Because I'M Ratu

Because I'M Ratu
BIR - 66


__ADS_3

Ratu dan Raja sedang berbincang di ruang tamu, menunggu Damar, Liam dan Neil yang tak kunjung selesai bersiap-siap.


"Ja, loe dianter supir ya, kan sekolah kita beda" pinta Ratu pada Raja.


Pemuda itu mengangguk dan terus menikmati sarapannya.


Drrrttt .... Drrrttt....


Ponsel Ratu berdering, ada panggilan masuk dari Bilal. Gadis itu berjalan keluar rumah dan mengangkatnya.


Ratu : "Apa?"


Bilal : "Aku didepan rumah kamu"


Ratu : "Lalu?"


Bilal : "Keluarlah, aku merindukanmu. Kita berangkat bareng"


Disela Ratu berbincang dengan Bilal. Neil tiba-tiba datang mendekat. Ia awalnya nampak ragu, tetapi ia mendorong keberaniannya untuk bertanya pada Ratu.


"Kak, semalem kita, anu dikamar Kak Ratu, kita apa itu ...." ucap Neil bingung dengan apa yang hendak ia tanyakan.


Bilal bisa mendengar apa yang Neil katakan. Iya terdiam mencoba mencerna kata-kata Neil dengan baik.


Bilal : "Apa benar-benar sudah tidak ada harapan untuk hubungan kita?"


"Kamu dengar apa yang Neil katakan? Kita selesai Bilal, kau dan aku, sudah tidak ada hubungan lagi. Hati-hati berangkat sekolahnya" ucap Ratu sembari menatap Neil. Ia pun memutus panggilannya dengan Bilal.


"Jadi semalam kita beneran? Tap..tapi.." sahut Neil masih tak percaya.


Ratu memegang kedua pipi Neil, lalu mencium bibirnya singkat. "Malam yang indah, kamu melakukannya dengan lebih lembut, aku menyukainya" bisik Ratu kemudian masuk kedalam rumah.


Neil masih tertegun, ia menaruh tangannya di dada. Detak jantungnya berdetak dengan sangat kencang. Kakinya terasa sangat lemas, hingga membuatnya hampir kehilangan keseimbangan. Malam yang indah seperti apa? Kenapa Neil bisa melupakannya?


Melihat Ratu dengan senyuman lebar, Neil menyesal melupakan malamnya bersama Ratu.


"Neil, sarapan dulu" teriak Raja dari dalam.


Neil tersadar dari lamunannya lalu masuk kedalam rumah, bergabung dengan mereka semua yang ada disana.

__ADS_1


"Ratu, si Bilal ngapain didepan rumah?" celetuk Melvin yang baru saja turun.


"Usir aja" jawab Ratu ketus.


"Kakak berantem lagi sama Kak Bilal? Udah putus aja, berantem mulu, iya kan Kak Melvin?" saran Tania.


Melvin memandang adik bungsunya, heran kenapa dia meminta saran pada Melvin. Rupanya Tania tahu, setiap kali Melvin bertengkar dengan pacarnya selalu berakhir putus dan esok harinya ia menggandeng pacar baru.


"Kak Melvin adalah cowok terjahat, aku gak mau punya pacar kayak Kak Melvin" ujar Tania. Ia lalu berlari keluar rumah karena. supir sudah menunggunya untuk berangkat ke sekolah.


"Semalem Ayah nelepon, bertanya mengenai hubunganmu dan Bilal. Sepertinya Ayah khawatir tentang sesuatu" ucap Melvin ikut bergabung sarapan dengan mereka.


Ratu mencoba berpikir, apa hal yang membuat Ayahnya khawatir, terlebih itu berhubungan dengan Bilal. Ia memainkan ponselnya sambil mengingat-ingat apa saja yang pernah Ratu katakan pada sang Ayah.


"Sialan, hahahaha" umpat Ratu dengan tawanya. Ia begitu bodoh tak menyadari semuanya selama ini.


Jika dipikirkan lagi, Bilal begitu berani menentangnya padahal orang tua Bilal bekerja disalah satu perusahaan Ayah Ratu. Ratu pikir itu adalah kebetulan, ia mengetahuinya setelah berkencan dengan Bilal.


"Jadi ini semua rencana Ayah? Waah, jadi kenapa Ayah bisa tahu semua yang aku lakukan itu karena Bilal?" Gumam Ratu tak percaya.


"Akhirnya loe tahu, gue udah tahu dari lama. Sejak kalian pacaran, aneh tahu gak, massa gue lihat Ayah ngobrol sama Bilal di restoran" jelas Melvin.


"Kenapa hatiku rasanya sakit ya Kak? Jadi selama ini perasaanku ke Bilal bertepuk sebelah tangan?" Tanya Ratu sedih. Air matanya sedikit menetes, ia dengan cepat menyekanya.


Melvin memeluk adik perempuannya itu, menepuk-nepuk punggung Ratu. "Tapi Bilal beneran cinta kok sama loe, karena itu Ayah khawatir. Ayah takut kalau Bilal akan menyembunyikan kelakuan burukmu karena ia mencintaimu" bisik Melvin.


"Aku gak apa-apa Kak, lagian Bilal kan masalalu. Nyesek sih, tapi ya its okay, I am fine. Lagian Bilal akan menyesal, ia membutuhkan ku disetiap keputusannya" balas Ratu dengan bangga.


Bilal memang tak bisa melakukan apapun tanpa Ratu. Ia membutuhkan pendukung untuk segala yang Bilal lakukan. Karena itulah, pemuda itu sangat sulit melepaskan Ratu dari hidupnya.


Cinta itu memang rumit dan tak mudah dipahami. Walau pernah menimbulkan luka, tetap saja masih bisa bersabar dan menerima, semua itu karena cinta.


"Dan, aku punya alasan kuat buat jauhin dia dari hidup ku. Lagian, Hera cinta banget sama Bilal. Aku bisa jadiin ini alasan buat mereka dekat lagi kan Kak?" Ucap Ratu penuh harap.


"Kenapa masih mikirin mereka sih. Cari kebahagiaan mu sendiri" jawab Melvin ketus.


"Kak, aku dan Hera kan udah berteman lama, sebelum kita kenal Bilal. Harusnya aku tahu, sejak awal Hera suka Bilal. Ya udah ah, udah telat nih, berangkat dulu ya" pamit Ratu. Ia mencium kening Melvin dan mengajak Neil, Damar serta Liam untuk pergi.


Ratu melajukan mobilnya dengan kencang menuju sekolah. Membuat ketiga pemuda yang ada di dalam mobilnya takut dan mengumpat tak karuan. Jalanan pagi memang sepi, karena itu Ratu menyukai saat berangkat sekolah pagi hari.

__ADS_1


"Untung aja nyawa gue masih disini" gumam Damar lalu keluar dari mobil Ratu.


"Oh jadi sama pacar nih berangkatnya, pantesan, gue pikir kenapa kok tiba-tiba loe ganti mobil" celetuk Ezra menghampiri Ratu.


Ratu meminta ketiga pemuda untuk masuk kedalam sekolah terlebih dahulu, karena ada sesuatu yang harus ia bicarakan dengan Ezra.


"Zra, hubungin Pak Suryo, cari tahu tentang kedekatan Ayah gue dan Bilal. Kak Melvin yakin ada sesuatu diantara mereka" jelas Ratu.


"Ayah loe dan Bilal? Loe yakin? Atas dasar apa Kak Melvin curiga diantara mereka?"


"Kak Melvin pernah lihat mereka di restoran. Gue gak bisa deketin Bilal lagi Zra, gue udah putus"


Ezra mengerti, ia menepuk bahu Ratu. Putus dari Bilal adalah keputusan terbaik, sebab Ratu menyakiti Bilal dan Neil dengan terjalinnya hubungan tersebut. Hubungan itu juga menyakiti diri Ratu.


Ratu mengajak Ezra untuk masuk ke kelas karena bel masuk sekolah telah berbunyi.


...\=\=\=≠\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


Saat mengikuti jam pelajaran, Ratu tiba-tiba saja terusik akan sesuatu. Ia tak bisa fokus pada pelajarannya, dan memutuskan pergi ke toilet untuk mencuci mukanya.


"Hoek, hoek.. Sialan, kenapa gue harus hamil sih" ucap seseorang dari bilik kamar mandi.


Ratu mengenal suara itu, ia menunggu siswi itu keluar dari kamar mandi.


"Bilal sialan, terus gue gimana? Kenapa dia gak mau tanggung jawab? Ini kan anaknya" lirih siswi itu dalam tangisnya.


"Hera" panggil Ratu saat Hera keluar dari bilik kamar mandi.


Hera menoleh, ia terkejut mendapati Ratu berdiri disana. Hati Hera kembali melemah, dihadapan Ratu air matanya tumpah. Ini adalah pertama kalinya mereka berpelukan lagi setelah sekian lama.


Sebenarnya, Ratu, Hera, Bintang, Clara dan Adelia adalah sahabat saat mereka SMP. Mereka satu geng dengan Ratu, namun persahabatan mereka sedikit goyah setelah Ratu mengenal Daniel.


Mereka berempat menjadikan Ratu musuh karena tak lagi seasik dulu. Tak ingin menjadi penguasa sekolah, dan tak ingin menjadi murid populer serta ditakuti. Tapi persahabatan mereka terjalin kembali setelah Ratu terpuruk sebab kehilangan Daniel.


Lebih tepatnya, mereka membutuhkan Ratu untuk menjadi lebih populer dan berkuasa. Bahkan Ratu yang mengajarkan mereka cara bermain basket, karena itulah mereka tak bisa mengalahkan Ratu, sebab Ratu adalah guru mereka.


Hera masih terisak dalam pelukan Ratu, ia merasa semuanya telah hancur. Harusnya cinta tidak membutakan dirinya, kini apa yang akan Hera lakukan jika Bilal tak ingin bertanggungjawab.


"Maka gue yang akan menuntutnya" ujar Ratu.

__ADS_1


__ADS_2