Because I'M Ratu

Because I'M Ratu
BIR - 37


__ADS_3

Ratu telah merasa jika dirinya baik-baik saja. Ia merengek meminta Ayah dan Bunda untuk membawanya pulang secepat mungkin. Pikirannya kacau memikirkan bagaimana sekolah jadinya tanpa dia. Karena teman-temannya pasti sedang sibuk belajar untuk penilaian semester.


Sudah tiga hari Ratu berbaring dirumah setelah pulang dari rumah sakit. Tak ada teman, dan yang menjenguknya hanya anggota SS. Ia merindukan teman lainnya, terutama sang adik kelas tercinta.


"Ayah dan Bunda jaga kesehatan ya disana, jangan sampai sakit. Aku seneng banget kalian bisa tinggal lama, apa aku harus sakit dulu biar kalian tinggalnya lama?" Oceh Ratu melepas kepergian Ayah dan Bunda yang hendak kembali keluar negeri. Ratu tak melepaskan pelukannya pada kedua orangtuanya, ia masih sangat rindu.


"Kamu yang jaga kesehatan, jangan ngerokok, jangan minum-minum" bisik Ayah yang membuat Ratu terkejut. Gadis itu tak percaya Ayahnya mengetahui semua yang ia lakukan. Ratu memasang wajah melasnya, meminta sang Ayah tak menceritakan pada Bunda.


Ayah Ratu mengangguk dan mengedipkan matanya. Memberitahu jika semua rahasia aman, asalkan putrinya mau berubah. Ratu memeluk erat Ayahnya, mengatakan betapa ia mencintai sang Ayah.


"Oh iya, titip mantu Bunda ya. Bunda lihat kamu sayang banget sama dia. Afzam jaga adiknya, jangan biarin dia keluar malam" nasihat Bunda lalu memeluk kedua anaknya.


Afzam dan Ratu menatap kedua orangtuanya yang pergi sekali lagi meninggalkan mereka. Melvin dan Tania tak bisa iku karena mereka harus sekolah. Ratu melambaikan tangannya, walau tak ada yang melihat. Ia masih enggan pergi dari sana, melepas memang se-menyakitkan ini, padahal ini hanya sebentar, perpisahan singkat.


"Kamu yakin mau sekolah? Gak istirahat aja dirumah?" Tanya Afzam khawatir. Ratu bersikukuh untuk pergi ke sekolah. Sebab ia tak ingin kehilangan waktu lagi, apalagi sebentar lagi penilaian akan dimulai. Ia harus memastikan semua murid belajar.


Ratu melajukan mobilnya menuju sekolah. "Ratu datang teman-teman" gumam gadis itu dalam perjalanan.


Ratu melangkahkan kakinya pasti, menuju lapangan upacara. Upacara tengah berlangsung, sayup-sayup terdengar Bapak Kepala Sekolah sedang menjelaskan mengenai perundungan. Dan sistem baru telah mereka mulai.


"Kita akan memulai pengawasan ekstra untuk perundungan. Banyak terjadi hal seperti ini, tak hanya disekolah ini, bahkan disekolah lain. Sekarang sistem baru akan dimulai, pengawas baru kalian, silahkan maju ke depan" perkataan Kepala Sekolah terdengar tegas.


Mereka semua memandang ke arah depan. Sosok yang mereka kenali dengan sangat baik. Kacamata hitam yang familiar, mulut mereka menganga tak percaya.


"Pengawas baru kalian, Ratu. Dia yang akan menghukum kalian dengan caranya bila terbukti kalian melakukan perundungan" sambung Kepala Sekolah.

__ADS_1


Ratu membungkuk, mengucapkan salam untuk semuanya. Walau wajah dan tubuhnya masih terlihat bekas luka. Aura Ratu tak bisa disembunyikan. "Kami sudah menunggu begitu lama, sekarang saatnya semua dimulai" gumam Ratu lirih.


Gadis itu melepas kacamata hitamnya, merapikan pakaian lalu memakai topi dikepalanya. Ia berpindah berdiri di samping mimbar Bapak Kepala Sekolah. Menemani beliau hingga upacara selesai. Ratu menatap lurus ke depan, wajah datarnya membuat para murid bungkam tak berkutik.


Selepas upacara, Bapak Kepala Sekolah mengajak Ratu untuk berbincang sejenak diruangannya. Beliau kembali mengingatkan Ratu agar tidak melalaikan tugasnya sebagai seorang pelajar. Beliau tetap ingin Ratu memiliki prestasi ditengah tugas sulitnya ini.


"Tenang aja Pak, saya pasti akan tetap jadi nomor satu. Lagi pula saya kan tidak sendiri, anak-anak kelas tiga pasti akan membantu semampu mereka Pak" jelas Ratu. Bapak Kepsek mengangguk, beliau mempercayai Ratu dan teman-temannya tentunya. Beliau berharap, semua ini akan berhasil.


Setelah perbincangan itu, Ratu kembali menuju kelasnya. Ia berjalan dengan santai, aroma sekolah yang sangat ia rindukan.


Bbbukkk bbuukk.. Geddeebbukk.. Ttang...


Suara bising didalam toilet pria menghentikan langkah gadis itu. Ia tak perlu pikir panjang, langsung saja masuk ke dalamnya.


"Bangun" perintah Ratu tegas. Siswa yang sudah compang-camping seragamnya dan babak belur wajahnya itu berdiri menghadap Ratu. Ia menunduk sembari meringis kesakitan.


Gadis itu mengajaknya menuju UKS, membiarkan penjaga mengobati luka-luka siswa tersebut. "Kamu gak apa-apa Ratu?" Tanya penjaga UKS. "Aman Bu, mana ada yang bisa melukai saya" jawab Ratu cengengesan.


Pemuda itu menatap kearah Ratu sekilas, lalu kembali menunduk. Ratu mengantarkan juniornya itu menuju ke kelas.


"Tunggu, kalau mereka menyuruhmu untuk mengambil rokok atau apapun di tempat kerjamu, katakan padaku, ini nomorku. Masuklah" ujar Ratu seraya memberikan sebuh kertas bertuliskan nomor teleponnya beserta anggota SS yang lain.


Gadis itu mengetuk pintu kelas, meminta ijin pada sang guru untuk membiarkan siswa tersebut masuk kedalam kelasnya. Setelah itu, ia pun pergi.


"Baru dimulai, sudah dapat mangsa kamu" teriak Pak Cipto dari dalam kelas.

__ADS_1


Ratu menoleh, ia bersender dipintu masuk. "Saya hanya ingin mendengar pujian" sahut Ratu.


Pak Cipto tentu tertawa, sayangnya ia tak ingin memuji gadis itu. Tidak untuk saat ini, karena permainan baru saja dimulai. Beliau menghampiri Ratu, memberikan sebuah gelang bertuliskan nama lengkap Ratu disana, juga sebuah gambar hati. "Dari orang yang paling kau cintai" ucap Pak Cipto.


Ratu tersenyum miring menatap gelang tersebut. "Harusnya dia sendiri yang memberikan ini padaku. Kenapa harus sekarang? Dia sangat bodoh, jika dia mencintaiku mengapa tak mengatakannya padaku? Apa dia memang pria bodoh, tidakkah dia sadar banyak yang menginginkan diriku" oceh Ratu kesal. Ia mengenakan gelang tersebut. Berterimakasih pada Pak Cipto, lalu pergi menuju kelasnya.


"Siapa yang paling dicintai Kak Ratu?" Gumam Neil.


"Apa? Tunggu, tapi kan Kak Ratu suka sama loe" bisik Liam. "Mungkin.. ah mending loe tanya aja" saran Damar.


Pria seperti apa yang Ratu bicarakan dengan Pak Cipto, dan siapa dia. Kehadirannya seolah begitu berarti dalam hidup Ratu. Seakan tak akan ada satu orangpun yang mampu menggantikan pria tersebut. Karena Ratu masih mengingatnya dengan jelas, orang yang paling ia cintai.


Begitu bel berbunyi para murid berlari menuju kantin, berebut kursi untuk makan. Kini para junior tak perlu risau, sebab Ratu tak akan membiarkan para senior mengambil kursi mereka.


"Oe, kalian berdua, bisa ikut kita sebentar?" Ajak Daren pada dua murid yang sedang makan. Kedua murid tersebut adalah perundung pertama yang Ratu tangkap. Kini tinggal hukuman yang menunggu keduanya. Menolak pun tak ada gunanya, Daren dan gengnya siap menyeret siapapun.


"Ada apa sih?" Bisik Damar penasaran. Neil dan Liam kompak menghardikkan bahu mereka.


"Cengeng, makin ganteng aja" sela Ratu bergabung dengan mereka. Neil menatap Ratu kesal karena memanggilnya cengeng.


"Hmm... Neil... Kamu, mau..." Ratu mencoba mengatakan sesuatu tapi nampaknya dia ragu untuk memulainya.


"Kamu malam ini ada waktu? Mau jalan gak?" Sela Neil mendahului.


^^^.^^^

__ADS_1


__ADS_2