Because I'M Ratu

Because I'M Ratu
BIR - 68


__ADS_3

Dalam perjalanan pulang, Neil masih terusik dengan perkataan para anggota SS. Ia tak mengerti, kenapa dengan yakin berkata jika Ratu akan pergi meninggalkan dirinya. Bila hal itu terjadi, maka Neil tak akan melepaskan Ratu apapun resikonya.


Saat sampai dirumah, Neil segera masuk kedalam. Memanggil-manggil Mamanya, tak berselang lama, Mama Neil muncul dengan wajah yang belepotan karena tepung.


"Ma, nikahkan aku Ma. Aku mau nikah sama Kak Ratu" pinta Neil dengan antusias.


"Nikah? Kamu ini kenapa? Masa depan kamu dan Ratu itu masih panjang sayang. Belajar yang benar, baru nikah" jawab Mama.


Mama kembali berjalan di dapur, sembari tertawa melihat tingkah dan permintaan konyol putranya. Neil merasa jika Mamanya menganggap permintaan itu adalah sebuah lelucon, ia pun terus mengikuti Mama dengan mengulang perkataan yang sama.


"Ma, aku harus nikah sama Kak Ratu, karena dia mengandung anakku" ujar Neil.


Mama Neil sangat terkejut, beliau menjatuhkan semua peralatan masak yang ada ditangannya. Menghampiri Neil, dan meminta putra tunggalnya itu mengulangi apa yang ia katakan.


"Apa kau sudah gila? Kau tahu siapa Ratu, Neil? Kau mau Papamu kehilangan pekerjaannya karena ini?" Sentak Mama lalu menampar Neil dengan keras.


Plaaakkkk......


Neil tertegun karena perlakuan Mamanya, ia kemudian berlari dan mengunci dirinya dikamar. "Apa maksud Mama? Memang kenapa jika gue dan Kak Ratu saling mencintai?" Gumam Neil gusar.


Pemuda itu mencoba menghubungi Ratu, namun tak ada jawaban. Neil ingin bertemu dengan Ratu, setidaknya sebelum liburan mereka. Sebab esok hari adalah hari terakhir mereka bersekolah sebelum liburan semester. Dan tiga hari setelahnya, Neil harus mengikuti acara persahabatan yang diadakan oleh sekolah.


Neil merenung di dalam kamarnya, menatapi ponsel, berharap Ratu akan segera menghubungi dirinya.


Disisi lain...


Ratu sedang berkumpul dengan para teman-temannya di basecamp mereka. Bukti baru kembali muncul ke permukaan.


"Gio, gue rasa, Ayah gue ada dibalik ini semua. Apa menurut loe, memungkinkan bagi Bilal untuk bekerja sendiri tanpa ada seseorang yang mendukungnya? Jelas orang ini sangat memiliki kedudukan" ujar Ratu. Ia mulai gelisah dengan projeknya ini. Entah mengapa, tiba-tiba rasa takut itu kembali muncul.


"Gue akan pergi kesana malam ini" jawab Gio memberikan saran.


Ratu tidak menyetujuinya, ia tak bisa membiarkan Gio pergi tanpa dirinya. Karena ada hal lain yang harus Ratu pastikan.


"Apa yang Bilal katakan?" Tanya Faiq.

__ADS_1


"Bilal bilang, Ayah gue tahu alasan dibalik kematian Daniel" ucap Ratu lirih.


Mereka semua kembali terdiam, jika ini semua memang benar, Ratu pasti sangat terluka. Dengan cepat, para pemuda itu mengalihkan semua barang-barang yang bisa menjadi senjata menjauh dari Ratu. Terkadang, emosi Ratu tak bisa ditebak, ia bisa menggila kapan saja. Terlebih, ini mengenai kematian Daniel.


"Gue, Gio dan Faiq akan pergi. Kalian jaga diri baik-baik ya, tolong jaga Neil. Dan, siapapun yang mau ikut kegiatan sekolah, gue bayarin, gue kasih uang saku juga. Kirim aja list namanya ke gue" jelas Ratu.


"Horeeeee, asik asik"


Mereka sangat menyukai ide itu, Ratu memang tak pernah mengecewakan.


"Ratu, sorry, tapi gue rasa sekarang loe harus nemuin Neil. Tadi gue gak sengaja ngomong kasar ke dia" sela Ubay ditengah pembicaraan mereka.


Ratu menatap Ubay yang tertunduk, begitu juga dengan para anggota SS lainnya. Ratu berlari menuju mobilnya, ia melajukan mobilnya sangat kencang menuju rumah Neil. Teman-teman Ratu juga turut mengikuti mobil Ratu, seakan mereka sedang melakukan konvoi.


Saat sampai dirumah Neil, Ratu melihat mobil Papa Neil, padahal ini masih jam kerja. Ia berlari masuk kedalam rumah Neil yang terbuka lebar, sembari memanggil-manggil nama Neil.


"Pa, Ma, ada apa? Neil kenapa?" Tanya Ratu khawatir.


Papa dan Mama Neil nampak terkejut melihat kehadiran Ratu. Mereka berdiri didepan kamar Neil sembari mengetuk-ngetuk pintu kamar putranya.


"Nak Ratu, maafkan putra kami" ujar Mama Neil sambil berlutut dihadapan Ratu.


Braaaakkkk.... Brakk....


Ratu berlari kedalam kamar, diikuti oleh kedua orang tua Neil. Papa dan Mama mencoba membangunkan Neil yang terbaring diatas tempat tidur, sedangkan Ratu, ia memperhatikan kamar Neil dengan seksama.


Ratu mengambil sebuah bungkusan plastik yang tergeletak tak jauh dari tempat tidur Neil. Sebuah plastik klip bening kecil, Ratu mencoba mencium aroma yang tertinggal disana.


"Obat tidur?" Gumam Ratu keheranan. Tidak mungkin Neil membeli hal seperti ini, ini sangat tak wajar bagi Ratu.


"Pa, Ma, tidak apa-apa. Neil hanya tertidur, jika ada sesuatu terjadi, tolong hubungi aku secepatnya. Aku harus pergi" pamit Ratu kemudian pergi bersama teman-temannya.


Beberapa warga tentu saja keluar rumah, untuk melihat keributan apa yang sedang terjadi. Sebab Ratu datang dengan lebih dari sepuluh mobil yang mengikuti dirinya.


Liam dan Damar segera berlari memasuki rumah Neil. Mereka menghampiri Mama Neil yang sedang duduk sambil menangis disamping putranya yang tertidur pulas.

__ADS_1


"Tante, ada apa?" Tanya Liam.


"Tidak ada apa-apa, Ratu hanya khawatir dengan keadaan Neil. Ia tak bisa menghubungi Neil karena anak nakal ini tengah tertidur" perkataan bohong dari Mama Neil cukup meyakinkan kedua pemuda itu.


Mama Neil lalu menyuruh Liam dan Damar untuk pulang, karena tidak ada apapun yang terjadi.


Kini Papa dan Mama Neil sedang duduk diruang tamu, mereka kembali berbincang tentang masalah putra dan putri mereka.


"Apa aku harus menghubungi Pak Batara? Neil, dia sungguh tidak waras, apa yang dia pikirkan dengan melakukan semua ini" oceh Papa Neil gelisah.


"Kamu hubungi saja dia, kita jelaskan dan meminta maaf atas segalanya. Tapi, aku juga tidak ingin jika putraku terluka" jawab Mama.


Papa Neil memberanikan diri untuk menelepon Ayah Ratu. Dengan gugup, beliau mencoba bersikap setenang mungkin.


Papa Neil : "Halo, Pak Batara, ini saya Surya Abdi, Papanya Neil"


Ayah Ratu : "Ooh, Pak Surya. Apa kabar?"


Papa Neil : "Kabar saya sekeluarga baik Pak. Kabar Pak Batara dan Ibu Wulan bagaimana?"


Ayah Ratu : "Kami juga baik. Saya senang sekali calon besan menelepon"


Papa Neil : "Besan? Pak Batara sudah tahu?"


Ayah Ratu : "Tentu saja, bukankah itu yang selalu putri saya katakan. Ia selalu memanggil anda mertua. Dia memang nakal, suka sekali menggoda orang lain"


Papa Neil : "Bukan begitu Pak. Begini, ada hal penting yang harus kita bicarakan. Apakah bisa? Jika memungkinkan bicara secara langsung itu lebih baik"


Ayah Ratu : "Tentu Pak Surya. Datanglah ke rumahku, aku akan ada dirumah seminggu lagi. Kita bisa berbincang banyak disana"


Papa Neil : "Baiklah Pak, terimakasih atas waktunya. Salam untuk Ibu Wulan"


Ayah Ratu : "Sama-sama"


Papa Neil dan Ayah Ratu telah mengakhiri perbincangan singkat mereka.

__ADS_1


"Kita harus menunggu satu minggu lagi Tyas" ujar Papa seraya merangkul pundak Mama Neil.


"Baiklah, Neil mungkin juga terguncang, biarkan dia mengikuti acara sekolahnya untuk melepas penat" sahut Mama Neil. Beliau membalas pelukan sang suami.


__ADS_2