
"Lihat kan? Gue gak salah, sekarang mending loe minta maaf" bentak pria tersebut pada Ratu.
Ratu mendekat, ia menunduk seolah ingin meminta maaf. Tetapi tangannya malah mencengkram pan tat pria itu dengan kuat. Membuat sang pria teriak karena terkejut. "Sialan loe pegang-pegang pan tat gue" umpat pemuda itu kesal.
"Apa'an? Ngasal nih kalau ngomong, emangnya ada yang lihat gue megang dia?" Tanya Ratu pada para pengunjung disana.
"Gak ada"
"Gue gak lihat"
"Kepedean banget tuh cowok"
"Ganteng juga gak"
"Dih sok ngartis"
"Cowok apa'an loe, kok bisa dipegang-pegang sama cewek"
"Hahahaha"
Teman-teman Ratu saling bersautan untuk membantu gadis itu. Pria itu tampak kesal, ia kembali mengancam Ratu, waitress serta sang manager. "Kalian gak tau ya, teman bokap gue yang punya ini kafe, jadi siap-siap aja kalian semua dipecat. Dan loe, cewek sialan, lihat aja nanti" ancam pemuda itu kemudian pergi meninggalkan kafe.
Waitress tersebut berterimakasih pada Ratu, dan hanya mendapat balasan deheman oleh gadis itu. Sang manager juga berterimakasih dan meminta maaf pada Ratu karena kelalaiannya. "Kalau ada pelanggan seperti itu lagi, Mas telepon saya atau yang lain ya. Jangan mau ditindas" nasihat Ratu.
"Btw, emangnya kalian temannya bapak dia ya? Kok gue gak tau sih? Emang dia anaknya siapa" Tanya Ratu pada pemilik kafe BS.
"Gila loe, mana mau gue temanan sama bapak-bapak"
"Gue juga gak, temannya Ezra kali tuh, dia kan kayak om-om"
"Sialan loe, loe yang kayak om-om"
__ADS_1
Waitress itu masih menatap Ratu dan teman-temannya yang sedang berdebat. Ia tidak tahu apa inti pembicaraan itu. Hingga sang manager berkata jika ketujuh remaja yang ditunjuknya adalah pemilik kafe BS. Wanita itu terkejut, ia menutup mulut dengan tangannya, menyembunyikan keterkejutannya. Mereka berdua kemudian berpamitan pada Ratu untuk kembali bekerja.
"Wah, mesum loe, pegang-pegang, enak gak?" Goda Ubay seraya menepuk-nepuk pan tatnya sendiri. Ratu tertawa geli, itu adalah pelajaran yang setimpal untuk pria cabul tak tahu malu. Ia lalu duduk disamping Neil, ketiga pemuda itu menatap Ratu.
Liam dan Damar memberikan tepuk tangan serta memberi pujian pada gadis itu. Sedangkan Neil hanya diam, karena ia merasa kesal dengan apa yang telah dilakukan Ratu. Neil merasa cemburu melihatnya.
"Maaf ya, habisnya dia nyebelin. Massa iya aku diem aja? Gimana kalau dia pegang aku? Emangnya kamu gak bakal marah?" Rentetan pertanyaan keluar begitu saja dari bibir mungil Ratu.
"Mana bisa dia nyentuh kamu, yang ada baru maju satu langkah dia udah pingsan kamu tonjok" sahut Neil acuh. "Kamu tuh manis banget sih, jadi makin sayang deh aku" balas Ratu seraya mencubit pipi Neil gemas.
Neil sedang bermain game diponselnya. Sedangkan Ratu menatapnya sembari mengelus pipi pemuda itu. Wajah yang Ratu rindukan, ia memainkan pipi Neil. Dan pemuda itu hanya diam membiarkan Ratu berbuat sesukanya.
"Hai Neil, Damar, Liam" sapa seseorang. Mereka berempat menoleh ke asal suara. Rupanya itu adalah Dion, Kris dan dua teman Neil lainnya. Mereka saling menyapa dan bertukar kabar. "Duduk aja disini, gue ke tempat duduk teman-teman gue" tawar Ratu bangkit dari duduknya.
"Kak Ratu makin cantik aja, gimana? Udah punya pacar Kak?" Basa-basi Kris.
"Neil, gimana? Ditanyain tuh. Gimana perkembangan rumah singgah? Gak ada masalah kan?" Sahut Ratu.
Rumah singgah berjalan dengan baik, usaha mereka sudah mulai menghasilkan. Dan karena usaha tersebut, beberapa anak juga sudah mulai sekolah kembali. Ratu tersenyum senang, mengetahui perkembangan bisnis dirumah singgah yang berkembang begitu pesat. Ini juga berkat Afzam yang bekerja keras untuk membangun ini semua.
"Minta satu dong" pinta Ratu pada temannya yang sedang merokok.
"Kak Ratu" panggil Neil.
"Iyaaaa, gak jadi nih. Cuma bercanda" jawab gadis iku kaku seraya mengembalikan rokoknya.
Teman-teman Ratu menertawakan ketua mereka yang kini sudah memiliki pawang. Seseorang yang mampu mengendalikan Ratu hanya dengan memanggil namanya. Gadis itu duduk sambil berbincang ria dengan kawan-kawan. Tak lupa selalu ada rokok dan minuman dimeja mereka. Hal inilah yang membuat mereka terkesan seperti anak nakal.
Justin berdiri dan memesan beberapa minuman lagi. "Ratu, loe mau juga?" Tanya Justin seraya menunjukkan botol bir. "Mau lah, yang dingin ya" jawab Ratu.
"Neil, Ratu mau minum-minum nih, emang boleh" teriak Lay mengadu. Neil menoleh ke arah Lay, pemuda itu menunjuk Justin yang sedang membawa botol bir.
__ADS_1
"Kak Ratu mau minum alkohol?" Sahut Neil polos.
"Sialan si alay" umpat Ratu kesal. "E..enggak, mau minum air kok" jawab Ratu gugup.
Neil kembali menyidak, ia melihat ada air dimeja Ratu, tetapi mengapa ia malah memesan air lagi. Pernyataan Neil membuat gadis itu semakin gugup dan kebingungan. Ditengah kebingungan ini, ia malah menampar dahi Lay dengan sangat keras.
Ratu berjalan menghampiri Neil. "Pulang yuk, udah malem nih, nanti kamu dicariin Papa sama Mama loh" ajak Ratu mengalihkan pembicaraan. "Masih sore Kak, ntar aja lah jam sebelasan" tawar Liam. Ratu membuka lebar matanya menatap Liam tajam.
"Kalian juga pulang, kalau kalian gak mau pulang, tuh lihat, mereka lagi pingin mukul orang" ancam Ratu. Para pemuda itu menatap teman-teman Ratu yang melambaikan tangan pada mereka. Membuat para pemuda itu menelan ludah karena ketakutan. Akhirnya merekapun memutuskan untuk pulang.
"Cabut dulu ya, jangan kebanyakan minum. Mas kalau mereka minta lagi jangan dikasih, geprek aja kepalanya pakai botol" nasihat Ratu kemudian pergi meninggalkan kafe.
Ratu, Neil, Damar dan Liam berkendara beriringan. Neil melajukan motornya perlahan, ia tak ingin sampai rumah dengan cepat. Masih ingin menikmati waktu bersama Ratu. Entah mengapa hari ini, Neil ingin menghabiskan waktunya bersama Ratu. Lebih lama bersama gadis yang ia bonceng.
"Yaudah, kalian masuk gih, gue pulang dulu" pamit Ratu.
Liam dan Damar mengiyakan perkataan Ratu, mereka juga berterimakasih atas traktirannya. Sedangkan Neil, ia masih menatap Ratu, tak ingin gadis itu pergi. "Kak, aku anterin aja gimana? Aku takut biarin kamu pulang sendiri" saran Neil. Gadis itu terkekeh, siapa yang akan berani menyentuhnya. Yang ada, mereka semua akan lari setelah melihat Ratu.
Neil tiba-tiba saja memeluk Ratu yang sudah duduk diatas motor. Pelukan erat itu, seolah pertanda tak ingin kehilangannya. Ratu membalas pelukan Neil, dan berkata jika semuanya akan baik-baik saja. Neil tak perlu sekhawatir ini memikirkan dirinya.
"Kamu bisa perhatian juga ya ternyata, aku kira cuma bisa cuek ke aku. Takut aku pergi ya.." ucapan Ratu itu terpotong karena Neil membungkam mulutnya. Pemuda itu menggeleng, tak ingin mendengar kata buruk apapun.
Neil mengecup pipi Ratu. Ini bukanlah ketidaksengajaan, pemuda itu melakukannya dalam keadaan sadar. Membuat Liam dan Damar saling menyikut melihat drama romansa dihadapan mereka. "Neil, aku berjanji tidak akan pergi, sebelum membuatmu mencintaiku" goda Ratu. "Lagi dong" imbuhnya seraya memanyunkan bibirnya.
Neil tertawa dan memukul pelan kepala Ratu. Pukulan itu berubah menjadi elusan penuh kasih sayang. Ratu berpamitan sekali lagi untuk segera pergi, karena pasti Ayah dan Bundanya sudah menunggu. Dengan alasan itu, Neil merelakan Ratu pergi. Pergi manjauh darinya, masih ada perasaan tak rela disana.
Ratu melajukan motornya perlahan, jalanan begitu lengang dan sepi. Sesekali ia menatap ke arah spion. "Kenapa mobil itu ngikutin gue?" gumam Ratu heran. Ia masih melakukan motornya pelan, dan mobil hitam itu masih terus mengikutinya. Ratu coba menghafalkan plat nomor mobil hitam tersebut. Sepertinya dia mengingat sesuatu.
"Plat nomor ini, dia.. dia.."
Brakkkk....
__ADS_1
Mobil hitam itu menabrak Ratu dan motornya dengan kencang. Membuat gadis itu terlempar cukup jauh. Darah segar mengalir di sekujur tubuh Ratu, tak ada tenaga, sakit, perih.
"Tolong... Tolong .. " riuh teriakan terdengar samar ditelinga Ratu. Matanya sudah tak sanggup lagi, kantuk itu menyerang. Para warga berusaha membuat Ratu tetap terjaga. Sebagian menghubungi ambulan dan sebagian lagi mencoba mencari identitas Ratu. Gadis itu mulai lelah, tak tahan lagi menahan rasa kantuknya.