dengan senyuman, lalu berpamitan pergi.


Sebelum Ratu masuk kedalam mobil, ia memandang Neil. "Neil, kita bertemu lagi secara kebetulan" ujarnya sembari melambaikan tangan.

__ADS_1


Perkataan Ratu sukses meninggalkan senyum tipis diwajah Neil. Membuat Liam dan Damar menggodanya. "Gebetan kamu Neil?" Goda Mama Neil seraya menyikut lengan putranya. Neil menggeleng dengan cepat, menyangkal semua pernyataan tersebut. "Kebalik Tan, Kak Ratu udah dua kali ditolak sama Neil" timpal Liam memberitahu. Mama Neil dan Mama Liam terkejut saling berpandangan. Kedua ibu itu tertawa sembari menutup mulut mereka kemudia pergi masuk kedalam rumah.


"Akuin aja lah, loe juga suka kan Neil?" Desak Damar meminta jawaban. "Mungkin" jawab Neil lalu berlalu masuk kedalam rumahnya.


Disisi lain, Ratu sedang melajukan mobilnya, mengantar ke tiga teman adiknya pulang kerumah masing-masing. Ketiga teman Tania begitu heboh memuji Ratu yang bisa mengalahkan dua penjambret tersebut. Mereka mengatakan jika Ratu seperti seorang pahlawan super. Hal itu tentu membuat Ratu tertawa, melihat adik-adik kecil yang bergurau ria.


Matanya sesekali melirik Tania yang hanya diam memandang jalanan. Walau Ratu sebenarnya tahu, sesekali Tania juga melirik kearahnya. Memastikan jika sang Kakak benar-benar baik-baik saja.


Setelah selesai mengantar semua teman Tania, mereka berdua melajukan mobilnya pulang kerumah. Tania masih enggan berbicara lagi dengan Kakaknya. Ratu juga merasa lelah dan langsung menuju kamarnya untuk berbaring sejenak.


Gadis itu menatap foto diatas mejanya. Foto dirinya bersama sang mantan kekasih. Ratu memandangi foto itu cukup lama. Kemudian memutuskan untuk menelepon seseorang.


Ratu : "Hai Neil"


Neil : "Ha..halo a..ada apa Kak?"


Neil merenung cukup lama setelah mendengar pertanyaan Ratu. Ada sedikit rasa kesal dalam hatinya.


Ratu yang tak kunjung mendapat jawaban, kembali memanggil nama Neil.


Neil : "Kak Ratu belum move on?"


Kini giliran Ratu yang termenung. Ia menatap foto itu sekali lagi, menghembuskan nafasnya kasar. Menerima kenyataan jika memang dirinya masih tak bisa melupakan Bilal.


Neil : "Buang aja Kak, bakar"

__ADS_1


Ratu : "Tapi sayang, hiks"


Neil : "Banyak kok yang suka Kak Ratu, kenapa harus ngeharapin Kak Bilal? Cari aja yang lain. Kalau Kak Bilal beneran sayang, gak akan dia cari pacar lagi kan?"


Ratu : "Ya tau sih banyak yang suka aku, tapi kamu kenapa gak suka aku?"


Ratu : "Halo, halo, Neil, oeeeyyooo"


Neil memutuskan panggilan itu secara sepihak. Ia tidak ingin Ratu membahas masalah itu lebih lanjut. Sebab dirinya mulai merasakan perasaan yang aneh setiap kali bertemu dengan Ratu.


Ratu tertawa kecil, mengetahui Neil menutup teleponnya begitu saja. Ia segera mengambil semua foto-foto dirinya dan Bilal. Memasukkannya kedalam sebuah wadah untuk dibakar. "Hadiah dari Bilal gimana ya?" Gumam Ratu bimbang.


Setelah berpikir cukup lama ia memutuskan untuk menyimpannya. "Sayang kalau dibuang, kan belinya pakai uang" gumamnya lagi.


Gadis itu keluar kamar dengan setumpuk foto dirinya dan Bilal. Berjalan menuju halaman belakang untuk membakar semua kenangan itu. Ratu menatap galeri diponselnya, memberanikan diri untuk menghapus semua foto Bilal disana. Semua tanpa tersisa satupun.


"Oke, kenangan itu cukup diingat tak perlu diabadikan dalam kehidupan nyata. Bilal, kita selesai, goodbye dan selamat tinggal" ujar Ratu lalu tertawa kencang.


Suara tawanya menggema, hingga Tania, Melvin dan teman-temannya mengintip ke asal suara. Mereka menatap Ratu yang sedang tertawa didepan api yang membara. Dengan gelisah mereka mulai berpikir jika gadis itu sedikit gila.


"Kenapa tuh anak? Obatnya gak diminum ya Vin?" Tanya salah seorang teman Melvin.


"Wah, sepertinya obat dia habis deh" jawab Melvin.


Tania juga memandangi Ratu, menatap Kakaknya dengan heran. "Apa karena kena pukul ya? Otak Kakak kayaknya pindah ke dengkul deh" gumam Tania.

__ADS_1


Ratu tak menyadari jika dirinya tengah menjadi pusat tontonan. Ia masih tertawa dan menari-nari layaknya orang gila. Siapapun yang melihat tentu akan berpikir jika dirinya memang sudah tidak waras.


__ADS_2