
Aula SMA Sinar Mutia....
Para siswa kelas satu dan dua yang berasal dari SMA Sinar Mutia, SMA Pelita, SMA Buana dan SMA Nusa. Kini para murid dari ke empat sekolah ini dipertemukan karena tawuran tempo hari. Untuk menyelesaikan kesalahpahaman, komite sekolah akan mengadakan acara menjelang libur semester.
"Waw, mau tawuran lagi nih? Skala besar sekarang" teriak Ratu yang baru saja datang memasuki aula.
"Ratuuuu" sahut Bilal seraya memelototkan matanya. Ratu hanya meringis dan menunjukkan dua jari tanda perdamaian.
Gadis itu berjalan menuju depan panggung, menjabat tangan para perwakilan panitia dari masing-masing sekolah. Mereka semua saling mengenal sebab ditingkat yang sama, para senior sekolah.
Ratu mengedarkan pandangannya, menatap satu persatu murid yang mungkin ia kenal. Saat itu terjadi, ada salah seorang murid dari SMA Pelita yang melambaikan tangannya pada Ratu.
Tanpa sadar Ratu tertawa melihat wajah pemuda itu, ia pun memanggilnya untuk kedepan. Pemuda itu terlihat gembira lalu memeluk Ratu dengan sangat erat. Ratu membalas pelukan itu, sesaat sebelum ia membanting sang pemuda ke lantai.
"Hoooo" teriak para murid terkejut melihat adegan dihadapan mereka.
"Raja bangun" sentak Ratu.
"Argh, sakit, harusnya Ratu itu tunduk dihadapan Raja" ejek pemuda itu. Hampir saja Ratu memukulnya, sebelum anggota SS yang lain menghampiri dan saling menegur sapa dengan Raja.
"Bentar, gue punya sesuatu buat Kak Ratu" ujar Raja. Ia berjalan kembali ke tempat duduknya, mengambil sebuah kotak hadiah yang sudah ia siapkan.
"Untuk sang peringkat satu dan juara olimpiade" kata Raja sambil memberikan hadiah itu untuk Ratu. Ratu mengulurkan tangannya, membiarkan Raja untuk menciumnya.
"Makasih ya, udah kodratnya Raja buat manjain Ratunya" ucap Ratu lalu pergi. Raja juga kembali duduk ditempat duduknya.
Ratu duduk di kursi samping panggung, membuka hadiah itu dengan senyuman. Ia tertawa lebar melihat boneka gajah dengan kaus merah. "Raja, I love you" teriak Ratu mengangkat tinggi bonekanya. Raja mengacungkan jempol membalas pernyataan cinta itu.
"Udah selesai temu kangennya? Kita mulai sekarang acaranya" sela Bilal.
Bilal mengambil alih suasana, memberi salam dan menyapa semua juniornya dengan senyuman. Karena mereka berada di SM, maka Bilal sebagai tuan rumah yang akan memimpin jalannya acara.
"Kami sebagai panitia tidak akan mengambil keputusan sendiri, jika kalian memiliki ide untuk kegiatan lain kalian bisa maju kedepan dan mengutarakannya" jelas Bilal.
__ADS_1
Setelah beberapa menit menunggu, satu persatu ide dari para junior mulai bermunculan. Mulai dari berkemah, naik gunung, outbond, pensi, dan beberapa hal lain yang menurut mereka menyenangkan.
"Gue, gue punya ide" teriak Ratu berlari ke tengah. Para senior dari sekolah lain yang melihat Ratu segera menariknya kembali kepinggir panggung, mereka tak ingin mendengar ide Ratu lagi.
"Simpan ide konyolmu untuk dirimu sendiri, kami tidak mau melakukannya" ujar salah seorang siswa. Mereka menatap Ratu dengan tatapan tajam. Membuat gadis itu terkekeh karenanya.
"Daripada loe ikut campur, mending loe urus jam tangannya, udah loe dapetin?" Tanya siswa lainnya.
Ratu menepuk jidatnya, ia lupa dengan tugas awal ia datang ke aula. Ia pun bergegas menghampiri tempat duduk Neil.
"Neil, jam tangannya" bisik Ratu tanpa basa-basi. Neil memberikan jam tangan itu, namun ia tak membiarkan Ratu pergi begitu saja.
"Kamu kenal sama Raja?" Tanya Neil. Rupanya Neil terusik dengan kedekatan antara Ratu dan Raja.
"Dia mainanku yang lain" goda Ratu. Neil nampak kesal mendengar hal itu, ia tidak bisa menyembunyikan raut wajahnya.
"Dia sepupuku, kau kenal dengannya?" Jelas Ratu. Neil mengangguk untuk kedua hal yang Ratu tanyakan padanya.
"Dia teman SMP ku. Aku pikir kamu dan dia hehehe" ucap Neil dengan tawanya.
"Kak Ratu tunggu" teriak Neil kembali menahan Ratu untuk pergi. Ratu menatap pemuda itu, meminta penjelasan.
"Kenapa saran kamu ditolak? Padahal kan kamu belum kasih tahu mereka" Tanya Neil dengan wajah polosnya. Hati Ratu kembali luluh, kini ia tak ingin beranjak pergi dari sana. Ratu duduk dibawah seperti sebelumnya, ia menaruh dagunya dipaha Neil.
"Karena saranku adalah, mengadakan lomba cerdas cermat. Aku selalu menyarankan hal itu Neil selama dua tahun berturut-turut, tapi mereka selalu menolaknya. Bukankah saranku itu bagus?" Curhat Ratu tak mengerti dengan semua pemikiran para murid disana.
"Tidak sama sekali. Kami ingin berlibur, menjauhkan pelajaran dari kami sejauh mungkin. Kamu emang aneh" balas Neil. Ratu memutar bola matanya malas, selalu saja jawaban seperti itu yang ia dengar.
"Baiklah, aku akan disini" ujar Ratu tiba-tiba. Ia duduk dan menyenderkan kepalanya pada kaki Neil. Walau juniornya meminta untuk duduk di kursi dan secara sukarela memberikan kursi mereka, Ratu tak ingin duduk di kursi.
Bilal kembali menyampaikan kegiatan apa saja yang akan mereka lakukan selama tiga hari. Rincian sangat rapi ia paparkan lewat power point. Para murid nampaknya terkesan dengan apa yang telah disusun oleh para anggota OSIS SM.
"Kak, tambahin pertandingan basket" usul salah seorang murid.
__ADS_1
"Heii, jelas tim basket Buana yang akan menang. Tim basket cowok pasti anak SM kalau cewek pastilah anak Buana" sahut murid lainnya.
"Mana bisa gitu? Tim basket cewek Pelita yang paling hebat"
"Tim basket cewek Nusa juga gak kalah hebat"
"Kok gak ada yang nyangkal tim basket cowok SM sih?"
"Gimana mau nyangkal, kalau SM enam tahun berturut-turut tim basket putranya selalu menang juara satu"
"Emangnya SM gak punya tim basket cewek ya?"
"Ada lah pasti, hebat juga"
Selagi para murid berdebat pendapat, Neil juga melakukan hal yang sama dengan teman-temannya. Berdebat mengenai tim basket cewek.
"Kak, emang kita gak punya tim basket cewek?" Tanya Liam penasaran.
"Ada, si Hera tuh ketuanya" jawab Ratu ketus. Ia masih fokus bermain game di ponselnya.
"Emangnya kita gak pernah menang?" Sahut Damar.
"Pernah sekali, tapi waktu itu gue ketuanya, hahahaha" ucap Ratu diselingi tawa sombongnya.
"Terus kenapa jadi Kak Hera yang jadi ketua?" Tanya Neil.
"Waktu itu aku cuma gantiin dia, aku gak tertarik ikutan tim basket. Soalnya pelatih bilang aku pendek, yaudah" ujar Ratu. Ia tidak merasa kesal karena dibilang pendek, sebab ia juga tak berniat masuk kedalam tim basket sekolah, melelahkan.
Junior Ratu yang mendengar hal itu tentu saja tertawa. Kenyataan yang pahit, tapi sebenarnya Ratu sangat hebat bermain basket, sangat disayangkan.
......***Jangan lupa mampir di ceritaku yang lain ya, Lebih Berwarna dan Suami Pilihan Papa.........
...Terimakasih sudah membaca......
__ADS_1
...lope lope Kakak...🥰🥰***...