
Kamar Ratu sudah penuh sesak, para wanita ini sudah mulai memberantakan kamar Ratu. Seperti tujuan awal, mereka sedang berbagi minum susu strawberry. Mereka saling mengkritik dada masing-masing, dan berharap susu itu memang bisa menumbuhkannya. Sungguh harapan yang konyol.
"Loe beneran suka sama Neil gak sih?"
"Tau loe, dekat Neil ya dekat Bilal. Kasihan tau si Neil, Bilal mah gue gak peduli"
Kebingungan Ratu datang kembali, ia juga tak mengerti dengan hatinya. Sebenarnya sudah tak ada lagi harapan untuk Bilal, tetapi Neil tak kunjung mendekat. Mereka teman tapi seolah lebih dari itu, namun nyatanya mereka hanya sebatas teman.
"Loe terlalu ngejar Neil, sekarang coba loe jauhin dia, tinggal pas lagi seneng-senengnya, biar ngerasain tuh cowok, digantung gak enak"
"Iya, ajak main sekali, terus loe ngehindar"
Saran yang mudah diucapkan, tapi Ratu berniat mencobanya. Lagi pula, ia sedang rindu sentuhan nakal Neil.
Mereka kembali minum sembari berbincang, tak lupa mereka juga pergi ke pemandian air panas sebelum pulang. Di pemandian mereka kembali lagi saling mengkritik tubuh masing-masing. Walau tak telanjang bulat tapi mereka bisa menilai hanya dengan membandingkan ukuran.
"Ratu, loe mau nemuin Neil ya?" Goda Bela.
"Gak" jawab Ratu singkat.
Bela kembali menggoda, memaksa Ratu untuk menemui Neil sekarang juga. Kesempatan yang bagus karena mereka baru saja merawat diri, pasti lah menggoda lawan jenis. "Gak deh, lain waktu aja gue turutin saran kalian. Gue cabut dulu ya" pamit Ratu pergi bersama motornya.
Pikirannya kembali terpecah, memikirkan Neil yang tak kunjung peka. Ratu memutuskan untuk pergi ke club, minum-minum bersama yang lain. Suasana malam yang ia rindukan, ini adalah rutinitas sebelum memulai peperangan dengan sistem pendidikan.
"Tumben nih ketua datang" celetuk Daren menyambut kedatangan Ratu.
Gadis itu duduk dan langsung meminta segelas alkohol. Ratu begitu gusar memikirkan hatinya, ia sampai menghabiskan dua botol karenanya.
"Loe belum move on dari Bilal?" Tanya salah seorang pemuda.
__ADS_1
"Ada apa sih? Dari tadi banyak yang nanyain Bilal, gedek gue dengernya" jawab Ratu ketus.
Pemuda itu menunjukkan sebuah pesan diponselnya pada Ratu. Pesan yang berisikan jika Ratu dan Bilal pernah tidur bersama saat Bilal masih menjadi kekasih Hera. Dan ocehan mengenai Ratu yang terus saja berusaha menggoda Bilal seperti cewek murahan karena tak bisa move on.
Gadis itu tersenyum miring, ia melempar gelas ditangannya dengan amarah. "Sialan si Hera. Mau main-main loe sama gue" gumam Ratu kesal.
Pemuda itu memanasi Ratu untuk membalas Hera. Berita ini telah tersebar ke beberapa siswa lainnya. Ratu tak mengetahui hal ini karena sudah dua hari ia membiarkan ponselnya mati. Ia sedang tak ingin ada yang menganggu.
Puluhan pesan masuk memenuhi ponsel Ratu begitu ia menyalakannya. Pertanyaan tentang Bilal, dan semua yang Hera sebarkan mengenai dirinya. Hera yang bodoh, siapa yang coba ia lawan. Ratu memiliki lebih banyak koneksi daripada dirinya.
"Gue cabut" pamit Ratu. Ia tak akan langsung memberi pelajaran pada Hera. Tidak sampai penilaian semester ini berakhir.
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
Dihari berikutnya....
Ratu menghindari semua orang di sekolah, ia enggan berbincang dan bertegur sapa. Bahkan ia membawa bekal dari rumah karena tidak ingin pergi ke kantin.
"Loe gak makan? Ntar sakit loh" sahut Geya. Ratu mengatakan jika dirinya membawa bekal.
Sontak saja Bela dan Geya terkejut bukan main, pasalnya ini adalah pertama kalinya Ratu membawa bekal makanan ke sekolah.
"Ratu, perut loe buncit tuh" goda Bian mencoba memancingnya. "Iya" jawab Ratu singkat. Tak ingin lebih lama berada disana, Ratu pun pergi menuju kelasnya.
Geya, Bela, Irfan, Bian dan Dafa memulai gosip baru mereka. Hal aneh telah terjadi pada diri Ratu. Tidak biasanya ia cuek seperti itu, bahkan ia tak menyapa Neil yang jelas memandangi dirinya.
"He bocil, loe ajak kencan gih si Ratu, lagi galau tuh pasti dia" saran Bian.
"Pakai segala mikir, loe gak ajak dia jalan gue jitak nih ya" ancam Dafa.
__ADS_1
"I..iya Kak" jawab Neil.
Neil memang ingin mengajak Ratu jalan, tapi dia tidak menyangka akan seperti ini jadinya. Pikirannya menjadi tak fokus karena terus terbayang wajah Ratu. Hingga jam pelajaran usai, pikirannya masih tentang Ratu.
Neil, Damar dan Liam berjalan menuju parkiran. Sembari menatap sekitar jikalau mereka berpapasan dengan Ratu.
"Kak Ratu, malam ini senggang gak? Mau jalan?" Tanya Neil dengan sedikit kaku. Seolah itu semua adalah sebuah skenario.
"Sibuk" jawab Ratu ketus lalu masuk kedalam mobilnya.
Para murid menghentikan langkah mereka, menatap mobil Ratu yang perlahan menjauhi sekolah. Ini pemandangan yang aneh tapi nyata. Ratu menolak ajakan Neil dengan ketus. Setidaknya Neil sudah melakukan apa yang seniornya perintahkan.
"Gio, Ratu kenapa? Aneh" Tanya Bian pada Gio yang hendak memasuki mobilnya.
"Tanya tuh sama Daren, semalem mereka kan minum bareng. Cabut dulu ya" pamit Gio lalu pergi.
Kini mereka semua menghampiri Daren yang baru saja keluar dari sekolah bersama gengnya. Meminta penjelasan mengenai apa yang terjadi dengan Ratu.
"Gue gak tahu, tapi kemarin ada anak sekolah lain ngobrol sama dia. Ratu marah, ngelempar gelas pula, anak itu nunjukin sesuatu tapi gue gak tau mereka bahas apa" jelas Daren.
"Bel, jangan-jangan, Ratu udah nyalain hp nya. Coba telepon" pinta Geya.
Geya mencoba menelepon Ratu, dan teleponnya tersambung. Benar, Ratu telah menyalakan ponselnya, dan pasti ia sudah mengetahui semua berita tentangnya. Mereka khawatir, pasti Ratu akan minum lagi malam ini.
"Kak, dimana Kak Ratu biasanya minum?" Tanya Neil menyela pembicaraan para seniornya.
Mereka semua saling berpandangan, entah harus memberitahu Neil atau tidak. Tetapi melihat Neil begitu memaksa, Daren memberitahu tempat dan jam biasanya Ratu tiba disana. Neil mengangguk mengerti, berterimakasih kemudian berlalu pergi.
Dalam perjalanan pulang, Neil sudah bertekad akan menghampiri Ratu. Sebab ia juga tahu rumor itu, ia ingin tahu kebenarannya langsung dari Ratu. Walau dalam hatinya, ia sedikitpun tak percaya pada rumor itu. Entah mengapa, dalam pikirannya, Ratu dan Bilal tidak akan sedekat itu walau sebesar apapun Ratu mencintai Bilal. Neil sangat yakin, rumor itu hanyalah sebuah kebohongan.
__ADS_1
Neil sedang bersiap, sambil menunggu jam untuk datang ke club tempat Ratu minum. Ia sedikit gusar dan khawatir. Sebab ia tak pernah pergi ke club malam, dan ini adalah pertama kalinya. Ada sedikit keraguan dan ketakutan dalam diri Neil. Tapi kekhawatirannya pada Ratu lebih besar dari itu.
Karena Papa dan Mamanya sedang pergi ke luar kota. Neil tidak merasa terbebani sebab tak akan berbohong pada Mamanya jika dirinya hendak pergi ke club malam.